
Bram memutar mata malas. "Mengapa baru sekarang minta maaf? berapa hari ini kalian kemana?" tanya Bram keras.
"Iya kami minta maaf. Sungguh," ucap pria itu menyatukan ke dua tanganya. Temannya juga mengikuti setiap gerakan yang di lakukan oleh pria pakai tato itu.
"Jadi unsur kenapa kalian melakukan itu?" tanya Bram.
Pria pakai tato itu menjawab. " Kami hanya di suruh dan di gaji dengan sangat mahal."
"Iya kami di gaji," ucap temannya.
"Siapa yang menyuruh kalian? jika kalian memberitahu saya akan meringankan hukuman kalian. Kalau tidak saya akan membagikan klip suara kalian ke kantor polisi atau memanggil polisi sekarang juga," ancam Bram.
Dua pria itu mulai ketakutan.
"I- iya kami akan menjawab. Kami di suruh oleh pria yang telah membayar uang rumah sakit pak Nius."
"Oke kalau begitu. Saya akan memberitahu kalian bagaimana caranya agar bos kalian itu mengaku," ucap Bram. Dia dan dua pria itu kemudian mendekat satu sama lain. Seperti berunding kepala. Bram mulai menceritakan rencana selanjutnya yang akan mereka lakukan.
Setelah itu mereka pergi ke rumah bos dua pria itu. Ke rumah pak tua yang menawarkan bantuan untuk uang rumah sakit pak Nius.
Setelah beberapa jam, mereka akhirnya sampai. Bram sudah sembunyi di dekat jendela. Dia mengintip dan mengawasi mereka. Apa kah mereka akan menjalankan rencananya seperti yang ia tetapkan.
Di dalam ruangan itu terdapat sepasang suami istri. Yang satu masih lebih muda dan terlihat kurus dari suaminya.
"Bos kami minta tambah gaji ya bos. Kami sudah kehabisan uang yang bos berikan pada kami," ucap pria pakai tato.
Di lanjutkan temannya bicara.
"Iya bos. Kami butuh uang sekarang.
"Apa kalian tidak cukup setelah saya menggaji kalian dengan harga lebih tinggi dari gaji karyawan? gaji karyawan saja tidak setinggi gaji kalian," tuturnya marah.
"Iya, kenapa kalian suka suka meminta uang. Ya kalau habis cari duit sana!" ucap ibu kurus marah.
"Ah.... bu Dinda jangan marah. Nanti cantiknya luntur lagi," ucap Pria pakai tato berusaha menggombal.
Ternyata bu Dinda namanya. Bukan kah itu ibu kurus yang pernah di ceritakan oleh Somsi? yah aku pasti tidak salah. Aku tidak pernah salah menilai.
Bram terus memperhatikan tiap detal gerakan mereka.
Teman pria bertato berbicara. Sebelum bicara ia segera mematikan rekam suaranya. Ponselnya juga antik, sekali tekan dengan tangan walau di saku sudah mati.
Dia yakin sekali kalau semua percakapan mereka sudah terekam.
"Bos jangan begitu lah, kami susah payah menabrak orang tapi kalian malah sangat pelit untuk memberikan uang pada kami," ucapnya.
Pria bertato juga setuju. " Iya boss. Saya setuju dengan temanku."
Mereka sengaja membuat konspirasi agar secepatnya selesai.
__ADS_1
"Tidak, tidak, tidak. Saya tidak akan memberikan kalian lagi. Sudah cukup," ucap pria itu menggeleng kepala.
Teman pria pakai tato menunjukkan ponselnya. Sebagai bukti untuk membuat bossnya diam.
"Sudah cukup apaan? semua sudah terekam di sini."
Pria tua itu mulai ketakutan dan siap siaga. " Tujuan kalian apa?"
"Kami tidak punya tujuan. Kalau kalian mau memberikan kami uang. Kami tidak akan membeberkan masalah ini ke siapa pun," ancam teman pria pakai tato.
"Kalian hapus gak! dasar buaya kepalang!" bentak bu Dinda.
"Ha ha ha ha ha kami tidak akan menghapusnya," ucap teman pria pakai tato. Di iringi suara tawa pria bertato tersebut.
Pria tua tersenyum licik. "Ha ha ha ha ha... kamu pikir saya mudah tertipu? sebelum saya lihat pasti saya tidak akan menurut pada ucapan kalian."
"Ha ha ha ha ha ha," istrinya juga ikut tertawa terbahak-bahak.
Teman pria bertato marah dan menunjukkan hasil rekamannya dan ternyata.
Kemana semua yang telah aku rekam tadi?
Semua rekamannya tidak sedikit pun terekam.
Itu membuat bossnya tertawa puas.
"Aku masih punya bukti," ucap pria bertato tersenyum.
Pria bertato menunjukkan hasil rekamannya dan benar semua pembicaraan mereka terekam di sana.
"Sa- saya akan memberikan uang untuk kalian. Tapi jangan membeberkan masalah ini pada siapa pun," ucapnya takut.
Bram memasuki rumah dan menembus masuk ruangan itu. "Jangan membeberkan bagaimana pak boss. Semua sudah jelas. Kalian tidak pantas di sini. Kalian pantas di penjara."
"Sa- saya mohon jangan bawa saya ke kantor polisi," ucap pria tua itu memohon.
"I-iya tolong jangan," lirih bu Dinda.
Bram tidak mendengar permohonan mereka sedikit pun. Bu Dinda mencoba kabur tapi di tahan pria pakai tato.
Bram memegang tangan pria itu kuat lalu membawanya dan juga istrinya pergi. " Kalian hanya perlu meminta maaf pada keluarga yang telah kalian sakiti. Terserah mereka jika mereka melepaskan kalian atau tidak."
Sesampainya di rumah Somsi. Semua orang heran melihat pak tua dan juga istrinya yang di di bawa paksa masuk ke rumah Somsi. Rumah Somsi di isi oleh banyak kerumunan.
Somsi juga heran melihatnya. Apa lagi ibu yang bersamanya saat di sawah ikut masuk. " Bram mengapa kau membawa mereka ke sini?"
"Orang ini hanya perlu penjelasan Som," ucap Bram. Lalu Bram melirik ke arah dua pria itu. Agar memaksa mereka untuk membuka mulut.
"Cepat katakan!" bentak pria pakai tato.
__ADS_1
Mereka masih diam dan tak bersuara. "Cepat katakan!" bentaknya lagi.
Akhirnya mereka bicara.
"Nak... maafkan bapak ya. Bapak yang sudah merencanakan semua ini. Bapak yang telah menyuruh mereka menabrak papa kamu," ucapnya menundukkan kepala.
Somsi tercengang. "Apa!"
Somsi kaget dengan penuturan pak tua yang ia dengar.
Bu Dinda juga kembali bicara. "I-iya nak. Ibu juga minta maaf. Ibu juga ikut melakukannya. Ibu yang telah memaksa suami ibu untuk melakukannya," lirihnya. Somsi kembali tercengang lalu menutup mulutnya. Jantungnya berdegup kencang.
Ibu itu masih melanjutkan perkataannya. "Ibu kemarin kesal. Gara-gara kemarahan ibu, ibu jadi melakukan kesalahan sebesar ini."
"Apa kau bilang, maaf?" tanya bu Wati marah.
Bu Dinda dan suaminya hanya diam. Mereka tidak meresponnya lagi.
"Kalian tega melakukan itu pada suamiku," lirih bu Wati meneteskan air matanya.
"Ma... jangan menangis," ucap Somsi menghapus air mata bu Wati. Dia juga menangis mendengar penuturan bu Dinda. Hanya masalah sepele bu Dinda tega melukai ayahnya. Padahal dirinya tidak sekali pun berniat melukai orang lain. Lantas mengapa ia harus melihat orang-orang yang membencinya.
Ya Tuhan... mengapa bu Dinda setega itu? Apa dia tidak punya peri kemanusiaan?
Somsi menangis dengan deraian air mata di pipinya. Air matanya terus mengalir dan terus mengalir.
Suara liu polisi pun datang. Ternyata Bram sudah memanggil polisi dari tadi.
"Maaf di sini kami mempunyai tugas untuk menangkap 4 orang penjahat di rumah ini," ucap komandan polisi.
"4 orang? saya gak ikut kan? saya sudah membantu kalian," ucap pria pakai tato.
"Eh, aku juga gak ikut kan?" tanya teman pria pakai tato.
"Kalian semua salah. Kalian tetap di penjara," ucap polisi.
Bug......
Suara degup jantung mereka.
"Tangkap mereka!" perintah komandan polisi pada pasukannya.
"Tidak tidak jangan tangkap saya," ucap bu Dinda takut. Tapi tidak ada yang menghiraukan nya.
Mereka semua akhirnya di bawa ke kantor polisi. Di sana lah nanti mereka akan menjelaskan apa pun yang sudah mereka lakukan. Soal
biaya rumah sakit pak Nius Somsi tidak perlu lagi memikirkannya. Apa lagi soal rumah yang ingin di sita pak tua itu. Semua kembali seperti sedia kala. Sayangnya yang perlu ia takutkan adalah kesembuhan ayahnya yang tak kunjung sadar dari komanya.
Bersambung.............
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Dan rate favorit sebanyaknya juga yaa....😌😊