
Semua barang-barang yang akan di bawa Somsi ke Malaysia sudah tertata rapi, hanya saja dia masih merasakan kegelisahan pada hatinya. Dia teringat tentang Bram. Tidak! kau tidak boleh mengingat pria yang hampir saja memperkosaku, Siti!
Baru saja dia mandi, seseorang tengah memanggil namanya dari luar. "Som... Som... ini teman kamu yang sama berangkat denganmu sudah disini, kau belum siap?"
Bu Wati berteriak memanggil putrinya seraya memberitahukan bahwa temannya yang juga mau berangkat ke Malaysia sudah datang.
"Iya, Ma..." teriak Somsi dari dalam kamar.
Dia mengangkat keluar barang-barang tersebut, dengan tergopoh-gopoh dia membawakannya.
"Uba? Kau sudah datang?" tanya Somsi kepada Uba. Dia mendelik melihat apa saja yang di bawakan Uba. Banyak sekali.
Sebenarnya Uba datang ke rumah Somsi karena rumahnya Somsi tidak jauh dari penerbangan ke Kualanamu.
Mereka akan melakukan dua kali penerbangan hingga sampai ke Malaysia. Paspor, KTP, semua berkas yang di perlukan sudah dari dulu mereka urus. Sekarang mereka hanya tinggal pergi.
"Kak... secepat ini kakak mau pergi?" tanya Friska sambil menguap keluar dari dalam kamar mereka yang sudah terlihat sangat buruk.
"Iya dek..."
"Jadi kakak akan meninggalkanku di sini sendirian?" lirihnya. Kesedihan sudah tersirat di wajahnya.
Somsi membuang mukanya agar dia tidak melihat raut wajah adeknya itu. "Maafkan kakak, Dek... ini sudah kakak putuskan, bahwa kakak akan merubah nasib kita." Gumam Somsi.
__ADS_1
Terasa sesak hatinya, tapi tidak mau dia tunjukkan, itu nanti akan membuat kedua orangtuanya dan juga adeknya mengkhawatirkan dirinya. Sudah pasti mereka tidak akan menginginkan Somsi. Meskipun mereka berusaha membujuk Somsi selama ini, tapi sedih rasanya jika mereka harus menghancurkan mimpi mereka demi keegoisan mereka. Seberapa besar pun nantinya mereka membayar akibat gagal kontrak, jika itu demi putri sulungnya mereka akan lakukan.
"Uba... kamu apa saja yang kamu bawakan? Terlihat banyak," ujarnya seraya memperhatikan Uba karena sudah memakaikan polesan bedak di wajah dan lipstik di bibirnya. Terlihat sangat manis. Uba tau cara memakaikan make up nya, tidak terlihat menor ataupun pucat. Sudah sempurna.
Dia melirik ke semua barang-barang yang dia bawakan tadi, "Ah... saya tidak tau Som, Mama lah yang menyusun semua itu."
Banyak sekali... apakah itu tidak dilarang nanti sewaktu penerbangan. Soalnya kan sebelum masuk ke pesawat pasti harus di timbang dulu.
Somsi bergumul di hatinya, bertanya-tanya akan apa yang mau di bawakan Uba yang terlalu banyak itu.
"Somsi..." teriak Siti dari luar. Dia berlari menuju Somsi yang berada di balik pintu. Siti? Kenapa dia kesini?
Somsi masih marah kepada Siti karena tidak mau memberitahukan dirinya saat itu, saat Ka borusaragih memanggilnya. Dia malah memilih menyembunyikan hal yang begitu penting bagi Somsi. Kalau saja Ka borusaragih tidak datang ke rumahnya, mungkin saja kepergiannya akan batal. Dan mereka harus menanggung semua akibatnya. Membayar dua kali lipat karena sudah berani melanggar kontrak.
Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Somsi padanya. Apakah Somsi masih marah dengannya, dia tidak tau. Dia juga tidak mau berpikiran aneh saat ini. Sahabatnya, Somsi akan pergi. Ntah sampai kapan lagi mereka akan bertemu. Hanya takdir yang menentukan.
"Kamu masih marah samaku, Som?" ucapnya memelas, bening kabut sudah mulai terlihat dari sudut matanya. Dia akan sangat sedih jika Somsi masih marah dan tidak mau memaafkannya. Ini adalah perpisahan terakhir dirinya dengan sahabatnya itu.
Tidak tega melihat sahabatnya yang mulai meneteskan air mata di pipinya, hatinya tersentuh. Sahabatnya ini sungguh baik. Dia tau mengapa Siti mau melakukannya. Dia tidak mau Somsi pergi ke Malaysia. Jika Somsi pergi, mereka tidak akan bisa lagi bertemu. Saat di rumah saja, Siti tidak mau mengganggu Somsi dengan mengajaknya keluar kalau Somsi belum siap bekerja. Dari dulu dia berteman dengan Somsi tidak pandang bulu. Hatinya baik dan tidak sombong, meski dia sudah kuliah dan merupakan akan orang kaya, dia tetap mau berteman dengan Somsi. Itulah mengapa Somsi sangat senang dengan sahabatnya itu.
"Jangan sedih... jika kamu sedih, aku akan merasa sangat bersalah, karena telah meninggalkanmu sendirian di sini dan tidak bisa lagi aku menghapuskannya air matamu karena aku jauh darimu..."
Somsi berusaha tersenyum walau hatinya merasakan perasaan tidak enak.
__ADS_1
"Iya Som, aku tidak akan sedih. Selama ini, kamulah sahabatku yang terbaik Som, semoga nanti kamu suksesnya di sana... Ingat! Jangan lupakan aku!" Ucap Somsi sambil mengingatkan sahabatnya itu untuk tidak melupakan kenangan mereka selama ini. Mereka adalah sahabat sejati.
"Som... apa Bram tidak datang?" tanya Somsi hati-hati. Dia tidak mau sahabatnya itu bersedih karena mengingat kejadian yang telah menimpanya. Pria itu? Pria yang sudah berani melecehkanku? Membiarkannya datang ke sini? Tidak boleh... aku telah membencinya seumur hidupku.
"Tidak Som, dia tidak akan datang," beritahu Somsi sambil pura-pura tersenyum walau telinganya terasa panas saat mendengar nama itu. Pria yang sudah berani melecehkannya. Pria yang membuatnya marah dan merasakan sakit yang kedua kalinya. Dulu dia berdoa, supaya keputusannya untuk menerima Bram tidak salah, namun siapa yang tau manusia akan tetap memiliki sisi buruknya?
"Sudah, lupakan saja Sit, mari kita bahas yang lain," sela Somsi. Jika terus membicarakan Bram, itu akan membuatnya terus mengingat kejadian yang hampir saja dia kehilangan mahkota berharga yang dia jaga selama ini.
"Ya sudah Som, aku tidak akan membahas Bram lagi. Ini pesanan Lian untukmu. Semoga kamu menerimanya..."
Siti menyerahkan sebuah kado yang bertuliskan untuk Somsi, tapi nama pengirimnya tidak dibuat.
"Makasih ya, Sit, kamu adalah sahabat terbaikku." Mereka saling berpelukan erat satu sama lain. Sebentar lagi mereka akan pergi. Jadi Somsi harus cepat-cepat menyudahinya.
"Ma, Somsi pergi dulu..." ucap Somsi sambil membungkuk dengan kedua lututnya. Dia mengambil tangan ibunya seraya memberikan salaman terakhirnya. Mereka berpelukan. Peluh air mata mereka mulai berjatuhan. Rasa sedih yang dirasakan bu Wati kepada putri sulungnya itu. Mereka akan berpisah untuk beberapa tahun. Tidak akan lagi sering melihat keadaan Somsi.
"Iya, Nak, pergilah dengan selamat. Semoga kamu bisa mencapai mimpimu yang sudah kamu bangun selama ini. Ingat! Tidak boleh ada kata menyerah. Kamu harus kuat ya, Nak... ingat pesan ibumu ini... kamu tidak boleh lupa kepada kami dan juga adekmu ini, ya, Nak?" ucap ibunya seraya memberikan nasehat terbaik bagi putrinya itu. " Iya, Ma..."
Sekuatnya untuk tidak menangis, tapi ternyata tidak bisa. Deraian air matanya kini sudah membasahi pipinya. Dia sangat sedih dengan kepergiannya ini, tapi mau boleh buat apa. Dia harus pergi. Dia harus merubah nasib keluarganya itu.
Dia juga permisi kepada ayahnya dan juga adeknya, Friska. Sangat sakit. Dia harus pergi berpisah dengan keluarganya karena ekonomi yang kurang. Kemiskinan yang mereka rasakan harus berubah. Friska tidak boleh merasakan pahit seperti yang dia rasakan, ayah dan ibunya tidak boleh capek bekerja di masa tuanya. Dia harus membanggakan mereka. Itulah janjinya.
Tbc.
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan komen.