Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Kencan


__ADS_3

Tidak tau apa yang sedang dipikirkan Tuan Sean padanya sehingga membuatnya harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam 04: 00 sore. Dia tergesa-gesah mengetik di layar laptopnya. Dia ingin emosi tapi ditahankannya. Karena dia tidak berhak emosi. Dia hanya seorang karyawan biasa yang diangkat menjadi sekretaris pribadi Tuan Sean. Dia tidak merasa bahagia semenjak pengangkatan dirinya. Dia justru tersiksa jika terus bersama Tuan Sean seharian. Wajah yang sama dia temukan setiap hari di ruangan itu. Tidak perduli dengan ketidaknyamanan dirinya, Tuan Sean malah mengganggunya. Bahkan, disaat seperti ini, Tuan Sean memaksakan dirinya untuk kerja rodi harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum jam 04:00.


Apa yang sedang dipikirkan pria jelek ini!


Somsi mengejek Tuan Sean dalam hatinya. Dia sangat marah. Dia ingin menerkam pria itu saat itu juga. Betapa banyak kekesalan dalam hatinya kepada pria yang tidak berpikir secara manusiawi.


Benar-benar idiot!


Maki Somsi dalam hatinya.


"Apa kamu bilang barusan?"


Skakmat!


Bagaimana dia bisa tau yang ada di dalam hatiku... Apakah dia seorang dukun? atau seorang peramal, yang bisa mengerti apa isi hati orang... Hampir setiap detik dia menggangguku, uh aku tidak tahan. Dasar pria mesum!


Dia takut dan menundukkan kepalanya di depan layar laptopnya. Hatinya berdegup kian kencang.


Bagaimana ini?


Tuan Sean mendekat kepadanya, "Kalau kamu terus seperti ini akan membuat saya semakin terikat denganmu..."


"Melihatmu yang terlalu menggemaskan membuatku ingin segera menciumnya," imbuhnya lagi.


Deggh...


Somsi terkejut dengan kata-kata Tuan Sean. Dia kembali teringat dengan semua kata-kata Bram padanya. Sama persis tidak ada bedanya.


Semua pria sama saja! Cihh... Sama-sama idiot dan playboy. Gila bercinta dan gila dengan kecantikan. Apa semua pria tidak ada yang peduli dengan tulusnya cinta? Mengapa mereka semua tidak pernah menghargai yang namanya cinta? Apa yang sedang mereka pikirkan terhadap seorang gadis. Apakah mereka berpikir kalau wanita itu hanya penghangat ranjang dan juga apakah mereka pikir wanita itu lemah? Betapa memalukan sekarang seorang pria.


Tuan Sean tidak ada di ruangan itu karena Tuan Sean sedang rapat penting dengan salah satu Perusahaan ternama di Indonesia. Seorang CEO muda yang baru saja menginjakkan karirnya di dunia perbisnisan. Semenjak ayahnya meninggal dunia, dia pun akhirnya mengambil alih dalam Perusahaan peninggalan ayahnya.


Mereka sedang membicarakan bagaimana cara mengembangkan bisnis yang mereka kembangkan saat ini. Mereka harus terampil dalam segala hal. Agar orang-orang tidak memandang remeh mereka. Sehingga mereka membentuk tali persaudaraan untuk bisnis mereka agar berjalan lancar.


Tuan Sean menandatangani kerja sama tersebut. Tanda dia sudah menerimanya. Dia tersenyum sambil mengucapkan selamat kepada pria yang masih dibawah usianya. Pria itu tampan dan semangat juangnya untuk mengembangkan bisnis peninggalan Ayahnya terbukti dari segala usahanya itu.


"Baik Pak, saya permisi dulu. Terimakasih untuk kerjasamanya. Semoga lebih sukses kedepannya."

__ADS_1


Pria itu berlalu pergi tanpa menyadari kalau Somsi juga ada disana. Somsi sedang membawa berkas Tuan Sean yang tertinggal di ruangan. Somsi memperhatikan pria itu dari jauh. Punggung pria itu seperti dia kenal.


Siapa dia? Mengapa aku seperti mengenal pria ini?


Disaat dia ingin mengetok pintu, dia mendengar perkataan Tuan Sean dari dalam.


"Tuan... Apakah Tuan benar-benar mau membantu Perusahaan CEO yang dari Indonesia itu?" tanya Xander kepada Tuan Sean yang sedang sibuk mengetik.


"Menurutmu?" Tuan Sean kembali bertanya sebelum menjawab pertanyaan Xander dengan tersenyum licik.


"Saya tidak mengerti maksud Tuan," ucap Xander antusias.


"Saya akan katakan. Saya tidak akan membantunya. Dia masih terlalu muda untuk hal bisnis. Dia juga tidak pantas menjadi sainganku. Itu semua sudah saya rencanakan dari dulu. Kematian Ayahnya ini akan saya gunakan sebagai rencana saya untuk mencapai kesuksesan, hahaha."


Tuan Sean tidak menyadari ucapannya sedang di dengar oleh Somsi. Somsi tercengang dengan semua yang barusan dia dengar.


Dasar manusia picik!


Batinnya. Dia mengeram tangannya kuat. Semakin kuat rasa bencinya kepada pria itu. Pria yang suka mengendalikan semuanya dengan hak kekuasaannya.


Dasar pria tidak tau diri!


"Lihatlah gadis simpanan Tuan Sean itu. Dia berlari seperti dikejar monyet," ucap salah satu karyawan yang membenci Somsi. Dia iri kepada Somsi seraya dirinya yang dulu menginginkan agar menjadi sekretaris Tuan Sean telah direbut Somsi. Dia awalnya menyukai Somsi pas berada di bus yang sama. Awal pertama masuk Somsi bekerja. Saat wanita yang di samping Somsi memarahi Somsi, wanita itu marah kepada wanita yang telah memarahi Somsi. Dia tersenyum manis mendengar ocehan Uba dan Somsi saat itu. Terlihat receh tapi lucu.


Namun sekarang berbeda semenjak Somsi merebut impiannya untuk menjadi sekretaris Tuan Sean. Dia tidak akan membiarkan Somsi nyaman dengan pekerjaannya. Dia akan membuat Somsi lebih menderita lagi. Dia tidak berhak mendapatkan pekerjaan yang sudah lama dia impikan berhasil menjadi milik Somsi seorang.


Jadi, dia menyusun rencana untuk menghancurkan Somsi.


Namanya Reina. Karyawan tetap yang sudah lama bekerja di Perusahaan itu. Dia tidak suka seseorang merebutnya. Selama ini dia selalu mendapatkan penghargaan. Dia berjuang keras menjadi karyawan tetap yang terbaik yang sudah mendapatkan gaji yang berkali lipat agar dia bisa meningkatkan karirnya menjadi sekretaris Tuan Rey. Minggu depan adalah pernyataan Reina menjadi seorang Manajer di perusahaan itu.


Dia tersenyum miring sambil menatap Somsi sampai punggung Somsi tidak terlihat lagi. "Kita lihat saja Somsi... Apa yang akan aku lakukan padamu. Akan aku singkirkan dirimu! Kalau hatiku penuh amarah saat melihatmu, maka jangan salahkan aku jika aku bertindak akan melenyapkanmu, hahaha..."


Di dalam ruangan, Somsi kembali duduk. Dia sempat melemparkan berkas penting yang ada di tangannya itu. Tetapi kembali dia mengambilnya agar dia tidak dipecat karena ulahnya sendiri. Alangkah lebih baik dia senantiasa bekerja daripada harus membuatnya keluar dari Perusahaan itu. Tapi...


Tuan Sean telah menipu banyak orang. Itu berarti gaji yang akan saya terima nanti hasil dari penipuannya selama ini. Oh tidak!


Somsi selalu memikirkan hal buruk apa saja yang telah dilakukan Tuan Sean selama ini sehingga dia searching google untuk mencari tau kebenarannya, namun tiba-tiba Xander datang.

__ADS_1


"Nona Somsi!" ucap Xander tegas.


"Iya, Tuan? Ada apa?" tanya Somsi seksama. Dia tidak tau apa kesalahannya sehingga Xander datang menemuinya.


Kenapa Tuan Sean jelek tidak masuk?


Dia melirik-lirik ke arah pintu, menunggu kedatangan Tuan Sean.


"Saya ulangi sekali lagi. Saya tidak ingin Nona mengingkarinya." Dia terdiam sejenak seraya menatap tajam ke arah Somsi karena dari tadi Somsi tidak mendengarnya melainkan dia hanya fokus melihat ke arah pintu.


"Nona!" Ucapnya keras sedikit mengejutkan Somsi.


"Nona dengar yang saya bilang tadi!" ucapnya mantap dan tegas. Membuat Somsi sedikit takut.


Somsi menjawab terbata, "I-iya Tuan Xander."


"Apa?"


"Tentang Tuan Sean adalah bos yang jelek dan penuh tipu muslihat. Dia harus ditiadakan di muka bumi ini, Tuan," jawab Somsi lantang sebelum menyadari apa yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Apa?!" Xander meninggikan suaranya setelah mendengar Somsi mengatakan hal jelek terhadap Tuan Sean.


"Eh, ma... maaf Tuan, saya tidak sengaja mengatakannya. Maaf, Tuan."


Somsi menggaruk kepalanya karena malu. Dia berani sekali mengatakan hal yang justru membawanya celaka.


"Saya tidak perduli apa yang baru saja kamu katakan. Saya hanya ingin kamu nanti jam 04 sore segera menemui Tuan Sean! Kalian akan berkencan... Jadi bersiaplah!"


"Baik Tuan..."


Apa? Apa yang sedang kujawab ini...


Bagaimana bisa aku mengatakan iya, sedangkan pria itu mengencani diriku. Oh ini tidak mungkin. Betapa bodohnya aku.


Somsi merutuki kebodohannya saat Xander sudah keluar.


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.

__ADS_1


Bye... Bye...


__ADS_2