Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Tidak Boleh Pergi


__ADS_3

Di rumah, Somsi langsung mendapat kartu merah. Bukan kartu merah yang ada di pertandingan sepak bola. Ini dikarenakan Somsi pulang terlalu malam.


"Habis dari mana saja kamu?! Apa terlalu gatal kakimu itu sehingga kau lupa pulang ke rumah? Setampan apa Bram yang jelek itu untukmu?" sergah Bu Wati dengan memicingkan mata.


Tidak ada sahutan dari anaknya membuat Bu Wati hilang kendali. Ia memukul anaknya dengan seikat batang rotan yang sudah berpuluhan tahun. Jika rotan itu dipukulkan pun tidak akan terasa. Dengan menipu ibunya, ia meringis kesakitan. "Awh Bu, sakit Bu, kenapa ibu malah memukul rotan ini padaku," umpat Somsi dengan wajah kesalnya. Berharap ibunya percaya akan kesakitanya itu.


"Rasain! Makanya ingat waktu, jangan seperti ayam yang baru saja keluar dari kandangnya!" kecam Ibu.


Setelah ibunya puas memukulinya dengan rotan itu, akhirnya Somsi bisa pergi ke kamarnya. Sebelum ia pergi, Bu Wati menghentikan langkahnya. "Tunggu sebentar!"


Peringatan apa lagi yang kurang diberikan ibu. Sudah jelas semua peringatan ibu yang ada di seluruh dunia ini sudah keluar dari mulutnya. Lalu untuk apa lagi Ibu memanggil.


Kenapa lagi sih Bu?


Somsi merengut dalam hatinya. Tak sabar menunggu hukuman apa lagi yang harus diterimanya.


"Tadi Ka borusaragih datang kesini. Dia mengatakan kalau kamu minggu depan ini akan berangkat pergi ke Malaysia."


"Ha?" Somsi terperanjat kaget. Kenapa Ka borusaragih tidak menghubungi Siti. Padahal kan selama ini ia pasti menghubunginya. Tidak perlu susah-susah datang kesini.


Tidak disangka waktu yang ditunggu akhirnya tersampai juga. Sedih rasanya harus pergi jauh dari keluarga, Ayah, Ibu, dan juga adeknya, yang sangat disayanginya.


Meskipun begitu Ia tidak mau menunjukan itu. Ia tidak mau keluarganya bertambah sedih. Bukannya ia sendiri yang mau memutuskan bekerja disana? Nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada lagi penyesalan dan tidak ada lagi pengulangan waktu.


Semua berjalan sedemikian rupa. Bagaimana roda berputar selama manusia masih bernafas di muka bumi ini.


"Apa?" ucap Friska kaget. Air matanya mengalir. Dia terbangun karena mendengar suara teriakan Bu Wati yang cukup keras mengganggu tidurnya.


"Iya, Kakakmu, mau pergi ke Malaysia, Nak."


Friska mengeleng kepala. Baru saja kemarin ia bahagia sekali melihat kakaknya karena mendapat nilai bagus hasil bantuan kakaknya, kini harus pergi. Ntah sampai kapan berjumpa lagi. Ditambah peraturan kontrak bekerja di Malaysia cukup ketat. Tidak boleh pulang sebelum habis kontrak. Tidak boleh merayakan Tahun Baru bersama lagi. Tidak ada lagi teman satu tidurnya. Semua perlahan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Dek, kamu tidak boleh lagi sedihnya." tutur Somsi sambil membelai kepala Friska dengan lembut. Ia juga tidak merasa yakin akan kenyataan itu. Bahwa ia harus pergi ke Malaysia dalam seminggu ini.


"Mama sudah beritahukan pada bapak?" tanya Somsi pada ibunya yang menunduk. Ia tau bagaimana sekarang perasaan ibunya ini. Tapi mau gimana lagi. Ditolak pun tidak ada gunanya. Semua harus berjuang untuk menggapai mimpinya.


***


Di atas ranjang yang cukup mewah, Siti tidak bisa tidur. Ia masih memikirkan apa yang sudah ia dengar tadi saat di Restaurant itu.


Tidak lama lagi Somsi akan berangkat ke Malaysia. Itu tidak boleh terjadi. Tidak. Jika Somsi pergi, siapa yang akan menjadi sahabatku lagi. Semua hanya pembohong! Hanya dia teman yang setia. Teman yang selalu ada. Teman yang tidak bermuka dua.


Masih sibuk dengan pikirannya, hingga ia tidak bisa tidur sampai jam 02:00 dini hari.


Apa yang harus aku katakan besok pada Somsi? Aku tidak mungkin mengelak. Kebohongan sekeras apapun ditutupi tetap akan terbongkar juga. Semoga saja ada jalan keluarnya besok.


Lama pikirannya terus berperang, tak lama kemudian barulah matanya tertutup perlahan. Rasa kantuknya sudah tidak bisa ia tahankan lagi.


"Pak, Somsi Minggu depan akan berangkat. Bapak mau menyiapkan apa untuk keberangkatan putri kita ini?" tanya Bu Wati yang memperhatikan suaminya yang belum tidur. Sudah menjadi kebiasaan mereka jika tidak ada yang bisa tidur, maka yang satunya lagi akan menemani sampai akhirnya tidur.


"Apa-apa saja Ma keperluan Somsi?"


"Gimana kalau kita kemas saja beras, tomat, pokonya segala keperluan masaknya Somsi lah pa," tutur Bu Wati. "Oh iya gimana kalau Somsi membawakan topi deresnya itu pa? Pasti keren." lontarnya lagi dengan menahan tawa. Menunggu ekspresi suaminya menanggapi apa yang barusan ia katakan.


"Topi itu? hahahah, tidak mungkin Ma," jawab Pak Nius dengan tawanya yang keras.


"Lalu yang mana dong pak?" tanya Bu Wati sok polos.


"Ah, Mama, ada-ada saja. Yok tidur ma, Papa sudah ngantuk.


Mereka akhirnya tertidur pulas. Malam yang panjang, baru saja mereka tertidur usai percakapan itu selesai. Dengan hiasan warna-warni di atap menyerupai bintang-bintang yang sebagian sudah terhapus. Karena cat itu sudah lama disana. Sewaktu Pak Nius dan Bu Wati kali pertama membangun rumah tangganya.


***

__ADS_1


Somsi baru saja selesai mandi sudah ada yang mengetok dari luar. Di rumah hanya ia seorang diri. Bapak dan Ibunya bekerja di sawah sedangkan adeknya sekolah.


Siapa yang datang sepagi ini?


Gumam Somsi. Ia biasanya tidak menerima tamu di pagi hari. Biasanya orang-orang malas datang ke rumahnya karena rumahnya yang jelek dan tidak mewah itu.


"Sebentar...."


Teriak Somsi dari dalam. Dia cepat-cepat memakaikan paiannya. Setelah itu, ia berlari ke arah pintu dan membuka.


Betapa terkejutnya dia, "Bram?"


"Som, aku mau kita pergi ke suatu tempat. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu."


Tanpa menunggu lagi, Bram menarik tangan Somsi lalu menyuruh Somsi duduk di jok belakang.


Jantung Somsi seakan mau copot. Baru saja semalam ia berusaha menghindar, namun nyatanya ia malah terjun lagi.


"Bram, kemana kau akan membawaku?" tanya Somsi memberanikan diri. Mau sampai kapan ia diam membisu tak berkutik sedikitpun.


Ia tau sekali kalau Bram tidak mau dibantah. Yang menjadi keputusannya harus dilakukan.


"Bram, jawab aku. Kenapa kau hanya diam saja? Kalau diam saja, lebih baik turunkan aku disini!" desak Somsi. Untungnya masih dekat dengan rumah Somsi. Kalaupun Bram menurunkannya, dia bisa pulang sendirian.


"Tidak Som, kita harus pergi. Pegang yang erat!" perintah Bram. Seketika bagian depan Somsi menyentuh punggung Bram. Terasa hangat. Tangan Bram yang kanan memegang handle rem, sehingga berhenti. Lalu meraih tangan Somsi agar tangannya itu memeluk erat bagian perut Bram.


Kenapa seperti ini. Jantungku berdegup kencang. Aku takut dia mendengarnya.


Bram semakin melajukan motornya sangat kencang melewati batas pemakaian. Membuat Somsi seakan melayang ingin jatuh. Untungnya Bram jago dalam menanganinya.


Dia tersenyum saat melihat Somsi ketakutan dan semakin mempererat pelukannya.

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like, dan komen. Bye bye


__ADS_2