
Semua sudah pulang ke rumahnya masing-masing. Ibunya sudah masuk ke kamar. Sedangkan Somsi dan Friska masih sibuk membersihkan rumahnya karena perayaan ulang tahunnya, rumah itu menjadi kotor. Ada yang bekas injakan kue di lantai, ada kotoran lilin juga disana. Lilin-lilin itu berserakan dan banyak pasir juga di sana. Sehingga pemilik rumah segera membersihkannya. Kalau tidak semua akan lengket dan menjadi buruk sekali. Walau rumah itu tidak seindah rumah orang lain, karena Somsi selalu membersihkan rumahnya, rumah itu menjadi bersih dan enak di pandang mata.
"Kak... apa kakak bahagia tadi?" tanya Friska. Dia berhenti menyapu sebentar dan melihat ke arah Somsi yang sedang mengelap bekas kue di lantai.
Somsi tersenyum tipis. Somsi berbohong, sebenarnya dia masih merasa sedih. Ayahnya yang belum sadar membuatnya harus berpikir dua kali untuk tersenyum. "Iya, kakak bahagia dek." Somsi berpaling dari tatapan Friska agar tidak terlihat sekali kalau dia sedang berbohong.
"Kalau kamu dek?" tanya Somsi.
"Iya kak, sama. Aku sangat bahagia jika melihat kakak bahagia."
Tapi mengapa aku merasa kalau kakak tidak bahagia. Aku sempat melihat wajahnya dari senyum tipis yang dia perlihatkan. Kak, aku berharap suatu hari nanti kakak berdoa. Hanya inilah yang bisa aku panjatkan kepada Tuhan melalu doaku.
"Oh ya kak. Kakak kenal Abang Bram darimana? Kok kalian dekat sekali." timpal Friska.
Waduh mau jawab apa aku ini sama adekku yang seperti wartawan saja sekarang.
"Ahk dia. Dia hanya teman sekolah kakak," jawab Somsi. Cepat-cepat dia mengatakan sesuatu agar adeknya tidak sempat bicara. '" Kok adek seperti wartawan saja. Sudah, selesaikan menyapu. Biar kita cepat-cepat tidur, kakak sudah sangat mengantuk."
Friska tetap saja bicara, dengan basa-basi nya yang membuat telinga Somsi berdenging.
"Kak.... gimana kalau bang Bram jadi pacar kk. Kan mana tau itu memang pilihan kakak dan kakak suka padanya," ucap Friska dengan dibarengi tawa kecil. "Apaan sih dek, masih kecil sudah bahas pacaran. Atau jangan-jangan kamu lagi yang punya pacar. Iyakan dek? hayoo jujur."
Somsi membalas perkataan Friska yang membuatnya kikuk gak bisa jawab apa-apa lagi.
Ihk apaan sih kok malah balek bertanya. Jawab apa coba.
Friska mencari ide lagi biar bisa mengalahkan kakaknya dalam debat pembahasan pacaran itu.
"Kak, aku lihat tadi loh... bang Bram terus melirik-lirik kakak. Apa kakak gak menyadari cinta bang Bram?"
Oh ayolah kak, jujur samaku. Aku tau kakak pasti menyukai bang Bram juga.
Somsi kikuk dengan pertanyaan adeknya itu. Dia sendiri melihat Bram terus meliriknya. Hanya saja dia pura-pura tidak tau saja.
"Apaan sih dek. Kakak gak lihat Bram melirik kakak tadi. Lagian apa urusannya sama kakak," ucap Somsi memalingkan wajahnya. Hatinya berdebar.
Apa benarnya yang di katakan Friska. Apa aku menyukai Bram? ahhh tidak mungkin.
"Ya sudah deh kalau kakak gak mau jujur."
Friska meneruskan menyapu lantai hingga bersih. Somsi sendiri merasa tenang, akhirnya adeknya tidak lagi mengatakan sesuatu yang membuat telinganya penuh dengan suara Friska.
__ADS_1
Mereka akhirnya kembali ke kamar untuk tidur. Friska sudah tidur duluan. Sedangkan Somsi masih menghitung hasil dagangannya.
Somsi menghitung uang terakhir. "Wah banyak juga penghasilan hari ini. Syukurlah, terima kasih Tuhan." Somsi memasukkan uang itu ke celengan yang baru, karena celengan yang lama sudah dia bongkar.
Karena rasa kantuk yang tidak tertahankan Somsi merebahkan tubuhnya di samping Friska lalu tidur.
...****************...
Pagi menyongsong indahnya hari ini. Burung-burung berkicauan kesana-kemari mengeluarkan suara merdunya. Bunga-bunga di halaman yang kuncup mulai bermekaran. Dua orang di dalam kamar masih tertutupi selimut. Mereka masih tidak bangun hingga terbitnya matahari.
Somsi terbangun dan pergi ke arah jendela.
"Aku terlambat bangun kali ini."
Pergi ke dapur belakang ingin memasak dan terkejut melihat semua makanan sudah tertera di lantai depan.
Wah... siapa yang sudah memasak. Apakah mama? Mama akhir-akhir ini banyak berubah.
Somsi heran dengan apa yang dia lihat. Semua pekerjaan yang biasa dia lakukan di pagi hari semuanya siap tanpa ada yang tersisa.
"Ma.... mama lagi kesurupan ya?" tanya Friska yang merasa heran.
"Hei, apa-apaan ini ngatain mama kesurupan. Memangnya mama menjerit sampai kamu bilang mama kesurupan segala," ucap bu Wati menahan tawa melihat keluguan anaknya.
Siapa tahu kan mama memang lagi kesurupan biar cepat-cepat disadarkan atau di bawa kerumah sakit.
Somsi masih sibuk bertanya dalam hatinya. Entah apa yang dia pikirkan mengenai ibunya itu. Memang benar banyak sekali perubahan yang dia lihat dari ibunya saat ini.
Tiba-tiba Friska datang mengagetkan Somsi dari belakang. "Kakak..... aku datang," ucap Friska dengan memeluk kakaknya dari belakang. Membuat Somsi tak kuasa menhan dirinya. Akhirnya mereka terjatuh.
Bug...........
Suara tubuh Somsi dan Friska terkapar di lantai.
"Aaaaa adek, kenapa adek mendorong kakak dari belakang. Sakit tau," ucap Somsi memegang lututnya yang terbentur dan meninggalkan luka dengan keluar sedikit darah.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha, maaf kak." Hanya itu keluar dari mulut Friska. Dia juga sedikit terluka di tangannya. Karena benturan tangannya dilantai.
Somsi pergi mengambil daun herbal yang ada di belakang rumah dan mengolesnya ke bagian luka mereka.
Awww....
__ADS_1
Friska meringis kesakitan saat kakaknya mengobati tangannya.
"Kakak... pelan-pelan."
Selesai mengobati tangan Friska, Somsi masuk ke kamar orang tuanya. Disana masih ada sosok papa yang dia tunggu kesadarannya.
Papa, cepat bangun. Aku rindu suara papa.
Somsi mencium tangan ayahnya lalu pergi. Hari ini dia tidak pergi ke sawah karena semua orang hampir selesai menanam padi.
Sawah orang tua Somsi sendiri sudah siap. Mereka hanya perlu merawat dan menjaga padi itu tumbuh besar, merunduk hingga menghasilkan beras untuk mereka makan nantinya.
Somsi pergi ke rumah Siti. Dia merasa bosan di rumah. Soal memasak, pada siang hari baru ia akan memasak. Di rumah Siti dia bercerita banyak hal.
"Sit, kamu rindu gak masa-masa kamu sekolah?" tanya Somsi.
"Iya Som, aku rindu sekali sekolah."
"Aku mau kasih tau padamu Som, kalau tahun yang akan datang aku akan mulai kuliah," ucap Siti.
"Kuliah?"
"Iya Som."
Wah, Siti enak ya, dia bisa kuliah. Sedangkan aku, aku akan habiskan masa hidupku di perantauan sana. Tidak... aku tidak boleh mengeluh. Aku harus kuat, semua indah pada waktunya."
Siti mendada mata Somsi. "Som? Som.... kenapa kamu bengong?" dari tadi Somsi bengong saja. "Eh maafnya Sit."
Somsi kembali sadar. Dia tersenyum kepada Siti. "Semoga sukses."
Siti memeluk sahabatnya itu. Doa Somsi adalah yang tebaik untuknya. Dia menganggap Somsi adalah malaikat yang menyamar menjadi manusia.
"Ya sudah Sit, aku pulang dulu ya... aku masih punya pekerjaan," Ucap Somsi lalu pergi.
Sebelum pergi dia berbalik lagi. " Oh iya Sit, soal uang yang akan ku pinjam, kamu jangan lupa ya. Aku tunggu."
"Iya Som, kamu jangan kuatir deh, soal itu mah gampang," ujar Siti menyungging senyum lebar.
Bersambung.......
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyak mungkin.