Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Jika kita ditakdirkan bersama


__ADS_3

"Som... apa boleh aku bertanya samamu?" tanya Uba yang masih ragu-ragu untuk mengatakannya.


"Iya katakan saja Uba, tidak perlu takut. Lagian kenapa kamu takut menceritakan masalahmu padaku? Apa aku terlihat seorang yang mudah membocorkan rahasia?" sela Somsi. "Tapi..." Dia menghentikan ucapnya, "Jika rahasia ini memang tak boleh diberitahukan kepada yang lain, apa boleh buat, saya nggak memaksa kamu kok buat cerita."


Dia tersenyum menatap lekat wajah Uba yang masih terdiam seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Uba kenapa ya?


"Terimakasih Somsi sudah mau membuka hatimu untuk mendengarkanku. Aku akan sedikit berbagi cerita kepadamu tentang apa yang sudah aku lalui sepanjang hari ini."


"Kamu tau, aku sangat suka berteman denganmu..."


Jelas itu terlihat asing bagi Somsi. Apa memang itu rahasia yang sangat penting? Sangat aneh.


"Kamu pasti berbohong," terka Uba yang sudah melihat gerak-gerik tangan Uba. Seperti orang ketakutan. "Kenapa Uba? Katakan saja, jika kamu terus menahannya itu akan membuat pikiranmu sakit," usulnya.


Tidak ada pilihan lain lagi, Uba merasa yakin dan percaya terhadap perkataan Somsi padanya. Dia memang tidak harus menyimpan segalanya sendirian, apalagi orang yang bersamanya saat ini adalah orang baik. Tidak mungkin Somsi mau menghianati kepercayaannya.


"Baiklah Som, jika kamu memaksa," ucapnya lesuh. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Somsi yang melihatnya ikut merasakannya. Meskipun dia tidak tau apa yang sedang dipikirkan Uba sehingga dia bisa setakut itu.


"Katakanlah," bujuk Somsi.


Uba mulai menceritakan kejadian yang sudah terjadi padanya dari awal sampai akhir.


"Apa? kamu baru saja mengorbankan keperawananmu demi membuktikan bahwa kamu juga mencintai kekasihmu?" ucap Somsi keheranan. Betapa bodohnya Uba sampai merelakan mahkota sucinya hanya demi cinta.


Dari ceritanya, mereka masih baru saja pacaran. Tapi kenapa Uba mau rela begitu saja memberikan kesuciannya yang belum tentu menjadi pendampingnya di masa depan.


Kenapa Uba mau? Kenapa dia tidak memikirkan dirinya?


Kenapa Uba?


Beribu pertanyaan yang ingin sekali dia tanyakan, namun dia tidak mungkin mengatakannya, Uba pasti akan merasa tersinggung dengan ucapannya nanti.


"Tapi mengapa Uba? Apakah demi cinta? Omong kosong! Aku sendiri tidak percaya apa itu cinta."

__ADS_1


Dia teringat dengan apa yang sudah terjadi kepadanya belakangan hari. Andai saja tidak ada yang datang untuk menolongnya, mungkin nasibnya akan sama seperti wanita yang sedang menangis itu.


"Aku mencintainya Som, aku tidak peduli dengan diriku, aku belum pernah merasakan cinta seperti ini. Yang aku butuhkan selama ini adalah seperti dirinya."


"Apa kau mengerti seperti apa itu cinta? Apakah dia memaksamu untuk melakukannya?" Kemarahannya Somsi memuncak. Dia menjadi sangat benci dengan pria. Pria yang tidak menghargai wanita sama sekali.


"Apakah dia juga mencintaimu, Uba?"


Uba menggeleng dengan kepala tertunduk, "Aku tidak tau."


"Lalu bagaimana nantinya kalau kamu hamil? Bukankah dalam kontrak itu, karyawan biasa seperti kita tidak boleh ada yang hamil?!" kecam Somsi. Dia tidak bisa menahan lagi. Betapa bodohnya Uba yang mau saja disentuh oleh pria itu. Pria itu pasti sudah mempermainkannya. Cih! Semua pria sama saja. Bedebah!


Somsi tiada henti memaki pria itu dalam hatinya. Tidak perduli bagaimana Uba melihat ekspresi mukanya. Apalagi banyak orang yang berlewatan yang sedang memperhatikan mereka.


"Aku juga tidak boleh menyalahkannya. Dia hanya ingin bukti Som... dia mau aku membuktikan cintaku padanya. Aku tau dia akan perlahan mencintaiku."


Cinta itu buta dan tuli, tak melihat dan tak mendengar. Benar sekali arti dari kata-kata itu. Cinta itu membawa kita ke jalan kehancuran. Aku tidak akan percaya dengan cinta!


"Ya, sudah Uba, kalau kamu nanti butuh aku jangan lupa datang padaku, aku siap mendengarkanmu." Sarannya.


Membutuhkan beberapa hari untuk sampai ke sana.


Somsi teringat dengan orang tuanya dan juga adeknya, Friska. Betapa dia sangat merindukan mereka. Dari Kualanamu dia akan meninggalkan kota kelahirannya. Dia akan singgah ke tempat jauh, tempat yang sama sekali terpikirkan olehnya akan pergi ke sana.


Mereka duduk bersampingan di dalam pesawat itu. Dia menggenggam tangan Uba yang masih berlarut dalam kesedihannya. "Yang sabar Uba, semua akan berlalu bahagia nantinya, asal kita percaya bahwa kita akan bahagia suatu hari nanti.


Selama 5 hari di perjalanan akhirnya mereka sampai di bandara Kuala Lumpur, Malaysia. Tapi mereka tidak langsung berangkat. Mereka masih menunggu 2 hari lagi untuk berangkat ke sana. Karena masih banyak lagi yang harus mereka tanda tangani.


Mereka ditempatkan di sebuah hotel yang ada di dekat Kuala Lumpur. Somsi sangat keheranan dengan kemewahan tempat tidurnya di hotel itu. Sprei berwarna putih dengan 2 bantal, dan juga dengan selimut berwana pink dengan gambar Mickey mouse tersusun rapi.


Somsi meraba atas kasur itu. Sangat empuk. Perlahan dia duduk di atas kasur, dia tersenyum dan naik ke tempat tidur dan meloncat-loncat di atas kasur itu.


"Kamu sedang apa Som?" tanya Uba mengejutkan dirinya. Dia takut kalau saja Uba tadi pengurus hotel itu, sudah pasti dia akan dikenai sanksi.

__ADS_1


"Eh... A-aku sangat suka di atas kasur ini, Uba... ayo naiklah, mari kita meloncat bersama," ajak Somsi kepada Gita.


"Tidak, Som... kamu saja, iya? Aku sedang tidak enak badan."


Uba hendak pergi namun Somsi lebih dulu menarik tangan Uba hingga mendekat dengannya.


"Ayolah, Uba, kamu tidak usah taku..."


Sejenak dia berpikir dan akhirnya dia menyetujui permintaan Somsi. 5 menit mereka meloncat bersama, hingga seorang pria datang menghampiri mereka.


"Hmm..." pria itu berdehem. Ganteng tapi dingin.


"Kalian sedang apa?" tanya pria itu. Dia merupakan pelayan yang akan membersihkan kamar hotel itu.


"Ka... kami hari ini sedang bahagia," ucap mereka kompak.


Pria itu tampak bingung dengan apa yang dia dengar dari dua mulut wanita itu. Dia merasa mereka sangat lucu.


***


"Bram... ibu mau bicara sesuatu padamu?" ucap bu Tere dengan sangat hati-hati. Jangan sampai anaknya hancur setelah mendengar semuanya.


"Iya, ada apa, Ma?" tanya Bram. Bram sudah terlihat agak segar dari sebelumnya. Bu Tere merawatnya dengan sangat baik.


"Somsi sudah berangkat ke Malaysia," beritahu bu Tere.


"Apa?" Bram terkejut dengan berita yang baru saja di dengarnya. "Somsi pergi, Ma?"


Deg... hatinya berhenti berdetak. Matanya mulai berkaca-kaca. Wajahnya menunjukkan bahwa pria itu sangat menyedihkan.


Tanpa diketahuinya, wanita yang dia cintai telah pergi jauh darinya. Dia tidak mampu menahan air matanya. Lalu dia menangis di pundak ibunya. Memeluk erat ibunya itu.


"Kamu yang sabar, Bram... percayakan kepada Tuhan, kalau kalian jodoh, kalian pasti di pertemukan kembali."

__ADS_1


Aku akan menunggu takdir Tuhan, jika Tuhan mengijinkan kita bersama, aku sangat bersyukur.


__ADS_2