
"Bram kamu disini?" tanya Somsi telah menemukan Bram.
Bram datang menghampiri Somsi lalu memeluknya. "Syukur lah kamu sudah datang, aku sangat takut," ucap Bram. Terasa bagi Somsi kalau jantung Bram berdetak sangat cepat.
Hutan itu memang sangat di takuti oleh semua orang. Apa lagi kalau dirinya belum pernah kesana. Bram yang sok pintar berani pergi lalu apa yang akan menjadi tambahan dari tabungan nya itu. Dalam hatinya, dia menampakan wajah tidak suka kepada Bram.
"Som.... maafkan aku ya. Gara-gara aku kamu jadi tidak jualan. Aku janji, aku akan ganti semua kerugian mu," timpal Bram.
"Ah gak usah. Aku tidak apa-apa kok. Aku hanya kecewa sebentar mungkin akan baikan nanti," jelas Somsi.
Bram masih melihat wajah kecewa dari Somsi. Dia juga tidak mengira kalau dirinya itu akan tersesat. Baginya, Hanya ingin membantu Somsi saja. Dari akibat sifatnya yang mau menang sendiri membuat Somsi tidak jualan lagi.
"Som... jika wajah mu masih terlihat murung, aku tidak ikut pulang bersamamu. Bagaimana aku bisa melihat kamu kecewa padaku. Meski itu memang salahku sendiri. Tapi aku telah meminta maaf dan akan mengganti kerugian mu. Jadi kumohon jangan memasang wajah murung lagi."
Somsi tidak mendengarkan Bram. Malah terlihat sekali dia memasang wajah cemberut. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Bram. Bram membawa kayu bakar itu meletakan ya di bagian pundak nya.
Sesampainya di rumah Somsi segera dan menurunkan kayu bakar itu.
"Makasih," ketus Somsi lalu meninggalkan Bram diluar. Bram tahu sampai saat ini kalau Somsi masih kecewa kepada dirinya. Dia ingin bertanggung jawab atas semua kesalahan yang telah terjadi akibat dari ulah nya.
"Som..... aku pulang ya. Aku akan tanggung jawab. Jadi stop, jangan sedih," Bram berteriak dari luar. Siapa pun yang sedang menyaksikan mereka berdua pasti mengira tanggung jawab yang dia maksud karna mereka sudah melakukan hubungan intim. Orang-orang disekitar Somsi berbeda dengan orang sekitar Bram. Meski orang menilai kalau disekitar itu sangat suka membicarakan orang. Nyata nya mereka salah. Orang-orang di sekitar situ malah sibuk bekerja.
Bukan pekerjaan bagi mereka jika harus membicarakan orang lain. Memang orang-orang disekitar rumah Somsi kebanyakan bekerja di kantor. Jadi tidak ada kata untuk membicarakan orang lain dalam pikiran mereka.
Somsi sedang memasak. Dia hanya memasak makan malam. Sangat disayangkan sekali dia tidak bisa jualan. Rencana yang telah dia buat untuk memasak mie gomak semua sirna.
"Gara-gara Bram aku jadi tidak jualan," gerutu Somsi.
"Kak... kakak kenapa dari tadi tidak fokus seperti itu," tanya Friska heran. Dari tadi Somsi selalu menjatuhkan barang-barang apa pun yang dia sentuh.
Friska tidak pergi ke sawah karena sudah berjanji pulang sekolah membantu Somsi memasak.
"Ah, gak papa kok dek. Kamu biasa saja melihat kakak seperti itu," ucap Somsi saat melihat wajah bingung adek nya.
Ah masa sih paling kakak putus cinta. Heheheheh.
Somsi menyuruh Friska menjaga api. Kayu bakar itu masih kurang kering sehingga dalam memasak kurang besar apinya atau bahkan mau mati.
__ADS_1
Somsi menyapu rumah. Selesai menyapu dia mengepel. Di rumah Somsi mengepel dengan kain pel yang dibeli di pasar tidak lah benar. Mereka mengepel masih menggunakan kain. Ya, itu memang sangat cepek dilakukan oleh siapa pun itu. Dia juga membersihkan kotoran laba-laba yang mulai lengket di dinding.
Setelah rumah bersih baru lah dia ke halaman rumah. Dia menyapu hingga bersih. Dia juga mencabut rumput yang mulai tumbuh. Meski kecil tapi itu memang penghalang buat Somsi. Jika dibiarkan begitu saja maka rumahnya akan dipenuhi rumput-rumput itu.
Somsi melihat Bram dari kejauhan. Dia tidak ingin berjumpa dengan pria itu. Orang yang telah merusak rencana nya untuk berjualan. Baju yang dipakai oleh Bram sudah berganti. Mungkin Bram sudah mandi. Lain hal nya dengan Somsi. Dari tadi dia membersihkan rumah hingga lupa untuk mandi.
"Mau apa lagi dia kesini. Tidak cukup apa dia merugikan aku," gerutu Somsi.
Sebelum memasuki rumah, Somsi berbalik lagi melihat ke arah Bram.
Dia kemana? kok menghilang. Bukanya dia mau kesini.
Somsi mencari kesana-sini Bram tidak ada.
Ba......................!
Bram dan Lian muncul tiba-tiba. Entah dari mana.
"Aak......" teriak Somsi.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha"
"Kalian apaan sih! bikin jantungan tau!" ucap Somsi dengan nada marah.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Bram. Sering kali Somsi mendengar kata maaf dari mulut Bram.
"Iya."
Jawaban singkat juga kan yang harus dijawab. Somsi terus mengoceh Bram dalam hatinya. Dia sendiri belum bisa memaafkan Bram. Meski dia selalu mengucapkan iya.
"Kalau kalian datang kesini hanya ingin menggangguku, lebih baik kalian pulang saja deh," ucap Somsi meninggikan suaranya.
"Kamu salah paham kali. Kami kesini mau mengasih suprise buat mu," ucap Lian yang membuat Somsi bingung dengan perkataan Bram.
Suprise, suprise apaan. Yang ada dia sudah membuat aku rugi.
"Hei.... mulut kamu bisa diam gak!" seru Bram.
Bram tidak suka mulut ember temanya itu.
__ADS_1
"Mulut seperti betina saja," sindir Bram
"Apa kamu bilang? Betina? kamu aja kali ya. Jangan ajak aku oke!" hardik Lian.
Somsi ingin berlalu meninggalkan mereka berdua yang terus adu mulut. Tidak ada yang mau mengalah.
"Kalau kalian masih ribut seperti ini gak mau diam. Lebih baik aku masuk," ucap Somsi.
"Tunggu dulu!" ucap Bram dan Lian bareng.
"Eh kamu kenapa ikut bicara?" tanya Bram pada Lian.
Somsi menggeleng kepala. "Ada-ada saja mereka ini. Dari tadi gak mau diam dan gak ada yang mau mengalah."
"Som ..... aku kesini mau mengganti kerugian mu karna ulah ku tadi," lirih Bram.
"Itu gak usah dipikirkan. Aku sudah memaafkan mu kok," jawab Somsi.
"Serius Som?" tanya Bram basa-basi.
Somsi menganguk.
"Kalau begitu, terimalah uang ini. Ini hanya sedikit. Semoga bisa membantu," ucap Bram lalu memberikan Somsi sebuah amplop berwarna coklat pada Somsi. Bram meraih tangan Somsi dan memberikan amplop tersebut.
"Cie.... Sudah berani pegangan tanganya," ngeledek Lian menahan tawa.
"Apaan sih! Tidak... tidak.... aku tidak mau menerima uang begitu saja. Bagiku mencari uang memang sulit tapi aku harus mendapatkan uang dari hasil kerja ku sendiri bukan dari orang lain," tutur Somsi. Dia kembali meraih tangan Bram memulangkan uang yang diberikan Bram pada nya.
"Terima saja Som... terima juga cinta nya," ceplos Lian.
Somsi terlonjak kaget dengan kalimat Lian. " Apaan sih gak jelas tau."
Somsi ingin melangkahkan kakinya tapi dihentikan oleh Bram. " Kalau kau gak mau terima uang ini, aku akan cium kamu," ancam Bram.
"Enak saja!" seru Somsi lalu mengambil uang itu dari tangan Bram. Dia masuk kerumah meninggalkan dua pria itu.
Bersambung..................
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate juga😊