
"Iya bang."
Anak kecil itu kembali mengangkat kepalanya. Memang sangat sulit kalau kita tidak memiliki orang tua. Tidak ada yang menafkahi, tidak ada yang mengatur dan tidak ada yang peduli kecuali orang itu baik.
Begitu lah yang harus di rasakan oleh anak kecil itu. Masih kecil sudah merasakan pahit nya dunia. Pada masa kecilnya, seharusnya ia di perlakukan manja, tapi tidak dengan apa yang ia rasakan. Ia harus berjuang untuk mencapai hidup dan menafkahi adeknya sendirian seperti orang tua yang harus bertanggung jawab kepada anaknya.
"Dek... nama kamu siapa?" tanya Bram.
Anak kecil itu melotot saat Bram bertanya tentang namanya. Namanya saja tidak ia ketahui. Orang-orang akan memanggilnya dengan sebutan anak taor yang artinya anak tanpa orang tua.
Anak kecil itu diam saja menatap koran yang ia pegang di tanganya. Dia tidak merespon pertanyaan Bram mengenai namanya. Apa yang harus ia katakan kalau memang benar ia tidak memiliki nama. Yang ia ketahui ia pernah di rawat oleh orang tua saat menemukan mereka masih kecil di tengah jalan. Dirinya masih berlumuran 3 tahun saat itu, sedangkan adeknya masih 6 bulan. Saat itu kalau ia bisa mengingat kembali rasa pahit saat ia menangis mencari kemana orang tuanya pergi.
Hingga suatu kali mereka di temukan oleh orang tua yang baik, yang belum memiliki keturunan dan membesarkan anak kecil itu dan juga adeknya seperti anak kandung mereka sendiri. Anak kecil itu dan juga adeknya di bawa oleh orang tua yang menemukan mereka ke rumah tempat kediaman mereka sendiri.
Hari itu anak kecil itu dan juga adeknya mendapat perlakuan manis dari orang tua yang merawatnya. Tapi tidak bertahan lama, rasa manis yang kemudian berubah menjadi rasa pahit saat mereka harus kehilangan orang tua angkatnya untuk selama-lamanya.
"Nama aku-"
Anak kecil itu kembali diam terpaku. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Bram mengenai siapa namanya.
"Iya dek siapa nama kamu?" tanya Bram ulang kemudian di lanjutkan oleh Somsi setelah semua pelangganya pergi jadi dia masih menunggu pelanggan yang lain untuk mampir.
Dengan mata berbinar ia mulai berbicara. "Iya dek... nama kamu siapa?"
Dari kemarin-kemarin Somsi juga ingin tau siapa nama adek yang telah membujuknya. Tapi karena Bram mengajaknya makan, ia tidak sempat menanyakannya.
Anak kecil itu tetap tidak menjawab. Somsi kembali fokus pada dagangannya ketika seorang bapak tua mampir untuk makan mie gomak.
Ia heran melihat anak kecil itu duduk bersama Bram dan saling bercerita.
"Kenapa dia kesini, tak pantas dia berada di sini," ujarnya kasar.
"Tapi mengapa pak. Dia masih kecil tidak pantas bapak mengatai dirinya dengan kasar."
Somsi menjawab ucapan bapak tua itu. Dia heran semakin bertambah usianya bukan malah semakin menambah banyak amal, tapi malah sebaliknya. Dengan bertambah usianya, ia masih mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati siapa pun yang mendengarnya.
Anak kecil takut saat bapak tua memarahinya. Seketika ia langsung menunduk dan menangis, Meratapi nasibnya. Meski pun ia mengalami banyak cobaan, tetap saja banyak orang yang kasar dan tidak menyukai kehadirannya.
__ADS_1
Bapak tua itu menunjuk anak kecil. "Dia telah membawa nasib sial kepada keluargaku. Adekku meninggal karena telah merawat mereka! karena itu aku tidak suka melihat di sini, usir dia dari sini!" hardiknya. Ia memerintahkan Bram kasar. Membuat seorang Bram marah karena sudah di perintah begitu saja.
Emang siapa dia? suka sekali memerintahkan aku.
Dari dulu Bram tidak pernah di perintahkan oleh siapa pun. Malah ia yang sering memerintahkan orang. Orang tuanya cukup kaya kalau ada penilaian mengenai orang terkaya di desa itu.
"Saya tidak mau! emang siapa bapak? Berani sekali memerintah saya," ucap Bram marah. Dengan mata sengit ia menatap bapak tua itu.
Bram tidak memperdulikan bapak tua itu, dan mulai berbicara lagi kepada anak kecil itu.
"Dek... kau tidak perlu takut, bilang saja siapa nama kamu dek. Abang perlu nama kamu supaya abang bisa memanggil nama mu langsung," jelas Bram.
"Saya tidak mempunyai nama bang," sahut anak kecil.
Bram melongo heran mendengar ucapan anak itu, begitu juga dengan Somsi.
"Apa?" ucap Bram dengan manik matanya ingin keluar dari pemiliknya.
"Kenapa dek?" tanya Somsi.
Anak kecil itu hanya diam. Sekali ia menganguk sekali ia menggeleng, jadi Bram dan Somsi bingung dengan tingkah anak kecil ini.
Bapak tua itu berdecih. "Susah susah kalian bertanya hal itu, dia tidak akan menjawab."
Kalau kau membuka mulut anak kecil, tamatlah riwayat mu!
Bapak tua itu mengancam dalam hati, tetapi ia menatap tajam pada anak kecil itu. Dengan tatapan tajam yang ia lemparkan pada anak kecil, membuat anak kecil itu tidak mau bicara.
Somsi melihat ekpresi wajah bapak tua itu. Lalu ia membuat suatu rencana.
Ia datang menghampiri anak kecil itu dan menjauhkan pandangannya dari bapak tua.
"Dek... apa kamu tidak mau bicara jujur pada kakak? tanya Somsi mulai mengajak anak kecil itu bicara lagi.
Anak kecil itu hanya menggeleng.
Dengan gelengan kepala berarti anak itu mau berkata jujur.
__ADS_1
Bram terus memperhatikan Somsi. Tatapannya fokus kepada Somsi saja. Hatinya berbunga-bunga kalau Somsi berada di dekatnya.
"Nah... kakak tau arti gelengan kepala mu. Berarti kamu mau jujur pada kakak. Kakak ulangi lagi pertanyaan kakak, siapa nama mu dek?" tanya Somsi tersenyum pada anak kecil itu.
Melihat Somsi tersenyum dan mulai percaya padanya tanpa rasa takut lagi ia mulai bercerita.
"Nama saya Dodi. Orang tua angkat saya memberikan nama saya dengan nama itu. Tapi-"
Ceritanya terputus membuat orang yang mendengarnya penasaran akan kelanjutan cerita yang tidak berlanjut.
"Tapi kenapa dek?" ucap Somsi sigap. Ia sudah sangat penasaran akan kelanjutan cerita anak kecil ini.
"Tapi paman itu-"
Anak kecil itu menunjuk pada bapak tua yang tengah duduk makan dengan lahap.
Bapak tua itu kaget saat melihat anak kecil menunjuk padanya. Dengan tatapan tajam ia menatap anak kecil. Itu ia gunakan sebagai alat yang mudah untuk membungkam anak kecil ini.
"Tapi apa dek," ucap Somsi lembut. Bram yang memperhatikan kebaikan Somsi dan kelemah lembutan akan sikapnya seakan melayang dan menghayal. Di saat-saat serius, Bram masih sempat untuk menghayal.
Dengan perasaan takut dan jantungnya berdegup kencang, tanganya bergetar, keringatnya bercucuran deras. Membasahi seluruh tubuhnya.
Dengan mendapat kekuatan dari ucapan Somsi yang lembut serta belaian tangan Somsi di punggungnya, membuat anak kecil itu kembali bicara melanjutkan kata-katanya yang terputus.
Dia menunjuk bapak tua. "Tapi bapak itu mengganti nama ku dengan nama anak taor. Dia juga mengumumkan kepada semua warga, kalau dia bukan lagi anak angkat dari orang tua angkatnya," jelas anak kecil itu.
Somsi merasa kasihan dan iba mendengar penjelasan anak kecil ini.
Anak kecil itu menangis lebih keras. Ia menangis dengan sesenggukan mulai melambat. Suaranya mulai menghilang, terasa sakit di tenggorokan nya untuk bicara.
"Di-dia juga mengusir kami meski tau keadaan adek aku mengidap penyakit anemia. Hiks hiks hikss," ucap anak itu.
Ia menangis keras. Mungkin ia sedang meratapi nasib. Mengingat kejadian di mana ia harus di usir paksa keluar dari rumah tempat kediaman orang tua angkatnya.
Bersambung................
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏