Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 20


__ADS_3

Ini masalah serius.


Masalah ini perlu diselidiki," ucap Bram antusias.


Diselidiki apa ya?...


"Kamu mau selidiki apa? semua itu sudah terlanjur."


Somsi pasrah dengan keadaan. Ya seperti itulah yang harus dia lakukan.


Dalam hal ini ternyata kamu bodoh juga ya...


"Kita harus selidiki. Kenapa saat papa kamu kecelakaan tidak ada yang mau menolong. Terus jika ada yang menolong papa kamu saat itu. Pasti orang yang menabraknya tertangkap."


Bram terus menjelaskan maksud dari tujuannya itu sampai Somsi paham.


"Maksudnya apa sih?" tanya Somsi bingung.


Ini anak lemotnya minta ampun deh.


Bram bingung harus menjelaskan apa lagi. Dari tadi dia panjang kali lebar tetap Somsi belum mengerti "Semenjak menangis seharian kamu berubah jadi orang bodoh ya."


Kalau memang memang niatnya baik. Ya dijelasin lah. Ini malah mengejek aku.


Somsi tidak menjawab Bram lagi. Dia memilih diam tak bergeming. Melihat Somsi yang hanya diam, kembali dia mengatakan apa maksud dari rencananya itu.


"Begini loh.... Kan papa kamu kemarin kecelakaan. Tapi tidak ada yang bertanggung jawab. Karena orang yang menabraknya lari. Nah...kita harus selidiki Kenapa saat papa kamu kecelakaan tidak ada yang mau menolong. Terus jika ada yang menolong papa kamu saat itu. Pasti orang yang menabraknya tertangkap," jelas Bram.


Apakah anak ini sudah mengerti ya....


Somsi menepuk jidatnya. "Iya ya... kenapa aku gak kepikiran ya."


Kan kamu sedang oon sekarang.


"Ya sudah, kalau kamu sudah mengerti bagilah. Mulai sekarang kamu gak usah sedih lagi. Soal biaya gadaian rumah kamu. Aku akan berusaha membantumu mencari uang."


Kok dia peduli sekali samaku?....


Pertanyaan yang sama muncul di pikirannya itu.


"Makasih ya, kamu sudah mau mendengar curhatan ku. Terimakasih juga karena. kamu mau membantu aku," ucap Somsi.


Senangnya dapat ucapan terimakasih dari dia. Baru kali ini dia mengucapkannya dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Gak usah geer. Aku hanya membantu masalah keluarga kamu. Bukan dirimu!" ucapnya.


Ih apaan sih. Orang aku sudah baper.


"Siapa juga yang geer." Somsi beranjak dari duduknya. Dia ingin pulang ke rumahnya. Ayahnya masih butuh perawatan darinya. siapa tahu ayahnya sekarang sudah sadar.


"Dah aku mau pergi pulang. Kalau kamu masih mau disini ya gapapa sih. Pokoknya aku mau pulang."


Somsi melangkahkan kakinya satu persatu. Hingga dia sudah jauh dari Bram. Bram sendiri terus memperhatikan Somsi dari jauh.


Dia tidak tahu kenapa dia sangat peduli pada wanita ini. Jelasnya dia tidak ingin terjadi sesuatu pada nya.


Dirumah Somsi menyiapkan makan siang untuk ayah nya. Dia terus mengawasi dan menunggu sampai ayahnya sadar. Dia sangat ingin ayah nya itu sadar dan kembali beraktivitas seperti biasa.


Pa.... kenapa dunia kita berbeda dari orang lain. Semua orang tidak seperti yang kita rasakan. Dan apakah kita akan selamanya seperti ini. Uang sebanyak 50 juta kemana aku mencarinya pa... kalau pun Bram mengatakan ingin membatu tapi Somsi gak berharap pa. Lain lagi pa... dengan uang masuk kerja Somsi. Kemana aku lagi mencari uang sebanyak itu. Uang sebanyak 10 juta tidak mudah dicari. Pa.... kali ini aku tidak kuat. Aku tidak bisa menahan air mata yang terus-menerus menetes pa. Melihat papa sadar saja hati Somsi sudah senang.


Somsi terus bertanya pada hatinya apa yang harus dia lakukan saat ini. Semua uangnya sudah habis.


Tunggu dulu. Bukan kah Bram kemarin memberi uang untuk ku? Aku harus membukanya sekarang. Siapa tahu bisa membantuku saat ini.


Somsi membuka amplop berwarna coklat tua.


Apa?.....


"Uang sebanyak ini."


Somsi mempunyai ide. Dia akan menggunakan uang itu sebaik mungkin. Dia pergi ke pasar dan membeli persediaan rumah. Tidak lupa dia membeli bahan-bahan untuk keperluan dagangan ya. Kali ini dia akan memasak lebih banyak dari sebelumnya.


"Pak ini sekilo ya pak. Oh ya berapa sekilo wortel ini?" tanya Somsi.


"Hanya 15 ribu dek," ucap penjual itu.


"Kok mahal sekali pak? Gak bisa kurang ya pak? " tanya Somsi berharap bapak itu mengurangi harganya.


"Buatlah 13 ribu dek."


Mahal sekali. Kalau aku membelinya dengan harga segitu. Apa yang akan menjadi keuntungan ku?.....


"Gak bisa kurang lagi gak pak. Aku hanya punya uang 10 ribu. Lagian aku ingin jualan. Jika aku membeli dengan harga mahal lalu apa keuntunganku pak," jelas Somsi.


Penjual itu menganguk iya. Dia mengerti keadaan Somsi atau dia pernah pengalaman kali ya.


"Ya sudah dek. Ambil saja."

__ADS_1


Somsi memilih wortel yang bagus. Dia ingin wortel itu habis saat minggu selanjutnya.


Semua persediaan sudah dibeli olehnya. Tinggal pulang ke rumahnya.


Sesampainya dirumah dia langsung mengeluarkan satu-persatu.


Kini dia mulai fokus dalam memasak. Dia memasak mie gomak lebih dulu barulah dia menggoreng bakwan dan perkedel.


Selesai memasak dia mengemas apa yang akan dia bawa.


Akhirnya siap juga.


Somsi berangkat dan permisi pada ayahnya yang belum sadarkan diri. Ibunya tadi mengatakan kalau dia akan pulang dari sawah jam 3 sore. Dia juga meninggalkan pesan di kertas agar Friska menjual bakwan dan perkedel itu didepan rumah.


Somsi pergi ke tempat biasa dia menjual. Taman baru yang baru di renovasi.


"Kak.. aku mau makan mie," ucap anak kecil.


"Iya dek, duduklah kakak akan buatkan."


Somsi menyiapkan mie gomak di piring dan menyerahkannya pada anak kecil itu.


Saya juga kak...., Saya lagi, Saya..., Saya, Saya juga kak, Saya juga dek........


Semua pelanggan biasa datang menghampiri bersamaan. Somsi bingung harus meladeni siapa, banyak sekali yang harus dia ladeni.


Sedangkan dirumahnya bakwan dan perkedelnya sudah habis terjual.


"Bentar ya kak, bang,dek," ucap Somsi. Tangan nya sudah sangat sakit karena dari tadi tidak berhenti.


Ditengah keasikannya meladeni pelanggannya. Seseorang memberikan sebuah brosur. Selesai meladeni semua pelanggannya. Dia menyempatkan baca brosur itu. Isinya tentang lomba memasak. Lebih herannya lagi orang yang mendapat juara 1 mendapat piagam dan uang sebanyak 10 juta. Juara 2 mendapat 5 juta. Juara 3 sebanyak 3 juta lima ratus.


Sedangkan juara harapan 1 mendapat Sepeda Gunung Pacifik dua unit dan tv satu unit. Dan untuk juara harapan 2 mendapat satu unit tv.


"Kakak ikut saja. Apa lagi kakak pandai memasak. Dan masakan kakak semua enak," ucap anak kecil yang tidak tahu siapa namanya.


Tanggal 08 agustus. Berarti ini lomba saat merayakan hari kemerdekaan.17 Agustus 1945.


"Iya dek kakak akan ikut. Tidak ada salah nya kakak mencoba dulu."


Somsi kembali fokus pada dagangannya hingga akhirnya habis. Dia kembali ke rumah dengan perasaan bersyukur karena dagangannya habis semua.


Bersambung...............

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.


__ADS_2