
Siapa yang tau maksud kita kepada orang lain. Baik itu adalah kebaikan atau kejahatan, jelas yang terselubung dalam pikiran kita tidak akan pernah orang-orang tau, sebab hanya kitalah yang mengerti seperti apa diri kita sebenarnya.
Di dalam kehidupan seseorang pasti ada yang namanya cinta. Tidak melihat siapa dia. Jika dia ditakdirkan untuk memiliki cinta, maka itu akan terjadi.
Tidak ada yang akan bisa mengalahkan betapa kuatnya cinta itu. Semua terjadi atas nama cinta.
Jika Anda berpikir bahwa cinta itu mudah ditemukan, maka tafsiran Anda sangat salah.
Cinta juga kita tidak tau darimana dan kapan datang. Hanya hati yang bisa bicara bahwa cinta itu benar-benar ada.
"Jangan berani dekat-dekat sama saya Tuan Sean yang terhormat!" tegas Somsi mengarahkan jari telunjuknya.
"Jika Tuan nekat sekali lagi, maka saya tidak akan segan-segan melaporkan tindakan Tuan yang kurang ajar itu!" kecam Somsi.
Wajahnya sudah seperti api yang siap membakar, menghanguskan ke segala arah. Bayangan pria itu, membuat pergerakan mata Somsi terkunci rapat di sana. Meninggalkan jejak kebencian dengan atasannya itu.
Dia berpikir, bahwa Tuan Sean bukanlah pria seperti dugaanya. Namun ternyata, pria itu sama seperti pria lain yang suka mempermainkan tubuh wanita hanya untuk memenuhi hasrat bejatnya.
Sungguh keterlaluan! Layaknya seperti sampah dicampakkan begitu saja setelah puas memakainya. Tidak tau berterimakasih!
Itulah hal yang paling dibenci oleh Somsi.
Pria kurang ajar yang tidak tau menghargai wanita dan membuat wanita itu hanyalah permainan ranjang saja.
"Kamu berani menahan saya?" ucapnya murka. Kedua bola matanya kini mengunci rapat-rapat tatapan yang menantangnya itu. Dia begitu tertantang hanya karena perkataan yang dia dengarkan dari mulut Somsi.
"Sangat tidak tau diri! Kamu sudah saya perlakukan berbeda dari orang lain, tapi mengapa Kamu tidak sedikitpun menghargai saya?" sembur Tuan Sean.
Emosinya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Dia ingin menghabisi wanita itu saat itu juga. Tapi ditahannya.
"Kalau begitu, pindahkan saya ke ruangan saya yang semula Tuan! Maka saya akan lebih menghormati keputusan Tuan itu," perintah Somsi. Dia sudah tidak peduli lagi dengan perjanjian kontrak yang sudah di tandatangani pada perjanjian kontrak itu. Yang dia mau saat ini adalah kenyamanannya.
__ADS_1
Dimana dia tidak bertemu lagi dengan Tuan Sean. Sehingga Tuan Sean menjauhkan pikiran kotornya terhadap Somsi.
"Kamu mau pindah! Hmm, itu tidak akan mungkin..." ucap Tuan Sean sambil tersenyum miring. Saat ini dia tau cara memenangkan hatinya Somsi. Perlahan dia mengatur napasnya dulu, barulah dia mulai bicara dengan lembut.
"Maafkan atas sikap saya tadi, saya telah mengganggu kenyamanan kamu. Sekarang duduklah dan kembali bekerja," perintah Tuan Sean.
"Tapi ingat! Kontrak yang sudah kamu tanda tangani tidak akan bisa berubah. Kamu akan tetap menjadi pacarku dan berada di bawah naunganku. Jika sekali-kali kamu melanggarnya, maka kamu akan tau akibatnya!"
Kalimat yang baru saja di dengarnya dari mulut Tuan Sean, seakan menjadi tamparan keras untuknya. Dia tidak mengerti maksud dari atasannya itu. Mengapa dia melakukan hal itu padanya. Baru pertama bekerja sudah mengalami hal-hal yang tidak diinginkannya sama sekali. Berkali-kali dia menjelaskan bahwa dia datang hanya untuk bekerja, tapi tidak ada sedikitpun di dengarkan pria itu.
Melihatmu dengan sikap seperti ini, membuatku semakin membencimu, Tuan Sean yang terhormat! Membencimu saat ini adalah kemauanku sendiri.
Tuan Sean tersenyum kecut saat melirik Somsi dengan memasang muka cemberut. Dia terus meliriknya dan akhirnya...
Praanggggg!!!
Gelas yang berisi kopi itu pecah. Sontak membuat Somsi kaget. "Aaa...."
Dia kenapa ribut sekali? Apa seperti ini kelakuannya selama ini? Dasar Mafia kejam!
Dia tidak henti-hentinya memaki Tuan Sean yang terus menyebut pria itu Mafia Kejam.
Kenapa harus dia menjadi atasan Perusahaan ini? Lihatlah kelakuannya...sangat jauh dari sikap layaknya Bos.
Somsi mengatur napasnya. Dia sedikit terkejut dengan jatuhnya gelas tadi. Jantungnya seakan mau lepas dari kaitannya.
"Kamu terkejut?" ucap pria itu yang semakin membuat amarah Somsi memuncak. Jelas saja dia menahan amarahnya itu, sebab jika dia melawannya, bisa-bisa dia dicampakkan dari Perusahaan itu dan kemana dirinya nanti kalau pada akhirnya dia dipecat?
Betapa malunya nanti orang tuanya di kampung saat mengetahui putrinya tersiksa seorang diri di Malaysia. Dia tidak mengkhawatirkan orang lain yang suka mengganggu ketenangan mereka. Dia hanya mengkhawatirkan orang tuanya dan juga adeknya jika sampai mereka bersedih karenanya. Jadi, dia berusaha kuat hanya demi keluarganya.
Pria itu, biarlah pria itu melakukan sesuka hatinya. Selama dia tidak merugikan Somsi, maka Somsi akan mematuhi segala peraturan yang dia buat.
__ADS_1
"Maaf, Pak, saya mau permisi sebentar ke toilet. Apa saya boleh pergi Pak?" tanya Somsi dengan perasaan gugup.
Dia sedikit canggung saat pria itu menatapnya dan akan terjadi tatapan yang mengikat satu sama lain selama 2 - 3 menit.
Pria itu tersenyum, "Apakah kamu adalah wanita paling idiot di seluruh bumi ini? Mengapa kamu permisi keluar sedangkan disini juga ada kamar mandi."
Malu. Iya Somsi menahan rasa malunya saat Tuan Sean mengatai dirinya idiot. Apakah memang benar seperti itu bahwa dirinya terlalu idiot?
"Eh, iya juga sih ya Pak. Saya hampir lupa," jawabnya sambil menggoyangkan pahanya. Sudah tidak tahan dia ingin mengeluarkan urine yang sudah dia tahan dari tadi.
Dia berpikir bahwa dia bisa menahannya sampai pulang dari kantor itu, namun ternyata sesak urine yang sudah di ujung simpisisnya telah memaksa ingin keluar.
"Pergilah!" perintah Tuan Sean.
Dia fokus kembali ke layar laptopnya. Dia dari tadi telah membuang-buang waktunya hanya untuk gadis yang dia sendiri tidak tau darimana asal-usulnya. Dia juga tidak ingin melupakan prinsipnya selama ini yang dia buat selama bekerja. Tidak boleh berlenga-lenga sebelum jam kantor selesai. Jika dia berlenga-lenga seperti tadi, pasti seluruh karyawan yang bekerja di Perusahaan-perusahaan yang menjadi hak kekuasaannya akan menirunya.
Jadi, hal itu tidak boleh!
Jam kantor pun selesai. Somsi keluar lebih dulu dibandingkan Tuan Sean yang masih fokus dengan layar laptopnya. Bahkan, saat Somsi permisi pun sudah tidak dia hiraukan lagi.
Setelah pekerjaannya selesai, dia melangkah pergi keluar. Saat dia hendak memasuki mobil yang bermerek Toyota dengan warna hitam, dia melihat Somsi masih menunggu bus sedang memperbaiki ban bus yang kempes. Lirikannya berpaling ke arah pria yang bicara dengan Somsi. Mereka tertawa bersama. Terlihat akrab.
Ada perasaan panas membakar yang menggangu suasana hatinya. Dia tidak tau perasaan apa itu. Yang dia tau setelah melihatnya dia tidak suka.
Dia masuk ke dalam mobil dan akan mempertanyakan hal itu untuk besok.
Mengapa aku merasakan asing terhadap gadis ini?
Secepat itu dia sudah akrab terhadap pria itu.
Gumam Tuan Sean.
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.
Bye... bye...