Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Perasaan aneh


__ADS_3

Pagi yang cerah menandakan orang-orang semua sudah pastinya bangun. Siapa lagi yang belum bangun di jam segini?


Pukul : 07:30


Somsi dan Uba sudah menantikan kedatangan bus untuk menjemput mereka. Jika setengah jam lagi bus itu tidak datang, mereka akan terlambat dan mereka pastinya akan dapat surat peringatan dari Perusahaan tempat mereka bekerja.


"Som... Gimana ini? Busnya tidak mau datang, aku takut kalau nanti kita terlambat pasti kita akan mendapat surat peringatan dan aku tidak mau itu terjadi, Som..." Sungut Uba kepada Somsi. Dia khawatir mereka ketinggalan bus. Jika sampai mereka tidak sampai kesana tepat waktu, ntah apa yang akan terjadi untuk selanjutnya.


"Kamu tenang saja ya Uba, busnya pasti datang," tutur Somsi dengan sangat lembut.


Dia juga khawatir mengapa bus itu tidak mau datang menjemput mereka.


Apa jangan-jangan, Tuan Sean telah memecat kami? Gumam Somsi merasa khawatir. Dia menerka-nerka kalau Tuan Sean pasti marah karena semalam dia meminta pulang duluan. Padahal acaranya belum selesai.


"Semoga saja ya Som, aku takut jika Perusahaan itu memecat kita. Apalagi kita disini di kontrak. Untuk pulang ke Malaysia saja kita tidak bisa."


"Kita sudah tau sangat jelas kan... tidak ada yang boleh pulang jika kontrak yang sudah di tanda tangani belum habis waktunya. Aku takut Som, kita dikeluarkan dan kita akan tinggal dimana Som?"


Uba yang berpikir kalau Somsi terlihat tenang-tenang saja dan tidak mau mengatakan sesuatu, dia pun terus mendesak Somsi untuk bicara.


"Kenapa kamu hanya diam, Som? Sudah jam berapa ini? Sudah 10 menit busnya tidak datang," bebernya dengan wajah kesal. Dia tidak tahan lagi dan akhirnya memilih untuk menangis. "Hiks... Hiks... Kenapa kamu hanya diam saja Som? Apa kamu senang kita dikeluarkan dari pekerjaan kita ini? Apa kamu tidak malu nanti dengan orang tuamu di rumah melihat putri mereka dikeluarkan dari tempat kerjanya dan menjadi seorang pengemis?"


Di sela-sela Uba yang dari tadi asik bersungut-sungut, tiba-tiba mobil mewah Tuan Sean berhenti di depan mereka yang dari tadi berdiri di tengah jalan sedang menunggu bus.


Somsi terkejut dengan apa yang sudah dilihatnya ini. Inikan mobil Tuan Sean...


Gumam Somsi seraya mengingat mobil yang membawanya pulang semalam. Kenapa tiba-tiba berhenti?

__ADS_1


Tuan Sean membuka kaca tempered mobilnya dengan menekan switch power window untuk membuka kaca jendela bawah. "Apa kalian akan tetap disitu?" Tanya Tuan Sean sambil tersenyum manis. Baru kali ini dia memakai senyum manisnya hanya untuk mengajak Somsi.


Xander yang memperhatikan Tuan Sean dari kaca spion atas kemudi. Dia heran dengan sikap atasannya yang perlahan berubah semenjak dia melihat Somsi.


"Kami... kami tidak mungkin masuk ke dalam mobil Tuan. Kami adalah bawahan Tuan. Jadi kami tidak layak untuk masuk. Maaf, kami tidak bisa masuk Tuan..." Ucap Somsi dengan wajah datar. Saat ini dia tidak mau lagi menuruti keinginan Tuan Sean. Dia tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi lagi padanya.


"Kamu menolak atasanmu?" Ucap Tuan Sean seraya menatap Somsi yang dari tadi tertunduk.


"Bukan... Bukan Tuan. Bukan itu maksud saya Tuan. Saya hanya tidak ingin orang lain mengira kita adalah sepasang kekasih. Saya hanya tidak ingin itu Tuan.... Maaf kami tidak bisa ikut bersama Tuan," jelas Somsi sambil tersenyum getir. Dia berusaha menutupi ketakutannya terhadap Tuan Sean yang sudah terlihat mengerutkan keningnya. Tatapannya berubah sejenak menjadi tajam menohok. Ingin cepat-cepat menerkam mangsa yang siap untuk disantap.


Kemudian menatap ke arah Xander sambil tersenyum miring. Dia tau harus berbuat apa. Kalau dia menunggu lama, mungkin saja wanita keras kepala itu terus menolaknya.


"Xander... hukuman apa yang pantas untuk orang yang suka membantah perintah saya, Xander?"


Xander mendelik heran tapi tau maksud Tuan Sean. "Jika seseorang membantah perintah Tuan Sean, maka dia akan dipecat dan sepanjang hidupnya akan terus disiksa," jawab Xander cepat.


"Som... Ngapain kamu sok jual mahal. Ayo kita ikut bersama mereka. Jika tidak kita akan dipecat dan kita tidak hanya dipecat saja Som... kita bahkan akan dibuat menderita sepanjang hidup kita di Malaysia ini... Hiks... Hiks... Aku masih mau pulang ke kampung halaman kita Som, kamu janganlah memikirkan ego mu sendiri," bujuk Uba yang dari tadi tak berhenti menangis. Dia tau sekali Somsi membuat keputusan, Somsi tidak akan mengingkarinya.


Uba tidak takut jika hanya dipecat mereka akan tetap bersama sampai mereka mendapat pekerjaan mereka lagi. Namun Tuan Sean juga tidak akan membiarkan mereka bebas dari cengkraman tangannya.


"Baiklah, kami akan mengikuti perintah Anda, Tuan Sean... Tapi kami harus duduk di bangku jok belakang. Tuan harus pindah ke samping Tuan Xander, Apa anda Tuan mau?" ucapnya lantang.


Dia sudah tidak perduli lagi mau Tuan Sean marah atau tidak dengan sikapnya itu. Yang dia inginkan hanyalah kenyamanan mereka berdua. Jika hanya dirinya saja dia terima, tapi dia bersama Uba. Dia tidak mau terjadi sesuatu padanya.


"Baiklah, kalau kamu memaksa."


Tuan Sean akhirnya mengalah. Gadis ini keras kepala seperti batu. Dasar kepala batu!

__ADS_1


Tuan Sean memaki Somsi dalam hatinya. Dia terkadang melihat dari kaca spion bahwa Somsi selalu memasang muka masamnya.


Wanita aneh! Yang anehnya aku. Kenapa aku bisa tertarik padanya.


Semenjak kehadiran Somsi, Tuan Sean berhenti tidur dengan wanita lain. Dia terus mengingat tubuh nan indah yang dimiliki Somsi. Setiap harinya selalu terbayang akan kecantikan Somsi dipikirannya. Sampai-sampai dia lupa untuk makan. Masih beberapa hari berjumpa dengan Somsi, wanita itu sudah berhasil meluluhkan hatinya yang beku menjadi cair.


Apakah dia sudah jatuh cinta kepada Somsi?


Dia masih bingung dengan perasaannya. Apakah itu cinta atau hanya sekedar nafsu sesaat.


Tuan Sean menarik napasnya lalu mengatakan dalam hatinya, kalau dia tidak jatuh cinta dengan Somsi. Dia hanya mengincar tubuh Somsi. Jika suatu hari dia mendapatkan wanita itu, dia pasti akan mencampakkannya.


Sesampainya di kantor. Somsi segera turun dari dalam mobil dan juga Uba yang cepat-cepat menyusul Somsi yang sudah agak jauh darinya.


"Som... Tunggu aku Som..." Teriak Uba. Dia berlari sekuat tenaga agar dia bisa melalui Somsi namun Somsi sangat cepat berjalan dan dia sudah masuk ke ruang tempat kerjanya Tuan Sean.


Dia terkejut Somsi bisa masuk ke ruangan yang sama dengan Tuan Sean. Mengapa Somsi bisa masuk ke sana. Bukannya Somsi adalah karyawan baru yang tempatnya di tempat karyawan baru selayaknya. Tapi mengapa Somsi bisa masuk kesana? Apa yang sudah aku lewatkan sehingga aku tidak tau kabar tentang Somsi beberapa hari ini.


Di dalam ruangan, Tuan Sean tidak berhenti tersenyum dengan tingkah Somsi. Dari tadi wanita itu hanya diam membisu. Dia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Tapi mengapa dia tidak mau bicara dengan atasannya itu?


Setiap kali Tuan Sean menyuruh Somsi untuk mengantarkan berkas-berkas yang akan diperiksa oleh Tuan Sean, dia selalu menatap ke bawah. Dia tidak mau menatap Tuan Sean secara langsung. Dia bingung dengan perasaannya, semakin Somsi membuat ulah... dia merasa itu sangat lucu.


Ada apa denganku? Mengapa aku tidak marah kepada wanita ini? Aku seperti tidak biasanya... Aku harus cepat-cepat membuang perasaan aneh ini! Semakin aku membiarkannya, semakin aku gila kedepannya.


Tbc.


Dukung Author dengan vote, like, dan juga komen.

__ADS_1


Bye... Bye...🦋🦋


__ADS_2