
Di sisi lain dalam posisi diam, Somsi tertawa dalam hatinya melihat apa yang sudah di lakukan oleh bi Surti.
Ha ha ha ha ha ha ha.... bi Surti sangat lucu. Siapa yang sedang meminta kain lap sih? ha ha ha ha ha ha... pantasan ibu Bram tambah awet muda.
Bi Surti datang setelah bu Tere memanggilnya. Hati yang tadi ia optimalkan sekarang berubah jadi rasa takut yang mencekam.
Oh Tuhan, apa salah ku. Bukan kah aku sudah memberinya kain lap seperti yang ia minta tadi?
Bi Surti mulai mendekat dan semakin mendekat. Rasanya jantung bi Surti sudah mau copot karena rasa takutnya.
Aku semakin dekat. Dan lihat itu, mata Nyonya Tere mau keluar saja. Kenapa tatapannya tajam begitu?
"Iya Nyonya, ada apa memanggil saya?" tanya bi Surti dengan menunduk.
Bi Surti tidak berani lagi menatap mata yang terlihat seperti pisau yang sudah siap di goreskan.
Sekkk....
Suara pisau sedang di gores ke tubuh bi Surti.
"Aaaaaa, maaf Nyonya."
Bi Surti menjerit seperti ada orang kesakitan.
"Jangan Nyonya, jauhkan pisau itu dari saya," ucap bi Surti menangis sambil menutup mata.
"Kau kenapa bi?" tanya bu Tere menyadarkan bi Surti yang menjadi-jadi saja tingkahnya.
Sekarang bu Tere juga mengoptimalkan rasa marah yang ada di hatinya. Bu Tere juga punya perasaan. Dan dia pengertian pada bi Surti yang sedikit tuli. Bi Surti punya kekurangan pada telinganya. Bu Surti tidak akan bisa mendengar bila sekali saja seseorang berbicara padanya dari jauh. Kecuali kalau dekat, ia akan membaca melalui gerakan mulut seseorang itu.
"Saya takut Nyonya, jangan menghukum saya. Jauhkan pisau itu dari saya," ucap bi Surti yang masih menutup matanya.
Kerutan terlihat jelas di wajahnya saat bi Surti masih menutup mata.
"Siapa yang menghukum bi Surti, saya tidak punya pisau kok di tangan saya."
"Nyonya pasti bohong kan?"
Dengan wajah kesal tapi ditahan bu Tere bicara dengan sangat lembut. "Bibi.... percaya deh sama saya, saya tidak menghukum bibi. Jadi, buka saja mata bibi itu, biar bibi percaya."
Dengan perlahan bi Surti membuka matanya setelah ia mulai percaya kalau bu Tere mengatakan ia tidak menghukumnya.
Bi Surti melihat seluruh tubuhnya, tidak ada yang terjadi padanya. Dengan segera bi Surti meletakkan kedua lututnya ke lantai, mendekat pada bu Tere dengan memohon ampun.
Bi Surti meraih tangan bu Tere sembari mengelusnya, supaya pemiliknya mau memaafkannya. "Maafkan saya Nyonya."
Padahal dari tadi bu Tere belum sempat bicara karena banyak ya tingkah bi Surti. Dengan melihat bi Surti yang sungguh-sungguh untuk meminta maaf, bu Tere tersenyum melihat tingkah pembantunya yang setiap hari membuat tensi ya naik.
__ADS_1
"Bi Surti, saya menyuruh bibi tadi agar dihidangkan makanan.... bukan menyuruh bibi mengambil kain lap ini," ucap bu Tere lembut.
Dia tidak mau memarahi bi Suti begitu saja. Apa lagi amarahnya segera hilang gara-gara tingkahnya bi Surti yang berusaha membujuknya.
"Oh makanan ya Nyonya. Maaf ya Nyonya, saya tidak mendengarnya tadi. Maaf Nyonya," lirih bi Surti.
Tatapan bi Surti yang tulus berhasil meluluhkan bu Tere.
Merasa kasihan pada bi Surti, bu Tere berdiri dan meraih tangan bi Surti agar segera berdiri.
"Bibi... berdirilah! sekarang bibi buatkan makanan untuk kami ya bi," ucap bu Tere sambil tersenyum.
Dengan sigap bi Surti berdiri. "Berarti Nyonya tidak marah lagi kan sama saya?"
Bu Tere menganguk. "Iya bi."
Dengan hati yang tenang, bi Surti kembali ke dapur. Menyiapkan segera makanan yang di suruh oleh Nyonya ya.
"Tan, saya ikut membantu bi Surti ya," ucap Somsi.
"Eh gak boleh sayang. Itu sudah tugas bi Surti. Masa tamu tante sekaligus menantu mau menyiapkan makanan, itu kan tugas pembantu," balas bu Tere langsung.
Somsi mengeryitkan dahi dengan tatapan kosongnya. Ia ingin sekali membantu bi Surti tapi bu Tere tidak mau mengijinkannya.
Lalu ia berusaha lagi menyakinkan bu Tere tanpa memikirkan apa yang sudah ia katakan.
Apa yang sudah aku katakan. Kenapa mulut ini tidak bisa mengontrol untuk bicara yang baik. Malu ya aku....
"Wah sudah berani juga mengaku sebagai menantu ya," ngeledek Bram.
Somsi menaikkan alisnya sebelah. "Apaan sih."
"Ha ha ha ha ha ha ha.... calon menantu, iya ma biarkan saja Somsi membatu bi Surti. Kalau kami menikah, bi Surti tidak usah repot-repot memasak untukku. Karena aku sudah memiliki isrti yang pandai memasak."
Apa? lihat kan ... dia sudah berani bicara berlebihan. Telinganya langsung terbang saja.
Bram mengedipkan sebelah matanya pada Somsi dan mengusap rambutnya. "Istriku, eh calon istriku yang baik... pergilah! buatkan sarapan untuk suamimu ini."
"Apa kalian akan bermesraan di depan mama," ucap bu Tere.
"Ha ha ha ha ha ... gak kok ma."
Somsi semakin bingung dengan tingkah Bram. Kata-kata yang keluar dari mulutnya belum di saring langsung tancap keluar begitu saja.
Apa ini? apa maksudnya? istri... istri apaan. Menikah saja belum. Hei ... hentikan drama mu ini. Yah kuakui kau memang pandai berakting.
Dengan menatap kesal pada Bram, ia langsung pergi ke dapur dengan langkah gontai.
__ADS_1
Ha ha ha ha ha ha ha... lihat saja dia, begitu saja ia sangat lucu. Mengapa bisa wajahnya bisa selucu itu.
Bram terus memperhatikan tubuh Somsi sampai bayangan tubuh itu menghilang.
"Eh Bram... kok kamu senyum senyum sendiri," ucap bu Tere mendada Bram yang belum sadar dari lamunannya.
Karena tidak ada respon dari Bram, bu Tere menggoyangkan memukul pundak anaknya itu.
"Hei! dengar mama gak."
Awww...
Bram meringis kesakitan.
"Eh eh iya ma. Kenapa?"
Bram sadar dari lamunannya setelah bu Tere memukulnya sangat keras.
"Kenapa kenapa. Kenapa dari tadi mama lihat kau senyum senyum sendiri. Apa yang lucu coba?" celoteh bu Tere kesal.
"Mama rasa gak ada yang lucu kok," sambungnya kesal.
"Mama kok pukul Bram sih. Sakit tau... mama pukul Bram keras, pundak Bram jadi berdenging," rengek Bram manja.
Apa? berdenging? ada juga ya pundak berdenging. Dasar anak mama yang bodoh.
"Hah ha ha ha. Mama baru tau kalau pundak bisa berdenging," ucap bu Tere sambil tertawa.
Bram melotot melihat bu Tere malah tertawa. Merasa seperti sedang diejek, Bram membalas ibunya. "Mama... gimana kalau aku bilang papa nanti, kalau mama tadi habisin uang dengan foya-foya pergi ke mol," ancam Bram.
Sontak membuat bu Tere kaget." Jangan ya nak, papa mu nanti bisa memarahi mama seharian."
Ha ha ha ha ha ha... salah mama sendiri. Kenapa berani mengejek Bram.
"Iya ma, Bram gak akan kasih tau, tapi berhenti mengejek Bram."
Bu Tere hanya menganguk. Dia tidak bisa melawan anaknya lagi. Meski ia bisa, tapi ia kurungkan. Demi keselamatan ya dari suaminya, itulah sekarang yang paling penting.
Ayah Bram selalu mentransfer uang ke rekening ibunya Bram. Ayahnya paling tidak suka kalau bu Tere terus berfoya-foya menghambur-hamburkan uang.
Meski ayahnya Bram orang kaya, tapi ia tidak suka menghamburkan uang begitu saja. Lebih baik ia membagikannya pada orang miskin dari pada harus menghamburkan uang.
Bersambung............
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏
__ADS_1