Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 16


__ADS_3

Friska tertidur tanpa makan. Matanya sudah bengkak. Dia lelah menangis dan memilih tidur.


Somsi datang menghampiri Friska lalu merebahkan tubuhnya di samping Friska. Dia memegang wajah adek nya yang dia tampar tadi. "Dek maaf... kakak tadi sudah menamparmu."


Somsi kembali tidur. Masih banyak pekerjaan yang akan dia lakukan untuk besok. Dia harus mempersiapkan dirinya melalui pahit manisnya kehidupan.


Jam tengah 12 malam. Somsi terbangun karena Friska bermimpi. "Ma... maafkan aku."


Kata-kata itu yang keluar dari mulutnya, saat Somsi membuka mata.


"Kasihan sekali kamu dek," lirih Somsi.


Dia kembali menutup matanya. Dia berharap akan ada masa depan yang indah menghampiri mereka.


...****************...


Sinar mentari pagi telah menunjukkan cahaya nya. Tanda hari sudah terang. Dan orang-orang akan beraktivitas.


Somsi sudah melakukan segala pekerjaan nya. Dia cepat pergi ke sawah sebelum dirinya terlambat. Ibu yang pakai bedak dingin sedang mengajak orang-orang untuk bekerja pada nya dan mendapat upah.


"Bu.... maaf saya terlambat," ucap Somsi bergegas ke sawah setelah mengganti bajunya.


Ibu itu menganguk iya. "Iya nak."


Rasa lelah yang dirasakan oleh tubuhnya memilih bertahan sampai semua pekerjaan nya tuntas.


"Dek... uang kamu sudah cukup?" tanya ibu pakai bedak dingin.


"Owh ya bu. sebelum aku menjawab pertanyaan ibu. Aku ingin bertanya dulu. Nama ibu siapa. Gak mungkin aku selalu tandai ibu yang pakai bedak dingin," tutur Somsi.


Ibu itu tertawa. " Ha ha .. panggil saja ibu bu Risma."


"Owh bu Risma toh...," ucap Somsi menyunggingkan senyuman manis nya.


"Kamu manis juga dek. Selain cantik kamu juga termasuk orang manis dek," puji bu Risma.


"Ah ibu bisa saja."


Somsi senang sekali jika orang-orang memuji dirinya. Bukan karena sok cantik memang dia suka begitu. Mungkin hanya itu lah yang menjadi kelebihan nya.


"Aku juga punya putri yang cantik tapi putri ku berbanding terbalik dengan sikap anak ini."


Seorang ibu memuji Somsi lagi. Ibu Santa namanya.


"Hehehehe Makasih bu. Semua anak sama kok bu. Itu tergantung pada orang tua yang telah mendidiknya," jawab Somsi.


"Maksudnya dek?" tanya bu Risma bingung.

__ADS_1


"Yah gimana orang tuanya mengajarkan nilai-nilai baik bu," ucap Somsi melebarkan matanya. Dia sudah sangat haus sekali. Ingin mengambil minum tapi tidak mungkin.


Itu namanya tidak menghargai pemilik sawah.


Somsi menunggu jam yang tepat untuk minum. Lagian tanggung sekali. Sebentar lagi akan jam makan siang.


Semua sudah fokus pada pekerjaan mereka. Karena ini adalah jam makan siang. Jadi rasa lelah mereka masih bisa ditahan.


Setelah alarm bu Risma berbunyi. Mereka naik dan beristirahat.


"Nak makasih ya," ucap bu Risma dan menyerahkan upah nya Somsi.


"Iya bu. Terimakasih kembali."


Somsi pergi pulang meninggalkan mereka. Dia senang kalau dirinya selalu di terima bekerja. Hari ini dia diajak oleh bu Risma ke tempat teman nya. Dia sangat disukai dalam bekerja.


Mungkin karena kecepatan dan kegigihannya.


Membuat dirinya banyak disukai. Apa lagi dia mempunyai sikap yang baik dan ramah. Tentu saja dia disukai oleh banyak orang.


Somsi kembali ke rumah dengan berlari sangat cepat. Dia tidak sabar untuk memasak mie gomak dan gorengan buatannya.


Hari ini dia semangat memasak. Karena semalam dia tidak jualan.


Somsi membawa keranjang gorengan dua tempat. Satu tempat mie dan satu tempat lagi untuk gorengan.


Somsi mengeraskan suara nya. Dia sungguh tidak sabar orang-orang membeli semua macam dagangan yang dia jual.


Semua pelanggan tetap dan yang baru datang menghampiri. Mereka sangat menikmati dan lahap memakannya.


"Kak..... aku satu lagi."


Wah bagus dek. Semangat tambahnya.


Adik kecil dari tadi selalu bertambah. Baik Mie, bakwan dan perkedel dia selalu mencoba semua rasa yang ada.


"Baik dek. Sini piring mu."


Karena memasak mie, Somsi jadi repot membawa piring, sendok dan air minum.


Dia meninggalkan dagangannya di kursi taman. Taman sederhana yang baru saja dibangun oleh pak Susilo. Presiden negara Indonesia.


Dia memilih tempat itu. Karena masih baru dibangun dan bangunan yang telah direnovasi oleh presiden sendiri. Pasti banyak yang akan datang kesitu.


Semua orang di tempat itu singgah untuk makan. Mereka memuji masakan Somsi.


"Enak sekali."

__ADS_1


Semua orang yang memuji nya membuat telinga Somsi ingin terbang. Dia selalu memegang telinganya saat orang-orang memujinya.


Telingaku jangan terbang ya, aku mohon.


Dia kembali fokus pada dagangannya. Kali ini dia cukup mendengar dan tak berlebihan.


Semua dagangan nya nyaris laku semua. Dia pulang ke rumahnya. Dia sangat senang sekali bakat dari ibunya turun pada dirinya. Bakat memasak itu dia dapatkan dari hasil perhatian yang selalu dia gunakan untuk memperhatikan tiap detail saat ibunya memasak.


Dia sangat bersyukur sekali bisa memiliki ibu seperti bu Wati.


Saat dia sampai di rumah. Dia melihat banyak sekali orang.


Sedang apa mereka semua, apa yang telah terjadi di rumah kami.


"Pak... aku mau tanya. Dirumahku kenapa banyak orang ya pak?" tanya Somsi.


"Papa kamu kecelakaan dek," ucap Bapak itu.


Somsi terlonjak kaget dan menjatuhkan barang-barang yang dia junjung.


Papa..................


Dia berlari sekuat mungkin. Air mata di pipinya sudah mengalir. Kejadian apa lagi yang telah menimpa keluarganya.


Somsi berhenti didepan pintu dan melihat ayahnya tidak sadarkan diri. Tidak ada yang membawa ayah nya itu ke rumah sakit. Dia berteriak histeris melihat kejadian itu.


"Papa... kenapa bisa begini. Hiks .... hiks... mengapa cobaan ini silih berganti," Somsi tidak bisa menahan air mata nya yang selalu menembus ingin keluar.


"Mama... kenapa papa bisa kecelakaan seperti ini. Bukannya papa tadi disawah," tanya Somsi memasang wajah sedih. Sayup di matanya menandakan dia sudah tidak tahan lagi hidup. Rasa bersabar selalu ada pada dirinya itu.


Bu Wati hanya diam saja. Semenjak kejadian yang telah dilakukan oleh Friska. Dia tidak seperti dulu lagi.


Somsi menggoyangkan tubuh ibunya. Tetap saja tidak menyahut. "Ma...jangan seperti ini, jangan diam saja."


Somsi tidak bisa menahan air mata nya lagi. Hingga akhirnya dia jatuh pingsan. Dia dibawa ke kamar untuk beristirahat. Ibu Wati tidak menghiraukan putrinya itu. Entah mengapa ibunya kini berubah drastis. Apakah karena semua masalah yang menimpa mereka atau karena perkataan putri bungsunya semalam. Tidak ada yang tahu.


"Wah, kasihan sekali bu Wati. Sampai sekarang dia selalu diam," ucap salah satu ibu yang berada di kerumunan.


"Iya nih.... Kasihan sekali. Dari dulu sampai sekarang keluarga ini tidak pernah bahagia. Selalu diliputi kesedihan. Kasihan."


Ibu yang memakai jilbab putih terus memperhatikan bu Wati. Dari tadi yang dia perhatikan hanya lah bu Wati. Dia selalu duduk di samping suaminya itu tanpa sedikit pun berbicara. Dia tidak tega melihat keadaan bu Wati. Dia ingin bu Wati kembali seperti dulu lagi. Yang selalu terlihat senang meski semua masalah silih berganti.


Bersambung........


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate sebanyaknya😊

__ADS_1


__ADS_2