Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Menderes Getah/Karet


__ADS_3

Somsi menasehati Friska agar tidak melakukan kesalahan yang bisa menyakiti hati kedua orang tuanya. Itu sangat tidak berfaedah.


"Jadi gimana nih.... Friska ijinkan kakak pergi kan?" ucap Somsi sambil mengedipkan matanya.


"Ih kakak nakal."


"Gimana nih... kok ngerasa digantungi ini."


Friska menganguk. "Iya kak. Kakak pergi saja. Tapi jangan lupa harus ngirim uang banyak-banyak."


Dari tadi menangis tidak mengijinkan Somsi pergi. Dan sekarang apa itu?


Friska memang aneh ya.... tadi nggak mau eh malah minta jatah. Ampun deh Friska.


Selesai mendengar persetujuan Friska dan bu Wati. Hati Somsi kini terasa senang.


Somsi dan Friska pergi bersama ke kamar orang tuanya. Melihat ayahnya yang masih terbaring lemah.


"Papa.... aku sudah membayar uang masuk untuk bekerja di Malaysia."


"Ha? kamu serius nak?"


Pak Nius kaget mendengar penjelasan Somsi, putri sulungnya itu.


"Iya pa. Sekarang hanya menunggu kapan aku akan berangkat," jawab Somsi, antusias.


"Baguslah Nak, Papa ikut senang. Papa bangga dengan kamu. Kamu tidak pernah menyusahkan keluarga ini, tidak seperti adek kamu tuh," ucap pak Nius memajukan mulutnya untuk mengejek Friska.


"Apa?" Friska tercengang mendengar ucapan ayahnya yang super bawel itu. Belum sembuh seutuhnya tapi pak Nius sudah mau mengejek Friska secara terang-terangan. Ya mau gimana lagi. Siapa sih yang melarang jika orang tua mengerjai anaknya sendiri. Kalau ada masalah sudah pasti itu mustahil.


"Pa... awalnya mama marah pada Somsi karena tidak memberitahu mama. Tapi yang lebih parahnya ini, papa lah yang menjadi dalang dari semuanya," jelas bu Wati menatap pak Nius tajam sambil mencibirkan mulutnya. Bukan berarti tanda bu Wati marah besar ya.


Ya sebagai umpan balik saja atau yang lebih tekenalnya di Feedback. Seperti para Author yang menulis novel yang sesama author saling feedback.


"Hmm, maaf Ma. Habis papa takut Ma, takut kalau mama tidak mengijinkan Somsi pergi. Takut kalau mama jadi sumber kegagalan dari rencana papa," jelas pak Nius sambil mengernyitkan dahi. Sebagai tantangan pada bu Wati yang selalu menatap dengan tatapan tajam.


"Kenapa tuh dahi, gerak-gerak mulu!" ketus bu Wati cepat.


"Hahahaha," pak Nius bukannya menjawab malah menertawakan istrinya.


Hu... masih saja bertingkah seperti yang dulu-dulu. Nggak pernah takut kalau lihat lirikan mataku yang tajam ini. Memangnya kurang tajam apa lagi ya?


"Ma, Pa.... kami pergi dulu ya. Somsi belum mandi, ini sudah larut malam. Nanti kemalaman mandi bisa timbul rematik lagi."


"Iya Nak. Pergi saja mandi. Dari tadi mama mencium aroma yang busuk dan ternyata itu kamu...."


Somsi cemberut. "Ih... mama suka kali ngeledek Somsi, sebal ih."


Somsi dan Friska pergi ke kamar. Friska sudah tidur duluan. Sedangkan Somsi mandi lalu makan. Orang tuanya dan juga adeknya sudah makan sebelum ia pulang.


Somsi makan banyak kali. Dia sangat lapar. Seharian ia sibuk. Ada yang lomba lah, ada yang pergi ke rumah Ka borusaragih lah. Habis tadi siang menjelang sore ia pergi ke rumah Siti dengan free alias jalan kaki. Ya iyalah free orang tidak naik angkot.


Selesai makan Somsi kembali ke kamar mereka, tempat tidur yang sama dengan adeknya, Friska.

__ADS_1


Somsi merebahkan tubuhnya di samping adeknya yang sudah mengorok dari tadi. Dia memakaikan sarung untuk melindungi dirinya dari dinginnya malam. Selimutnya sudah ia cuci tadi pagi, karena cuaca agak mendung, jadi selimut yang tebal itu tidak kering. Selimut mulai Somsi dari kecil masih terjaga utuh dan tidak ada robekan sedikit pun. Kelambu sudah ia pasang tadi. Sehingga saatnya untuk tidur. Tidak lama menunggu matanya terlelap, tanpa sepengetahuan ya ia tidur juga.


...****************...


Pagi yang cerah, burung-burung sudah berkicauan, terik matahari sudah mengganggu kenyamanan ya saat tidur. Somsi membuka matanya menatap ke sudut-sudut kamarnya ternyata sudah pagi sekali. Ia melihat adeknya sudah tidak ada disana, jendela kamarnya juga sudah terbuka. Kamar itu seketika sudah terang.


Ahhh aku terlambat bangun. Siapa yang sudah membuka jendela ini? nggak mungkin Friska, pasti mama.


Somsi heran dengan semua yang terjadi tidak seperti biasanya. Ia keluar dari kamarnya mendapati semuanya sudah bersih dan rapi. Lalu ia pergi lagi ke dapur, semua sudah siap. Semua makanan hanya tinggal disantap.


Wah siapa yang sudah memasak ini?


Somsi melihat udang yang digoreng di tudung makanan. Terlihat enak dan sangat menggiurkan untuk di makan. Lalu ia mengambil piringnya dan mulai memakan dengan santai.


Tiba-tiba ia berhenti sebentar. Dan memakannya lagi. Rasanya benar-benar mantap. Rasa yang disajikan oleh pemasak yang sebenarnya. Belum pernah rasa itu ia rasakan. Dan kenapa baru sekarang ia merasakan makanan yang selezat itu.


Di tengah ia menikmati makanan yang sudah hampir habis di piringnya. Lalu ia menambah nasinya lagi.


"Hep! sedang apa tuh? nambah ya?"


Bu Wati datang mengejutkan Somsi yang ingin bertambah, menambah nasi serta lauknya di piringnya itu.


Somsi kaget dan melotot melihat ibunya yang datang tiba-tiba. "Ah.... mama buat aku kaget saja."


"Hahahhah."


Bu Wati malah menertawai Somsi. Ia juga heran mengapa Somsi makan begitu lahapnya.


Apakah masakan Friska enak ya?


"Mama kenapa diam?" tanya Somsi heran.


Melihat bu Wati yang dari tadi diam saja setelah mengejutkan dirinya.


"Rasanya enak?"


Pertanyaan mama kok membuat aku bingung. Bukannya mama yang memasak ini?


"Iya ma, rasanya mantap. Sangat manja dimulutku ma saat menguyah makanan itu."


Somsi memegang perutnya yang sudah kenyang. Rasa yang luar biasa yang ia rasakan akhirnya mengisi perut kosongnya itu.


Lalu ia memuji langsing pada bu Wati, "Ma... masakan mama tambah enak."


Wow... masa sih?


"Bahkan ini lebih enak dari masakan mama dari sebelumnya."


Ha?


Bu Wati terkejut mendengar penjelasan Somsi. Telinganya terbuka lebar menerima ucapan Somsi tentang masakan itu.


"Apa iya sih enak?" tanya bu Wati lebih memastikan.

__ADS_1


Dia sendiri tidak percaya kalau Friska bisa memasak makanan lezat. Karena rasa penasarannya lalu ia mengambil sendok dan mulai mencicipi udang goreng itu.


Setelah ia mencicipinya matanya terbuka lebar. "Wow." Bu Wati sangat menikmatinya. Lalu ia mengambil piringnya langsung menyendok nasi dan melahapnya.


Nikmat sekali. Friska pandai juga memasak. Ahh masa sih... nggak mungkin. Mungkin seorang peri datang membantunya.


Bu Wati malah bergumam. Ia heran dengan putri sulungnya. ia tidak menyangka kedua putrinya mengikuti jejaknya, sebagai pemasak yang digemari oleh setiap orang yang memakannya.


"Friska yang sudah memasaknya nak."


Ha?


Ohok.... ohok....


Somsi batuk mendengar ucapan bu Wati.


Ternyata dugaannya benar. Ia juga tadi berpikir kalau Friska lah yang memasaknya.


"Apa mama bercanda?"


"Iya Nak... ngapain mama bercanda. Iya memang benar," jelas bu Wati dengan wajah serius. Tanda ia tidak berbohong.


"Ah masa iya sih ma?" tanyanya lagi.


"Iya Nak."


Somsi tercengang mendengar bu Wati kalau Friska lah yang memasak. Memasak lauk dan sayuran yang sangat lezat.


"Friska juga yang membereskan semua ini," ucap bu Wati. Lalu ia menunjuk lantai, "Pagi-pagi sekali Friska sudah mengepel lantai ini."


Ha?


Somsi tambah tercengang mendengarnya.


"Kata Friska tadi, ia akan berusaha mandiri. Dia tidak mau bergantung lagi padamu nak."


Somsi tersenyum senang. Ternyata adeknya mau mengubah kebiasaanya. Padahal ia tidak memaksanya. Karena Somsi berpikir, bertambahnya usia seseorang ia akan bersikap lebih dewasa lagi.


"Ma.... aku senang mendengarnya. Ternyata Friska mau berubah juga ya," ucap Somsi.


Usai makan Somsi pergi meninggalkan bu Wati yang masih tertinggal makan.


"Ma... Somsi pergi dulu ya..."


"Mau kemana Nak?" tanya bu Wati menghentikan langkah kakinya Somsi.


"Mau menderes Ma."


Somsi mengambil tas spesial ke ladang dan juga pisau sadap, lalu memasukkannya ke dalam tas itu.


Bersambung.................................


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga rate (5 star) favorit sebanyaknya😘😘😋😋


Author hanya ingin mengatakan pada readersku tercinta jangan pernah membuat rate dengan jumlah 1,2,3, ataupun 4. Buatlah 5 rate yah para readersku. Terimakasih karena sudah berkenan hadir🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳🥳


__ADS_2