
Somsi pergi dan menjujung dagangannya di kepala. Ia akan berdagang dengan semangat. Berharap kalau dagangannya akan laku semua. Somsi pergi ke tempat biasa ia jualan.
Di sana dagangannya selalu laku dan tidak ada sisa yang tertinggal.
Dengan susah payah ia menurunkan junjungan yang ada di kepalanya.
Tiba-tiba ia ingin jatuh.
"Mama .... tolong aku," teriaknya keras. Jantungnya sudah berdetak kencang. Ntah apa yang akan ia dapatkan bila semua dagangannya jatuh ke tanah.
Saat ketika ia dan dagangannya hampir terjatuh, seseorang meraih tanganya.
Untung saja orang itu menolongnya. Kalau tidak semua dagangannya akan sirna tanpa hasil.
"Aaaaa.. tolong," ucapnya berteriak.
Seketika ia merasakan tanganya ada yang menarik. Somsi membuka matanya dan melihat orang yang telah menolongnya. "Bram?"
Somsi kaget dengan kehadiran Bram. Bram ntah dari mana bisa datang menolongnya secepat itu. Apakah Bram mengikutinya, Somsi tidak tau.
Junjungan kepala Somsi sudah di turunkan di bangku taman biasa Somsi berdagang.
Ia melihat sekitarnya masih kosong penghuni. Tetapi seorang Bram bisa ada di sana. Cukup mengejutkan bagi Somsi. Ingin bertanya tapi ia masih gugup. Apa lagi mengingat soal Bram yang telah menembaknya dan sekarang masih menunggu jawaban dari Somsi.
"Kau tidak apa-apa Som?" tanya Bram khawatir. Terlihat jelas dari sorot matanya yang tulus. Brama sangat mengkhawatirkannya.
"Bram terima kasih karena telah menolongku. Kalau kau tidak ada, aku tidak tau apa jadinya dagangan ku ini. Pada hal kemarin aku tidak mendapat untung. Semua habis saat aku membeli bahan-bahan masakan dan tidak ada yang sisa," jelas Somsi dengan raut wajah sedih.
Dengan wajah ikut sedih, Bram mengucapkan kata demi kata untuk membuat seorang Somsi lebih semangat lagi. "Som... gara-gara aku kemarin, semua dagangan mu tidak mendapat untung. Aku sangat bersalah akan itu. Aku minta maaf."
Somsi tersenyum mendengar penuturan Bram. Sangat lembut yang ia rasakan saat mendengar ucapan Bram seperti itu.
Bram... dari semua kebaikan yang kamu nyatakan padaku, aku sangat menyukainya. Tapi aku sangat takut Bram, aku jatuh cinta lagi jika hatiku akan terluka untuk beberapa kali.
Aku wanita yang sangat lemah Bram. Butuh perjuangan bagiku untuk melewati semua masa kelam itu.
"Hei! kok kamu malah bengong," ucap Bram mengagetkan Somsi.
"Eh eh maaf Bram. Aku jadi melamun begini," lirihnya.
__ADS_1
Bram menunjuk ke arah pohon besar. "Som... bukankah itu adalah anak kecil yang ku suruh untuk membujuk mu? sedang apa dia disitu," ucap Bram heran. Ia menggelengkan kepalanya. Ia begitu heran dengan anak yang bersusah payah hanya untuk bisa mendapatkan makan sesuap nasi.
Anak kecil itu membawa koran untuk di jualnya. Ia berteriak dengan menyebut nama koran.
Bram dan Somsi terus menyaksikan anak itu.
Di tengah mereka sedang memperhatikan anak itu. Pelanggan setia Somsi pun datang.
"Mbak... saya mau mie gomak di campur perkedel," ucap seorang ibu. Kemarin Somsi dan ibu ini sudah kenalan. Jadi Somsi tidak perlu susah susah lagi untuk bertanya.
"Ini bu. Semoga ibu suka," ucap Somsi pada ibu yang menjadi pelanggan setianya.
"Iya mbak," ucap ibu itu lalu mengambil dari tangan Somsi.
Ibu itu makan dengan lahap. Sekali ia memuji masakan Somsi dengan mengatakan kalau masakan Somsi sangat enak dan nikmat di mulut. Membuat mulutnya ketagihan untuk makan.
Somsi sangat senang melihat ibu itu terus memuji masakannya. Bahkan ibu itu tidak pernah komen setiap ia makan dan selalu memuji Somsi setiap hari, setiap Somsi berdagang ibu itu lah yang sangat suka memuji Somsi.
"Kasihan sekali adek itu," ucap Bram saat melihat anak kecil kemarin sedang berjualan koran, tapi tidak ada satu pun yang mau membelinya.
Bram memanggil anak itu dan menyuruhnya agar datang ke tempat mereka singgah.
Dengan melambai dan mengeraskan suaranya agar anak itu segera melihatnya dan datang ke tempat mereka.
Anak itu baru menoleh ketika seorang memberitahu kalau ia sedang di panggil.
Anak itu akhirnya datang dengan wajah tersenyum.
"Apa bang?" tanya anak kecil itu.
"Kamu sedang apa dek di sana? tanya Bram pura-pura tidak tau.
Bram ingin memberi sebuah kejutan kepada anak kecil itu, sebagai tanda kalau ia ikut merasakan apa yang di rasakan oleh anak kecil itu.
" Saya sedang jualan koran bang," jawabnya dengan wajah yang diliputi oleh kesedihan yang membara dalam hatinya.
"Emang kemana uang dari hasil jualan mu ini dek?" tanya Bram memastikan. Ia ingin tau tujuan anak kecil itu mengapa ia terus melakukan kegiatan pagi yang seharusnya orang tuanya lah yang mencari nafkah untuknya.
"Saya ingin membawa adek saya yang sakit bang. Sekarang ia di rawat di rumah sakit dan butuh banyak biaya untuk perobatan adek saya bang," jelasnya sambil menangis. Air mata yang ia bendung sungguh tidak bisa ia tahan lagi.
__ADS_1
"Kenapa mulia sekali kau dek. Kau tidak pernah mengeluh atas kehidupan pahit yang kau rasakan dek?" tanya Bram.
Bram dan anak kecil itu terus berbincang-bincang. Sedangkan dengan Somsi sendiri, ia masih sibuk meladeni setiap orang yang datang mampir untuk makan.
"Ya begitulah bang. Aku ingin membantu adek yang sakit parah."
Kembali ia menunduk dan menangis.
"Adek aku sakit anemia bang. Jadi ia butuh donor darah. Sedangkan saya hanya bisa mendonor darah, jika saya bisa membayar lebih dulu ke bagian resepsionis," jawabnya.
Jika saja secepat itu ia bisa membayar maka
setelah itu baru lah ia bisa mendonor darahnya kepada adeknya.
"Kenapa bisa adek mu sakit anemia dek?" tanya ya heran.
"Kata dokter akibat dari tumpahan banyak darah saat terjadi kecelakaan saat berjualan," tutur anak kecil itu.
"Kasihan sekali kamu dek. Lalu apa yang kamu dapat dengan menjual koran ini? bukankah ini sangat sedikit hasilnya?" tanya Bram ikut dalam kesedihan anak kecil itu.
"Kata bos aku. Kalau aku menjualnya koran ini dengan rajin, maka aku bisa menyicil uang yang akan bos ku berikan untuk perawatan rumah sakit bang," jelasnya.
Semua orang baik itu ibu atau bapak dan sebagian anak kecil yang menjadi pelanggan setia Somsi ikut sedih. Mereka juga heran dengan pengorbanan anak kecil itu hanya untuk keperluan adeknya sendiri.
"Dek kamu yang kuatnya. Jangan menyerah! never give up!" tegas Somsi memberi dukungan semangat bagi anak kecil itu.
"Baik kak," ucap anak itu senang. Ternyata masih banyak yang peduli padanya. Padahal ia selalu berpikir kalau orang-orang kaya tidak punya akan punya hati.
"Dek... kalau kau besar nanti, jangan pernah sombong saat engkau telah memiliki segalanya nanti," umpat Lian melirik ke arah Somsi dan mengedipkan matanya.
Dari mana Lian datang membuat semua mereka yang ada di sana saat melihat Lian kaget. Sudah menjadi kebiasaan Lian datang mengendap seperti hantu. Datang yang tidak di ketahui dari mana. Pulang tanpa diketahui kapan pergi.
Semua mata kembali tertuju pada anak kecil itu setelah kaget melihat Lian yang datang ntah dari mana. Melihat mata sedang tertuju padanya, membuat anak kecil itu tambah menunduk.
"Dek kenapa kau menunduk. Angkat saja kepalamu seperti kau tidak punya masalah," ucap Lian lagi.
Bersambung.............
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen, rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏