Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Ditinggal Sendirian


__ADS_3

Sebelum pesanan mereka datang, Bram mengajak Somsi mengobrol. Tidak mungkin selama pesanan belum datang mereka hanya diam membisu.


"Som? kau masih mau di sini? kau tidak melanjut?" tanya Bram.


"Melanjut apa Bram?" tanya Somsi bingung. Dalam hal itu ia memang sangat lugu.


Bram tersenyum. "Ya kuliah lah Som."


Somsi menunduk dan memilih diam. Kalimat apa lagi yang harus ia katakan untuk menjawab semua pertanyaan Bram. Dia sendiri tidak ada niat untuk melanjutkan pendidikannya lagi. Kemana ia harus mencari uang sebanyak itu? hanya demi kuliah, apa iya harus menjual diri? jual diri saja tidak semahal uang kuliah saat ini.


Aku mau jawab apa, apa aku diam saja ya. Kalau aku jawab, lalu jawabannya merugikan, apa lagi alasan yang tepat aku katakan dan kalimat apa yang akan aku keluarkan dari mulut ini.


"Kenapa bengong Som?" tanyanya heran. Hanya jawab itu saja harus pakai acara melamun dulu.


Duh gimana ini?


"Eh iya, eh tidak," ucap Somsi gugup.


"Apa sih Som?"


Bram bingung dengan jawaban Somsi. Ada iya, ada tidak. Dia tidak tau kata mana yang akan ia pilih.


"Maaf Bram, buat kamu jadi linglung. Aku gak lanjut Bram, soalnya aku gak punya biaya untuk kuliah."


Bram berhenti bertanya. Dia maklum dengan keadaan Somsi. Memang dari dulu keluarga Somsi terbilang kurang mampu.


"Kenapa minta maaf Som, harusnya aku yang minta maaf, karena sudah lancang bertanya hal itu padamu."


"Tidak apa-apa kok Bram."


Usai percakapan mereka, mereka jadi diam membisu. Tidak tau topik apa lagi yang mau di bicarakan. Begitu Somsi dan juga Bram yang kadang melihat ke kiri dan ke kanan untuk memalingkan wajah kalau tatapan mereka sedang bertemu.


Setelah beberapa menit, pesanan mereka datang juga. Kecanggungan di antara mereka pun berakhir. Bram mulai membuka mulut untuk bicara.


"Silahkan Som, silahkan di nikmati," seru Bram.


"Iya Bram."


Somsi mulai mengambil satu per satu makanan dan menyisihkan makanan itu ke piringnya. Mulai dari ikan tongkol dan sayur ia buat ke piringnya. Somsi tidak menunjukkan ke kampungannya. Kalau ia menunjukkannya bisa-bisa ia akan jadi bahan tertawaan semua orang yang ada di situ.


Bram memperhatikan Somsi yang sangat hati-hati dalam mengambil makanan. Dia kagum melihatnya. Dia berpikir kalau Somsi akan bertingkah seperti kampungan. Tapi pikirannya salah. Justru Somsi lebih tau gimana menjadi orang kota. Pada hal Somsi jarang ke kota.


"Som... kamu pandai juga ya pakai sendok makan dan sendok garpu. Aku aja kalah sama kamu," puji Bram.


"Ah kamu bisa aja," ucap Somsi malu.


Ternyata Bram juga memesan mie goreng. Tersedia 4 sumpit yang harus mereka gunakan saat makan.


Usai makan, Somsi menggeser piring kotor dan menggeser mie goreng itu dekatnya. Somsi mulai menyantap Indomie itu dengan sumpit di tanganya.


Hussssup.....


Mie goreng lancar masuk ke mulut Somsi. Bram dari tadi memperhatikan Somsi. Dia suka memperhatikan Somsi. Kadang diam-diam, kadang ia tunjukkan langsung.

__ADS_1


"Som... mau tambah lagi? biar aku pesan lagi. Kebetulan pelayannya masih dekat," tutur Bram.


"Eh inggak Bram. Aku udah kenyang," ucap Somsi sambil memegang perutnya sebagai tanda kalau ia sudah kenyang.


"Tambah aja Som, gak usah malu," ucap Bram.


"Inggak Bram, kamu aja yang bertambah," ucap Somsi menolak tawaran Bram. Memang betul ia sudah kenyang sekali. Bagi wanita mana pun, kalau sudah makan 2 piring itu sudah membuat perut kenyang.


"Oke deh Som."


Bram melanjutkan santapannya. Dari tadi ia bicara saja, hingga makanannya belum habis. Pada hal Bram lebih dulu makan dari pada Somsi. Namanya juga Bram yang suka memperhatikan Somsi makan, hingga lupa kalau ia juga sedang makan.


Di tengah mereka makan. Dua orang wanita cantik datang melewati pintu lalu masuk. Mereka duduk bersebelahan dengan bangku Bram. Bram memperhatikan dua wanita itu.


Cantik sekali wanita ini.


Bram melirik ke wanita yang duduk di bangku sebelahnya. Ada jarak 1 meter dari bangku mereka.


Somsi melihat Bram yang terus memperhatikan dua wanita itu, sehingga dirinya seperti patung yang tidak diajak bicara sama sekali.


Bram berbalik membelakangi Somsi. Ia sekarang menghadap ke meja dua wanita itu.


Bram bercanda ria dengan dua wanita itu.


"Hai, boleh kenalan gak?" tanya Bram yang duduk bersebelahan dengannya.


"Hai juga. Boleh tuh," jawab wanita yang pakai dress merah muda.


"Iya, hai juga untukmu. Kamu ganteng deh," gombal wanita itu.


Telinga Bram hampir meledak saat mendengar wanita itu memuji kegantengannya.


Dari dulu aku memang ganteng. Di desa ini belum ada yang bisa mengalahkan kegantengan ku.


"Makasih ya," ucap Bram senyum.


"Owh iya, nama kamu siapa?" tanya wanita pakai dress merah muda.


"Nama aku Bram," jawab Bram senyum. Bagi Bram, hal yang memikat wanita adalah senyumnya yang manis.


"Oww Bram, salam kenal ya," ucap wanita pakai dress merah muda.


"Kalau kamu dan kamu, siapa namanya nih?" tanya Bram mengedipkan matanya.


"Nama aku Salsa Bram auh," ucap wanita pakai dress merah muda manja.


"Kalau aku, nama aku Siti," ucap wanita pakai dress biru sambil mengedipkan matanya nakal.


"Salam kenal wanita-wanita cantik," gombal Bram.


Somsi dari tadi sudah sangat marah. Dia menahan amarahnya karena mereka berada di tempat umum. Dari pada ia harus menyaksikan Bram yang nakal, yang sedang menggoda wanita lain, pada hal dirinya juga disitu seperti tidak di harapkan. Akhirnya ia memilih pulang tanpa pamit pada Bram.


"Bram... kamu ganteng. Apa aku boleh meminta nomor hp mu?" ucap Salsa.

__ADS_1


Dia mendekatkan bangkunya pada Bram. Dia mengelus tangan Bram. Membuat darah Bram berdesir saat merasakan tangan itu menyentuhnya.


Tetapi kesadarannya ia normal kan.


"Hati-hati mbak, jaga sikap," ucap Bram.


Dia menjauhkan tanganya dari tangan wanita itu. Dia tidak ingin memberikan kesempatan lagi pada wanita itu untuk menyentuhnya.


"Ihh kok abang menolak," rengek ya.


Bram menatap mata wanita itu lalu tersenyum.


"Mungkin belum terbiasa mbak."


Bram lalu menyerahkan nomornya kepada Salsa dan juga Siti.


Ntah kenapa Bram mulai canggung dengan dua wanita itu.


"Kamu tinggal dimana Bram," tanya Salsa.


"Rumah aku di-"


Bram berbalik melihat ke tempat duduk Somsi tadi. Dia kaget saat mengetahui Somsi sudah tidak ada bersamanya.


"Kemana wanita yang bersamaku tadi?" tanya Bram.


"Mungkin ke kamar mandi," ucap Salsa.


"Emang dia siapa kamu Bram, kok kamu khawatir bangat," ucap Siti.


"Dia teman aku," ucap Bram.


Bram masih diam di situ, karena mengira kalau yang dikatakan wanita itu benar. Kalau Somsi memang pergi ke kamar mandi.


Sudah 5 menit Bram menunggu kedatangan Somsi tapi gak muncul-muncul.


Bram mulai khawatir dan langsung beranjak ingin pergi. Tapi ia mengingat kalau ia harus membayar pesanannya lebih dulu.


Usai membayar, Bram langsung pergi tanpa pamit kepada dua wanita itu.


Bram merasa bersalah sekali. Dia harusnya menemani Somsi dan bukannya meladeni dua wanita tadi. Jadi, begini akhirnya. Dia di tinggal sendirian di rumah makan. Datang bersama Somsi, pulang dengan sendirian.


Itu merupakan kesalahan yang fatal bagi Bram. Bram merasa kalau Somsi bakal mencap dirinya dengan sebutan orang yang tidak bertanggung jawab.


"Huuuu," kesalnya.


Dia menendang batu kerikil lalu batu itu mengenai kepala nenek tua.


Bersambung..............


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏

__ADS_1


__ADS_2