
Xander memasuki ruangannya Tuan Sean. Dia melihat meja Tuan Sean berantakan. Ada apa ini?
Dia tidak, tau karena dia berada di luar dari tadi pagi. "Tuan... kenapa semua ini menjadi berantakan?" tanya Xander.
Sudah tidak ada lagi kecanggungan pada dirinya semenjak Sean mengakui dirinya seperti saudara kandungnya sendiri.
"Tadi ada salah satu karyawan yang melakukan pekerjaan kurang teliti, jadi saya memecatnya," ungkap Tuan Sean.
Xander tidak perlu bertanya lebih lagi. Cukup dia saja yang mencari tau dasar penyebab kemarahan Tuan nya itu.
Dia mulai mengambil laptop nya di ruangan khususnya. Dia harus menanganinya segera, sebelum pria yang bernama Aldi itu melakukan hal yang di luar dugaan.
"Tunggu!"
Tuan Sean menghentikan langkah Xander, saat Xander hendak melewati pintu. "Iya, ada apa TUAN?"
Dia membalikkan badannya dan mendekati Tuan Sean, agar dia tau lebih jelas tanpa mengulang atau membuatnya berpikir keras untuk mengingat apa pekerjaan yang akan dia kerjakan. Tatkala, kalau dia sampai lupa, pasti dia tidak akan diberi kesempatan maaf lagi seperti sebelumnya.
"Lebih dekat lagi."
Xander mendekat sambil mengarahkan telinganya mendengar Sean.
"Bawa dia ke ruanganku."
"Siapa Tuan?"
"Dia...". Sean melupakan nama gadis itu. Dia berusaha mengingat kembali nama gadis yang datang interview pagi tadi.
"So... Somsi, namanya." ucapnya memantapkan bahwa terkaannya tidak akan salah.
"Nama panjang nya, Tuan?"
Tuan Sean mendadak kesal, "Kamu tuli atau apa ha?"
Xander berusaha menahan senyumnya, segera dia menghindar saat mata itu menatapnya tajam.
"Saya pergi, Tuan."
Dia cepat-cepat berjalan sebelum Tuan Sean memanggilnya dan mempertanyakan maksudnya.
Di ruangannya sedang asik mencari tau pokok bahasan yang disampaikan tadi oleh Tuan Sean. "Aldi?"
Dia tampak terkejut setelah melihat nama yang tertera di layar laptopnya. Aldi yang memenangkan penghargaan atas pekerjaannya yang bagus. Dia memiliki bakat di dunia perbisnisan. Tapi mengapa Tuan Sean memecatnya?
Sangat jelas sekali, kalau nanti itu akan masalah besar bagi Tuan Sean
__ADS_1
Karena Tuan Sean telah memecat orang yang berperan penting di perusahaan tersebut.
Bagaimana dengan karyawan lain yang sudah mengenal Aldi, mereka akan mempertanyakan ya nanti.
Bagaimana seorang CEO seperti Tuan Sean seceroboh itu?
Ntah apa yang ada dalam pikirannya.
Xander menggeleng. Dia bingung dengan sikap Tuan Sean yang sudah jauh dari nalarnya. Apalagi, Tuan Sean memintanya untuk memindahkan karyawan baru untuk menjadi asisten pribadinya. Apa kata karyawan yang ada disitu nanti. Mereka sudah lama bekerja, tapi mereka tidak juga naik pangkat. Lah, Somsi masih pemula bekerja di sana, secepat itukan untuknya untuk menjadi asisten pribadi untuknya? Itu adalah juga merupakan pangkat tertinggi dalam Perusahaan.
"Apa kau sudah menyuruhnya ke sini?"
Bunyi pesan Tuan Sean sangat mengganggunya. Sudah berapa kali Tuan Sean mengirim ulang pesannya itu.
Tidak tahan lagi dengan sikap Tuan nya itu, Xander segera menghubungi Somsi ke tempatnya.
Mungkin ini adalah cara terbaik untuknya. Dia sudah pusing memikirkan masalah yang di buat Tuan Sean, sedangkan Tuan Sean sibuk memikirkan gadis yang baru saja masuk ke Perusahaan itu.
"Halo. Saya Xander, Asisten Pribadinya Tuan Sean, segera datang ke ruangannya saya!"
"Baik Tuan."
Sean segera memutuskan sambungan telepon itu. Sudah sangat pusing kepalanya saat ini.
Dia pun menyuruh salah satu pegawai yang bekerja di dapur, agar segera membuatkan susu untuknya. Menjadi kebiasaannya meminum susu siang-siang.
Seseorang mengetok pintu dari luar. Xander mengira itu adalah Somsi, namun ternyata...
"TUAN?"
Xander bangkit dari duduknya saat mengetahui Tuan Sean datang. "Kenapa Tuan kesini?"
"Saya sudah tunggu dari tadi kamu membalas pesanku, tapi tidak juga kamu balas. Saya juga menelepon kamu langsung, bukannya membalas malah membiarkan dering telpon itu berbunyi. Atau jangan-jangan kamu mensenyapkan hp mu lagi?!" omel Tuan Sean panjang kali lebar.
Dia terus mengomeli Xander. Dia tidak berhenti dan kemudian seseorang mengetok pintu dari luar.
"Somsi pasti sudah datang..." tutur Xander dengan senyum licik. Dia sudah tau bagaimana cara mendiamkan Tuan Sean ini.
"Di.. dia datang ke sini?" ucapnya gelagatan.
"Iya, Tuan. Bukan kah ini yang Anda minta, Tuan?"
"Ada apa Tuan? Kenapa Tuan memanggil saya ke sini?" tanya Somsi datar. Dia takut kalau sampai dia dipecat.
Somsi merasa risih saat dilihatnya orang yang berdiri di sampingnya ini terus melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa Anda terus melihat saya?"
Somsi tidak tau kalau yang diajaknya adalah CEO di Perusahaan itu. Dia tidak tau kalau pria itu adalah CEO. Dia tidak tau, karena selama interview dia dalam keadaan kepala menunduk. Jadi, itulah mengapa dia tidak mengetahuinya.
"Anda?"
"Hahaha."
Xander tertawa lepas saat mengetahui wanita itu sangat polos atau memang pura-pura polos?
"Apa kamu tau siapa dia?" Kali ini Xander menahan tawanya. Sedari tadi kedua bola mata Tuan Sean menatap intens padanya.
Masa iya dia tidak tau siapa pria yang berdiri di sampingnya ini. Sungguh polos sekali.
Xander ingin memberitahu Somsi, tapi di cegah oleh Tuan Sean.
"Baiklah, kamu akan saya pindahkan dari pekerjaanmu untuk menjadi sekretaris pribadinya Tuan Sean, maka bersiaplah! Pindahkan seluruh barang-barang mu ke ruangan Tuan Sean," perintahnya kepada Somsi yang terlihat cemberut.
"Atau kamu mau menjadi asisten pribadi Tuan Sean yang tugasnya adalah menjaga Tuan Sean, melengkapi kebutuhannya juga hasratnya. Kamu mau pilih yang mana?"
Somsi merasakan keanehan. Dia terlalu cepat untuk naik pangkat. Pertama bekerja langsung dijadikan menjadi sekretarisnya. Dari pada memilih menjadi asisten nya. Dia tidak mungkin merelakan kesuciannya di tangan orang yang bukan suaminya. Itu sudah dia jaga mulai dari kecil. Tidak akan ada yang boleh mencemari kesuciannya, selain suaminya nanti.
"Saya pilih untuk menjadi sekretaris Tuan Sean saja, Tuan," lirih Somsi. Dia tertunduk. Dia tidak menyangka secepat itukah dirinya untuk mendapatkan pangkat tertinggi di Perusahaan itu. Apa yang membuatnya sehingga dia secepat itu mendapatkannya. Apa yang sudah terjadi.
"Baik, pergilah sekarang!"
"Baik, Tuan..."
Somsi pergi tanpa memberi hormat kepada Tuan Sean. Dia hanya tersenyum ramah seperti yang dia lakukan kepada karyawan lain yang ditemuinya dari tadi dia bekerja.
"Hahaha, dia lucu sekali."
"Ha?"
Xander tampak terkejut dengan tingkah Tuan nya itu. Sejak kapan Tuan Sean seperti itu. Apa yang membuat Tuan Sean seperti itu, menjadi sebuah pertanyaan yang butuh jawaban baginya. Dia terus menganalisa ucapan Tuan Sean tadi.
Benar-benar sudah gila Tuan Sean ini...
"Apa kau lihat dia tadi? Dia sangat cantik. Tubuhnya sangat indah. Aku ingin sekali segera memilikinya. Aturlah untuk malam ini, agar dia mau diajak pulang bersamaku!"
Tuan Sean pergi setelah memberikan Xander sebuan perintah. Apa dia mau meniduri wanita itu lagi malam ini?
Tbc.
Dukung Author dengan vote, like, dan juga komen.
__ADS_1
Bye... bye...