
Somsi sibuk mencari pakaian ganti untuk di bawa ke kamar mandi. Dia harus membawa pakaian ganti karena tidak mungkin kembali ke kamar dalam keadaan pakai handuk. Sedangkan ayah nya sendiri berada dirumah.
Kecuali jika ayah nya tidak ada di rumah. Baru lah dia berani keluar dengan memakai handuk sebagai penutup bagian lekukan tubuhnya itu.
"Dek... dimana kamu buat handuk kita?" tanya Somsi bingung mencari handuk yang ingin dia pakai nanti.
"Owh handuk itu ya kak. Aku letak kan tadi di kamar mandi. Aku lupa menaruh di kamar kak," jawab Friska.
Kenapa sih dibuat dikamar mandi.
Somsi membawa pakaian ganti nya. Dia sangat ingin mandi dari tadi. Panas yang dia rasakan saat naik kereta, meluapkan segala nya dengan mandi. Hanya itu cara terbaik untuk merasakan tubuh yang segar.
Somsi mandi sangat lama. Dia hampir melupakan kalau mereka mau makan. Orang tua Somsi dan juga adek nya dari tadi menunggunya.
Somsi keluar dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian ganti. Dia pergi ke kamar untuk menyisir rambut panjang super lurus nya itu. Rambut Somsi dan Friska memang sangat lurus. Orang-orang selalu mengira kalau mereka melakukan pelurus rambut pada bagian rambut indah mereka.
Tidak lupa Somsi memakai bedak tabur my baby kebagian wajahnya itu. Dari kecil hingga besar dia dan adek nya selalu memakai bedak tabur my baby. Tidak salah lagi kalau wajah mereka terlihat mulus sekali.
"Ma... pa... dek.... kalian sudah lama menunggu ya," ucap Somsi menunduk kan kepala nya. Dia sadar dari tadi dia telah membuat orang tua dan juga adek nya itu menunggu terlalu sangat lama untuk makan saja.
"Gak papa nak... ayo makan," kata bu Wati.
Somsi kembali menaikan rahang nya. Dia tidak merasa canggung lagi atas apa yang dia lakukan.
"Makasih ma...pa...dek.. sudah memaafkan keterlambatan aku," lirih Somsi.
Bu Wati menyendok makanan. "Ma.... agak banyak nya ma... Somsi lapar," ucap Somsi dengan memegang perut nya tanda dia memang sudah sangat lapar.
Bu Wati mengingatkan Somsi. "Eh... kok tiba-tiba kamu makan banyak nak. Nanti kamu gemuk loh.. apa lagi kan ini sudah malam."
"Ha ha ha ha.... ga papa kali ma... sekali-kali kan ga papa asal jangan terus," jelas Somsi senyum sumringah.
"Hmmm,oke deh.Asal jangan ngeluh saja nanti," ketus bu Wati.
"Dek apa yang sedang kamu lakukan. Hentikan itu!" Somsi jijik melihat Friska memegang jari jempol kaki nya. Lalu mencium saat dia sudah mengeluarkan kotoran dari kuku nya. Kaki Friska busuk di bagian kuku jempol nya. Biasa sih kalau orang sering pergi ke sawah pasti akan busuk dan bau anyir.
"Hehehehe, maaf kak. Habis gatal kali," ucap Friska beralasan.
"Makan dulu nak. Pergi cuci tangan mu," suruh pak Nius.
Friska bangkit dari duduk nya. "Iya pak."
__ADS_1
Semua makan sudah siap disajikan. Saat nya waktu makan. Tetapi karena Friska masih di kamar mandi. Mereka harus menunggu dulu.
Friska datang dan duduk kembali.
Pak Nius menunjuk Friska. "Oke yang pimpin doa kita hari ini, Friska."
Friska terlonjak kaget. "Kok aku sih pa."
"Kan hari ini giliran mu nak," ucap bu Wati lalu tersenyum.
"Hmm... baik deh," kesal Friska.
Mereka semua makan dengan lahap. Friska sendiri bertambah. Padahal dia tadi mengejek kakak nya karena makan banyak.
"Inikah yang memakan omongan sendiri ma," ngeledek Somsi.
"Ha ha ha ha... ," bu Wati tertawa mengeledek.
Mereka sudah siap makan. Mereka juga kembali bercerita seperti biasa. Tepat satu hari itu memang giliran Friska. Dia juga yang memimpin cerita.
Setelah mendengarkan cerita Friska semua tertawa terbahak-bahak. Cerita yang mengandung unsur kelucuan.
"Hingga akhirnya kambing itu berubah jadi bebek," ucap Friska pada akhir cerita.
"Eh, kok cerita adek beda sih. Kok ada rasa lucu-lucu nya," ucap Somsi mengeledek Friska. Dia sangat merasa heran dengan cerita adek nya itu. Rasa lelah yang dia rasakan satu hari itu perlahan hilang karena cerita Friska.
"Ha ha ha ha.... Baru kali ini lah papa dengar kalau kambing berubah jadi bebek. Dimana-mana kan manusia berubah jadi bebek. Masa hewan berubah jadi hewan juga," tutur pak Nius.
Dia sangat terhibur sekali dengan cerita putri nya itu. Dia tidak mengira kalau putrinya bisa bercerita yang tidak bisa mereka tebak.
"Kok pada ketawa sih. Emang dimana kesalahan cerita Friska?" tanya Friska kesal.
"Ha ha ha ha ha... cerita kamu gak ada yang salah dek. Cuma lucu sekali," kembali Somsi tertawa terbahak-bahak.
"Lain kali Friska gak mau lagi. Ingat itu!" kecam Friska.
"Heheheh. Kan kami cuma bercanda dek. Jangan masukan ke hati lah. Kami kan tertawa karena terhibur dengan cerita kamu dek," jelas Somsi.
Friska menunduk malu. Semua orang yang mendengar cerita nya itu pada tertawa.
Setelah bercerita mereka pun kembali ke kamar tidur untuk beristirahat. Selama satu hari mereka banting tulang. Tubuh juga ingin beristirahat.
__ADS_1
"Fris... ambilkan plastik kakak di bawah tempat tidur," suruh Somsi kepada Friska yang masih belum naik untuk tidur.
Friska mengambil plastik itu. "Ini penghasilan kakak satu hari ini ya kak. Hasil dari jualan Kakak."
Friska heran melihat isinya. Kali ini terasa sedikit berat dari sebelum nya.
Somsi menghitung uang dari hasil dagangan nya. 90 ribu jumlah semua nya.
"Wah, Kali ini pendapatan kakak naik bertambah. Kakak goreng apa saja?" tanya Friska. Dia tidak mendapat goreng hari ini. Orang tua nya sudah menghabiskan nya sebelum dia pulang.
"Kakak masak bakwan dan perkedel tadi dek," ucap Somsi.
"Dek besok kamu ikut bantu kakak nya. Besok kakak juga akan menambah dagangan kakak," jelas Somsi.
"Baik kak," jawab Friska.
Somsi memasukan uang itu kedalam tabungan nya. Dia senang hari ini dia mendapat penghasilan yang cukup. Berharap dia bisa mencapai tujuan nya itu.
Lalu mereka merebahkan tubuh bersamaan. Sebelum mereka merebahkan tubuh masing-masing. Mereka tidak lupa untuk berdoa lebih dulu.
...****************...
Pagi hari yang cerah pun tiba. Matahari sudah memancarkan sinar nya. Semua sudah melakukan kegiatan masing-masing. Friska sudah pergi ke sekolah. Orang tua nya juga sudah pergi ke sawah. Somsi menyiapkan air minum yang mau dia bawa ke sawah. Dia akan pergi gajian menanam padi ke sawah ibu yang memakai topi semalam.
Setelah perjalanan dari rumah ke sawah akhirnya dia sampai juga.
Lumayan banyak dari pekerja sebelum nya. Kali ini mereka berjumlah delapan orang. Karena mungkin dari luas sawah ibu itu kali ya. Ibu yang memakai bedak dingin ikut juga.
Lalu dia menyuruh Somsi memakai bedak itu agar kulit nya tidak terbakar oleh panas matahari.
"Kamu sudah datang nak... ibu mengira kamu gak datang," ucap ibu yang memakai topi.
"Ha ha ha ha ha ..... ibu kok bilang begitu. Tidak mungkin aku tidak datang bu. Kan aku sudah janji. Lagian ibu saya memang sangat butuh sekali uang," jelas Somsi.
"Memang nya kamu perlu uang untuk apa nak," tanya ibu itu.
"Begini bu. Kan aku mau bekerja di Malaysia itu. Tetapi kalau mau bekerja disana harus bayar 10 juta dulu bu. Sebagai uang masuk," tutur Somsi.
Bersambung...........
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate juga ya🙏