Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 21


__ADS_3

Somsi pulang saat dagangannya laku semua. Dia sangat bersyukur ternyata masih punya rejeki yang tidak bisa diduga.


Dalam hatinya, dia akan mengikuti lomba itu. Bagaimana pun caranya dia harus mengikutinya.


Saat dia sampai,dia pergi ke dapur melakukan pekerjaanya seperti biasa. Somsi heran semua pekerjaan rumah sudah selesai.


Siapa yang sudah mengerjakan itu semua?


Dia melihat makanan sudah ada di depan. Dia pergi ke kamar melihat ada perubahan disana. Ada lukisan yang baru saja di pasangkan di dinding. Rambut dan wajah yang ada di lukisan itu mirip dengan dirinya.


Siapa yang melukis itu? cantik sekali.


Somsi kagum dengan lukisan itu. Lukisan yang sangat cantik. Dia mengambil handuknya dan ingin pergi mandi.


Tapi tunggu dulu, wajah orang disebelahnya mirip dengan Friska. Atau jangan-jangan Friska yang sudah melukisnya.


Somsi berjalan ke kamar mandi. Dia sudah merasa gerah sekali. Dia tidak tahan dengan bau asam tubuhnya.


Selesai mandi, dia menjemur handuk itu ke gantungan kamarnya. Dari tadi dia belum melihat adek nya.


Kemana adek ku ya? dan dimana mama. Mama juga kok gak ada.


Somsi bingung, dia sudah mencari seluruh isi rumah tetap tidak ada.


Suara letusan balon terdengar dari luar. Somsi membuka pintu.


Tara.....


Somsi terkejut saat melihat orang yang dia cari ada disana. Dia melihat kue ulang tahun di tangan Friska. Mamanya bernyanyi selamat ulang tahun dan diikuti semua orang yang ada disana.


Lebih herannya lagi Siti dan Bram juga ada disana. Bahkan Lian temannya Bram juga ada disana.


Sedang apa mereka. Dan apa itu, emang siapa yang ulang tahun.


Somsi tambah bingung. Apa lagi mereka semua senyum ke arah Somsi.


"Kalian semua mengapa disini? Silahkan masuk. Ini lagi mama dan Friska di luar. Ngapain ma."


Somsi mengatakannya dengan sangat lugu. Dia juga tidak tahu siapa yang sedang ulang tahun.


Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang... selamat ulang.... selamat ulang tahun.


Mereka semua bernyanyi dan melemparkan senyum manis kepada Somsi.


"Selamat ulang tahun kakak."

__ADS_1


Friska datang dengan membawa kue yang ada di tangannya. Dia menyuruh semua orang untuk bernyanyi lagi.


Tiup lilin ya, tiup lilin ya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga... sekarang juga.


"Kak, tiup lilinya."


Friska menyuruh Somsi meniup lilin itu. Somsi melakukannya. Dia melihat bentuk lilin itu.


19 tahun. Apa? Apa mungkin hari ini hari ulang tahun ku ya?


"Tunggu dulu. Sebelum aku meniupnya, aku mau bertanya. Emang sekarang tanggal berapa?"


Somsi bertanya tanggal berapa. Apa karena dia sibuk bekerja atau apa, sehingga dia tidak tahu tanggal sekarang.


"Sekarang tanggal 25 juli kak dan hari ini adalah hari ulang tahunmu."


Friska memberitahu Somsi kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.


Kenapa aku bisa lupa sih hari kelahiran ku. Itukan hari paling istimewa untukku.


"Kak jangan bengong gitu dong, cepat tiup lilinya."


Friska sudah tidak sabar ingin memakan kue. Dia ingin segera melahapnya kalau dia bisa.


"Tunggu dulu, kakak mau berdoa dulu."


Tuhan, terimakasih karena telah memberikan aku umur yang panjang. Aku bersyukur bisa melewati umur 19 tahun ini. Aku hanya berharap suatu hari nanti aku bisa membahagiakan orang tuaku. Dan hari ini aku meminta pada- Mu, Tuhan lindungilah keluargaku di manapun kami berada. Dan sembuhkan lah papa ku yang sedang sakit. Dan ijinkan lah hamba mu ini bisa membahagiakan orang tuaku. Tuhan terima kasih, Amin.


Selesai berdoa, segera Somsi meniupnya.


Dia senang sekali pada hari itu. Dia memotong kuenya dan akan membagikannya pada orang yang dia sayangi. Friska sudah menganga lebih dulu tapi sayangnya Somsi berputar dan masuk ke dalam rumah. Dia menuju kamar papa dan mamanya. Dia melihat tubuh yang terbaring lemah, belum sadarkan diri.


"Pa, baru ini papa gak ngerayain ulang tahun Somsi. Tapi Somsi tau kalau papa juga merayakannya. Cepat sembuh pa."


Somsi menyulang papanya yang tidak membuka mulut itu. Lalu memakannya seperti ayahnya lah yang memakan kue itu.


Orang-orang yang mengikutinya masuk, merasa kasihan. Mereka menangis melihat Somsi. Mereka terharu dengan kebaikan Somsi. Selama ini dia tidak pernah melawan atau menyakiti hati orang tuanya itu.


Lalu Somsi menyulang mamanya, orang kedua yang dia cintai selain papanya. Berganti menyulang kue itu kepada Friska.


Semua orang bertepuk tangan. Siti melihat sahabatnya itu dan menghampirinya.


"Som, selamat ulang tahun ya sahabatku. Semoga kamu panjang umur dan sehat selalu. Semoga suatu hari nanti, kamu bisa membahagiakan mereka. Dan aku juga berdoa semoga di hari ulang tahun mu ini ada suatu mujizat. Mujizat dimana papamu sembuh dan kembali seperti biasanya."


Somsi terharu dengan perkataan Siti. Dia menangis dan memeluk sahabatnya itu.

__ADS_1


Orang yang belum pernah dia anggap sahabat dan mengaku kalau Somsi adalah sahabatnya.


Somsi senang, dia bisa memiliki sahabat yang selalu ada untuknya.


Selama ini dia belum mengakui Siti sebagai sahabatnya, karena dia sendiri takut kalau suatu saat dirinya akan ditinggal. Siti berbeda, dia memang memiliki sikap yang baik dan tulus.


"Terimakasih Siti sahabatku."


Kembali dia memeluk sahabatnya itu.


Semua orang sudah siap untuk makan. Friska sengaja menyembunyikan makanan yang sudah siap dimasak sebagai kejutan.


Bram datang menghampiri Somsi. Lian memaksa Bram mengatakan sesuatu.


Somsi malu melihat Bram. Pria itu tepat di hadapannya.


"Som, selamat ulang tahun."


Bram mengucapkan nya saja lama sekali. Entah apa yang ingin dia katakan sampai harus menyiapkan keberanian dulu.


"Iya makasih."


Somsi tersenyum ke arah Bram, yang membuat Bram grogi.


"Gak usah grogi Bram, katakanlah sejujurnya tidak usah dipendam kali."


Lian menyuruh Bram mengatakan sesuatu. Somsi sendiri bingung apa maksud perkataan Lian.


Maksud Lian apaan ya? mengatakan sesuatu apa sih? Emang aku punya hutang apa sama Bram.


Somsi hanya diam, dia tidak perlu ambil pusing untuk mencernanya.


Disaat semua orang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Somsi ingin menyumbangkan sebuah lagu. Dia ingin bernyanyi. Lagu itulah yang sering dia nyanyikan saat ayahnya merayakan ulang tahunnya.


Somsi menyanyikan sebuah lagu yang berjudul:


"Ayah"


Somsi menangis saat menyanyikan lagu itu. Dia sangat sedih karena ayahnya tidak bisa mengucapkan sesuatu padanya.


Orang-orang juga ikut merasakan apa yang sedang dialami Somsi. Ada yang sedang memikirkan ayahnya yang sudah tiada dan ada yang memikirkan kesalahan yang telah dilakukan saat menyakiti hati ayahnya.


Terutama Bram, dia mengingat saat-saat dia melawan ayahnya. Dia meneteskan air matanya dan menyesalinya.


Bersambung....

__ADS_1


Tbc


Terimakasih karna sudah membaca. Jangan lupa dukung Author dengan vote like dan juga komen. Rate sebanyaknya 😊


__ADS_2