Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Amarah


__ADS_3

Bram yang melihat itu emosinya semakin melunjak. Ia merasa geram dengan semua tingkah Dino. Tangan ya kini sudah ia kepal, satu layangan tinjunya sudah mendarat ke pipi Dino bagian kanan.


Bugghhhh........


Dino meringis kesakitan saat mendapat tinju dari Bram. "Aww."


Amarahnya sekarang lebih memuncak dari amarah Bram lalu kembali ia membalas dua kali tepat mengenai pipi kanan dan pipi kiri Bram.


Buggghhh.......... Buggh...............


Darah segar keluar dari bibir Bram. Somsi terkejut melihat perkelahian yang terjadi antara dua pria yang sedang bersamanya itu.


Ia menjerit ketakutan, "Bram!"


Dengan cepat ia mendekati Bram mengusap lembut darah yang keluar dari bibir Bram. Semua sudah ia hapus tapi darah itu selalu muncul. Tangan ya kini bergetar, jantungnya berdegup kencang. Air matanya sudah membasahi pipinya yang mulus. Ia melerai Bram yang ingin membalas Dino.


"Bram.... sudah..... hiks hiks....sudah Bram, kamu jangan melawan ya lagi. Dino memang tidak mau mengalah," ucap Somsi dengan mulut bergetar.


Somsi menatap tajam pada Dino yang masih berdiri dengan badan tegap menantang. Dia tidak suka dengan sikap Dino yang kasar. "Dino!" hardiknya.


Somsi menghampiri Bram lalu menamparnya.


Plaak...........!


"Satu tamparan ini sepertinya sudah cukup untukmu," sergah Somsi.


Somsi juga tidak bisa lagi menahan emosinya yang dari tadi memuncak dengan sendirinya. Mungkin ketika ia melihat Bram terluka.


Kenapa Somsi begitu peduli padaku? Apa ini hanya sebagai bentuk dari rasa kasihan?


Bram memperhatikan Somsi yang berusaha membelanya. Ia heran dengan sikap Somsi yang tiba-tiba sangat marah ketika melihatnya terluka.


"Iya! Abang pergi saja dari sini. Ngapain abang masih mengganggu kakakku!" hardik Friska lagi. Ia tidak mau kehilangan kesempatan memarahi Dino. Dari tadi Dino sudah mengganggu kenyamanan ya saat ia berkhayal.


Pikiran ya dipenuhi dendam berkali lipat. Apa lagi calon abang ipar yang ia impikan yaitu Bram sampai terluka gara-gara pukulan Dino.


"Cepat pergi sana!" tambah Friska lagi dengan lantang. Menatap tidak suka pada sosok yang ia usir itu. Rasa hormatnya kepada yang lebih tua menghilang sementara hanya gara-gara ingin membela kakak ipar yang ia dambakan.


Lalu ia mendekati Bram, "Abang tidak apa-apa?" tanyanya lembut. Bibirnya ia katupkan rapat-rapat. Ia sedih karena calon abangnya terluka.


Bram masih saja tersenyum. Ia merasa lucu dengan tingkah adeknya Somsi. "Gak papa kok dek. Ini sudah biasa abang rasakan," jawab Bram sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Serius bang?" tanya Friska lagi.


"Iya dek."


Dengan rasa marahnya yang tak kunjung padam, ia tidak sedikit pun merasa lucu dengan sikap adeknya. Baginya ia harus menyelesaikan satu polusi dulu. " Dino! Sudah aku katakan kalau aku sudah tidak memiliki perasaan lagi padamu. Jadi, Please..... pergilah!" ucap Somsi mengoptimalkan perasaan ya.


Dino yang mendengar Somsi mengusirnya begitu saja, hatinya terasa pilu dan ingin menangis. Tetapi ia masih bisa menahan ya dan tidak mau menunjukkannya kalau sebenarnya ia juga sedih dengan sikap Somsi.


"Abang tidak dengar? Cepat pergi!" bentak Friska langsung setelah melihat perkelahian yang tadi itu selesai. Sedari tadi ia hanya melongo heran dengan tontonan yang cukup membuat penonton ya memegang setelah melihatnya.


Tidak ada sahutan lagi dari Dino, ia pergi tanpa pamit pada siapa pun. Bagaimana pun ia tidak boleh bersedih. Itu memang kesalahan ya sendiri bukan salah Somsi.


Setelah kepergian Dino, Somsi menatap nanar Bram. Mulutnya sudah tidak bisa lagi untuk bicara.


Bagaimana ini .... apa Bram masih marah padaku?


Somsi mengingat kejadian dimana ia telah memukul Bram dengan kayu kecil dan juga membentaknya dengan kasar. Ingin rasanya ia bertanya, apakah Bram masih marah padanya, tapi rasa takut itu telah menguasai dirinya.


"Dek... kamu masuklah ke dalam! Kakak masih ingin bicara padanya," perintah Somsi kepada adeknya yang dari tadi menatap kagum dengan kegantengan Bram.


Setelah kepergian Dino, Somsi menatap nanar Bram. Mulutnya sudah tidak bisa lagi untuk bicara.


Bagaimana ini .... apa Bram masih marah padaku?


Somsi mengingat kejadian dimana ia telah memukul Bram dengan kayu kecil dan juga membentaknya dengan kasar. Ingin rasanya ia bertanya, apakah Bram masih marah padanya, tapi rasa takut itu telah menguasai dirinya.


"Dek... kamu masuklah ke dalam! Kakak masih ingin bicara padanya," perintah Somsi kepada adeknya yang dari tadi menatap kagum dengan kegantengan Bram.


Friska memasang muka cemberut tetapi mengiyakan juga. "Hmmm baiklah."


Ia pun pergi lalu berbalik lagi. "Tapi ingat! Jangan ngapa-ngapain."


Bram menahan tawa ketika melihat sikap Friska yang berlebihan. Adek Somsi yang begitu antusias kalau soal pacaran.


Ya begitulah Friska. Umurnya saja yang masih muda tapi kalau soal pengalaman ia lebih jago. Jago bergosip, hehehehe.


Somsi mendekat ke arah Bram yang sudah terlampau jauh darinya. "Bram..... maaf. Aku minta maaf karena aku telah menggunakanmu sebagai alat untuk mengusir Dino dari sini."


"Dan terimakasih karena kau telah membantuku tadi," tambahnya lagi.


Bram tersenyum tipis. "Iya, sama-sama."

__ADS_1


Karena tidak ada hal lain lagi yang mau diomongin Bram hendak pergi tapi tiba-tiba saja Somsi menarik tangan ya dan merangkulnya dari belakang. "Bram..... aku menyukaimu."


Sontak saja Bram kaget dengan perkataan Somsi yang baru saja ia dengar. "Apakah kau serius Som? Dan bukan dari unsur karena rasa terpaksa?" tanya Bram masih membiarkan Somsi memeluknya sambil menatap remang-remang pepohonan yang ada di sekitar situ.


Somsi menggeleng di punggungnya. "Tidak Bram... aku serius. Dari dulu aku memang sudah menyukaimu tapi aku memilih mendiamkannya dan juga menolakmu. Karena rasa trauma yang ada dalam diriku ini."


Bram mulai memancarkan aura penuh bahagia. Ia tersenyum senang setelah Somsi mengatakan itu.


Ternyata cintanya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan.


"Jadi kau sudah benar-benar menerimaku menjadi pacarmu Som?" tanya Bram dengan membalikkan badannya menghadap Somsi lalu menatap mata itu yang tertunduk malu dengan penuh cinta.


Somsi menunduk malu kemudian mengangkat wajahnya untuk menjawab pertanyaan Bram yang terlihat serius. "Iya Bram. Aku menerima mu dan juga cintamu."


Tanpa diberi aba-aba Bram langsung menarik tubuh Somsi ke dalam pelukannya. Ia sangat bahagia. Hari yang penuh dengan momen bahagia ini tidak boleh terlewatkan begitu saja. Harus ada kisah yang akan dikenang nanti.


Tidak peduli itu terkesan rendah bagi orang lain. Yang terpenting mereka bahagia.


Somsi merasakan hangatnya tubuh Bram ketika mereka berpelukan. Dalam hatinya, ia berharap kalau Bram adalah cinta terakhir untuknya.


"Som... kau masih belum mandinya? Bau.... tapi kamu kok tetap cantik. Hehehehehehheh," ucap Bram sambil terkekeh hebat.


Wajah merona di campur rasa malu yang di rasakan Somsi saat ini. "Ahh, kamu gombal tau."


Lalu ia sedikit menjauh membelakangi Bram karena perasaan ya yang telah memuncak. Sekarang hatinya merasa deg-degan jika ia sedang berdekatan dengan Bram. Ia memilih menjauh agar Bram tidak mengetahuinya. Ia tidak mau kalau Bram sempat mengetahuinya pasti Bram lebih menggodanya lagi.


Lalu Bram mendekat lagi pada Somsi. Ia kemudian jongkok dan meraih tangan Somsi dalam posisi itu dan mengecup lembut punggung tangan Somsi.


Cupp


"Terimakasih telah menerima cintaku."


Somsi bertambah menahan rasa malunya pada Bram. Wajahnya bersemu merah ketika Bram melakukan hal yang romantis padanya. Lalu Bram Bram berdiri dengan tiba-tiba ia mendekatkan bibirnya mengecup lembut bibir manis itu.


Cupp


Bersambung..................


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž

__ADS_1


__ADS_2