Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 19


__ADS_3

Somsi menangis. Apa yang akan dia lakukan. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu.


Tiba-tiba tangan ayahnya bergerak.


"Papa.....!" Somsi mendekat menghampiri pak Nius.


Ayahnya mulai sadar.


Friska.........


Kata itu yang keluar dari mulut pak Nius dan kembali menutup matanya lagi.


Somsi khawatir dengan keadaan ayah nya itu. Lalu dia membawa ayahnya ke dalam kamar dan membaringkan ayahnya disana.


Papa cepat lah sadar. Aku rindu suara papa. Kapan papa akan sadar.


Somsi tertidur di samping pak Nius. Dia duduk sambil meletakkan kepalanya dikasur.


Friska masuk dan melihat keadaan ayah nya itu. Dia masih merasa sangat bersalah sekali. Dari semua ulahnya mengakibatkan hal buruk yang sangat fatal.


Dia mengambil selimut dari kamar. Dia menyelimuti kakak nya itu.


Kak... ini semua kesalahan Friska. Harusnya Friska tidak terlalu gegabah menggadaikan rumah ini. Ini semua salah Friska. Yang harus bertanggung jawab disini hanya aku kak...


Friska terus menyalahkan dirinya. Dia begitu memprihatinkan. Mata yang bengkak dan tenggorokan nya yang sakit. Itu merupakan bukti dari tubuh yang sangat memprihatinkan itu.


Mengapa semua ini harus terjadi? Apakah keluarga kami tidak akan bahagia? Kalau kakak tidak bisa membayar dalam seminggu. Kemana kami akan tinggal? oh Tuhan tolong lah kami.


Dia selalu memikirkan akan apa yang terjadi pada keluarga nya itu.


Tidak ada satupun cara yang bisa dia lakukan. Dirinya belum tamat sekolah. Kemana dia akan mencari pekerjaan. Kakak nya sendiri sampai saat ini belum mendapat pekerjaan.


Aku akan cari cara....


Kalimat itu yang keluar dari mulutnya lalu tertidur pulas. Mata itu terlalu lelah. Banyak sekali air mata keluar dari sana. Dia berharap semua bisa berubah. Nasib mereka berubah.


...****************...


Gelap menjadi terang. Suara kicauan burung-burung sudah bernyanyi. Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya. Silau matahari itu tepat tertuju di matanya.


Sudah pagi....


Dia beranjak dari tempat duduknya lalu pergi ke dapur untuk memasak. Dia terkejut melihat orang yang berada di dapur.


"Mama... mama sudah disini," tanya nya heran.


Dia tidak mengira kalau mamanya sudah bangus sebelum dirinya. Bahkan semua sudah siap. Mereka tinggal menyantap makanan yang sudah siap dimasak itu.


"Eh, putri mama sudah bangun rupanya. Papa kamu sudah bangun nak? ayo antar semua makanan ini ke depan biar kita makan," ucap bu Wati lembut.


Sejak kapan mama seperti ini...

__ADS_1


Semenjak Somsi sendiri sudah tahu memasak. Sudah sangat jarang sekali mamanya memasak. Tetapi kali ini seperti mujizat saja. Datang entah dari mana.


Somsi segera menyiapkan makanan itu dan mengantar nya ke depan.


Somsi pergi ke kamarnya untuk memanggil Friska.


"Dek... bangun. Kita mau makan," ucapnya dengan menggoyangkan tubuh adek nya.


Friska bergerak kesana kemari belum membuka matanya.


"Dek....!" Somsi kembali menggoyang tubuh itu.


Friska membuka mata nya pelan. Terasa sakit saat membuka matanya itu.


"I-iya kak... aku akan pergi cuci muka," ucapnya pergi ke kamar mandi belakang.


Menunggu kemunculan adek nya itu. Dia memasuki kamar orang tuanya. Dan melihat ayahnya yang masih terbaring lemah.


Pa .... bangun. Kita mau makan. Biasanya papa lah yang menyuruh Somsi supaya menyiapkan sarapan pagi cepat-cepat. Tapi papa kok sampai hari ini masih belum sadar. Aku mohon pa... cepat lah sadar. Aku menunggu papa sadar.


Somsi meninggalkan pak Nius sendirian di kamar. Lalu dia datang menghampiri ibu dan adek nya.


Mereka semua makan tidak semangat seperti biasanya. Mereka semua makan seperti ada beban di kepala.


Sesudah makan dia datang ke kamar menghampiri ayah nya. Setelah beberapa lama disana dia mulai sadar kalau seharusnya dia pergi ke sawah untuk bekerja. Dia pergi ke dapur dan melihat persediaan rumah kosong. Dia sedih dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Bagaimana ini? semua persediaan makanan sudah habis.


Selama ini mereka bisa makan karena ibu nya bekerja di sawah mereka sendiri sedangkan ayah nya gajian ke ladang orang. Kalau tidak mengangkat sawit, ayah nya juga menderes.


Ayahnya masih belum pulih dari sakitnya. Ayah yang sangat dia sayangi yang terbaring dikasur.


Papa... kemana aku akan mencari pekerjaan. Aku tidak tahu kemana tujuanku sekarang.


Somsi pergi ke sungai. Disana lah dia bisa menghibur hatinya. Setiap masalah yang menimpanya, dia selalu datang ketempat itu.


Puk.......................


Suara lemparan batu ke sungai.


Somsi tidak menyadari kalau ada ada orang melempar batu ke sungai.


Puk....... puk...............


Dua batu sekaligus di lempar ke sungai.


Siapa itu?


Somsi melihat ke arah air yang bergetar. Dia melihat ke belakang.


Ba..........................

__ADS_1


Somsi terlonjak kaget. Hatinya seakan mau copot.


"Kamu! Sedang apa kamu disini?" tanya Somsi tidak suka.


"Aku? aku tidak sengaja lewat dari sini," ucap Bram bohong.


Dari tadi Bram sudah mengikuti Somsi dari belakang. Somsi tidak menyadari kalau dia sedang diikuti seseorang karena suasana hatinya yang memburuk.


"Kalau begitu, silahkan pergi!" ketus Somsi.


"Aku juga mau singgah disini."


Bram duduk disamping Somsi. Somsi tidak suka Bram duduk di sampingnya. Lalu dia ingin berdiri tapi ditahan oleh Bram.


"Duduk lah. Aku tidak akan mengganggu kamu. Kamu boleh mencurahkan isi hati kamu padaku. Aku siap mendengar," ucap Bram.


Apa? Apa yang sedang dia katakan...


"Aku tidak mau berbicara. Aku gak papa. Aku datang ke sini hanya untuk melihat pemandangan saja."


Somsi berbohong pada Bram kenapa dia bisa disitu.


"Pemandangan? pemandangan apa maksudmu. Disini aku tidak melihat apa-apa kecuali air sungai ini mengalir."


Bram berusaha memancing Somsi agar dia mau mencurahkan segala isi hatinya.


Bilang lah... kamu tak perlu segan. Aku siap membantumu. Mau berapa lama kamu terus berlarut dalam kesedihan? Jangan sok tegar.


Bram terus melihat Somsi. Sekali-kali dia membuang tatapan nya itu ke sungai. Melihat ke kiri dan kekanan. Agar Somsi tidak merasa risih.


"Benar, kamu tidak mau bicara. Aku siap loh... mendengar curahan hatimu," ucap Bram tulus.


Somsi yang melihat Bram yang sangat tulus ingin mendengarkan dia membicarakan masalah yang dihadapinya. Dia mulai mengatakan mulai awal terjadi masalah sampai sekarang.


Apakah dia tulus mendengar ku?.....


Somsi akhirnya menyerah pada hatinya yang selalu mengatakan untuk menceritakan masalahnya itu.


"Jadi begini Bram. Kemarin malam...," Somsi menceritakan tentang apa yang terjadi dengan adek nya. Dia juga menceritakan ibunya yang tidak mau bicara pada Friska.


Yang menyalahkan Friska kalau yang terjadi pada suaminya itu gara-gara Friska. Ayahnya yang masuk rumah sakit dan siapa yang sudah membayarnya.


Dia juga menceritakan kalau rumah mereka sedang digadaikan.


Persediaan mereka yang sudah tidak ada lagi. Dan tidak lupa juga dia menceritakan kalau ayahnya di tabrak lari. Orang itu tidak mau bertanggung jawab atas kecelakaan yang dia lakukan pada ayahnya.


Bersambung...................


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.

__ADS_1


__ADS_2