Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Lomba, 17 agustus 1945


__ADS_3

17 agustus pun di mulai, semua orang bergembira menyambut hari kemerdekaan Indonesia.


Dengan begitu banyak pengorbanan nenek moyang leluhur kita untuk mencapai semua ini. Mereka tidak memandang bulu atau mereka tidak pernah gentar untuk bertindak.


Tidak ada kata atau patah semangat dalam diri mereka semua. Mereka mengorbankan nyawa demi Indonesia. Agar Indonesia bisa damai, aman, dan makmur. Jauh dari kata penjajah.


Mengingat semua yang di lakukan penjajah bagi rakyat Indonesia, di mulai dari kerja rodi atau paksa. Membuat kita untuk selalu mengenang, betapa berjuang ya dulu wahai nenek moyang kita.


Di dapur dengan di bantu Friska dan bu Wati, menyiapkan makanan secara bersamaan. Mereka semua ikut serta untuk membantu Somsi dalam mencapai juara. Meski sangat kecil peluang untuk juara, sebab pasti banyak yang memiliki bakat yang lebih dari somsi. Tetapi Somsi tidak patah semangat. Yang belum di coba, harus di coba, tidak ada kata untuk mundur. Itu lah prinsip bagi Somsi.


"Ma... mama ikut gak nonton aku di taman yang baru di renovasi?"


"Dimana ya kalian nak?" tanya bu Wati bingung.


Taman itu kan taman tempat bermain, bersantai. Ya taman untuk menikmati indahnya malam dan menghibur perasaan yang sedih, bukan malah untuk berbaris atau mengenang masa penjajahan rakyat Indonesia.


Somsi tersenyum dan melempar tatapan sendu. "Ma... kan di samping taman ada lapangan, nah di sanalah kami akan melakukan lomba ma."


Mendengar penjelasan Somsi membuat bu Wati menganguk paham. Setelah itu mereka mulai fokus dalam bekerja. Friska yang dari tadi mengantuk seperti menyusahkan sekali bagi Somsi. Semua yang di pegang ya berjatuhan.


"Dek kalau kamu masih mengantuk pergilah ke kamar, dan tidurlah lagi di sana," lirih Somsi lembut.


Dengan gelagapan Friska menjawab. "Gak gak kok kakak, Friska gak mengantuk."


Somsi hanya menggeleng kepala, melihat tingkah adeknya itu.


Kemudian Somsi pergi ke kamar mandi karena kebelet ingin keluar.


"Ma dek, bentar ya... Somsi mau BAK. Tolong kerjakan lagi ya ma dek."


Somsi segera pergi ke kamar mandi belakang. Sudah tidak bisa ia tahan.


Beberapa detik kemudian, Somsi keluar setelah merapikan kembali baju dan celana yang ia pakai.

__ADS_1


Somsi duduk di samping Friska dan menyaksikan adeknya yang dari tadi kepalanya selalu tiba-tiba jatuh karena dasar mengantuk.


"Dek... kalau masih mengantuk, lebih baik tidur lagi sana."


Friska masih saja tidak mau, kali ini ia membuka mata lebar-lebar dengan memasukkan korek api, dimana korek api itu di kaitkan dari atas sampai bawah. Somsi yang melihat tingkah adeknya tertawa terbahak-bahak.


"Dek.. dek... kau selalu saja membuat hal yang lucu," ucap Somsi sambil mengusap kepala Friska lembut.


Dengan sangat pede ya Friska menjawab. " Ya dong kak, dari pada meninggalkan kakak bekerja sendirian di sini, lebih baik aku ikut membantu. Siapa tau kakak nanti pergi, Friska jadi banyak tau dan gak harus cari kakak lagi."


Ya dek. Kamu benar, gak mungkin kamu selalu bergantung pada kakak. Kamu harus pandai dan jangan mudah menyerah. Apa lagi kakak sebentar lagi akan pergi jauh dari kalian.


Somsi seketika mengeluarkan air matanya. Friska yang melihat kakaknya menangis heran. "Kak, jangan menangis. Kakak akan selalu bersama kami kok."


Somsi segera menghapus air matanya yang jatuh. Ia tidak sadar kalau air matanya akan jatuh di pipinya yang mulus.


Somsi terkekeh. "He he he he iya dek, kakak terbawa hati jadinya menangis deh."


Dengan beralasan yang tidak jelas membuat Friska bingung.


Pekerjaan itu akhirnya siap, Friska pergi ke kamar untuk mengambil pakaian gantinya. Dia ingin mandi, rasa capek yang ia rasakan dan menahan ngantuk yang cukup meresahkan.


Friska membuka bajunya dan sekarang tubuhnya yang polos sudah siap menerima air yang dingin itu. Baru ini Friska mandi pagi sekali. Biasanya mandi saat waktu sudah mau kepepet pergi ke sekolah.


Di kamar, Somsi yang sedang memikirkan cara bagaimana nanti ia bisa menang. Dengan segala usaha dan bakat yang ia miliki, membuat Somsi merasa insecure. Pikirannya sekarang penuh dengan tanda tanya. Apakah ia bisa menang dan mendapatkan uang sebanyak 10 juta itu, apa tidak dan harus menanggung malu terhadap warga yang sudah mendukung.


Perlahan ia mengumpulkan semua alat-alat yang akan ia gunakan nanti pada saat lomba. Ayam berkokok dengan nyaring mengisi satu penduduk di desa Somsi.


Dengan hari yang sedikit deg-degan Somsi, Friska dan bu Wati pergi setelah permisi pada pak Nius.


Pak Nius walaupun dalam keadaan terbaring dengan semangat ia mendukung putri sulung kesayangannya. Ia juga bangga terhadap bakat memasak putrinya itu. Dalam hatinya kecilnya, ia sangat bersyukur sekali ya walaupun mereka sangat miskin tapi mereka memiliki anak yang dititip oleh Tuhan yang menjadi kebanggan mereka.


Somsi dan Friska memiliki bakat ya masing-masing. Sehingga setiap orang yang mengenal mereka tidak memandang rendah meskipun tau kalau Somsi dan Friska bukan dari anak orang kaya. Ditambah sifat ramah dan sopan mereka membuat sekitarnya nyaman saat bersama mereka.

__ADS_1


Somsi dengan senang hati menolong siapa pun yang meminta tolong padanya.


Beberapa menit perjalanan mereka menuju taman akhirnya sampai juga. Sudah banyak orang disana. Perjalanan yang cukup melelahkan bagi mereka. Apa lagi mereka jalan kaki bukan seperti orang-orang yang datang kesitu naik angkot atau mobil pribadinya sendiri.


Terbiasa mandiri dari kecil membuat Somsi tidak patah semangat walau apa pun yang terjadi. Namun yang Somsi takutkan hari ini adalah saat ia akan mengikuti lomba nantinya.


Disisi lain, lamaran kerjanya untuk bekerja di Malaysia sudah meminta agar uang masuk segera dibayarkan.


Dengan segala upaya ia lakukan selama ini untuk mendapatkan uang. Tapi semua usahanya tidak sebanyak yang ia kira. Hasil dagangan ya saja hanya cukup untuk membeli bahan dan mencukupi segala kebutuhan mereka. Dulu pernah terkumpul sekitar 2 jutaan tapi semua sirna saat ada orang yang mencelakai pak Nius dan menggunakan segala taktiknya untuk membodohi mereka.


Untung saja seorang Bram mau menolong mereka. Kalau saja Bram tidak berbuat apa-apa, mungkin saja rumah Somsi sudah berhasil lolos menjadi hak milik para penjahat itu.


Semua orang sudah banyak terkumpul dan para peserta yang ikut lomba sudah berada di lapangan dengan semua peralatan memasak sudah ada pada tiap-tiap peserta.


"Untuk peserta dengan nomor 20 harap segera masuk ke lapangan." Sebagai pembicara yang baik, dengan tegas dan kuat ia mendekatkan microfon itu pada bibirnya agar semua orang mendengar dengan jelas.


Setelah pemanggilan suara terakhir untuk Somsi. Dengan perasaan takut dan wajah pucat ia memasuki lapangan dan singgah di tempat ia akan memasak.


Ya Tuhan.... jantungku berdegup kencang, tanganku bergetar, tubuhku lemas. Bagaimana aku akan mengikutinya jika aku saja tidak bisa berdiri. Tolong beri aku kekuatan ya Tuhan.


Semua orang bertepuk tangan saat Somsi masuk ke lapangan. Banyak orang yang sudah mengenal Somsi. Mungkin karena selama ini ia sering berdagang.


Semangat...............!


Semua orang yang mengenal Somsi memberi support padanya.


Peserta nomor 19 merasa iri pada Somsi. Saat ia masuk ke lapangan tadi, hanya sedikit yang memberikan suport padanya.


Gaya ya sok. Hu... belum tentu ia bisa melawan bakat memasak ku yang luar biasa ini.


Bibirnya ia majukan dan menatap tajam pada Somsi. Ada perasaan tidak suka yang timbul dalam hatinya ketika ia bertatapan tidak sengaja dengan Somsi.


Bersambung........................

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorite sebanyaknya๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


__ADS_2