Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 39


__ADS_3

"Dek .... jangan sedih," ucap Somsi mengelus pundaknya. Ia juga ikut sedih. Ternyata di balik penderitaan nya selama ini, masih banyak yang lebih menderita dari kehidupan yang ia alami.


Somsi tidak menyangka hal itu bisa menimpa anak kecil yang ada bersamanya.


Dalam hatinya bertanya mengapa seorang ibu bisa setega itu membuang anak mereka. Apakah mereka tidak kasihan menelantarkan anak kandung mereka sendiri?


Itu lah yang menjadi beban pikiran Somsi. Ia ingin menolong anak itu, tapi bagaimana caranya. Kehidupannya juga sangat sulit. Andai kalau ia memiliki uang banyak pasti ia akan menolong anak itu.


Somsi menghapus air mata anak kecil itu dengan tanganya. Mencoba menghibur hatinya agar berhenti menangis.


Bapak tua yang ada bersama mereka merasa jijik dan ia pergi begitu saja setelah membayar bayaran mie gomak Somsi.


Mungkin bapak tua tidak ingin mendengar setiap keluhan atau pernyataan kalau ia memang sudah salah mengusir mereka.


Dengan cepat ia melangkahkan kakinya tanpa sedikit pun bergeming merasa kasihan kepada anak kecil itu.


Bram juga ikut sedih. Ia berpikir keras untuk melakukan sesuatu pada anak kecil ini. Ia juga tidak tega melihatnya seperti itu.


"Dek... gimana kalau kau dan adek mu tinggal di rumah kami. Bukan rumah yang kami tinggali. Tapi rumah kontrakan kami," ucapnya tersenyum. "Kami banyak memiliki rumah kontrakan. Kebetulan rumah kontrakan abang ada yang kosong. Di sana kau dan adek mu bisa tinggal."


Bram begitu senang mengajak anak kecil itu untuk tinggal ke rumah kontrakan mereka.


Bram... kau baik banget. Aku semakin menyukaimu.


Somsi terus melirik ke arah Bram diam-diam. Bram sendiri tidak tau kalau Somsi sedang meliriknya. Dia sekarang berniat untuk menolong anak kecil itu dengan setulus hatinya.


Anak kecil itu melongo. "Ba-bang... aku tidak mungkin tinggal di rumah abang. Aku tidak punya uang untuk membayar ongkos rumah abang," ucapnya terbata.


Suaranya memang dari tadi terdengar pelan tapi masih bisa terdengar jelas. Sakit tenggorokan yang ia rasa dan berusaha untuk membalas setiap perkataan Bram dan Somsi.


"Aku mau adek tinggal ke rumah aku. Abang tidak merasa rugi kok."


Anak kecil itu terdiam paku. Belum memutuskan apa yang akan ia ambil untuk selanjutnya.


"Tapi bang-" ucapnya terputus.


"Tapi apa lagi dek?" tanya Bram.


"Aku terikat janji dengan bos aku. Kalau aku akan setia menjadi anak buahnya untuk menjual dan melakukan segala perintahnya," jelasnya menunduk sedih.


Ntah sampai kapan adek itu akan terlihat bahagia. Dari tadi ia selalu menampakkan wajah sedih. Sehingga Bram dan Somsi tidak tega melihat kesedihannya.


"Kau tidak perlu takut dek. Abang akan menemuinya nanti," ucap Bram sambil tersenyum.


Senyum Bram berhasil memikat Somsi lagi. Berkali-kali jantungnya berdegup kencang.


Ganteng sekali dia? Bram... kau sangat ganteng.


Bram melihat Somsi yang melirik dirinya diam-diam. Dia tersenyum licik. Ingin menggunakan cara untuk menaklukkan hati Somsi lagi.


"Som... kau tadi melirik ku ya?" tanya Bram.


Somsi yang mendengar Bram mengatakan kalau ia melirik Bram tersipu malu.

__ADS_1


Somsi mengira tadi kalau Bram tidak mengetahui kalau ia melirik Bram diam-diam.


Waduh... mati aku ini. Kenapa sih dia harus tau.


"Ka- gak kok, aku gak melirik mu sama sekali. Geer deh kamu."


Somsi berusaha menutupi rasa malunya terhadap Bram. Dia tidak ingin menunjukkan rasa malunya.


Dia juga tidak sadar, kenapa akhir-akhir ini ia suka melirik Bram. Bahkan kalau Bram tidak ia lihat, pasti ia akan kecarian.


"Jujur lah Som ... aku tadi melihatmu kok," ucap Bram menarik tangan Somsi. Sehingga Somsi lebih dekat lagi dengannya. Hanya sedikit jarak yang memisahkan mereka saat duduk.


Somsi bergetar, tanganya sudah mulai berkeringat. "Kau bergetar Som. Apa kau sedang sakit?"


Somsi menarik tanganya cepat. "Gak kok, aku gak sakit."


Bram tau keadaan Somsi. Dia tau kalau Somsi malu dengannya. Tapi Bram belum tau perasaan Somsi sebenarnya.


"Som... ini kenapa?" tanya Bram setelah melihat ada luka di jari tangan Somsi.


Luka itu terjadi pada pagi tadi. Saat ia mulai memasak mie gomak. Tanganya tergores pisau saat mengelupas kulit wortel dengan pisau.


Ingin membalutnya tadi Somsi tidak sempat. Makanya luka itu terlihat jelas di mata Bram.


"Itu gak papa kok Bram. Hanya luka kecil saja," ucap Somsi.


Bram menarik tangan Somsi.


Cup....


Aww....


Somsi berteriak saat merasakan tanganya terasa pedih.


Cukup 1 menit Bram memasukkan tangan Somsi ke mulutnya lalu ia meniup tangan Somsi agar tidak terasa sakit lagi.


"Som... makanya kalau memasak hati-hati. Coba kau hati-hati tadi, pasti tidak begini jadinya," ucap Bram memberi nasehat kepada Somsi.


Sosweet sekali dia. Lihat dia sangat perhatian padaku.


"Gak usah berlebihan Bram. Aku gak suka," umpat Somsi.


Bram tidak sakit hati mendengar ucapan Somsi. Ia tau kalau Somsi tidak berkata seperti itu. Itu ia lakukan hanya menghilangkan rasa gugup yang ia rasakan.


"Kau malu ya Som?"


Apa? kenapa Bram harus mengatakan itu sih. Yah jelas aku malu. Jantungku sekarang berdegup kencang. Saat kau mendekat denganku. Makanya menjauhlah! aku mohon!


Somsi menutup matanya tanpa menyahut. Ntah apa yang membuat Somsi hingga menutup matanya seperti itu.


Bram bingung dengan tingkah Somsi. Lalu ia berencana akan menggoda pujaan hatinya itu.


Bram menggoyangkan tangan Somsi. "Hei! kau kenapa?"

__ADS_1


Somsi tersadar dan membuka matanya. "A-aku gak papa kok," ucapnya terbata.


Bram tersenyum dan menata rambut Somsi yang mengenai wajahnya. Rambu itu ia ikat sebelum pergi dan sekarang hancur berantakan. "Kau memikirkan kalau aku mencium mu kan?" bisik Bram saat tadi ia mendekati telinga Somsi.


Somsi terlonjak kaget mendengarnya.


Otak mesum.


Somsi menjauhkan pandangannya dari Bram. Sedangkan anak kecil itu hanya diam sebagai umpan nyamuk di balik kemesraan Somsi dan Bram. Itu lah yang di pikirkan anak kecil itu. Hal yang terjadi dengan Bram dan Somsi sudah begitu mesra ia lihat.


Anak kecil itu juga tersenyum melihat wajah polos Somsi yang kehabisan kata untuk menjawab Bram.


Bram menarik Somsi lagi mendekat dengannya. Tanpa ada jarak lagi memisahkan mereka.


"Bram..." ucap Somsi bersemu marah. Perasaanya sekarang begitu senang di campur malu saat Bram melakukan hal romantis dengannya.


Bram menjauh dan tersenyum teepingkal-pingkal. "Hahaha hanya itu saja kamu sudah baper. Lihat wajahmu bersemu merah."


Somsi malu dengan dirinya. Mengapa ia harus baper dengan perlakuan Bram padanya. Karna merasa di ledek oleh Bram, Somsi cemberut dan menjauh dari Bram segera. Dia akhirnya kembali fokus untuk berdagang.


Sudah tinggal sedikit lagi. Daganganya akan habis semua. Sehingga ia akan pulang cepat nantinya.


Bram senang melihat Somsi menerima semua perlakuannya. Baru ini Somsi mematung dan merasakan setiap sentuhan tanganya.


Som... apa kau sudah menyukaiku? apa aku sudah ada di dalam hati mu?


Pertanyaan yang selalu terbenam dalam pikirannya. Itu lah mengapa Bram berusaha untuk tidak memberikan perasaannya lebih pada Somsi. Ia takut kalau nanti Somsi tidak menerimanya, ia akan patah hati.


Bram melihat anak kecil itu yang duduk diam tanpa menyahut. "Hei..!" ucap Bram menyadarkan anak itu dari lamunannya.


"Tidak, 7 anak kambing ku makan taiknya," ucap anak itu latah.


Somsi dan Bram mendelik mendengarnya, lalu mereka tertawa bersama. "Ha ha ha ha ha ha ha."


"Kau lucu sekali dek," ucap Bram sambil mengelus kepala anak itu dengan tanganya.


Anak itu hanya diam menerima elusan tangan Bram. Ia begitu senang dan nyaman dengan setiap elusan Bram.


"Mulai sekarang nama mu Dryver," ucap Bram tersenyum.


Dryver?


"Apa namaku Dryver?" tanya anak kecil itu heran.


Bram menganguk. "Iya dek."


"Horee .... aku punya nama, terima kasih bang," ucap anak itu lari kesana kemari.


Bram tersenyum melihat anak itu bahagia, begitu juga dengan Somsi. Mereka melihat anak kecil itu sangat bahagia dengan nama barunya.


"Hore.... mulai sekarang aku akan di panggil Driyver."


Bersambung................

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏


__ADS_2