
Somsi bingung mau jawab apa, soalnya Bram bicara terlalu berlebihan. Ntah apa yang sedang di pikiran Bram saat ini. Sudah di tolak masih saja berulah.
"Ma-mama jangan percaya deh," ucap Somsi terbata.
Kegugupannya saat ini semakin bertambah. Apa lagi Bram dengan pede ya masih mau mendekati Somsi. Dari sekian lama Bram menunggu cintanya tetap saja ia tolak, seperti barang bekas saja. Ya barang bekas ha ha ha ha, maksudnya barang yang uda bekas mau daftar sebagai baju mahal yah pasti di tolak kan?
"Iya tante... gak usah percaya ama Bram. Ini karna ia putus asa aja tan... namanya cintanya Bram selalu kena tolak sama Somsi," ucap Siti sambil mengeluarkan lidahnya bergerak melingkar berputar mulai dari kanan ke kiri hingga kembali ke kanan itu juga. Awal ia mulai memutar lidahnya.
"Ih... apaan sih, jeleknya minta ampun."
Bram memalingkan wajahnya dari Siti yang mengeledek dirinya. Benar saja yang di katakan oleh Siti. Ia selalu di tolak Somsi, tapi kan gak perlu jujur jujur kali lah. Kan itu sudah membuat dirinya malu. Apa lagi ia seorang pria yang dulunya bercita-cita jadi pria Gentleman. Semua sirna hanya gara-gara penolakan dari seorang wanita.
"Apa.... jelek? gila kali ya kau!" tegas Siti.
"Ha ha ha ha, makanya jangan suka gangguin aku, kena batu ya kan."
Bram tertawa terpingkal-pingkal saat melihat Siti yang marah sampai kehabisan kata mau lawan Bram mau bicara apa. Siti melempar Bram dengan tanah dari sawah yang gembur berair. Kemudian di balas oleh Bram.
"Sudah sudah sudah sudah... kalau kalian datang mau adu mulut yang ujung-ujungnya main lemparan, lebih baik kalian pulang!"
Somsi terbawa emosi dengan sikap temannya yang super bawel itu. Teman yang selalu ada yang selalu mengganggu kenyamanan ya sendiri.
"Iya betul itu, lebih baik kita pulang," kata Dryver.
"Apa?" ucap Bram dan Siti sambil melotot bersamaan. Mulut mereka menganga lebar saat mendengar Dryver mengatakan lebih baik pulang.
"Apa kamu sudah gila dek?" tanya Bram.
"Iya dek, apa kau sudah gila?" sahut Siti.
Bram mendongak lagi. "Ha pulang? baru aja kita sampai sudah pakai acara mau pulang saja. Kita bela-belain datang kesini."
Bram sedikit kecewa dengan apa yang di ucapkan oleh Dryver, bukan ya mau mendukung Bram, eh malah mengajak pulang.
"Soalnya kepalaku pusing tujuh kali keliling kak, lihat orang kakak berkelahi seperti Tom and Jerry saja."
"Ha ha ha ha ha ha, betul itu nak," ucap bu Wati tertawa terbahak.
"Siapa nama kamu nak?" tanya bu Wati kepada Dryver. Walaupun ia bicara pada Dryver, tapi tanganya tidak diam. Masih saja menyabit padi dengan cepat tanpa harus melukai tangan bu Wati. Ya berbeda lah dari biasanya, karena sambil bicara, bu Wati menyabit lambat dan sangat hati-hati.
"Dryver bu," ucap Dryver santai.
"Dimana kamu tinggal nak?"
Dryver menunjuk Bram dengan tatapan menantang. " Saya tinggal di rumah bang Bram bucin itu bu."
Apa? bucin? ini anak mulutnya perlu di lem. Supaya mulutnya gak bisa lagi bicara.
Bu Wati menatap heran Dryver. " Kenapa ia bucin dek?"
__ADS_1
"Habis ya bu, setelah kakak Somsi tidak mau menerima cintanya. Dia menangis seharian di kamarnya. Gak makan gak minum bu," jelas Dryver secara terperinci.
Apa? Bram tidak makan dan minum. Ya Tuhan ....
Apa yang sudah aku lakukan.
Somsi sedih begitu mendengar penjelasan Dryver. Ia tidak bisa menutup telinganya saat itu juga. Hatinya berdegup kencang dan perlahan terasa sakit.
Dalam hidupnya memang sering ia menolak seorang pria mana pun, tapi ia tidak pernah merasa kasihan pada pria itu, berbeda dengan Bram. Hatinya sekarang remuk saat orang yang mencintainya dengan tulus, ditolak mentah-mentah oleh dirinya sendiri.
Bram... kamu tidak memiliki kekurangan apa pun. Kamu baik, ganteng dan juga berpendidikan. Tapi aku malah menolak mu. Maafkan aku.
Air matanya menetes tiba-tiba, dengan cepat ia menghapus agar orang-orang tidak tau kalai ia sedang menangis.
Bram, Siti dan juga Dryver pun turun ke sawah. Membantu bu Wati dan Somsi. Sehingga pekerjaan cepat selesai.
Siapa sangka banyak yang datang membantu. Tetangga di samping rumah Somsi juga ikut dalam hal membantu. Padahal mereka adalah orang kaya, yang empunya segalanya. Tapi masih mau membantu Somsi dengan senang hati.
Dengan kedatangan tetangga tetangganya itu, membuat seluruh pekerjaan mereka hampir selesai.
Mereka akhirnya beristirahat sebentar, memakan jeddah yang sudah di bawa Somsi dari rumah.
Somsi menyerahkan masing-masing piring-piring yang sudah diisi makanan, untuk setiap orang yang mau makan.
"Silahkan di cicipi."
Somsi dengan senang hari menampilkan senyum ya di depan semua orang. Dengan gaya santainya ia makan dengan lahap. Ia sedikit melirik pada Bram yang makan perlahan memasukkan makanan ke mulutnya.
Kata itu selalu keluar dari mulutnya. Hal apa lagi yang bisa ia lakukan, selain bergumam meratapi kebodohannya. Pria yang tulus yang ia tatap diam-diam saat itu tanpa berpikir dua kali menolaknya begitu saja.
Padahal banyak wanita yang ingin bersanding dengan Bram, tapi Bram selalu menolak dengan alasan ia tidak suka.
Memang benar sekali, ia tidak pernah berpaling dari cintanya pada Somsi. Ntah apa yang sudah di lakukan Somsi padanya. Jelas saja Somsi tidak melakukan sesuatu yang bisa menjatuhkan harga dirinya. Itu sangat tidak mungkin.
Selesai makan, semua hendak berdiri melangkahkan kakinya masing-masing turun menuju sawah. Melakukan segala aktivitas yang sempat tertunda tadi.
Siti memegang sabit dengan tangan sedikit lemas. Sebenarnya ia takut untuk melihat sabit yang ia pegang itu. Tapi apa boleh buat, kemanjaannya di rumah tidak mungkin ia bawa. Apalagi mereka sedang berada di sawah. Pasti semua tertawa melihat sikapnya yang super manja.
Gimana ini, aku sungguh tidak tau cara menyabit padi ini. Jangan kan menyabit padi, memegang nya saja aku tidak tau, hu.... bagaimana ini.
Siti terus melototi sabit yang ada di tanganya. Dia diam-diam memanggil Somsi agar Bram tidak mengeledeknya. Siti ingat pada saat ia menegeledek Bram, pasti Bram akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan itu.
"Som.... som...." panggilnya lirih.
Somsi yang sibuk menyabit tidak mendengar suara yang memanggilnya. Ia masih fokus dengan pekerjaannya.
Somsi ingin segera padi mereka terkumpul lalu mereka mesin kan padi yang masih berbatang, sehingga menghasilkan biji padi yang sudah lepas dari batangnya.
"Som... tolong dengar aku!" teriak Siti memekakkan telinga Somsi pada saat itu.
__ADS_1
Somsi menatap mata Siti heran. Ntah kenapa Siti berteriak tidak jelas padanya. Bram yang memperhatikan sekaligus terkejut karena suara Siti yang mengganggu pendengaran ya merasa kesal dan menatap sinis pada Siti.
"Hei kau! telingaku bisa budeg hanya gara-gara suara compreng mu tau!" bentak Bram.
Siti menatap kesal. "Masalahnya buat aku apa?"
Siti masih berani melawan Bram yang sudah terlihat marah. Memang Siti tidak pernah takut pada siapa pun itu. Baginya ia tidak perlu takut pada siapa pun, kalau tidak dengan Allah.
"Masih berani melawan ya!" Dengan wajah marah ia tunjukkan pada Siti. Tapi itu tidak berpengaruh sama sekali. Malahan Siti cengar-cengir memainkan mulutnya.
"Iya dong."
Siti menyahut Bram sambil tertawa sinis. Dengan besar hati Bram membiarkan Siti dan tidak meladeninya lagi bertengkar. Ia tidak mau menambah masalah seperti anak kecil.
Tepat jam 1:30, akhirnya semua sudah siap di sabit. Tinggal mengantar ke pondok, membuat sebuah lingkaran besar dan mengumpulkan semua padi di sana.
Bram menaruh padi itu dengan cepat. Meski Bram adalah anak orang kaya. Tapi ototnya yang kuat mampu membawa tumpukan padi yang besar melingkar di tangan ya sedang ia bawa sampai ke lingkaran besar yang telah di buat untuk tempat padi tersebut.
Ototnya begitu kekar berisi. Lihat keringatnya membuatnya bertambah ganteng saja.
Dengan bangganya Somsi berhenti dan memperhatikan tubuh Bram yang sedang sibuk mengangkat padi.
Hanya menunggu beberapa menit, akhirnya terbentuklah lingkaran besar yang tersusun melingkar ke atas. Dan di dalam lingkaran itu juga berisi padi.
Mesin pemecah padi sudah ada di sana. Saatnya mereka melepas biji padi dari batangnya dengan memakai mesin itu.
Mesin padi di hidupkan, satu persatu biji padi terlempar keras pada alas tikar.
Somsi dengan sigap mengangkat padi itu selagi angin ya masih kencang, agar padi itu bersih dan bisa di masukkan ke dalam karung.
Hingga pada akhirnya semua tumpukan padi yang melingkar sudah habis. Mesin pun di matikan.
Karung terakhir untuk Somsi isi. Setelah semua selesai ia pun ingin melihat berapa banyak karung yang sudah terisi. Dan ternyata sangat mengejutkan sekali.
"50 karung? ya Tuhan ... apa ini benar? apa mataku tidak salah lihat," ucap Somsi dengan suara keras sambil mengucek matanya.
Sudah berapa kali ia mengucek matanya, tetap saja semua karung berjumlah 50 karung.
"Ma... apa aku tidak salah lihat kan?" tanya Somsi pada bu Wati.
"Tidak nak, kita memang mendapat sebanyak itu.
Bu Wati sangat bahagia, ternyata semua yang ia lakukan selama ini tidak sia-sia.
Somsi pun memanggil tukang pembeli padi. Karena merasa padi itu sangat banyak, jadi mereka bisa menjualnya.
Hanya 10 karung saja mereka tinggalkan. Lainnya biarlah mereka menjualnya untuk mencukupi kebutuhan mereka beberapa minggu ini.
Bersambung.....................
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyak-banyaknya๐๐๐๐