
"Eh Uba sudah datang?" tanya Ka borusaragih tengah membawa minuman dingin yang sudah di campur es.
"Iya kak." Uba langsing saja meraih minuman itu dari Ka borusaragih tanpa harus bertanya lebih dulu kepada siapa minuman itu.
"Ehh..." Kaget saat Uba tiba-tiba mengambil gelas itu dari tangannya.
Selesai minum ia meletakkan gelas itu di atas meja lalu duduk bersama Somsi dan Siti di sofa yang sama. Sofa itu berukuran panjang, sehingga bisa diduduki sekaligus tiga.
"Kok kamu ambil gitu aja Joss kakak. Itu minuman mahal loh...."
Minuman Joss sangat baik untuk kebugaran tubuh. Agar tetap fit maka perlu meminum minuman Joss itu.
Sudah terbukti aman BPOM dan juga tidak berbahaya.
Uba cengengesan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Ka borusaragih. "Syukurlah kak, baru ini aku minum begituan."
Ka borusaragih mengumpat kesal. Jawaban Siti sungguh tidak nyambung dari kalimatnya.
"Kok syukur. Emang Uba belum pernah minum Joss?" tanya Ka borusaragih langsung to the point.
Uba mengangguk. "Iya kak."
"Bagi kami kak yang pendapatan dikit atau biasa di bilang miskin, sudah terbiasa tidak minum apa-apa kak. Ya walaupun itu dibilang banyak vitamin lah, bagus untuk kesehatan lah... tapi kami selalu memikirkan bagaimana kebutuhan untuk hari esok kak. Maksudnya kalau kami habiskan uang itu sekarang jadi untuk besok apa? begitu kak." Jelas Somsi.
Semua ia jelaskan dari setiap perjalanan kehidupan yang sudah ia lalui. Sungguh mereka diharuskan untuk selalu hemat. Tidak boleh berfoya-foya atau mengaku-ngaku anak orang kaya. Sama saja itu tidak melebihi lebih kan fakta yang sebenarnya.
"Owh begitu ya dek. Maaf ya dek, kakak bertanya berlebihan."
Ka borusaragih merasa kalau perkataan ya telah melukai hati orang yang mendengarnya. Maka lebih baik ia meminta maaf terlebih dahulu untuk tidak timbul kesalahpahaman.
"Oke kakak ambil minum untuk Somsi lagi ya. Soalnya Uba ambil minuman yang punya Somsi."
"Oke kak." jawab mereka bertiga.
Sambil menunggu kedatangan Ka borusaragih datang. Uba memulai percakapan terlebih dahulu. Membuka suara memecahkan kebisuan mereka.
"Kalian kesini naik apa?"
"Naik Avanza."
Somsi menjawab dengan cepat. Dia mengira kalau nama motor Siti adalah Avanza.
Siti menahan tawanya. Ia begitu terkejut sekaligus membuatnya senang. Karena jawaban Somsi cukup membuatnya tertawa.
"Ha ha ha ha, kau katakan apa tadi Som? Avanza?" Siti menutup mulutnya agar tidak menampakkan senyum yang terlintas di bibirnya itu. Siapa sih yang tidak ketawa kalau mendengar seseorang mengatakan kalau motor ada yang bermerk Avanza. Sungguh membingungkan.
__ADS_1
"Iya Sit, emang kenapa?" tanya Somsi polos.
"Kamu salah sobat ku, kita tidak menaiki mobil sayang, hahahahahah." Siti sudah tidak bisa lagi menahan tawa. Semua ia keluarkan tanpa harus menutupinya lagi. Orang yang menahan tawa, bisa-bisa dead duluan dia.
Somsi menggaruk kepalanya dan menatap Siti sambil menaikkan alisnya sebelah kanan. "Heheheh, aku tidak tau Sit."
Perasaan malu yang tersembur keluar begitu saja, membuat Somsi menunduk malu. Bagaimana bisa untuk merk mobil dan motor saja ia tidak tau. Apa mungkin gara-gara mereka tidak punya?
Jadi Uba kenapa bisa tau ya?
"Iya nggak papa kok. Namanya juga belum tau. Ya nggak mungkin kita tau namanya kalau belum kita lihat dan dengar langsung," jelas Siti sambil tersenyum tulus.
"Kalau kau Uba? apa sama dengan Somsi. Sama-sama belum tau apa-apa mengenai mobil dan motor?" tanya Siti dengan tatapan serius.
"Ya tau lah. Orang selalu lihat iklannya di televisi."
Uba biasanya setelah siap menyelesaikan pekerjaan ya, ia pergi ke rumah tetangganya untuk menonton. Ia menonton hanya untuk menghibur dirinya sendiri. Nggak lebih dari itu.
"Meskipun kalian tidak punya tv, tidak anak orang kaya, tapi kalian tetap saja bisa tersenyum. Aku nggak tau bagaimana kalau aku yang berada di posisi kalian itu."
Siti menunduk. Dia tidak menyangka selama hidupnya selalu bertemu orang-orang yang baik dan bahkan kehidupannya lebih rendah dari orang-orang itu. Tapi mereka semua memiliki sifat yang selalu tetap setia menjalani manis pahitnya kehidupan ini.
"Jangan gara-gara itu kamu sedih Sit. Selama ini, meski kau anak orang kaya, tapi kau tidak pernah sombong. Kau selalu menemani orang-orang yang statusnya lebih rendah darimu." Somsi langsung mengatakan sesuatu yang bisa membuat Siti untuk tidak mengeluh atau merasa minder. Toh semua anak menginginkan lahir di keluar kaya, kalau sudah nasibnya lahir pada keluarga yang miskin, ya apa boleh buat. Tuhan memiliki beribu-ribu cara yang tidak pernah kita ketahui datang begitu saja dan menjadi berkat yang terindah untuk kita semua.
Karena dari tadi asik berbincang saja, mereka sampai tidak tau kedatangan Ka borusaragih.
Uba mendongak ketika Ka borusaragih tiba-tiba ia lihat sudah disitu saja. "Ha, kakak sudah disini? kol aku tidak tau kalau kakak sudah datang."
"Sama aku juga tidak tau." Serempak Somsi dan Uba menyahut.
"Yaudah karena sudah tau kakak disini mari kita masuk ke tahap yang sesungguhnya."
"Tahap apa kak?"
Seorang Uba yang tidak mengerti maksud kata dari Ka borusaragih mendongak dengan mata melotot.
Wah, aku bertemu dengan anak yang super lemot. Dari tadi buat aku merasa ingin marah saja. Untung aku baik, bersyukur dia bertemu dengan aku. Bagaimana kalau sampai temanku yang killer menanganinya. Bisa-bisa dia tidak tahan dengan sifat temanku itu.
Ka borusaragih tiba-tiba diam.
Satu menit Somsi, Siti dan Uba menunggu Ka borusaragih untuk bicara yang tak kunjung sadar dari tatapan kosongnya. Yang diam mematung.
"Hei kak! kenapa malah bengong?" Siti mengejutkan Ka borusaragih. Mengapa ada orang seperti Ka borusaragih yang tiba-tiba diam saat berbicara. Atau jangan-jangan Ka borusaragih sedang sakit ya?
"Maaf dek ya .... kakak sudah buat kalian lama menunggu." Ka borusaragih hanya melempar senyum tulus dari setiap inci dari wajahnya itu.
__ADS_1
"Kakak kenapa bengong?" tanya Siti ulang.
Dia penasaran mengapa Ka borusaragih diam mematung begitu saja. Rasa penasaran yang sangat kuat sehingga orangnya harus bertanya lebih banyak.
Ya aku mau jawab apa. Soalnya aku bengong gara-gara teman kalian itu tuh. Yang super lemot.
Dengan lekukan senyum di wajahnya, Ka borusaragih memperlihatkan senyumnya agar mereka berhenti curiga dan juga berhenti untuk bertanya-tanya lagi.
"Kakak nggak papa kok sayang," ucap Ka borusaragih lembut.
"Serius?"
"Mi apa?" sahut Ka borusaragih.
"Mie gomak." Semua pada ketawa mendengar Somsi yang melanjutkan kalimat yang seharusnya lanjutannya mie goreng menjadi mie gomak.
"Hu.... mentang-mentang ini yee ... mentang juara 1 dalam lomba memasak hahahahah."
Suara mereka Siti dan Uba mengisi seluruh isi rumah Ka borusaragih.
"Juara apa ya dek?" tanya Ka borusaragih penasaran.
"Ya juara lomba memasak lah kak. Lomba apa lagi coba," sergah Siti dengan mulutnya yang lantang.
"Ya mana kakak tau. Orang kakak sibuk mengurus orang-orang yang ingin bekerja ke Malaysia. Kakak bukan tipe yang longgar waktu dek, jadi maklum saja hehehe." Ka borusaragih mengakhiri kalimatnya dengan tawa kecil. Itu ia lakukan ya supaya perkataan ya tidak di bawa ke hati.
"Hmmm iyalah kak." jawab ketus Siti namun bukan karena tersinggung. Biar simpel aja gitu.
"Oke dek. Biar nggak menghabiskan waktu. Cepat dek serahkan ke kakak uang masuk yang sudah kalian bawa itu. Biar kakak ceklis dan kalian bisa secepatnya pulang. Kalau soal kepengurusannya kakak akan mengurusnya nanti." Jelas Ka borusaragih sangat jelas dan tidak tertutup.
Somsi meminta uangnya terlebih dahulu kepada Siti. Karena ia hanya membawa uang sebesar 5 juta saja. Selebihnya ia tinggalkan di rumah untuk kebutuhan mereka nanti.
Somsi dan Uba menyerahkan uang itu. Mereka berharap semua berjalan lancar dan tidak tertipu dengan Ka borusaragih ini. Siapa yang tau sifat manusia yang sebenarnya setelah mentang uang. Uang adalah segalanya. Ada yang mengatakan uang bukan segalanya. Ya bagaimanapun kita mengelak uang tetap segalanya.
Usai menyerahkan uang itu, Somsi, Siti dan Uba pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
"Kak, kami pulang dulu ya. Sudah sore ini." ucap mereka bertiga bersamaan.
Ka borusaragih menganguk. " Ya dek. Hati-hati di jalan ya."
Somsi dan Siti naik motor bersama. Sedangkan Uba masih seperti biasa masih jalan kaki.
Sebenarnya Somsi kasihan melihat Uba yang berjalan seorang diri. Padahal bulan yang lalu mereka pulang barengan. Ya mau gimana lagi. Somsi sudah terlanjur punya asisten pribadi yang setia. Eh sahabat sejati yang selalu setia padanya maksudnya.
Bersambung.....................................
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorite sebanyaknya๐๐๐๐