
"Som... maaf, maafkan aku. Aku salah," lirih Bram.
"Maaf... dari dulu Bram, dari dulu. Kau selalu mengganggu aku, selalu menyusahkan aku dan apa ini! kau bahkan tidak pernah menghargai permintaan tolong ku pada mu."
Bram hanya menunduk. Dia tidak bisa berkata apa lagi. Memang salahnya sendiri. Ia telah berjanji untuk tidak meninggalkan dagangan Somsi. Tetapi apa yang telah ia lakukan? ia bahkan meninggalkan dan tidak menjaga dagangan Somsi. Hal itu sungguh membuat Somsi marah.
"Som, maafkan aku," ucap Bram.
Somsi tidak menyahuti Bram. Dia memilih diam tidak membalas permohonan maaf Bram.
Som.... aku tidak bisa membiarkan kamu mendiamkan ku. Bagaimana bisa aku menerima semua ini.
Bram menatap Somsi. Dia mulai bicara lagi.
"Som... aku bisa menerima kau membenciku. Tapi aku memohon, jangan pernah mendiamkan aku seperti ini. Aku tidak bisa Som," lirih Bram. Matanya merah dan terlihat kalau ia tulus mengucapkan kata-kata nya itu.
Somsi tidak menyahut juga. Kali ini Somsi duduk di bangku tempat ia jualan. Somsi memperhatikan semua dagangannya yang jatuh ke tanah. Sangat di sayangkan sekali. Dia begitu semangat memasak saat pagi tadi. Semua malah jatuh ke tanah tanpa ada hasil yang ia dapatkan.
"Som... please! Dont silent me!"
Somsi tetap diam, diam dan diam. Membuat Bram merasa bersalah sekali. Bram bertanya-tanya dalam hatinya. Apa yang harus ia lakukan agar Somsi tidak marah lagi padanya. Agar Somsi tidak diam begitu saja.
Bram mencari akal apa yang harus ia lakukan saat ini. Sebuah akal langsung muncul dalam pikirannya. Bram berlari menemui seorang anak kecil yang berjualan balon warna-warni. Bram membeli satu ikat balon warna-warni. Dia menyerahkannya pada Somsi.
"Som... ini balon untukmu," ucap Bram menyerahkan balon itu. Tetap saja Somsi tidak menerima balon itu dan memilih diam lagi.
Sungguh Bram sangat putus asa. Dia mulai berpikir lagi. Lalu ia pergi menemui anak kecil itu dimana anak kecil itu sibuk menjual balon yang sedang ia jual.
Bram datang menghampiri anak kecil itu. "Dek," panggil Bram.
"Iya bang, ada apa ya?" tanya anak kecil itu heran.
"Apa abang bisa minta tolong padamu dek?" tanya Bram. Terlihat remang-remang wajahnya yang sedikit lelah. Bram dari tadi kehabisan usaha untuk membujuk Somsi agar tidak marah lagi. Semua usaha yang ia lakukan tetap gagal.
Dia ingin rencana kali ini berjalan lancar.
"Bang.. aku masih punya banyak kerjaan. Balon warna-warni ku belum ada terjual selain Abang yang membeli tadi. Semua datang hanya menawar saja dan tidak membelinya," ucap anak kecil itu.
"Tapi dek... abang sangat butuh adek saat ini," lirih Bram. Ia sangat memohon sekali agar anak itu bisa membantunya.
"Bang, aku tidak bisa. Abang bisa minta tolong pada yang lain. Aku masih punya banyak kerjaan," tolak anak itu.
Anak itu juga mau membantu Bram. Tetapi apa yang harus ia lakukan. Semua pekerjaan harus ia selesaikan saat itu juga.
"Dek... apa kamu takut kalau semua balon mu tidak habis terjual?" tanya Bram intens.
Anak kecil itu mengangguk. " Iya bang.... maaf."
Bram tersenyum dan mulai bicara lagi. "Dek... kalau kamu takut hanya gara-gara itu. Abang bisa bantu kamu, abang akan beli semua balon kamu."
Anak kecil itu heran. Apa ia harus bahagia atau merasa kasihan. Dalam hatinya, hanya untuk menolong saja harus mendapatkan imbalan.
__ADS_1
Bang .... maaf yaa, maaf kali penolakan ku ini. Aku sudah menolak untuk membantu abang tapi abang masih mau membantu aku.
Dari tadi anak itu memikirkan kesalahan yang ia lakukan. Dia tidak mengira kalau dirinya bisa setega itu. Dia hanya menunduk dan agak memelas.
"Dek... apa kamu mau bantu abang nih, kok malah melamun?" tanya Bram.
Anak kecil itu mengangkat kepalanya dan menatap Bram malu. Sekali ia menatap Bram, sekali ia menunduk lagi. "Maaf bang."
Bram tersenyum saat melihat anak kecil itu menunduk malu. "Untuk apa dek?"
"Maaf bang, karena aku tadi menolak untuk membantu abang," lirihnya.
Bram tersenyum. Dia heran kalau anak kecil itu merasa bersalah padanya. Pada hal itu memang hak dia mau menolak atau iya. Itu kan keputusan anak kecil itu. Semua berhak mengambil keputusan. Seperti dalam pelajaran PKN tentang HAM. "He he he he he .... adek tidak perlu minta maaf. Kan Abang jadi malu."
Dengan menghemat waktu. Bram langsung membisikkan rencananya. Dia ingin Somsi bisa kembali bicara padanya.
Anak kecil itu mengangguk mengerti. Dia mulai mendekati Somsi. Dia duduk di sebelah Somsi.
Anak kecil itu menyapa dengan senyum di wajahnya. " Hai kak."
Somsi heran dengan anak kecil di sebelahnya itu. Mereka belum saling kenal dan anak itu sudah berani menyapanya.
Somsi membalas anak kecil yang menyapanya. "Eh iya dek. Ada apa?"
Somsi canggung dengan anak kecil itu. Dia sendiri saat kecil tidak seberani anak kecil yang menyapanya ini. Ini beda kali pikirnya.
Apa tujuan anak kecil ini ya...
Tidak ada orang yang ia lihat. Ternyata Bram dari tadi sembunyi. Jadi Somsi tidak melihatnya dan tidak tau kalau Bram lah yang menyuruh anak kecil itu.
"Kakak lagi kesal ya? apa aku bisa menghibur kakak," umpat anak kecil itu.
Somsi tersenyum getir. " He he he he he he... kakak gak kesal kok."
Somsi berusaha menyembunyikan kekesalannya itu.
"Tapi kak... wajah kok rada cemberut. Kakak jadi tidak cantik kalau kakak cemberut," ucap anak itu. Ternyata anak itu pandai bicara dan pandai gombal lagi.
Somsi tersipu malu. Ia meraba wajahnya. "Ahh masa sih dek. Kakak gak cemberut loh," ucapnya. Masih berusaha menyembunyikan kekesalannya.
Di balik persembunyian Bram. Bram menahan tawa saat melihat Somsi tersipu malu. Bram tau kalau Somsi masih berusaha menutupi kesalahannya dari anak kecil itu.
Huuu kalau tidak kesal lalu apa ini? kenapa malah diamin aku?
Umpat Bram kesal. Dia kecewa saat Somsi tidak mau bicara padanya. Apa lagi memilih diam. Hal yang paling ia benci saat seseorang mendiamkannya.
"Ha ha ha ha ha ha .... kakak masih berusaha menutupi. Kakak gak usah malu. Tadi aku liat kakak marah-marah kepada abang ganteng," ucapnya keceplosan.
Anak kecil itu menutup mulutnya. Duh aku keceplosan lagi. Maaf abang....
Ha?... dari mana adek ini tau? ini pasti rencana Bram.
__ADS_1
Bram yang mendengar anak kecil itu keceplosan menepuk jidatnya. "Oalah... gagal nih rencana."
"Adek... kakak tidak marah kok sama Abang itu," ucap Somsi.
"Kalau kakak tidak marah, kakak harus bicara sama abang itu sekarang juga," tegas anak kecil itu.
Somsi kaget. "Apa?"
Ha ha ha ha, rasain. Emang enak...
Ternyata adek ini pandai juga.
Umpat Bram dalam hati. Ia bahagia sekali melihat Somsi kehabisan kata-kata.
"Iya kak... kakak harus bicara, titik!" tegasnya.
Duh gimana ini... aku uda janji sama nih hati lagi. Kalau aku gak akan bicara sama Bram.
"Kak... apa kakak mau?" tanya anak kecil itu lagi. Dia turun dari bangku dan menghadapkan tubuhnya ke arah Somsi dengan melipat tangan di dada. " Kalau kakak tidak mau juga, aku akan berteriak dan katakan kalau kakak mau culik aku!" ancamnya.
Somsi merasa tubuhnya panas. Apa lagi telinganya mau meledak saat mendengar ucapan anak kecil itu. "Hei dek kecil... jangan senekat itu! hu," Somsi mendengus kesal. "Apa tidak ada yang lain untuk adek bicarakan, jangan pakai ancam segala dong dek."
"Kalau kakak tidak mau ya aku akan berteriak," ancamnya.
Somsi cepat-cepat menghentikan aksi gila anak kecil itu. "Iya dek iya."
Anak kecil itu tersenyum lebar. Rencananya berjalan lancar. Jadi ia tidak perlu khawatir dengan uang yang sudah di berikan oleh Bram padanya.
"Di mana dia?" tanya Somsi kesal.
"Siapa kak?" tanyanya lugu. Semakin membuat Somsi tambah kesal.
"Itu loh dek... abang yang telah menyuruhmu," umpatnya kesal.
Anak kecil itu menunjuk persembunyian Bram. " Di sana kak."
Somsi langsung pergi ke tempat Bram sembunyi. Bram yang melihat Somsi datang mulai takut. Keringatnya bercucuran. Ingi ia pindah ke tempat persembunyian yang lain. Tiba-tiba Lian datang mengagetkan Bram.
Lian membuat tangannya ke punggung Bram tiba--tiba. Membuat Bram menjerit. "Aaaaaaa."
Lian tertawa terbahak-bahak. " Ha ha ha ha ha."
"Kau ya iblis buaya darat, kagetin aku aja," ucap Bram kesal.
Lian bukannya diam malah kembali tertawa. "Ha ha ha ha, Habis kamu sih... kamu ngapain di sini? seperti anak kecil saja. Pakai acara sembunyi lagi."
Lian menggelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir kalau temannya bisa juga main sembunyi seperti anak kecil.
Bersambung.........
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏