Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Rencana


__ADS_3

Mendengar Lian tidak mau berhenti mengomel, Siti pun mengambil tissue dan langsung menyumbat mulut Lian. Ya tentu saja mulut itu kesulitan bicara.


"Iya nih.... kalian lama banget, bosan tau nunggunya," seru Siti kesal.


Siti mulai bicara saat Bram dan Somsi sudah masuk ke dalam mobil.


Lian berpindah duduk ke depan. Sedangkan Somsi duduk bersama Siti.


Jadi, pria duduk di depan dan para wanita duduk di belakang.


"Siti...." Somsi terkejut melihatnya, "Kau ikut juga?" tanya Somsi sambil tersenyum lebar.


Siti mengangguk manja. "Iya beb..... aku tidak mau melewatkan kesempatan ini."


Somsi bingung dengan ucapan Siti, sambil mengerutkan dahi ia pun bertanya maksud perkataan Siti. "Kesempatan apa Sit?"


"Ada deh... rahasia."


Somsi senang sekali melihat sahabatnya Siti juga ikut. Padahal tadi dirinya sudah berpikir aneh-aneh tentang Bram. Takut kalau sampai Bram melakukan sesuatu padanya.


Somsi penasaran dengan ucapan Siti padanya. Ia ingin sekali Siti memberitahu apa maksud perkataan Siti padanya. Tetapi Siti tidak mau membuka mulutnya. Sepertinya Siti mengunci rapat-rapat.


Somsi menatap Bram lewat kaca spion. Bram senyum-senyum sendiri. Sedangkan Lian terus memegang hpnya. Sesekali saat Somsi melihat Lian sudah mengirimkan pesan. Tiba-tiba saja hp Siti berbunyi.


Apa sih yang mereka rencanakan?


Somsi menaikkan alis kirinya. Tidak suka dengan pacar barunya dan juga sahabatnya. Apa lagi Siti sahabatnya. Sebenarnya Siti sahabatnya atau bukan. Somsi merasa kesal sekali. Ada apa ya?


Lama sudah mereka membisu. Tidak ada kata yang keluar dan tidak ada yang berani menatap satu sama lain. Semuanya diam.


Termasuk Somsi yang kelihatan murung. Merasa kesal dengan sahabatnya yang tidak mau terbuka padanya. Sebenarnya ada apa? Dan apa yang mereka sembunyikan hingga harus menutupinya darinya.


Rahasia yang membuat beban pikiran bagi Somsi. Apakah Siti juga akan melakukan hal aneh nanti. Apakah Siti akan memberinya sebuah kejutan. Sungguh kesabaran yang harus ditunggu agar mereka semua tidak membungkam mulutnya masing-masing.


Siti dengan wajah tersenyum memulai percakapan memecahkan keheningan diantara mereka. "Som.... bagaimana perasaanmu setelah mengatakan semua perasaanmu pada Bram?" tanya Siti antusias.


Siti malah nanya itu. Pertanyaan apa sih gaje (gak jelas) banget. Apa aku harus jawab semua pertanyaan konyolnya itu?


"Ngak ada, biasa aja ya mukanya gak usah sok reporter," ucap Somsi sambil menaikkan bibirnya bergantian. Seperti mengomel tapi bukan mengomel.


"Lah kok biasa sih? Ini kan yang kamu tunggu-tunggu dan selama ini kau dan Bram, kalian sama-sama saling jatuh cinta. Iya kan? Iya? Ngaku deh....."


Siapa juga yang mencintai Bram dengan sungguh-sungguh. Aku saja belum tau pasti dengan perasaanku ini. Tadi..... itu kulakukan supaya Bram tidak cuek lagi padaku. Emang salah ya?


Siti membuyarkan lamunan Somsi, "Hei! Kenapa malah bengong..."


Siti membuat Somsi terkejut. Somsi tiba-tiba saja diam dan berlabuh dalam lamunannya sendiri. Ntah apa yang sedang dipikirkan Somsi.


Dari tadi Siti selalu memperhatikan Somsi. Dan selama ia mengajak Somsi bicara, Somsi malah diam dan tidak mau mendengarkannya.


"Ada apa Som? Apa kau punya masalah?"


"A- tidak Siti."


Mereka terdiam sejenak. Lalu Somsi bicara lagi dengan menarik tangan Siti yang sedang fokus melihat semua perjalanan. "Eh Sit, kamu tau nggak tetangga aku itu?"


Siti menatap bingung, "Tetangga mana?"


"Itu lohh tetangga aku...."

__ADS_1


Siti mengangguk. "Owhh yang itu.... wanita sebaya kita itu kan?"


"Iya Sit. Dan kamu tau wanita yang bernama Sistar itu sering salah paham padaku," jelas Somsi.


"Bahkan lebih parahnya ia mengajak orang lain untuk membenciku. Menurutmu Sit, apa ya kesalahanku? Dan semenjak kita berkenalan apakah aku selalu pengecut?"


Siti mendongak, "Ha?"


Mulutnya menganga lebar setelah mendengar cerita Somsi.


"Som... dia itu keknya salah paham padamu deh... jelas-jelas kau sangat baik," puji Siti.


Bram tidak sengaja mendengar ikut menyahut merasa tidak senang mendengar cerita pacarnya itu. Walaupun ia nimbrung bicara tapi nggak lupa fokus menyetir. "Itu orang butuh dikasih obat deh...."


"Yah bawa aja itu ke RS. Jiwa," ucap Lian.


Siti melirik ke samping, dilihatnya Somsi yang tidak mau buka mulut.


Apa yang terjadi dengannya? Kok aneh sekali.


Usai bergumam, Siti cemberut melihat sahabatnya yang selalu bungkam. Apa yang sedang dipikirkan Somsi sungguh membuatnya penasaran. Akhirnya ia mengalah lalu membuka percakapan. Memang itu salah satunya agar mereka bisa berbicara satu sama lain.


"Som?"


"Hmm."


Cuek amat nih orang. Pengen merajuk deh.


"Kamu cinta kan sama Bram?"


"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" ucap Somsi dengan menaikkan alisnya refleks karena terkejut.


Tiba-tiba Siti mengulangi perkataan yang sama lagi. Harus berapa kali ia menjawab semua itu. Rasanya kepalanya ingin meledak. Bukan cuma Siti saja, bahkan adeknya yang bertugas sebagai wartawan tak bergaji pun dirumahnya sibuk menanyakan hal itu.


"Sejak kapan kau jadi wartawan seperti ini?"


Siti mendongak, "Ha?"


"Memangnya aku pernah mengatakan kalau aku ingin menjadi wartawan? atau aku memiliki pekerjaan dengan menjadi seorang wartawan?" tanya Siti dengan perasaan ambigu.


Somsi berusaha menahan tawanya. Melihat ekspresi wajah sahabatnya seperti tidak memungkinkan.


"Santai dong, nggak usah begitu kali mukanya, hahahah."


"Habis kamu bilang aku sebagai wartawan," ketus Siti sambil menggaruk kepalanya. Meskipun tidak gatal, ia menggunakan kepalanya sebagai alibi nya saja.


Mendengar percakapan mereka, dua orang yang berada didepan, yang satu sibuk menyetir, yang satunya lagi malahan ikut menertawai Siti.


"Kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu?" ucap Lian.


"Kamu lagi! kenapa malah menertawaiku? Memangnya aku ondel-ondel yang bisa menghibur?" ucapnya agak sedikit keras. Membuat telinga Somsi berdenging.


Wajahnya murung. Tidak memperdulikan mereka lagi. Bahkan ia sibuk memandang keluar lewat jendela mobil.


"Hehehe, nggak perlu merajuk princess ku," bujuk Somsi.


Siti tetap tidak mau menghiraukan ucapan Somsi. Matanya masih tertuju lewat jendela. Seperti memasang headset padahal tidak.


"Kok malah tambah cemberut."

__ADS_1


Somsi mengelus punggung Siti. Dia juga merasa bersalah. Siti yang bertanya meskipun pertanyaan ya agak tidak masuk akal, setidaknya dia menjawab pertanyaan Siti sebagai bentuk menghargai perasaannya.


"Siti, aku minta maaf."


Somsi memegang kedua telinganya. Agar ia bisa melihat Siti bicara lagi padanya. Melihat upaya Somsi berusaha membujuknya. Siti malah tertawa dalam hatinya.


Hihihihi, rasain.... emang enak!


"Aku maafin."


"Ciaelah, jawabannya singkat begitu."


Lian mengejek Siti dengan menjulurkan lidahnya. "Nggak usah minta maaf juga Som, biarin."


Iri tanda tak mampu boss!


Siti menatap tajam setiap Lian menoleh kebelakang. Dia tidak menyangka, pacarnya sendiri tidak mendukungnya sama sekali.


"Som... karena aku sudah memaafkanmu. Kamu jawab dong pertanyaan aku."


"Hmmm, soal itu... nggak papa. Aku sih biasa-biasa saja."


Siti melotot, "Lah kok biasa sih. Inikan yang kamu tunggu selama ini? Sebenarnya kau dan Bram sama-sama punya perasaan. Tapi karena kalian malu jadi memendamnya sendiri."


Siapa juga yang mencintai Bram dengan sungguh-sungguh. Aku pun belum tau pasti dengan perasaanku ini. Tadi... itu kulakukan agar Bram tidak menghindar lagi samaku.


"Hei.... kenapa malah bengong?" tanya Siti mengejutkan Somsi.


Melihat Somsi yang diam melamun tak membalas ucapannya, ia tak kuasa membiarkan rasa penasarannya diam berlalu begitu saja.


"Ada apa Som, apa kau sedang mengalami masalah?"


"Tidak Sit."


Bram melirik dari kaca spion. Melihat wajah Somsi pucat pasi. "Kamu kenapa sayang?" tanya Bram dengan romantis. Membuat Siti iri melihat keromantisan mereka. Sedangkan dirinya bukan mendapatkan kata-kata romantis dari Lian, malah ia harus mendengarkan Lian yang tidak mendukungnya.


Sayang? Wah gawat ini.


Wajahnya bertambah pucat. Seperti orang yang sedang menyembunyikan masalah besar dari orang lain.


"Nggak papa Bram," jawab Somsi sambil tersenyum tipis.


"Ciee.... sudah pada berani nih manggil-manggil Somsi dengan sebutan sayang...." goda Siti.


"Apaan sih!" ucap Bram jutek.


Somsi merasa risih sekali dengan sebutan kata sayang itu. Bagaimana ia harus menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya kepada Bram. Apalagi Bram sekarang begitu senang memanggilnya sayang. Kalau ia mengelak, alasan apa yang harus ia katakan lagi.


Bram.... maafkan aku. Sebenarnya aku belum memiliki perasaan padamu.


Ada perasaan bersalah pada dirinya. Tapi ya sudahlah semua sudah terlanjur terjadi.


Tinggal 5 menit lagi mereka akan sampai pada tujuan mereka. Restoran ternama di kotanya.


Mereka harus menunggu lama untuk sampai kesana, karena jarak rumah mereka ke kota cukuplah jauh.


Bersambung.......................


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate (5) dan favorite sebanyaknya.


😊😊😊😊😊😊😊😊?😍😍😍😍😍😍😍😍


__ADS_2