
Somsi tersenyum getir melihat Bram yang muncul tiba-tiba. Padahal Somsi belum mengatakan kalau ia ingin pergi malam ini.
"Mau apa kau kesini?" tanya bu Wati jutek. Ia masih tidak suka dengan sikap Bram sewaktu Somsi mengikuti lomba masak, 17 agustus yang lewat.
Bram berdehem. "Ehem.... begini Tante. Tante saya datang kesini untuk membawa putri Tante yang cantik jelita ini keluar sebentar Tante, begitu Tante," ucap Bram santai. Ia tidak merasa takut sedikit pun meski bu Wati sudah memberi kode tatapan tajamnya. Tapi itu tidak sama sekali mempan kepada Bram.
Bu Wati menatap tajam ke arah Somsi. Ia ingin sekali memarahi putrinya itu. Tetapi emosinya tiba-tiba turun ketika melihat wajah lesuh Somsi. Lalu bu Wati meminta penjelasan lebih lagi. "Atas hak apa kau datang kesini untuk membawa putriku!"
Bu Wati bertanya seolah sedang melakukan interview pada Bram.
Bu Wati masih saja terus bertanya pada Bram, tidak menyempatkan Somsi untuk menjawab semua pertanyaan ya.
Somsi ketakutan. Ia takut kalau sampai Bram mengatakan sesuatu yang akan membuatnya salah di mata bu Wati.
Dengan spontan tak memikirkan perasaan orang yang satunya, Bram menjawab, "Saya kan pacarnya Tante," ucap Bram lalu memberi kode pada Somsi dengan mengedipkan matanya.
Dalam keadaan menegangkan itu, Bram masih saja bisa tersenyum.
Deggh
Jantung Somsi berdegup kencang setelah mendengar ucapan Bram. Mengatakan dirinya sebagai pacar Bram akan membawanya pada masalah yang besar.
Oh Tuhan.... bagaimana ini? Kenapa Bram tidak bisa mengunci mulutnya. Kalau sampai mama marah habislah aku.
Ya Tuhan... tolonglah aku.
Seluruh tubuh Somsi bergetar. Dia melirik Bram diam-diam dan memberi kode melalui tangan ya agar Bram berhenti bicara.
Tetapi semua sia-sia. Justru Bram sangat suka menatap bu Wati yang menganggapnya seolah bu Wati sudah jelas setuju mengijinkan mereka untuk pergi.
Bu Wati melongo heran. Mulutnya menganga lebar mendengar ucapan Bram barusan. "Apa yang kau katakan. Pacar? Siapa pacarmu?"
Kemarahannya meningkat. Ia ingin sekali memberi hukuman pada Bram yang sudah berani mengatakan kalau putrinya sudah menjadi pacarnya.
"Iya Tante. Kami sudah resmi pacaran. Kalau Tante nggak percaya, Tante bisa bertanya pada Somsi, kesayanganku," ucap Bram menyungingkan senyum lebar. Berhasil membuat bu Wati kalah dengan taktiknya dalam berdebat.
Masih tidak percaya dengan ucapan Bram. bu Wati menggeleng, "Tidak.... sejak kapan aku mengijinkan kau pacaran dengan putriku. Melihatmu saja kepalaku terasa pusing, apalagi dengan putriku. Bisa-bisa putriku cepat tua hanya meladeni kamu."
__ADS_1
"Ha ha ha ha." Bram tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan bu Wati yang menurutnya lucu. Tidak mungkinlah ia membuat Somsi cepat tua. Ia pasti akan menjaganya dengan baik.
Di jaman sekarang penuaan dini bisa dihindari karena banyaknya skincare yang beredar dan terkenal manfaatnya.
"Sejak putri Tante mengakui perasaan ya padaku, hihihi."
Friska cemberut. Semua rencananya kali ini juga gagal. Rencana yang ia susun untuk memberitahu semuanya kepada bu Wati.
Lalu muncul ide lagi di benaknya, "Tadi mama nggak mau kan dengarkan Friska ngomong. Yang mau Friska ngomongin ya ini ma. Kakak sudah pacaran."
Adek tidak tau terimakasih. Selama ini aku selalu mengerjakan PR-nya, masa dalam suasana menegangkan seperti ini dia tidak mau menolongku. Awas kau ya dek... nggak bakal aku mau lagi mengajarimu.
Somsi menatap tajam pada Friska, seakan sebuah peringatan bagi Friska seperti sesuatu yang akan terjadi padanya nanti.
"Apa semua yang dikatakan Bram itu benar?" tanya bu Wati dengan suara khas marahnya.
Friska cemberut. Semua rencananya kali ini juga gagal. Rencana yang ia susun untuk memberitahu semuanya kepada bu Wati.
Lalu muncul ide lagi di benaknya, "Tadi mama nggak mau kan dengarkan Friska ngomong. Yang mau Friska ngomongin ya ini ma. Kakak sudah pacaran."
Adek tidak tau terimakasih. Selama ini aku selalu mengerjakan PR-nya, masa dalam suasana menegangkan seperti ini dia tidak mau menolongku. Awas kau ya dek... nggak bakal aku mau lagi mengajarimu.
Somsi menatap tajam pada Friska, seakan sebuah peringatan bagi Friska seperti sesuatu yang akan terjadi padanya nanti.
"Apa semua yang dikatakan Bram itu benar?" tanya bu Wati dengan suara khas marahnya.
"Jawab cepat!" tegas bu Wati.
Bibirnya mengatup rapat, matanya sendu menahan semua perasaannya. Tidak bisa ia menjelaskan bagaimana selanjutnya. Tangan ya bergetar dan sudah di penuhi keringat. Ia menatap nanar ketika tidak sengaja bertatapan dengan ibunya. Seperti manusia sedang membangunkan singa yang sedang tidur di siang bolong.
"Somsi!" ucap ibunya dengan suara keras.
Bu Wati sudah tidak sabar menunggu putrinya itu untuk mengatakan yang sejujurnya.
Jujur saja jika ada orang yang menggantikan posisi Somsi saat ini. Mungkin ia tidak akan tahan dan dead tiba-tiba.
Tidak sanggup menahan semua amarah bu Wati yang tidak berhenti melakukan apa pun yang menurutnya benar.
__ADS_1
Ya memang tugas sebagai orang tua haruslah lebih memperhatikan apa yang sedang di lakukan anak-anaknya. Apa lagi kalau ia seorang perempuan. sudah jadi itu menjadi tugas terbesarnya agar Somsi tidak salah jalan.
Bagi bu Wati, meski ia terlihat galak sesat. Tapi itu hanya sementara saja, karena ia merupakan ibu yang baik. Mampu mengatasi semua masalah dan menjaga putrinya agar tidak melakukan di luar batasannya.
Ya kewajiban tetap kewajiban ya untuk selalu menjaga putrinya agar menjadi istimewa bagi suaminya kelak.
"Ma ada apa? Kenapa ribut?" ucap pak Nius yang merasa terganggu ketika ia tidur di dalam kamar.
Wah.... calon papa mertua. Apa sudah sembuh total ya?
Bram bergumam dalam hatinya. Membayangkan jika suatu saat ia menjadi mantu di dalam keluarga ini. Ia akan menjaga mereka dengan baik dan tulus.
Memang Bram dari dulu selalu menginginkan jika ia mempunyai keluarga nantinya. Ia ingin selalu menghormati papa dan mama mertuanya.
"Tidak Pa, disini nggak terjadi sesuatu kok Pa. Papa tidur saja lagi," jawab Wati.
Melihat putrinya seperti ingin menangis karena ucapannya. Bu Wati berusaha bicara dengan lembut, "Nak.... apakah yang dikatakan Bram itu benar? Apakah kau memang benar-benar menyukainya? jawab mama ya nak....."
Somsi pun mulai mengatakan yang sebenarnya setelah hatinya tenang ia mulai bicara. Dia menginginkan ibunya itu selalu begitu. Bicara lembut padanya. Jika tidak jantungnya akan terus berdebar seperti tadi.
"I-i-iya bu.... Somsi menerima cintanya Bram," ucap Somsi terbata. Berharap ibunya tidak meledak lagi seperti kompor gas yang akan menyerbu dengan cepat.
Bu Wati mendelik, "Apa Bram telah memaksamu?" tanya bu Wati kepada Somsi.
"Wah tidak lah ma... bang Bram itu baik kok," jawab Friska dengan memuji Bram. Ia menatap lembut mata Bram.
"Mama tidak bicara padamu! Mama bicara pada kakakmu. Kenapa jadi kau yang menyahut?"
Wajah yang tadi tersenyum kembali cemberut karena ucapan ibunya padanya.
"Nak, Apa Bram telah memaksamu?" tanya bu Wati mengulangi ucapanya.
Bersambung...........................
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate (bintang 5) favorit sebanyaknyaπππππππππππ
__ADS_1
Selamat berpuasa bagi yang merayakannya. Semoga jadi berkah, tetap mengandalkan Tuhan dalam hal apa pun itu.
ππππππππ