Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 23


__ADS_3

Di tengah jalan saat Somsi pulang dari rumah Siti, ia bertemu Bram. Hal yang paling membosankan juga akhirnya datang.


"Hai cantik... cantik-cantik habis kemana? baru lagi ulang tahun semalam," ucap Bram menggombal Somsi.


Somsi mendengus kesal. "Ihk apaan sih."


Somsi berjalan secepat mungkin. Dia tidak ingin berurusan dengan Bram hari ini.


"Hei, mau kemana kamu? kok cepat sekali jalanya?" tanya Bram. Dia heran melihat Somsi yang ingin segera menjauhinya.


Memangnya aku punya salah apa coba?


Dia masih mengingat semua kesalahan yang pernah ia lakukan sehingga Somsi harus menghindarinya.


Somsi tidak menghiraukannya sama sekali. Dia tetap melajukan langkahnya dengan cepat.


"Berani nih gak mau bicara sama aku? atau aku gak jadi membantu sepertinya," ancam Bram.


Somsi memutar mata malas lalu berbalik menghadap Bram. "Kenapa sih! kau mau bicara apa?"


Tidak ada sahutan dari Bram.


" Mau bicara apa emang?" tanya Somsi lagi dengan lirih.


Somsi tetap berusaha mengoptimalkan rasa kesalnya pada Bram.


"Gak ada," ucap Bram singkat sambil menggaruk kepalanya.


Dia cantik sekali. Oh Tuhan bantu aku...


"Ya sudah kalau tidak penting aku pergi yaa," lirih Somsi.


"Habis kamu cantik sekali hari ini dan a-" suara Bram terputus. Dia hampir keceplosan mengatakan sesuatu yang bisa-bisa harga dirinya sebagai pria gentleman gagal.


Cantik? aaaa makasih.


" Ha ha ha ha ha ha, hanya itu kah yang ingin kau bilang? yah memang aku ini cantik kok," ucap Somsi sambil memainkan rambutnya.


Lihat ... lihat dia jadi ke geeran kan? tapi dia jadi tambah imut sih.


"Geer banget sih lo, bwee," ucap Bram mengulurkan lidahnya.


Lihat saja dia bahkan tidak mau mengakuinya.


Somsi mendengus kesal.


"Ihk siapa juga yang mau geer sama kamu."


"Ha! emang iya kok. Kamu kan tukang geer. Lihat saja wajahmu merona sekarang," ngeledek Bram.


Apa iya sih wajah aku merona?


"Kamu jangan suka ngada Ngada yaa," umpat Somsi.

__ADS_1


Bram malah tertawa melihat Somsi kesal.


"Ha ha ha ha ha ha ha."


Karena rasa kesal yang meliputi hatinya sekarang, ia berlalu meninggalkan Bram. Tapi Bram menghentikan nya.


"Hei... jangan langsung pergi dong! serius gak mau dengar aku bicara?" tanya Bram insten.


Somsi membentak Bram. "Apa lagi!"


Bram sedikit terkejut dengan suara Somsi.


"Eh, eh eh eh... kok lama lama kamu berubah jadi harimau galak sih. Kenapa jadi berbeda?" tanya Bram melotot.


Somsi menunjuk Bram dengan tatapan marah.


"Habis kau sih... selalu buat aku marah."


"Ya sudah deh, aku minta maaf," ucap Bram.


"Iya," ketus Somsi.


"Aku mau bicara soal papa mu kemarin. Sekarang aku mau memulai aksiku. Aku berharap bisa menemukan dalang di balik kecelakaan papa kamu," jelas Bram.


"Owh gitu," ketus Somsi. Sebenarnya ia masih kesal pada Bram. Tapi melihat Bram yang berniat sekali menolongnya dia jadi merasa kasihan padanya.


Bram ... kenapa kamu sebaik ini? apa yang membuatmu hingga kamu selalu bersikap berbeda untukku.


"Hei.... kok malah bengong! aku asik bicara kamu sedikit pun gak mendengar," celoteh Bram.


Aku tau kamu punya banyak beban Som, makanya aku ingin membantumu. Setidaknya kau bisa tersenyum seperti ini.


"Menghayal oh menghayal... lagi menghayal memikirkan aku?" tanya Bram menggoda. Lagi, lagi dan lagi ia terus menggoda Somsi.


Makin hari makin gak becus nih anak.


"Memangnya kau bicara apa tadi?" tanya Somsi insten. Kali ini dia benar-benar fokus mendengar Bram.


"Aku sudah menyusun rencana. Tapi aku masih bingung bagaimana caranya aku bisa menangkap mereka," ucap Bram sambil memukul mukul jari telunjuknya ke jidatnya.


"Tapi kau bilang tadi, kau sudah selesai memikirkannya. Apa ini? kok malah masih menyusun rencana," kesal Somsi.


Dia sendiri bingung mau apa dan harus apa. Dia bahkan tidak memikirkannya sama sekali.


"He he he he he he he he he, aku lupa," ucap Bram cengengesan.


Somsi menepuk jidatnya. "Oalah."


"Dari pada aku kau halangi untuk pulang. Lebih baik aku pergi. Di rumahku masih banyak pekerjaan yang mau aku lakukan," jelas Somsi.


Bram mengayunkan tanganya dan menghitung jarinya dari 1 sampai 10. Setelah dia melakukannya baru lah ia kembali berbicara lagi. "Oke deh."


Somsi akhirnya pulang. Dalam hatinya ia masih kesal pada Bram. Berani menghentikan ia saat berjalan, berani berbuat sesuka hatinya padanya dan lebih herannya lagi ia harus mendengarnya. Seharusnya kan Somsi pergi begitu saja tanpa harus mendengar embel-embel Bram lagi. Ntah apa yang membuat ia harus mendengarkan semua perkataan Bram. Mungkin lucu kali ya.

__ADS_1


Bram pun pergi ke warung biasa ia kunjungi. Ia membeli minuman sprite dingin. Ia meneguknya.


"Ahhh mantap," ucap Bram setelah merasakan perutnya sejuk.


Dua orang pria memasuki warung itu juga. Mereka terlihat sibuk sekali. Tapi dalam keadaan berbisik. Dalam hati Bram mereka seperti mencurigakan.


Siapa dua pria ini? belum pernah aku melihatnya.


Bram menatap dua pria itu intens. Dia semakin curiga saat melihat salah satu pria itu seluruh tanganya sebelah kanan bertato.


Apa mereka penjahat ya?


Bram masih sibuk dengan suasana hatinya yang penuh pertanyaan.


Hingga akhirnya dua pria itu pergi. Bram juga mengikuti mereka. Dengan sangat hati-hati ia mengikuti agar tidak ketahuan.


"Eh ***blok, gimana kabar pak Nius ya?" ucap pria yang memakai tato.


Bram yang mendengar semakin percaya kalau kecurigaannya benar. Tidak lupa ia memasang rekam suara.


"Mana gue tau oon, emang aku selalu di sana," ucap temannya lagi.


"Ah... kamu takut gak setelah menabraknya?" tanya pria pakai tato.


"Kok cuma aku. Kau juga ikut oon," ucap temannya.


"Kalau aku sih gak takut sama sekali. Toh gak ada yang tau," ucapnya senang.


Temannya menunjuk pria pakai tato itu. "Sok sok an kamu... paling ntar nangis."


Di saat mereka sibuk adu mulut akhirnya Bram membuka suaranya.


"Iya, ya ya ya... kau dan kau bakalan menangis di penjara," ucap Bram dengan tatapan tajamnya.


"Hei! siapa kau. Berani sekali bicara. Kau tidak tau siapa kami?" ucap pria pakai tato.


Temannya juga bicara. "Ya kau gak tau sepertinya, tapi saya gak akan berlama-lama berurusan denganmu," sergahnya. Dia menyerang Bram dan di susul oleh pria pakai tato.


Untung saja Bram pernah latihan bela diri. Sehingga ia bisa melawan dua pria itu. Mereka bertekuk lutut memohon ampun pada Bram.


"Kenapa kalian melakukannya, ha? apa keuntungan kalian. Kalian tega menabrak orang yang tidak bersalah pada kalian. Kenapa ha!" hardik Bram.


"Maaf maaf kami tidak sengaja melakukannya," ucap pria pakai tato menunduk. Dia bahkan tidak berani melihat ke arah Bram lagi.


Temannya juga ikut bicara.


"Iya ... kami tidak sengaja maafkan kami."


"Mengapa kalian mengatakan tidak sengaja? memang benar, alasan kalian saat melakukan kesalahan adalah unsur ketidak sengajaan, itu bukan maksudnya? dan kalian salah satunya, yaa aku tau kalian memang seperti itu. Kenapa kalian melakukan itu. Kenapa ha!" hardik Bram dengan tatapan tajamnya.


"Maaf, maaf... sungguh kami minta maaf. Kami salah," ucap pria pakai tato.


Bersambung............

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote like dan juga komen. Rate favorit juga sebanyaknya.😊


__ADS_2