
Ini anak usil juga.
"Oalah.... Lian, Lian.... gara-gara kamu tuh. Aku gak bisa lari dari harimau ini," ucap Bram marah.
Lian memutar mata malas. "Kok jadi aku! Kan kau yang sembunyi di sini."
Bram merasa jantungnya berdegup kencang saat Somsi mulai dekat dengannya.
Dengan perasaan gugup dan takut Bram berani bicara. Dengan kepala menunduk. Sekali melihat ke arah Somsi.
Waduh, tatapannya sangat tajam.
"So-Som... aku minta maaf ya..." ucap Bram terbata.
Somsi sebenarnya masih marah pada Bram. Tapi karena anak kecil itu, ia harus memaafkannya.
"Iya."
Melihat Somsi menjawab ketus, membuat seorang Bram masih belum puas. Wajahnya masih terlihat takut pada Somsi. Menatap mata Somsi saja ia harus mengendap-endap.
"Som... aku masih belum percaya kalau kau sudah memaafkan ku. Tatapan mu masih tajam seperti pisau yang baru di asah," tutur Bram lagi.
Ini anak kalau aku bilang iya ya iya. Jangan banyak kata.
"Iya Bram! aku memaafkan mu."
Mendengar itu, wajah Bram berubah jadi semar-semar tawa riang.
"Betul ini Som? Kau memafkan ku?" tanya Bram memastikan.
Awas ya kalau kau bertanya lagi. Dapat kulkas!
"Iya."
Bram langsung memeluk Somsi.
"Makasih ya Som."
Somsi merasa sesak dengan pelukan Bram. Dengan penolakan yang terlihat, Somsi mendorong Bram. Tapi sia-sia, karena Bram memeluknya erat.
Sadar karena ia terlalu berlebihan, Bram langsung melepaskan pelukannya.
"Ma-ma-maaf," ucap Bram terbata.
"Iya."
Dari tadi Lian menyaksikan mereka berdua. Agak sedikit aneh rasanya dengan kedua temannya itu. "Ciaelah! kau kenapa Bram?" dengan perasaan canggung Bram menjawab, "Gak papa."
"Ha ha ha ha ha, kamu bisa juga lucu ya Bram."
Anak kecil senang melihat mereka bisa baikan. Tidak sia-sia juga ia membujuk Somsi mau memaafkan Bram.
Dia hanya diam. Bram yang melihatnya diam langsung menegurnya. "Hei dek, kok diam?"
__ADS_1
adek itu menjawab, "Gak papa bang, senang liat abang dengan kakak ini baikan lagi. Kalian pasangan yang cocok bang."
Terdengar jelas di telinga Somsi saat anak kecil itu mengatai mereka. Telinganya panas dan matanya melotot melihat anak kecil itu. "Apa dek? cocok? ogah kali."
"Iya kak, kalian sangat cocok," ucapnya menahan tawa.
Wajah Somsi berubah jadi merah merona seperti tomat. "Apaan sih dek."
"Lihat tuh kak, wajah kakak merah merona," ngeledek anak kecil.
"Apaan ih."
Somsi tersipu malu. Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Bram, Lian, dan anak kecil itu. Meraba wajahnya berharap semua yang mereka katakan adalah bohong. Somsi meraih kaca dalam sakunya dan melihat wajahnya. Youp betul. Wajahnya berubah merah merona.
Somsi menggosok setiap inci wajahnya. Menghapus wajahnya yang berubah merah seketika itu. Tapi tetap tidak bisa hilang.
Bram melihat Somsi yang berbalik merasa lucu. Ia berpikir kalau Somsi malu dengannya.
"Som... kita makan yuk," ajak Bram pada Somsi.
Baru pertama kali buat Bram mengajak seorang wanita untuk makan. Selama ini, meski banyak wanita yang mengejar cintanya, sedikit pun ia tidak tertarik. Sama halnya dengan Somsi. Dari semua pria hanya Bram yang berani mengajaknya tanpa rasa takut ditolak. Selama Somsi sekolah, Somsi sering di ajak siapa pun pria yang ingin mengajak Somsi makan. Apa lagi bahasa gaulnya ngedate.
Karena Somsi sering menolak ajakan semua pria. Membuat siapa saja yang berniat mengajak Somsi mengurungkan niatnya. Bukan karena takut habis uang, tapi takut di tolak oleh Somsi.
"Makan?" tanya Somsi mengeryitkan dahi.
"Iya Som, kita makan."
"Iya."
"Ta-tapi-"
"Tapi apa Som? kau gugup ya. Jangan gugup dong ih," lirih Bram manja.
Kata manja baru saja keluar dari mulutnya. Ntah kapan tapi baru ini ia berkata manja pada wanita.
Ini anak kenapa sih. Sok belagu manja.
"Gak ada."
Bram heran dengan tingkah Somsi. Kalau Somsi gak mau ya cukup bilang gak mau. Gak perlu segugup itu.
"Kamu kenapa sih Som?"
"Ntah... kamu kenapa Som?" umpat Lian kesal. Dari tadi ia sudah sangat sabar menunggu Somsi mengatakan iya. Keuntungan besar baginya kalau Somsi mengatakan iya. Pasti dia akan di traktir makan nanti.
"Kakak? kenapa kakak diam," ucap anak kecil itu heran. Dia juga penasaran dengan tingkah kakak yang baru ia kenal yang tiba-tiba diam begitu saja.
"Gak papa kok dek," sahut Somsi.
"Kalau gak papa kenapa harus melamun dulu," umpat Lian kesal dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
Bram yang melihat Lian mengatai Somsi begitu tidak tinggal diam. "Kenapa gak sekalian ambil toa mesjid ke sini!" dengan perasaan kesal ia bicara lagi, "Kok jadi kau yang heboh."
__ADS_1
"Eh Bram kok kamu ngomong gitu sih," ketus Lian.
"Habis.. kau sih pakai ngomong besar-besarin suara," jawabnya ketus.
Lian menunjuk Somsi. "Ini nih yang buat aku kesal."
Bram tidak suka dengan sikap Lian yang selalu menyalahkan Somsi begitu saja. Ya meski pun dia adalah teman Bram, tidak sepantasnya ia berkata seperti itu pada Somsi.
"Lian!" tegasnya, "Kalau kau gak bisa jaga sikap jangan menjadi temanku. Aku gak butuh teman yang bicaranya melebihi wanita."
Lian tersontak kaget mendengar ucapan Bram. "Apa?"
"Apa kau tidak dengar? perlu saya ulangi lagi?" tanya Bram intens.
Somsi yang melihat mereka tidak ada yang mau diam dan tidak ada yang mau mengalah memilih bicara. Hanya itu cara untuk menghentikan mereka. "Sudah, sudah... dari tadi kalian adu mulut.... saja. Kapan mau diam ya."
Lian tidak menjawab lagi. Kalau ia menjawab bisa-bisa hal yang tidak perlu di permasalahkan harus jadi bahan permasalahan yang harus mereka pecahkan nanti. Kan yang repot mereka Gak ada yang dapat untung juga kan.
"Jadi nih Som?" tanya Bram ulang.
"Terima aja Som. Katakan iya," ucap Lian.
Bram sudah menatap tajam ke arah Lian yang membuat Lian jadi takut.
"Makannya kita berdua aja?" tanya Somsi dengan mata melotot. Ia sedikit canggung untuk mengatakannya. Tapi apa boleh buat, ia juga ingin tau pasti.
"Kita berdua saja," umpat Bram.
Lian yang mendengarnya kaget. Dia mengira kalau mereka akan makan bersama. "Lah kami?" tanya Bram dengan suara keras.
"Iya kami bang kemana? tanya anak kecil itu. Sama halnya dengan Lian, ia juga ingin di traktir makan.
"Kalian pulang. Kalau aku bawa kalian ... yang ada aku yang repot. Dan uang aku habis hanya untuk kalian. Jadi aku gak ma hal itu terjadi," jelas Bram.
Lian dan anak kecil itu saling berpandangan. "Kok gitu sih," ucap mereka bersamaan.
"Ya gitulah."
Bram menarik tangan Somsi, menggandeng tangan itu erat agar tidak lepas. Tidak lupa Bram menitip barang-barang tempat dagangan Somsi untuk di jaga anak kecil itu. Lian sendiri karena merasa kesal langsung pulang ke rumahnya. Dari tadi ia sudah menghabiskan banyak waktu dengan sia-sia.
Bram masih menggandeng tangan Somsi seperti orang yang mau menikah. Somsi berusaha melepasnya tapi tidak bisa. Karena Bram lebih kuat dari dirinya.
Sesampainya di rumah makan, Bram langsung memesan makanan yang ingin mereka makan. Di desa itu memang hanya rumah makan saja yang baru ada. Sedangkan kafe, mol, kolam renang dll. Belum ada di sana.
"Mbak... kami pesan ini," ucap Bram menyerahkan buku pesanan yang sudah ia tulis tadi. Bram memesan nasi uduk dengan gulai ikan lele kesukaannya. Sedangkan Somsi memilih ikan tongkol sambal goreng kesukaannya. Di campur sayuran dua macam, yaitu daun ubi dan bayam, serta daging ayam juga Bram pesankan.
"Baik, mohon tunggu sebentar. Pesanan anda akan segera kami antar," ucap pelayan itu lalu pergi.
Bersambung........
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏
__ADS_1