Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Malu-malu Kucing


__ADS_3

"Somsi, kamu sudah sadar?" Tanya Reyna langsung menghampiri adiknya itu.


"Emangnya aku kenapa, Kak?" Tanya Somsi heran.


Dia bingung dengan apa yang sudah terjadi dengannya. Saat dia bangun tadi, hanya sebuah kain yang terletak di atas kepalanya. Selebihnya, dia hanya melihat setiap sudut kamar itu dalam keadaan masih pusing di kepalanya.


"Kak... Kenapa Kakak diam saja?"


"Nggak apa-apa kok Som, cuma kamunya kecapaian aja kata dokter Harun. Kau hanya butuh istirahat," jelas Reyna.


Rasa khawatir yang berlebihan dalam pikirannya, kini sudah agak lebih baik. Somsi tidak terjadi apa-apa padanya.


Semenjak berada di Malaysia, Somsi memiliki keluarga yang baik yang sangat menyayanginya. Dia dipindahkan dari hostel dan memilih untuk tinggal di rumah itu. Tapi, dalam rumah itu terdapat seorang wanita paruh baya istri dari pemilik rumah itu sangat jahat. Dia selalu memperlakukan Somsi dengan sangat buruk.


"Mama sekarang ada dimana, Kak?"


Reyna mendelik. "Apa kau baru saja mengatakan Mama?"


"Iya, Kak... Somsi juga tidak ingin berlama-lama untuk membenci Mama. Jika Somsi masih membencinya sekarang, itu bukan aku, Kak, aku masih punya hati untuk memaafkannya," jawab Somsi.


"Bagus dek."


***


Seorang pria yang bertemu dengan Somsi saat itu, terus menunggu Somsi keluar dari simpang itu, namun gadis yang dia tunggu-tunggu tak kunjung datang.


"Kenapa gadis itu belum keluar juga?"


Dia melihat jejak Somsi ke sekeliling tempat itu, tetap gadis itu tidak ada dalam pandangannya. Kedua bola matanya terus tertuju pada simpang itu, dia ingin masuk, tapi dia sadar bahwa simpang itu terlalu sempit untuk dilewati.


Tak lama seseorang yang ditunggu-tunggu pun datang, dia segera menghidupkan klakson mobil seraya ingin membuat gadis itu untuk menoleh ke arahnya.


Kik... Kik...


Suara klakson mobilnya berhasil membuat Somsi merasa terganggu, dia pun menoleh ke arah suara klakson yang terlalu mengganggu di telinganya.


Somsi pun datang untuk menghampirinya. Dia mengetok jendela mobil itu keras.

__ADS_1


"Hei, kau yang di dalam mobil! Sok sekali kau sampai-sampai suara klakson mu itu terus kau buat, hingga aku sangat terganggu mendengarnya!" Protes Somsi.


Seseorang yang ada di dalam mobil hanya tersenyum-senyum saat melihat Somsi marah.


"Kau tidak dengar? Sedari tadi aku bicara denganmu. Kenapa kau sama sekali tidak merespon ku! Apa kau pikir aku ini sebuah kaleng bekas yang kau anggap hanya menghasilkan suara yang tidak pantas untuk didengar?"


"Hei... Dasar orang tidak tau diri dan kau tidak pantas disebut manusia yang memiliki etika. Brengsek!"


Somsi tidak ada henti-hentinya mengomeli seseorang yang ada di dalam mobil. Dia semakin penasaran dengan orang yang ada di dalam mobil itu.


Apa gadis ini akan terus mengomeli ku, saat dia tahu kalau akulah yang terus dia maki-maki?


Tak cukup lama dia berpikir. Akhirnya dia memberanikan diri untuk keluar. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis itu saat melihatnya. Jika gadis itu melakukan hal di luar dugaannya, berarti gadis itu benar-benar spesial.


Saat orang itu membuka pintu, Somsi tercengang melihatnya. Dia tak habis pikir bahwa orang yang di dalam mobil adalah orang yang dia temui dua hari belakangan ini.


"Kau!" Somsi terkejut saat melihat orang itu. Dia langsung memalingkan muka saat pria itu menatap dirinya.


Astaga... Kok bisa aku tidak kenal dengan mobil ini. Ini 'kan mobil yang sama saat dia mengantarku pulang kemarin... Dasar aku emang nggak bisa diandalkan untuk apapun. Masakan hanya masalah kecil saja aku sudah lupa, batinnya seraya merutuki kebodohannya.


"Apa kau sedang marah padaku?" Tanya pria itu sambil tersenyum miring.


Astaga... Dia malah banyak tanya lagi. Ya mana aku tahu! Kau saja di dalam mobil. Soal mobil ini, belum tentu semua orang bisa mengingatnya dalam sehari. Dasar pria aneh!


"Kenapa hanya diam saja?" Tanya pria itu merasa heran dengan gadis itu yang tiba-tiba diam hanya menundukkan kepala.


"Hei? Apa kau tidak suka dengan setiap kata-kata yang baru saja keluar dari mulutku? It's ok. Tidak usah dipikirkan. Aku tahu kau pasti heran dengan sikapku yang tiba-tiba mengomeli mu," tuturnya.


Dia juga tidak mau gadis itu menjadi takut untuk dekat dengannya lagi. Dia bukan tipe pria pemarah seperti pria-pria yang suka marah-marah.


Banyak orang yang mengatakan kalau dirinya adalah orang yang sangat sopan dan ramah. Dia tidak pernah mendapat kabar buruk dari orang lain tentang sikapnya. Siapapun yang melihatnya selalu mendapatkan banyak pujian. Sampai-sampai dia mulai bosan dengan kata-kata pujian.


"Iya, aku maafin. Lain kali jangan buat gitu ya! Soalnya aku mudah terbawa perasaan. Takutnya, saat kau tidak meminta maaf padaku tadi, mungkin saja aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Kuharap kau mengerti dengan sikapku ini," jelas Somsi dengan wajah tertunduk lagi.


Tadinya dia sempat melirik mata pria itu, namun kembali dia menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa. Aku maklum sama gadis seperti kau. Baru kali ini juga aku bertemu gadis sensitif seperti kau, hahaha, gemes deh."

__ADS_1


Pria itu tiba-tiba mencubit pipi Somsi. Membuat gadis itu menjadi salah tingkah di depannya. Pertama kali seorang pria menyentuh pipinya seperti yang dilakukan oleh pria itu.


Dari remaja hingga dewasa, dia tidak pernah memiliki seorang yang pantas disebut sebagai pacar. Dia selalu sendiri sampai diusianya sekarang.


Tidak pernah dia memberikan kesempatan kepada para pria untuk singgah dihatinya. Dia sangat suka dengan status kesendiriannya.


"Kenapa malah bengong. Yok masuk ke dalam mobil. Aku ingin bawa kamu jalan-jalan kemanapun kau suka."


"Nggak usah malu sampai wajahmu memerah gitu. Biasa saja kali. Seperti ini kali pertama buatmu diperlakukan gitu. Emangnya kau belum punya pacar sampai saat ini? Cewek secantik kau kok nggak punya pacar," goda pria itu.


"Aku tidak mau!" Tolak Somsi cepat.


Pria itu mendelik. "Kenapa?"


Somsi menghela napas kasar, seraya ingin mengungkapkan semua kekesalannya kepada pria itu. "Kamu belum mengasih tau namamu padaku. Jadi, aku tidak mau pergi bersama pria yang tidak aku kenal."


Somsi dengan cepat menolak ajakan pria itu, seraya ingin membuat pria itu untuk jujur padanya.


Dia selalu penasaran dengan namanya. Dia ingin tahu siapa nama pria itu, agar dia tidak hanya jalan-jalan saja tanpa harus tahu siapa pria yang tengah mengajaknya sekarang.


"Apa dari kemarin-kemarin kau susah tidur, karena terus memikirkan namaku ini? Apa aku secepat itu telah membuat hatimu terus penasaran denganku? Hmm, apa jangan-jangan kau mulai menyukaiku..."


Wajah Somsi bertambah merah. Pria itu terus menggodanya, sehingga dia ingin cepat-cepat menghindari pria itu.


"Ma-maaf. Aku hanya tidak ingin kalau orang yang membawaku tidak aku kenal. Orang tuaku selalu mengajarkanku untuk tidak ikut orang lain, kalau kita sendiri tidak mengenalnya," ucap Somsi polos.


Pria itu hanya tersenyum-senyum dengan kepolosan gadis yang ada di depannya itu.


Gadis ini memang sangat lucu. Dia juga sangat cantik dan enak dipandang mata. Aku terpesona dengan kecantikannya. Warna pakaiannya cocok dengan perpaduan eyeshadow yang dia kenakan di matanya. Benar-benar membuatku terkagum-kagum oleh kecantikannya hari ini, batinnya sambil tersenyum-senyum.


"Kenapa kau selalu tersenyum? Kau pikir kau ini ganteng dengan senyum seperti itu? Kau sangat jelek! Jika kau tidak mau jujur kepadaku tentang siapa namamu, maaf aku tidak bisa ikut denganmu!" Ucap gadis itu mulai melangkahkan kakinya, namun dengan cepat pria itu menahannya.


"Tunggu dulu!" Ucap pria itu masih memegang tangan gadis itu.


"Namaku Novan."


Somsi sangat senang. Kini dia tahu siapa pria yang sudah menolongnya dua hari belakangan ini.Dia sangat bersyukur. Kalau saja pria itu tidak datang untuk menghiburnya, pasti dia akan melakukan hal-hal yang akan melukai dirinya sendiri.

__ADS_1


Ternyata pria ini namanya Novan. Nama yang bagus dengan rupanya yang tampan memang cocok untu pria ini. Kalau saja dari kemarin-kemarin dia jujur, aku pasti tidak sekepo ini padanya, batinnya.


"Kenapa kau terus melirikku diam-diam? Kalau kau suka denganku, ya kau hanya tinggal jujur saja. Selagi aku masih ada di depanmu. Ntar, aku menghilang kau pun ke cari-carian lagi. Emangnya kau tidak takut kehilangan aku?" Godanya lagi kepada Somsi yang dia rasa gadis itu sedang malu-malu kucing padanya.


__ADS_2