
Seperti yang dikatakan Tuan Sean, Somsi memasuki sebuah ruangan yang terlihat unik dari setiap ruangan yang ada. Dia merasa geli dengan semua nuansa ruangan itu dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui pria yang tadi bersamanya di ruangan asisten pribadinya Tuan Sean, dia juga ada disana.
"Kamu? Ngapain kamu disini?" tanya Somsi melotot. Pria itu dengan beraninya duduk di kursi Tuan Sean, jika Tuan Sean tau pasti dia akan dihukum seberat-beratnya.
"Jangan disitu, Pak... Nanti Tuan Sean memarahi Anda!"
Apa? Dia memanggilku apa?
Pak?
Apa aku terlihat sangat tua sekarang?
Beberapa pertanyaan terlintas di kepalanya saat wanita yang ada di depannya ini menyebutnya Pak.
" Kau sudah datang? Selamat datang di ruangan saya ini, semoga Anda betah," tutur Tuan Sean dengan senyum yang melekat di wajahnya sangat menarik perhatian siapapun yang melihatnya.
"Ruangan Bapak?" Somsi tertawa renyah.
"Mana mungkin ini ruangan Bapak..."
Matanya melotot dan dia memicingkan matanya saat pria itu menyebut ruangan itu adalah miliknya.
"Iya, saya adalah Tuan Sean yang ditakuti semua orang, termasuk Anda nantinya..."
"Hahaha, jaman sekarang Bapak masih suka berbohong. Nyatanya orang-orang di luar sana mengatakan kalau Tuan Sean itu adalah pria yang kejam." Dia melihat penampilan Tuan Sean dari atas ke bawah. "Dan dari penampilan Tuan ini, tidak pantas disebutkan seperti yang mereka bilang selama ini..." tutur Somsi dengan tawa remeh. Dia merasa kalau penuturan pria itu salah. Tidak mungkin Tuan Sean seganteng dia... TIDAK MUNGKIN!
"Baiklah... kalau Anda tidak percaya, saya akan hubungi asisten pribadi saya. Dan jika benar kalau Tuan Sean itu sendiri adalah saya... maka Anda harus memenuhi perintah saya seperti yang saya mau. ANDA PAHAM?" Ancam Tuan Sean.
Dia kali ini ingin tertawa melihat kepolosan wanita yang ada di hadapannya ini.
Dia terus memperhatikan Somsi hingga tatapan mereka pun bertemu. "Maaf Pak, Bapak lebih baik menjaga sikap Bapak. Tidak sepantasnya Bapak menatap saya seperti itu. Itulah yang tertera jelas di pengumuman perusahaan ini. Tidak ada yang boleh terlengah-lengah dalam pekerjaannya," jelas Somsi dengan percaya diri.
Dia akan membuktikan kepada Tuan Sean, bahwa dia telah berani mengatakan kalau dirinya adalah Tuan Sean.
Xander pun datang. Dia memberi hormat kepada pria yang di hadapannya. "Selamat siang, Tuan, ada apa Tuan memanggil saya?"
ucap Xander dengan menahan tawa.
Degg...
Jantung Somsi berdetak kencang. Saat mengetahui asisten pribadinya Tuan Sean menunduk memberi hormatnya kepada pria itu.
TIDAK! TIDAK MUNGKIN... PRIA ITU PASTI PAKAI PELET. TIDAK MUNGKIN AKU SALAH MENGIRA. SUDAH JELAS-JELAS MEREKA MENGATAKAN TUAN SEAN ITU SANGAT JELEK DAN BERBADAN GEMUK? DAN INI...
__ADS_1
"Kenapa Anda malah bengong?" ucap Tuan Sean tertawa licik.
Hahaha, sekarang kamu akan jatuh dalam perangkapku...
"TIDAK! Anda pasti telah memelet Tuan ini," sela Somsi.
Tuan Sean hanya melirik ke arah Xander dan Xander mengerti maksud lirikan itu.
"Benar yang dikatakan Tuan ini, Tuan ini adalah Tuan Sean," ucap Xander cepat.
Somsi sangat malu karena telah mengatakan pria itu bukan Tuan Sean. Sekarang dia menundukkan kepalanya dan tidak bicara lagi.
"Karena dari tadi kamu sangat cerewet, sekarang saya yang akan bicara. Kamu masih ingat dengan perjanjian kita tadi?" Seru Tuan Sean menatap tajam ke arah Somsi. Matanya tidak berkutik, sehingga timbul lah dalam pikiran Somsi bahwa pria itu memang benar menyeramkan, seperti yang didengarnya.
"Selama interview kamu dimana? Saya kan yang bicara padamu waktu itu. Masih ingat?"
Apa? Dia adalah Tuan Sean dan juga orang yang telah melakukan interview untuknya?
Somsi menepuk jidatnya. Betapa bodohnya dia yang tidak tau kalau pria itu adalah Tuan Sean. Kemana dia selama interview?
"Baik, saya tidak mau berlama-lama denganmu. Asisten saya ini yang akan membuat surat perjanjian itu. Dan kamu akan menandatanganinya di atas kertas yang sudah bermaterai. Tidak boleh diganggu gugat siapapun. KAMU PAHAM?" Hardik Tuan Sean.
Dia cukup kehabisan suaranya hanya untuk menjelaskan maksudnya kepada wanita yang terlalu polos seperti Somsi. Tenaganya jadi terkuras karena hal itu.
"Kenapa kamu diam?" tanya Tuan Sean. Dia tersenyum-senyum saat melihat tangan dan juga kaki Somsi gemetar. Hahaha lucu sekali dia. Dengan dia seperti ini, bukannya jelek tapi malah tambah cantik.
"Tidak akan ada kata maaf. Kamu harus menandatangani kontrak yang Asisten pribadi saya ini buat!" perintah Tuan Sean.
Dia tertawa penuh kemenangan hanya melihat Somsi kikuk tak mampu bicara lagi.
Xander memberi Somsi kontrak yang akan ditandatanganinya. Dia membaca perlahan isi surat itu. "APA? PACAR?" teriaknya, sontak kaget dengan isi kontrak itu.
Lalu dia membaca lagi isi pesan itu. Tangannya sudah gemetar, takut jika isinya merupakan ancaman baginya untuk segera angkat kaki dari Perusahaan itu. Jika dirinya nanti dipecat... kemana dia akan memintai tolong. Betapa kecewanya nanti Ayah dan Ibunya juga adeknya saat mengetahui kalau dirinya dipecat atas kesalahan kecil.
**1. Pihak Kedua tidak boleh melanggar peraturan yang sudah dibuat oleh pihak pertama!
Pihak Kedua harus melayani Pihak Pertama dengan sungguh-sungguh!
Jika Pihak Pertama melanggar peraturan, maka Pihak Pertama akan memberikan hukuman atas kemauannya!
Pihak Kedua harus bersedia menjadi pacar dari Pihak Pertama.
__ADS_1
Tidak boleh menyukai pria lain selain dari Pihak Pertama. Jika ketahuan selingkuh, maka jangan salahkan pihak pertama tidak akan segan-segan melakukan hal-hal di luar dugaan**!
Begitulah isi surat perjanjian itu. Bagi Somsi itu tidak terlalu berat, namun saat dia membaca bahwa dirinya akan menjadi pacar Tuan Sean, itu jelas-jelas sudah di luar nalar.
"Pak... eh Tuan, apa sebaiknya hal begini tidak usah dibuat?" tanya Somsi. Dia sangat ketakutan. Kegugupannya kali ini sudah melebihi batas.
Tidak ada respon sama sekali, terpaksa dia menandatangani kontrak itu. Toh itu tidak susah. Mungkin saja hanya pacar pura-pura. Selama keluarganya di rumah baik-baik saja, maka dia tidak perlu khawatir.
"Baik saya akan menandatanganinya," tutur Somsi segera mengambil pulpen lalu menandatangani kontrak itu.
Tuan Sean sangat bahagia. Rencananya berhasil. Dalam sekejap wanita itu akan menjadi miliknya.
Hahaha, siapa yang akan berani menentang perintahku.
"Baiklah, kamu sudah menandatanganinya, maka kamu bisa bekerja di sana!" tunjuk Tuan Sean ke arah meja yang sudah disiapkan khusus untuknya.
Somsi mengangguk dan duduk di kursi barunya. Sebagai sekertaris Tuan Sean.
"Saya permisi dulu Tuan," pamit Xander.
Somsi fokus dengan pekerjaannya sambil mengetik. Dia sangat lincah dalam memakai keyboard komputer. Dulu dialah yang paling pertama sekali memakai komputer sebagai percobaan dibandingkan teman-teman sekelasnya.
Jadi, untuk pekerjaan itu tidaklah susah untuknya. Bersyukur sekali gurunya waktu itu memperhatikan gurunya saat menerangkan, jadinya dia bisa dalam segala bidang.
Terimakasih Tuhan!
Ucap Somsi dalam hatinya. Dia memang tidak lupa untuk selalu bersyukur walau apa yang terjadi padanya. Baik susah ataupun senang, dia tetap setia menanti-nanti kemurahan Tuhan untuknya.
Melihat Somsi yang begitu fokus dalam pekerjaannya, membuat Tuan Sean semakin tertarik kepadanya. Dia mendekat dan memegang tangan Somsi dengan lembut. Dia pun menghentikan tangan Somsi yang sibuk bekerja itu. Lalu dia mulai menciuminya. Tapi...
Plak!
Satu tamparan tepat di pipi kanan Tuan Sean.
"Maaf Tuan, Anda tidak boleh melakukan itu pada saya. Apa Anda pikir, saya adalah seorang PELACUR?! Saya disini bekerja bukan pelacur!" Hardik Somsi kepada Tuan Sean.
Tuan Sean terkejut dengan sikap Somsi. Dia pikir Somsi seperti wanita lain. Yang rela dia tiduri hanya demi uang. Tapi Somsi yang ditemuinya ini sungguh berbeda.
"Maaf, mengapa kamu berteriak? Saya hanya perlu menes kamu, apakah kamu sama seperti wanita lain. Tapi ternyata kamu berbeda dari semuanya," jelasnya Tuan Sean. Sedangkan Somsi masih marah akan sikap kurang ajar Tuan Sean padanya.
Tbc.
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.
Bye... bye...