
Apa yang terjadi dengan Bram hari ini?
Somsi heran dengan ucapan Bram. Selama ini Bram tidak pernah menunjukkan rasa sukanya pada Somsi. Tapi sekarang, mengapa Bram malah mengungkapkan perasaannya pada Somsi di saat-saat seperti ini.
"Bram kamu pasti bercanda deh," ucap Somsi menundukkan kepalanya. Ia pasti tau bagaimana seorang Bram. Bram sendiri sangat sulit untuk membuka hati kepada seorang wanita.
"Som... aku serius. Aku tidak bercanda," ucap Bram tulus. Terlihat dari sosok matanya yang sayu, menandakan kalau ia benar-benar suka pada Somsi.
Somsi berpaling dari tatapan Bram. Ia merasa canggung dengan Bram. Jantungnya mulai berdegup kencang. Apa yang harus ia lakukan saat ini.
Ya Tuhan, bagaimana ini? aku tidak mau Bram sedih. Kalau aku menolaknya apa Bram masih bisa menerima ku sebagai teman seperti dulu? atau ia akan menjauh dari ku untuk selamanya?
Banyak pertanyaan yang tersimpan dalam hati Somsi. Dia tidak tau bagaimana caranya menanggapi perasaan Bram. Dari dulu semua pria yang menembaknya di tolak oleh Somsi mentah-mentah.
Dan sekarang Bram telah mengungkapkan perasaannya pada Somsi. Somsi sendiri belum siap untuk hal itu.
"Bram-" ucapannya terputus. Somsi tidak tau harus melanjutkan apa lagi. Dia bingung harus menjelaskan dari mana.
Bram meraih dagu Somsi hati-hati.
Ia menatap sorot mata Somsi dalam. Hari ini ia keluarkan semua keberanian yang ada pada dirinya.
"Som...tatap mataku, apa aku terlihat seperti orang yang berbohong?" lirih Bram.
Bram ingin Somsi tau kalau dirinya memang benar-benar menyukai Somsi. Dan sudah ada cinta di dalam hatinya.
"Bram... aku mohon-" ucap Somsi tersenggal. Ia tidak tau lagi harus bicara apa dan apa yang akan ia berikan sebagai alasan atas penolakannya.
"Kenapa Som? kenapa? kenapa kau memohon padaku. Apa aku salah mengatakan rasa sukaku padamu?" tanya Bram yang membuat Somsi kikuk kehabisan kata-kata.
"Bukan begitu Bram, aku-" ucapan Somsi kembali terputus. Ntah kenapa mulutnya tidak bisa menjelaskan kata demi kata.
"Kenapa Som? apa aku masih kurang sempurna? apa aku tidak termasuk selera mu?"
Somsi melotot mendengar ucapan Bram. Dari dulu ia tidak pernah terlalu pemilih dalam memilih pasangan. Asal pria itu baik Somsi pasti mau menerimanya. Tapi untuk soal ini beda dari perkiraan Somsi.
Gimana ini ya Tuhan....gimana aku harus menjelaskannya. Aku tidak mau Bram salah paham. Dan aku tidak mau kehilangan pertemanan kami selama ini. Apa yang harus aku lakukan dan apa yang harus aku katakan kepada Bram. Agar ia bisa menerima penolakan ku nanti ya. Aku mohon Tuhan beri aku jalan keluar.
Somsi masih sibuk dengan semua pertanyaan yang ada dalam relung hatinya.
"Kenapa Som? kenapa kamu diam? katakanlah sejujurnya," tutur Bram.
"Aku bingung Bram harus memulai dari mana," ucap Somsi dengan kepala menunduk. Bibirnya bergetar saat ia mengatakannya.
Bram meraih pundak Somsi dengan dua tanganya membuat Somsi menghadapnya. Meraih dagu Somsi, mengangkat kepalanya, mengatur pandanganya agar mata itu bisa menatapnya jelas. "Ada apa Som?"
__ADS_1
Somsi segera memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin bertatapan lama dengan pria yang sedang bersamanya.
"A-aku, aku... aku tidak tau mau jawab apa Bram," ucap Somsi terbata. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya. Tanganya bergetar dan wajahnya terlihat pucat.
Bram melihat Somsi yang mulai pucat. Ia juga melihat tangan Somsi bergetar. Bram meraih tangan Somsi dan memegang tangan itu lembut. "Kenapa tanganmu gemetar dan terasa dingin Som?" ucap Bram saat merasakan tangan Somsi bergetar cepat dan terasa dingin.
Somsi menarik tanganya. "Tidak apa-apa kok Bram."
Bram tau kalau Somsi menyembunyikan sesuatu. Tapi apa yang harus ia lakukan. Kalau ia sendiri tidak tau apa masalah Somsi.
"Som... aku mohon jangan berpikir dua kali untuk menerima ku. Kau tau kan selama ini aku tidak pernah mempermainkan wanita, aku juga belum pernah merasakan yang namanya cinta. Pada hal banyak wanita yang ingin bersamaku. Tapi aku menolak mereka. Dan hanya kau lah yang bisa mengambil hatiku," jelas Bram.
Somsi yang mendengar penuturan Bram merasa kasihan. Ia juga tidak tau. Akhir-akhir ini dia juga memikirkan Bram. Tapi ia kurungkan karena ia mengingat semua janjinya untuk membahagiakan orang tua dan juga adeknya.
Jantung Somsi berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Ia tidak bisa mengatur posisi denyut nadinya sekarang.
Bagaimana ini... jantungku sudah mau copot. Bagaimana cara ku untuk menetralkan nya.
Somsi bingung harus bilang apa lagi. Pikirannya sekarang menjadi buntu dan tidak konsentrasi berpikir.
"Kenapa Som, kenapa malah diam?" tanya Bram yang melihat Somsi diam.
"A-aku tidak apa kok Bram," jawabnya tebata.
"Apa jawabanmu Som?" tanya Bram to the point.
Tidak ada jawaban dari Somsi membuat Bram tidak sabar ingin mendengar jawaban Somsi.
Kembali ia mendekatkan Somsi hingga terdengar suara helaan nafas Somsi yang memburu.
"Kau takut?" tanya Bram cepat.
Somsi merasa canggung karena wajah mereka sangat dekat. "Inggak Bram, aku tidak takut."
"Lalu?"
"Aku hanya canggung saja Bram. Posisi kita terlalu dekat," jelas Somsi langsung mendorong tubuh Bram agar menjauh.
"Maaf," ucap Bram. Bram masih tetap dengan pertanyaan yang sama, "Apa kau sudah membuat keputusan? Apa kau mau menerima cintaku? Aku mohon terimalah cintaku. Dan jadilah pacar terbaik untuk ku," tutur Bram.
Apa menerima cintanya? Dan apa itu ... pacar terbaik untuknya?
Jantung Somsi seakan mau copot saat mendengar Bram menembak dirinya. Sangat romantis ia rasa. Kalau saja ia tidak punya beban dalam pikiran, pasti ia akan menerima cintanya Bram. Apa lagi melihat Bram yang tidak suka mempermainkan perasaan wanita.
"Som? apa keputusanmu?" tanya Bram membuat Somsi sadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Bram.... a-aku mau kau sabar menunggu," lirih Somsi terbata lalu pergi meninggalkan Bram. Mengangkat tempat dagangannya yang kosong ke junjungan kepalanya.
Somsi berjalan sangat cepat. Ia takut Bram menariknya lagi.
Bram diam membisu. Dia terus memperhatikan tubuh Somsi dari kejauhan sampai tubuh itu tidak terlihat lagi.
Maaf Bram... aku punya alasan kenapa aku tidak menerimamu.
Somsi melajukan langkahnya cepat. Hingga akhirnya ia sampai di rumahnya. Somsi mengetuk pintu agar orang yang berada dalam rumah segera membuka pintu untuknya.
Tok.... tok... tok....
Suara pintu diketuk dari luar.
"Iya bentar nak...."
Bu Wati datang dan membuka pintu. "Cepat juga ya habis dagangan mu nak," ucap bu Wati.
"Eh, iya ma."
Somsi masuk ke dalam rumah. Menurunkan junjungan yang ada di kepalanya. Somsi pergi ke kamar dan melihat adeknya sudah pulang. Adeknya tertidur pulas di lantai dengan alas tikar.
"Dek... kau sudah pulang?" tanya Somsi.
Friska bergerak ke kanan bergerak ke kiri dalam posisi terbaring. "Iya kak."
"Apa pelajaran mu hari ini lancar?" tanya Somsi.
"Iya kak. Ada apa ini? tumben kakak bertanya soal pelajaran ku," ucap Friska dengan mata melotot.
"Harusnya kau senang dek... sudah ada yang peduli denganmu. Kalau orang sering di diamkan, berarti orang yang di diamkan itu tidak di sayangi lagi," jelas Somsi.
"Tidak di sayangi gimana kak maksudnya?"
Friska bingung dengan apa yang di katakan oleh kakaknya itu. Dia sulit mencerna semua kalimat yang keluar dari mulut kakaknya sendiri.
"Tidak di sayangi berarti orang itu tidak di pedulikan lagi. Bahasa kasarnya di anggap sampah dan bukan manusia atau tidak hidup," jelas Somsi.
Friska akhirnya menganguk paham. "Owh begitu toh... iya iya deh."
Bersambung..............
Tbc
Dukung Author dengan vote like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏
__ADS_1