Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Teringat Masa SMA


__ADS_3

Setelah penangkapan orang yang mencelakakan ayah Somsi. Semua kerumunan yang berada di rumahnya dari tadi pulang ke rumah masing. Mereka juga heran dengan bu Dinda yang menurut mereka ramah bisa sejahat itu. Somsi melihat Bram sibuk bercerita kepada bapak-bapak yang ada di depan pintu.


Somsi datang menghampiri Bram.


"Bram... makasih ya sudah menolongku," ucap Somsi menunduk malu.


Bram langsung melihat Somsi. Dia melihat raut wajah senang berada tepat di wajah Somsi.


"Wah wah wah.... wajahmu sampai merona yaa melihat aku."


Bram masih saja melakukan gombalannya seperti tidak terjadi sesuatu. Padahal dirinya juga sangat ingin Somsi menghampirinya dan mengucapkan terima kasih padanya.


Ihk Bram gini amat ya orang yaa. Suka malu in orang. Huu....


Somsi mendengus kesal. " Hu.... sikap mu memang tidak berubah. Masih sampai ke akarnya gak. Kalau gak biar kita potong sekalian pakai pisau."


Bram terus memperhatikan wajah Somsi. Dia sendiri tidak sadar kalau ia sedang melamun sedari tadi.


Somsi makin lama makin cantik deh. Owh dewa bantu kami. Kalau saja aku punya keberanian, aku pasti akan mengungkapkannya. Tapi kenapa hal sepele saja sangat sulit untuk di ungkapkan?


Bram terus melamun sampai Somsi harus menyadarkannya dari lamunannya yang sudah sampai kemana selesainya ia tidak tau.


"Hei, kok malah bengong."


Bram kaget melihat Somsi dari tadi men dada nya. " Ini tangan kamu untuk apa, untuk apa coba dada dada aku. Emang aku mau kemana?" tanya Bram kesal.


"Ihk siapa juga yang mau dada kan kamu. Dari tadi kamu itu bengong saja. Apa sih yang kamu pikirkan?" tanya Somsi lagi.


Dia ingin tau sekali penyebab Bram akhir-akhir ini bersikap aneh.


"Aaaa tidak apa kok. Santai aja," ucap Bram lalu menggaruk kepalanya. Dia juga tidak lupa merapikan bajunya yang hampir keluar dari pinggang celananya. " Kamu mau apa emang?"


"Owh... aku dari tadi ingin berterima kasih padamu. Tapi kau asik bengong," umpat Somsi.


Bram mengeryitkan dahi. " He he he he he he he he. Sorry."


"Oke deh. Gpp," ketus Somsi.


Hanya itu kah jawaban yang aku dengar? Mengapa Bram? mengapa kau tidak jujur saja. Apa benar kau tidak memiliki perasaan untukku. Atau benar yang di katakan oleh adikku bahwa kau memiliki perasaan khusus untukku.


Somsi semakin linglung dengan pertanyaan yang semakin linglung di dalam hatinya.


"Mengapa kau terus menatapku?" tanya Bram pura-pura heran. Sebenarnya ia ingin sekali berlama-lama di tatap oleh Somsi.


Tatap aku Som, tatap lama.

__ADS_1


Somsi memalingkan wajahnya. " Ihk apaan sih. Geer bangat."


Bram... kalau saja kau pria yang mudah mengatakan cinta. Aku pasti merasa senang mendengarnya.


"Ha? Geer... o aja ya kann."


Bram tetap berusaha menyembunyikan perasaannya. Baginya itu adalah ciri-ciri dari pria yang gentleman yang selama ini ia baca dan search in google.


"Dari tadi kalian adu mulut saja. Tidak ada yang mempersilahkan bapak bicara," umpat bapak itu kesal. Pak Edo namanya.


"Maaf pak Edo... ini nih wanita bunglon datang. Kadang baik kadang juga jahat. Bingung aku jadinya."


Wanita bunglon? siapa wanita bunglon. Dasar buaya darat! berani sekali ngatain aku wanita bunglon. Ckk.


Somsi berdecak panjang. " Ck ck ck ck ck ck ck ck ck.ck ck ck... kau ini ya! suka sekali cari gara-gara. Atau mau ku lempar pakai sepatu?"


Somsi meraih sepatunya yang membuat Bram sedikit takut dan lari menjauh dari hadapan Somsi.


"Cie... main lemparan sepatu," ngeledek Friska.


Friska baru saja pulang dari sekolah. Dia Ingin segera mengganti pakaian sekolahnya. Tapi melihat tontonan gratis di depan matanya. Dia memilih diam di sana dan memperhatikan Bram dan Somsi sedari tadi adu mulut.


Somsi mendengus kesal mendengar perkataan Friska.


"Hu.... kamu sudah pulang dek. Tumben biasa lama."


"Rapat apa emang dek?" tanya Somsi penasaran. Saat mendengar kata rapat, ia ingin sekali mendengarnya. Dimana saat guru semua rapat. Semua pria datang ke kelasnya dan mengungkapkan perasaan mereka. Tapi satu pun ia tidak menerimanya.


"Kakak kenapa senyum-senyum begitu. Emang ada yang lucu" tanya Friska.


Somsi tersadar dari lamunannya. " He he he he he ... maaf dek. Kakak hanya mengingat masa kakak sekolah dulu. Dimana semua pria datang menjumpai kak-" suara Somsi terputus. Dia hampir keceplosan untuk mengatakan hal itu.


"Menjumpai apa kak?" tanya Friska semakin penasaran.


"Gak ada kok dek."


Friska tidak mau mengalah. " Katakan kak... siapa yang di jumpai semua pria itu? atas dasar apa dan ijin dari mana?" celoteh Friska menjadi jadi.


"Dek tidak apa kok," ucap Somsi menyakinkan adeknya. Tapi adeknya tetap bersikeras ingin mendengar langsung penjelasan oleh kakaknya itu. "Kakak bilang yang jujur dong kak."


Friska merengek hanya untuk mendengarnya saja. Somsi yang tidak tahan akhirnya membuka suara. Somsi mengajak Friska duduk dulu. " Oke sebelum kakak mulai cerita. Kita duduk dulu. Kakak capek dari tadi berdiri saja."


Friska menganguk. "Oke kak."


Somsi akhirnya mulai bercerita kenangan seri misteri kehidupan masa sma ya dulu. Dia bercerita mulai dari titik 0 sampai 100. Semua tersimpan ketat di memory tanpa satu kata pun yang menghilang dari memory ya itu.

__ADS_1


"Kaka dulu di kejar-kejar banyak pria. Kakak tidak tau mengapa mereka bisa sampai mengejarku sampai segitunya. Jelasnya kakak senang," tutur Somsi.


Dengan perasaan enggan atau sakit hati ia akan bercerita.


"Itu bisa membuat kakak terhibur saat saat kita mulai kekurangan uang untuk keperluan belanja kita Minggu depan."


"Kak jangan menangis," ucap Friska menghapus air mata kakaknya itu.


Somsi berbohong berusaha menutupi kesedihannya. " He he he he he ini air mata bahagia dek."


Friska melotot. " Serius kak?"


"Iya dong dek. Kita harus kuat dan bahagia. Meski badan menghalangi jalan kita," lirih Somsi.


Di tengah kesibukan mereka berbicara. Lian datang menghampiri dua Wanita itu. "Som, Dek Friss.... kalian lihat gak Bram. Dari tadi mamanya menyuruh pulang," jelas Lian.


"Tadi dia di sini. Tapi sekarang ntah kemana perginya," jawab Somsi antusias.


Kemana perginya anak ini? Dari tadi gak ada kabar sama sekali.


"Owh okelah. Saya permisi pergi dulu mencari Bram."


Somsi melihat Lian terus mencarinya. Somsi sendiri ingin juga mencari Bram. Tapi adek kesayangan sedang berbicara padanya.


Kasihan sekali Lian. Bram cepat pulang. Mama mu telah menunggumu di rumah.


Friska mendada mata Somsi yang dari tadi bengong. "Kak... kakak lagi mikirin bang Bram iya?" tanya Friska mengeledek.


"Apa? saya mikirin dia. Ogah kali," umpat Somsi.


"Alaa gak usah ambil pusing kak... dan gak usah takut kehilangan Bram. Bram tadi pergi ke warung," ucap Friska seperti tidak merasa bersalah. Kalau saja ia memberitahu, maka Bram tidak perlu sesusah itu mencari Bram.


Lian datang dengan mengepal tanganya dan berkacak pinggang. " Maksudmu apa?"


Friska yang menyadari kedatangan Lian menunduk. Dia sangat takut melihat Lian. Hingga ia harus berpura-pura menangis.


"Hu hu hu hu... hiks hiks."


"Kenapa kamu jadi nangis? Belum di apakan sudah menangis," ucap Lian yang melihat Naldo temannya sedang bermain layangan.


Bukannya Friska memilih diam dan malah mengeraskan isakan tangisnya. "Hiks hiks... hiks. hikss .... kak ia kejam, ia mau ganggu aku. Aku cuma tidak ingin memberitahu nya saja," ucap Friska masih pura pura sedih melihat Lian yang terus menerus ingin balas dendam sedari tadi.


*Bersambung.....


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya juga bisa. 😊😌😊🙏*


__ADS_2