Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Undangan Pesta Dansa


__ADS_3

Perasaan Tuan Sean tidak tenang. Pikirannya terus-menerus membayangkan apa yang telah terjadi antara pria itu dan Somsi. Sampai-sampai dia menyuruh Xander untuk menyelidiki siapa pria tadi yang tengah asik tertawa dengan Somsi.


"Xander! Kamu harus cari tau siapa pria tadi yang tengah bersama dengan Somsi. Secepatnya saya tunggu kabar darimu!"


Isi pesan itu membuat Xander frustasi. Pria itu sudah gila. Bisa tidak pria itu mandiri. Kenapa Tuan Sean sendiri tidak bisa mengurus masalahnya sendirian tanpa harus melibatkan dirinya lagi.


Sungguh menyebalkan dia! Kalau bukan karena dia orang yang sangat aku hormati, mungkin saja aku sudah meninggalkannya.


Selama ini, hanya Tuan Rey yang peduli padanya. Keberadaannya diakui sekarang, dihormati, itu semua karena Tuan Rey.


Jadi, hidup dan matinya sudah dia relakan hanya mengabdi kepada keluarga yang telah menolongnya.


"Xander, kenapa kamu tidak mengangkat telepon ku?" tanya Tuan Sean di balik telepon.


Xander sendiri sudah tertidur pulas di atas kasur empuknya. Tadi tidak sengaja Xander bergerak sedikit dan tangannya tiba-tiba memencet tombol panggilan kemudian tersambung.


"Xander.... Xander...." Teriak Tuan Rey, namun tidak ada sahutan dari seberang telepon. Lalu dia menutupnya.


Kemana pria itu? Gilak!


Tuan Rey merasa kesal karena Xander telah mengacuhkan dirinya.


Kepada siapa dia saat ini meminta tolong agar dia bisa dapatkan nomor Somsi malam ini. Dia bingung. Dia terus memikirkan cara bagaimanapun nanti hasilnya.


Iya, apa aku hubungi Uba saja... Kan Uba satu asrama dengan Somsi. Lagian kan, Uba yang punya hp, sedangkan Somsi, hp yang paling murah pun dia tidak punya.


Dengan sigap dia mencari nomor telepon Uba dari pencarian seluruh pekerja di Perusahaan itu. Sampai dia menguap pun, nama yang dia scroll ke bawah belum dia temukan.


Nah, ini dia!


Segera dia menghubungi Uba, meskipun dia sendiri tau sudah jam berapa malam hari itu.


Angkat... Angkat... Ayok Uba, jangan sampai besok kamu kupecat!


Dari tadi dia memanggil tapi belum tesambung juga sampai sekarang. Dia menjadi lebih frustasi.


Akhirnya dia memilih tidur. Besok adalah rapat penting untuknya. Persiapan untuknya menjadi ahli waris tunggal di keluarganya.


***


Somsi melihat penampilannya di balik kaca. Dia sangat cantik. Selama ini, di rumahnya, dia tidak pernah memakai make up. Setelah dia memoles make up ke wajahnya, betapa cantiknya dirinya.


"Som..." Panggil Uba ingin memasuki kamar Somsi. Dengan segera Somsi menghentikan langkah Uba sebelum kakinya melangkah masuk ke dalam.

__ADS_1


"Ada apa, Som?" Tanyanya kebingungan. "Kenapa kamu tiba-tiba tidak mengijinkan ku masuk ke dalam? Sudah jam berapa ini? Kenapa kamu belum siap!"


Somsi keluar dari kamarnya. Uba, merasa ada yang berbeda pada Somsi. "Kamu hari ini cantik sekali, Som... Untuk siapa kamu bergaya secantik ini."


Ditatapnya Somsi dari atas sampai bawah, sangat cantik.


"Oke. Ayo kita pergi. Kenapa kamu malah melamun? Hei?!" teriak Somsi sambil menggoyangkan bahu Uba.


"Kenapa kamu malah melamun? Katanya... mau cepat, eh taunya... kamu malah melamun!" tukas Somsi.


Dia menahan tawanya yang melihat Uba tampak susah mengenali dirinya. Apa iya dia secantik orang-orang bilang? Ah, mungkin mata mereka sedang keliru.


"Ayok, pergi!"


Somsi menggamit tangan Uba yang masih dalam keadaan melamun. Apa Uba benar-benar terkejut melihat penampilannya? Atau jangan-jangan...


Apa dia terkejut karena wajahku menor...


Somsi kembali lagi ke kamar untuk memastikan apakah firasatnya itu benar.


Setelah dia lihat-lihat, dia cantik. Dia mengagumi dirinya itu.


"Uba... Ayo kita pergi! Busnya sudah datang Uba!" teriak Somsi saat bus sudah datang.


Uba langsung sadar dan jantungnya berdegup kencang setelah mendengar kata-kata Somsi bahwa mereka sudah telat.


Somsi berlari cepat, berharap Tuan Sean belum sampai duluan, tapi ternyata...


"Kamu telat?!" Suara hangat Tuan Sean membuat Somsi takut terjadi apa-apa. Dia takut kalau Tuan Sean bertindak lebih. Maka pastilah dia akan dipecat.


Dia menyuruh Xander untuk mengurus hukuman apa yang pantas untuk Somsi. "Xander! Segera buat hukuman yang pantas untuknya! Dan juga kemarin dia lama pulang karena tengah asik bersama pria lain!" perintah Tuan Sean.


Somsi mendelik saat dia mendengar apa yang baru saja diucapkan Tuan Sean.


Apakah ada batasan baginya untuk bersikap ramah sesama pekerja?


Sungguh aneh Tuan ini...


"Baik Tuan."


Kemudian Xander menghadap Somsi. "Baik Nona Somsi, karena Nona sudah melanggar peraturan Perusahaan dan perjanjian kontrak ini, dengan pernyataan Nona telah terlambat lewat 10 menit dan Nona telah dinyatakan selingkuh."


"Jadi, sebagai penebusan dua kesalahan itu, maka Nona harus ikut bersama Tuan Sean dalam undangan Pesta Dansa malam ini! Apa Nona sudah paham?" jelas Xander.

__ADS_1


Dia juga merasakan keanehan dari hukuman yang telah dibuat oleh Tuan Sean. Tapi dia tidak boleh mengganggu gugat apa yang menjadi keputusan atasannya.


Sepertinya itu bukan hukuman Tuan Sean yang terhormat! Mengapa Anda selalu buat saya kesal. Mengapa harus dia yang menjadi CEO di Perusahaan ini. Apakah tidak ada lagi yang lain anak dari pemimpin Perusahaan ini?


pertanyaan demi pertanyaan telah berkuasa dalam dirinya. Dia tampak kebingungan. Ingin dia marah tapi kepada siapa. Tidak mungkin dia memarahi atasannya yang suka mencampuri urusan orang lain.


"Mengapa kamu diam? Jawablah! Saya juga mau mendengar kamu menentang aturan yang saya buat!"


Tuan Sean akan tetap memaksa Somsi untuk menyetujuinya. Meskipun nantinya dia tau sendiri kalau Somsi akan menolaknya.


Di rumah Tuan Sean, Ibunya telah memaksa dirinya untuk pergi ke Pesta Dansa. Sahabat Ibunya telah mengadakan Pesta Dansa sebagai tontonan semata sebagai hadiah karena putrinya beberapa hari yang lalu berulang tahun.


Di meja makan, semua sudah duduk sambil melahap makanan dengan santai. Begitulah suasana makan dalam keluarga Sean. Mereka tidak perlu terburu-buru akan pekerjaan yang harus cepat-cepat diselesaikan hari itu juga.


Saat Tuan Sean selesai makan, mengusap mulutnya dengan tisue dan hendak pergi, Ibunya menyuruhnya untuk duduk sebentar. "Sean... duduklah sebentar!" Perintah Bu Lina lembut.


"Iya, Ma, ada apa?" tanya Sean, alisnya sudah naik sebelah. Dia sudah tidak sabar dengan apa yang mau diperintahkan oleh Ibunya padanya nanti.


"Pergilah ke Pesta Dansa!"


"Ha?" Tuan Sean terkejut. Mengapa Ibunya tiba-tiba menyuruhnya pergi ke Pesta Dansa.


"Iya! Pergilah ke Pesta Dansa teman Mama, putrinya baru berulang tahun beberapa hari yang lalu. Jadi, mereka membuat Pesta Dansa sebagai hiburan selanjutnya dari acara ulangtahun yang kemarin tertunda," jelas Bu Lina.


"Kebetulan Mama mau menjodohkan kamu dengan putrinya nanti," sambungnya lagi.


"Ha?!" Kali ini Tuan Sean menatap heran Ibunya. Mengapa tiba-tiba Ibunya mengatakan soal perjodohan.


"Kamu tidak bisa menolak, Nak... usia Mama sudah tua dan kamu juga sudah sepantasnya menikah."


"Jadi, Ibu mohon... pergilah nanti! Jika kamu tidak pergi, maka Ibu akan kecewa padamu," desak Bu Lina memelas. Dia ingin sekali anaknya itu mendengarnya kali ini.


Bu Lina ingin anaknya bahagia dengan pilihannya yang tepat. Meskipun Bu Lina tau sendiri dengan tabiat anaknya itu. Seorang Casanova. Yang suka berganti-ganti wanita dalam ranjang.


Tuan Sean menatap Somsi dengan penuh harap. Berharap Somsi mau menerima hukumannya.


"Baik Tuan, saya akan ikut Tuan Sean ke Pesta Dansa itu," tutur Somsi dengan muka masamnya.


Yess...


Tuan Sean sangat senang ketika dia mendengar langsung dari mulut Somsi yang akan ikut ke Pesta Dansa itu nanti. Dia ingin berteriak, namun ditahannya. Untuk menjaga image nya di depan bawahannya.


Tbc.

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like, dan juga komen.


Bye... Bye...


__ADS_2