Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 12


__ADS_3

"Owh begitu ya nak. Terus uang kamu masih kumpul atau memang sudah ada?" tanya ibu itu.


"Nah... ini Bu yang saya bingung kan. Kami hanya keluarga yang miskin. Tidak memiliki apa-apa. Jangankan uang, makan saja bisa sudah syukur bu," tutur Somsi sedih.


"Yang sabar ya nak. Mungkin kamu merasakan pahit sekarang. Kemudian hari bersenang-senang. Siapa yang tau dengan nasib kita," ucap ibu itu memberikan semangat.


"Jangan mimpi kali ya.. yang miskin tetap miskin,"ocehan ibu yang memiliki badan lebih kurus dari semua ibu-ibu itu.


Kok bicara ibu ini pedas kali ya. Sabar.


Somsi merasa tersinggung dengan apa barusan yang di ucapkan oleh ibu itu. "Hmm, saya tahu kok bu.... tapi gak salah mencoba dan terus berharap."


Ibu itu memutar mata malas. "Aduh, berharap bangat sih kamu. Semua cita-cita kamu itu batalkan deh. Keburu sakit hati nanti," ejek ibu itu.


"Hei... ibu jangan bicara begitu dong. Seharunya kita sebagai ibu. Sebagai orang yang sudah menikah. Sebagai orang yang sudah punya anak. Ya, harus jaga tata krama lah. Masa anak-anak lebih tahu tata krama ketimbang dari kita yang sudah menjadi ibu," tegas ibu memakai bedak dingin.


"Waduh... kalau aku sih ya... gak mau berharap berlebihan. Dari pada aku sakit hati ujung-ujungnya nanti," hardik ibu itu.


"Yang di ucapkan ibu memang benar," ucap ibu pakai topi.


"Kan betul ...., ha ha ha ha ha ha.... jangan mimpi deh," Ibu itu tertawa keras.


"Tetapi tidak salah untuk kita mencoba dan berharap. Jangan lupa juga berdoa ya nak," ucap ibu itu melanjutkan perkataanya yang terpotong tadi.


Ibu itu merasa marah sekali. "Kok ibu balik mendukung dia sih."


"Memang nya siapa bilang kalau aku mendukung ibu. Ibu berusaha lah jadi yang terbaik!" perintah ibu itu.


Dia sendiri tidak suka dengan ibu yang kurus itu. Dia ingin segera menyumbat mulut nya itu dengan tanah lumpur sawah. Tetapi dia menahan nya. Dia tidak mau anak-anak mencontoh sifat buruk nya itu.


Ibu itu tidak lagi berbicara. Dia memilih diam karena sudah merasa kalah. Tidak ada yang mendukungnya sama sekali. Dia semakin benci dengan Somsi. Dalam hatinya ingin sekali dia memberikan pelajaran kepada Somsi. Karena semua ibu-ibu mendukung nya, dia memilih memendam amarah nya itu.


Jam sudah menunjukan angka 10. Saatnya mereka kembali untuk istirahat makan jeddah.


Jeddah hari ini adalah mie gomak. Muncul ide dalam pikiran Somsi saat melihat mie itu. Nanti dia akan memasak mie gomak pikirnya.

__ADS_1


"Nak... kenapa bengong?" tanya ibu yang memakai topi sambil memberikan mie gomak untuk Somsi.


"Ah.... tidak apa-apa kok ," jawab Somsi.


Somsi menerima mie gomak lalu memakan nya. Rasa lelah nya sedikit hilang. Rasa sakit di pinggang nya tadi karena dalam posisi membungkuk sudah terasa membaik.


Dia memakan lahap mie gomak itu. Dia tidak lupa untuk minum sebanyak-banyaknya sebelum kembali turun.


"Bu... itu fungsi nya apa?" tanya Somsi heran melihat salah satu ibu yang makan sirih.


"Owh ini nak... ah... ini hanya pencuci mulut," jawab ibu itu.


Dia juga memasukan tembakau ke dalam mulutnya. Somsi yang melihat nya ingin segera muntah. Jika dia mencium aroma tembakau itu dia akan mabuk.


"Itu juga fungsi nya apa bu?" Somsi semakin heran lagi. Sirih di campur tembakau rasa nya apa sih. Rasa nano-nano gitu.


"Owh yang ini nak... agar kita bisa merasa baikan. Kalau kita sedang masalah, tembakau ini bisa menghilangkan masalah kita," jawab ibu itu lagi.


"Owh begitu ya bu."


Ibu itu menganguk iya. Somsi sendiri meski sudah di jelaskan tak sedikit pun ingin mencoba nya.


Semua kembali turun ke sawah.


Somsi menanam sangat cepat sekali. Sering kali dia lebih duluan sampai di pembatas bagian sawah itu.


"Bu... ibu tau gak ibu yang berinisial R itu. Yang berstatus janda itu. Dia sudah hamil lagi loh bu... tanpa diketahui siapa ayah nya," ngibah ibu yang kurus tadi.


"Ah masa iya sih bu," jawab ibu yang memakai topi tidak percaya.


"Iya masa sih bu. Memang ibu tahu dari mana?" tanya ibu yang memakai bedak dingin.


Ibu yang kurus itu menjelaskan dari mana dia mendapat kabar tersebut. "Itu loh bu... hanya dengar-dengar saja. Aku dengar lagu ya bu.... dia mau mengugurkan kandungan nya itu loh bu," ngibah ibu itu lagi.


"Ibu jangan menyebar fitnah. Siapa tahu yang ibu katakan belum tentu benar," ucap ibu pakai topi.

__ADS_1


"Iya betul itu bu, jangan mudah percaya sama berita hoaks!" seru ibu pakai bedak dingin.


"Ih... ibu-ibu ini gak percaya kali," batin ibu itu.


Ibu itu merasa kesal sekali dari tadi dia selalu salah. Salah dalam bicara. Salah dalam menggibah juga. Dia mengira semua ibu seperti sekelompotan sekitar rumahnya. Yang rata-rata mulut ember.


Ditengah keasikan mereka menanam padi. Somsi merasa kaki nya seperti ada yang lengket. Sedikit gatal. Lalu dia meraba kakinya itu yang berendam lumpur.


Tiba-tiba Somsi berteriak histeris ketakutan. Aaaa......... lintah, lintah..... aku takut."


Somsi menutup mata nya lalu menunjukan kaki nya pada ibu yang memakai topi untuk mengambil paccat itu.


"Ini namanya paccat nak," ucap ibu itu menahan tawa.


"Ah...masa sih bu...," ucap Somsi.


Darah segar keluar dari kaki nya itu. Ibu itu sudah mengambil paccat itu dari kaki Somsi.


Somsi berteriak lagi saat ibu itu pura-pura ingin melempar paccat itu ke wajah nya. "Aaaa....... jangan bu!"


Somsi sangat takut sekali. Meski dia selama ini sering ke sawah. Atau dari kecil sudah terbiasa di sawah, dia tetap merasa takut jika melihat paccat. Apa lagi kalau itu bukan paccat melainkan lintah. Somsi akan jatuh pingsan deh. Dia sangat trauma dengan lintah.


"Hanya dengan lintah saja dia sudah takut. Katanya kuat, katanya dia pemberani. Dimana tuh keberanian nya. Di jonggol kali yah," celoteh ibu yang kurus itu tanpa berpikir dua kali untuk mengucapkan kalimat nya itu.


"Eh ibu kok malah nyinyir. Mulut ember kok di pelihara," sindir ibu yang makan sirih tadi.


"Hei...! Ibu jaga bicara ya! ibu gak tau apa ibu berurusan dengan siapa!" hardik ibu itu.


"Upss...." hanya kalimat itu yang keluar dari mulut ibu yang makan sirih.


"Bisa diam gak ya!" bentak ibu yang kurus itu.


Dia sangat tidak suka dan benci dengan orang yang telah berani melawan ya itu. Ingin sekali dia menjambak rambut nya dan menjatuhkan badan ibu yang makan sirih itu ke dalam lumpur sawah. Tetapi dia tahan. Dia tidak mau semua mereka menyerang nya bersamaan. Apa lagi dari tadi dia sudah membuat rusuh.


Bersambung........

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate sebanyak nya😊


__ADS_2