
Somsi tak kuasa menahan rasa malunya pada Bram. Wajahnya bersemu merah ketika Bram melakukan hal yang romantis padanya. Lalu Bram Bram berdiri dengan tiba-tiba ia mendekatkan bibirnya mengecup lembut bibir manis itu.
Cupp
Somsi melongo heran. Apakah Bram telah mengambil ciuman pertamaku? Oh tidak... kenapa Bram harus mengambilnya sih? Ini kan khusus aku jaga untuk suamiku nanti.
Bram melepas ciumannya dengan mengigit bibir bawah Somsi, "Awww....." Somsi meringis kesakitan.
"Bernapaslah." Ucap Bram lalu menyergahnya lagi.
Bram menciumnya lagi. Lembut sangat lembut ia bermain mengerayangi mulut Somsi dengan lidahnya.
Wajah Somsi bertambah merah saja. Jantungnya berdegup kencang, denyut nadinya berdetak cepat. Seperti orang yang habis lari. Napasnya tersenggal. Dan betapa bodohnya ia juga refleks membalas ciuman itu.
Itu adalah ciuman pertama Somsi. Belum pernah ia memberikan ciumannya pada siapa pun. Bahkan ia belum berpengalaman tentang ciuman.
Pagutan demi pagutan dilakukan oleh Bram dengan lembut dan dibalas oleh Somsi juga.
Bram melepas ciumannya dan tersenyum melihat Somsi yang diam mematung karena menahan malu. "Apa ini baru pertama kau melakukannya?" tanya Bram dengan semar wajah bahagia. Ia bahagia bisa mendapatkan ciuman pertama dari Somsi.
"B-Bram..... ka-kau telah mengambil ciuman pertamaku," lirih Somsi yang masih merasa gugup dengan kehadiran Bram disisinya.
"Bram tertawa kecil, "Hahahah, baguslah kalau itu memang ciuman pertamamu. Berarti itu adalah tanda kepemilikan dariku dan bukan milik siapa-siapa."
Tangan ya dengan leluasa mengerayangi bibir Somsi. Terlihat kenyal, manis dan menggoda. Lalu ia melihat bekas gigitannya pada bibir Somsi. Ia ingin menciumnya lagi. Tetapi rasanya itu sudah cukup. Dia juga merasa kasih pada Somsi yang dari tadi diam membisu akibat perlakuannya. Ditambah lagi dengan tidak ijin dari Somsi ia telah merebut ciuman pertama yang sudah dari dulu Somsi jaga dan ternyata dialah yang telah merebutnya.
Bram menyeka rambut Somsi yang sedikit hancur terjatuh menghalangi matanya dan membuatnya lagi ke belakang telinganya.
Lalu Bram mengusap lembut kepala Somsi.
"Yaudah kamu pergi mandi sana! Kamu sudah bau sekali."
Somsi bergurau dalam hatinya. Tadi ia dipuji karena cantik dan sekarang ia dibilang bau. Dengan wajah kesal ia pergi meninggalkan Bram di luar masih memasang muka cemberut seakan Bram memang sangat bersalah padanya.
Tiba-tiba Bram memanggilnya. Hati Somsi begitu senang sekali setelah mendengar Bram memanggilnya lagi. Berharap Bram akan mengatakan kata-kata romantis padanya.
Somsi senang sekali ketika Bram menatap nanar wajahnya penuh cinta. Terpancar dari sorot matanya bahagia sedang membalas menatap Bram. Mereka saling menatap satu sama lain. Sehingga mereka tidak sadar kalau mereka sudah terbawa suasana.
Bram berpaling ke kanan untuk menjauhkan tatapannya dari Somsi. Sangat menarik di hatinya untuk selalu menatap wanita yang di lihatnya itu.
Bram tersenyum nakal lalu mengedipkan matanya pada Somsi. "Jangan lupa nanti malam aku datang menjemputmu. Bergayalah secantik mungkin."
Somsi tidak menjawab dan langsung masuk melewati pintu. Hatinya berdebar. Sungguh ia merasa baper dengan perlakuan Bram padanya. Kata-kata manis Bram masih terngiang-ngiang di pikirannya.
Bu Wati memperhatikan tingkah putri sulungnya itu masih senyum-senyum merasa bingung. Apa yang sudah terjadi dengan putri sulungnya itu hingga sampai tersenyum sendiri.
"Ehem...." Bu Wati berdehem mengejutkan Somsi yang tengah melamun membayangkan hal-hal romantis yang akan dilakukan Bram nanti malam.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kok kamu senyum-senyum sendiri?" ucap bu Wati lalu lebih mendekat lagi dengan Somsi.
"Nggak, nggak. Nggak a-ada ma," ucap Somsi gugup.
Bu Wati merasa tidak puas dengan jawaban Somsi. Yang benar saja orang senyum-senyum sendiri tidak terjadi apa-apa, ah jangan bodoh lah.
Bu Wati menggeleng mendengar jawaban Somsi yang tidak masuk akal. "Mama tidak percaya kalau kamu baik-baik saja. Cepat katakan ada apa?" tanya bu Wati lagi.
Dalam suasana yang menegangkan buat Somsi tiba-tiba pak Nius terbatuk ingin minum. "Uhuk.... ma.... ambilkan minum...." teriak pak Nius dari dalam kamar. Somsi ingin pergi memberikan ayahnya minum. Tapi dihentikan oleh bu Wati.
"Pa.... mama sudah buatkan di meja tadi..." teriak bu Wati.
Lama sudah tidak ada sahutan dari dalam kamar, kembali bu Wati menginterogasi Somsi secara detail.
"Mama tidak percaya kalau kamu tidak terjadi sesuatu," ucap bu Wati dengan mata lebar menatap Somsi. Dia sangat curiga dengan sikap putri sulungnya itu. "Kamu pasti ada sesuatu yang kamu rahasiakan dari mama."
Somsi tetap diam membisu tidak membalas ucapan bu Wati. Ia akan menjawab apa. Pikirannya kosong tiba-tiba.
Lama sudah tidak ada sahutan dari dalam kamar, kembali bu Wati menginterogasi Somsi secara detail.
"Mama tidak percaya kalau kamu tidak terjadi sesuatu," ucap bu Wati dengan mata lebar menatap Somsi. Dia sangat curiga dengan sikap putri sulungnya itu. "Kamu pasti ada sesuatu yang kamu rahasiakan dari mama."
Somsi tetap diam membisu tidak membalas ucapan bu Wati. Ia akan menjawab apa. Pikirannya kosong tiba-tiba.
Deggh
Bayangan Somsi telah membuatnya diam membisu. Dalam bayangannya itu, Somsi di tampar oleh bu Wati sangat keras karena ketahuan pacaran. Ahh bagaimana ini?
Kenapa malah bengong?" tanya bu wati.
Somsi terkejut mendengar suara bu Wati cukup keras sampai terngiang di telinganya. "Nggak papa kok ma," jawabnya cepat.
Somsi tidak perlu memberitahu semuanya. Apa lagi sampai bu Wati mengetahuinya diam-diam pacaran.
Somsi juga tidak ingin bu Wati sampai tau kalau sekarang ia resmi pacaran dengan pria yang dikenal ibunya. Yaitu Bram. Bisa-bisa tamatlah riwayatnya.
Tiba-tiba saja Friska datang dari dapur masih mengenakan handuk sebagi penutup tubuhnya. Rambutnya terurai basah sedang melotot mendengar pengakuan Somsi yang dianggapnya kurang jujur. Mengatakan sejujurnya apa sih ribetnya!
Bu Wati memutar kepalanya mencari tau dari mana sumber suara itu lalu ia kaget seorang diri setelah melihat Friska yang masih mengenakan handuk bayi yang cukup panjang untuk menutupi tubuhnya. Sehingga paha mulusnya terlihat Epick di pandang mata.
"Wah... sudah mulai gatal ya?" kata bu Wati kepada Friska.
Friska tersenyum lalu menurunkan kedua tangan ya untuk menutupi pahanya. Ya tetap saja masih terlihat kan?
"Heheheh, maaf ma." Lalu ia menatap licik sambil tersenyum pada Somsi.
Hahahaha akan kubuat kamu kikuk sekarang kak.... sekarang adalah pembalasan ku akan berjalan lancar.
__ADS_1
"Ya sudah, cepat pakai pakaianmu!" perintah bu Wati kepada Friska yang masih tersenyum melemparkan senyumnya pada Somsi.
Friska kenapa ya senyum-senyum sendiri?
Somsi merasa terganggu dengan tatapan Friska. Kadang menatap tajam dan kadang menatap seolah ingin memangsa.
"Tunggu dulu ma.... ada yang ingin aku omongin sekarang ma. Ini penting, ini soal kakak...."
"Iya ada apa dengan kakakmu?" tanya bu Wati menatap intens kedua manik hitam mata Friska.
"Tadi itu-" Tiba-tiba Somsi memotong ucapan Friska. Lalu menjawab spontan sambil menyunggingkan senyum agar ibunya tidak curiga. "Tadi itu kami habis bermain petak umpet ma di luar."
Lah kok main petak umpet sih.
Friska menaikkan alisnya menatap tidak suka pada Somsi saat mata mereka saling beradu pandang. Friska kesal sekali dengan jawaban Somsi yang mengatakan kalau mereka sedang bermain petak umpet. Ia cepat membuka mulutnya untuk mengatakan sebenarnya apa yang sudah ia lihat dari hasil mengintip dengan jelas tanpa ada lagi yang ditutupi.
"Tadi itu ma-" Somsi dengan cepat mengarahkan tangan ya ke mulut Friska mengunci rapat-rapat supaya adeknya tidak bisa lagi bicara.
"Dek.... ini sudah malam dan sudah jelas sangat dingin. Cepat pakai pakaianmu keburu badanmu habis menggigil gara-gara masuk angin."
"Iya nak, cepat pakai pakaianmu sana!" perintah bu Wati dengan suara agak keras membuat Friska takut lalu dengan segera pergi meninggalkan bu Wati dan kakaknya.
Wajah Friska penuh dengan kekesalan pada kakaknya. Rencananya semua gagal total.
"Awas saja ya kak.... sekarang kakak selamat tapi tidak untuk nanti," ancamnya dengan lirih.
Kemudian Friska tersenyum senang setelah muncul ide dibenaknya yang akan ia lakukan pada kakaknya itu.
Sedangkan Somsi dan bu Wati masih saling pandang tidak tau apa yang ingin mereka bahas. Bu Wati pun teringat dengan suaminya. Ia lalu pergi meninggalkan Somsi sendirian disitu. "Mama mau masuk ke kamar. Melihat papamu dulu."
Somsi mengangguk. "Iya ma."
Di dalam kamar bu Wati menghampiri suaminya yang kini terbaring tidur. Bu Wati menaikkan selimut yang jatuh ke lantai. Refleks bu Wati terkejut tiba-tiba pak Nius memegang punggungnya. "Ma......." ucap pak Nius.
"Astaga Tuhan! Papa..... kenapa membuat mama terkejut. Kalau mama mati tiba-tiba gimana pa?" kata bu Wati langsung memukul tangan pak Nius dengan tangan ya dengan pelan.
"Ha ha ha ha ha...." pak Nius malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah bu Wati yang lucu.
Meski umur mereka tidak mudah lagi. Tetapi bu Wati masih saja terlihat awet muda. Bukannya bu Wati bersenang-senang, toh selalu pergi ke sawah. Tetapi mengapa wajahnya masih muda seperti itu?
Bu Wati mengambil air minum dan juga pil untuk pak Nius. Sudah saatnya pak Nius harus meminum obatnya.
Degggh.....
Bersambung......................
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate (5) favorit sebanyaknyaπππππππππππππππππ