
Setelah ia mencicipinya matanya terbuka lebar. "Wow." Bu Wati sangat menikmatinya. Lalu ia mengambil piringnya langsung menyendok nasi dan melahapnya.
Nikmat sekali. Ternyata Friska pandai juga memasak. Ahh masa sih... nggak mungkin. Mungkin seorang peri datang membantunya.
Bu Wati malah bergumam. Ia heran dengan putri sulungnya. ia tidak menyangka kedua putrinya mengikuti jejaknya, sebagai pemasak yang digemari oleh setiap orang yang memakannya.
"Friska yang sudah memasaknya nak."
Ha?
Ohok.... ohok....
Somsi terbatuk mendengar ucapan bu Wati.
Ternyata firasatnya benar. Ia juga tadi berpikir kalau Friska laj yang memasaknya.
"Apa mama bercanda?"
"Iya nak... ngapain mama bercanda. Iya memang benar," jelas bu Wati dengan wajah serius. Tanda ia tidak berbohong.
"Ah masa iya sih ma?" tanyanya lagi.
"Iya nak."
Somsi tercengang mendengar bu Wati kalau Friska lah yang memasak. Memasak lauk dan sayuran yang sangat lezat.
"Friska juga yang membereskan semua ini," ucap bu Wati. Lalu ia menunjuk lantai, "Pagi-pagi sekali Friska sudah mengepel lantai ini."
Ha?
Somsi tambah tercengang mendengarnya.
"Kata Friska tadi, ia akan berusaha mandiri. Dia tidak mau bergantung lagi padamu nak."
Somsi tersenyum senang. Ternyata adeknya mau mengubah kebiasaanya. Padahal ia tidak memaksanya. Karena Somsi berpikir, bertambahnya usia seseorang ia akan bersikap lebih dewasa lagi.
"Ma.... aku senang mendengarnya. Ternyata Friska mau berubah juga ya," ucap Somsi.
Usai makan Somsi pergi meninggalkan bu Wati yang masih tertinggal makan.
"Ma... Somsi pergi dulu ya..."
"Mau kemana nak?" tanya bu Wati menghentikan langkah kakinya Somsi.
"Mau menderes ma."
__ADS_1
Somsi mengambil tas spesial ke ladang dan juga pisau sadap, lalu memasukkannya ke dalam tas itu.
Somsi melajukan langkahnya cepat. Tidak lupa ia mengenakan jaket lengan panjang yang sudah buruk untuk menutupi kulitnya dari gigitan nyamuk.
Ya pasti pada tau kan kalau di hutan itu banyak nyamuk hutan yang besar-besar dan kalau menggigit gatalnya luar biasa, bengkak sampai beberapa jam. Lebih parah dari gigitan semut.
Somsi yang membawakan jerigen air minum yang berisi penuh dan juga tidak lupa membawa nasinya ketika ia beristirahat nanti.
Somsi sampai juga disana. Dia lalu memulai pekerjaan ya menyadap satu persatu batang karet dengan begitu lancarnya. Suatu kelebihan juga baginya sebagai perempuan. Tugas dari pria saja ia bisa lakukan.
Tanah dari leluhur kakeknya yang hanya mempunyai ukuran sebesar 10 meter. Tempat dimana Somsi menghabiskan waktunya ketika masih kecil di tingkat SD.
Somsi mulai tau cara menyadap karet saat ia duduk di kelas 4 SD. Ayahnya membawanya kesana. Somsi tidak disuruh melakukan apa-apa. Hanya saja Somsi diam-diam belajar dan hari-hari yang mereka lalui selalu ia gunakan untuk belajar, hingga pada akhirnya ia pun tau cara menggunakan sadap tersebut.
Ssssssshhhh......
Ki ki ki ki ki ki....
Suara orang dan gerakan dari pohon membuat Somsi tiba-tiba ketakutan seorang diri. Bagaimana tidak. Dia adalah seorang wanita, tidak sepantasnya ia berada di hutan sendirian.
Ya Tuhan..... suara apaan itu. Kumohon Tuhan jagalah aku. Semoga aku selalu dalam perlindungan-Mu.
Somsi berhenti menyadap pohon karet itu dan singgah ke pondok tempat ia singgah tadi. Ia pelan-pelan berjalan agar tidak terdengar suara dari kakinya.
Ba.................
MAMA.......... TOLONG AKU..............!
Somsi berteriak histeris mengisi kesunyian di hutan tersebut.
Hahahahaha....
Suara orang tertawa sesudah Somsi berteriak keras. Lalu ia berbalik dan ingin melihat siapa yang sudah berani mengerjainya itu. Karena ia melihat kayu kecil, ia ambil dan ia pukulkan ke kepala orang tersebut.
Awww.......
Orang tersebut meringis kesakitan.
"Bram?"
Somsi heran dengan apa yang baru saja dilihatnya. Orang yang dihadapannya tidak lain adalah Bram situkang ulah pengganggu.
Tidak ada kapok-kapoknya Bram mengganggunya.
"Siapa disana?" ucap dua orang bapak-bapak berlari ke arah mereka.
__ADS_1
Mungkin mereka terkejut dengan teriakan Somsi tadi.
"Kenapa kau berteriak nak?" tanya bapak-bapak yang memakai sepatu Boots.
Sedangkan bapak yang satunya hanya memakaikan topi dikepalanya. Dan itulah yang membedakan mereka. Sebab wajah mereka berdua ditutupi masker. Dan baju mereka sama pula.
"Iya nak, kamu kenapa?" tanya bapak-bapak yang memakai topi. Lalu menoleh pada Bram, "Kau siapa nak?"
Bapak yang memakai topi itu bertanya pada karena heran dengan keberadaan Bram yang tiba-tiba datang. Padahal ia melihat Somsi tadi hanya datang sendirian. Lalu siapa pria yang sekarang bersama Somsi ini?
Bram karena penduduk kampung sebelah, jadi mereka tidak mengenal Bram. Jangankan untuk mengenalnya saja, selama ini mereka sibuk ke sawah dan ladang karet mereka. Berbeda dengan para tetangga Somsi yang sudah mengenal betul siapa itu Bram.
"Bram, kenapa kau disini?" tanya Somsi marah.
Somsi sangat kesal dengan keberadaan Bram yang mengejutkan dirinya secara tiba-tiba. Tentu saja itu tidak menyenangkan bukan? Disaat kau tengah fokus melakukan pekerjaanmu dan tiba-tiba saja seseorang mengagetkanmu. Siapa yang tidak akan marah dan emosi menaik. Lama-lama jadi darah tinggi jadinya.
"Bram, aku bertanya padamu!" ulang Somsi lagi dengan suara agak dikeraskan sedikit. Ia tidak mau bapak-bapak itu mendengar suara kasarnya.
"Hmmm.... aku hanya ingin mengambil obat herbal disini. Kata mama obat herbal banyak disini."
Hal yang membingungkan bertambah lagi pada pikiran Somsi. Obat herbal? Bukannya mereka orang kaya? Jadi, untuk apa obat herbal itu, beralasan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Bram mengeraskan suaranya, "Apa kau pikir aku datang kesini hanya untuk menemui mu? Jangan geer."
Bram kemudian pergi meninggalkan Somsi dan kedua bapak itu disana. Mereka saling pandang satu sama lain. Hanya gara-gara Bram pekerjaan mereka tertunda.
Hu... dasar aneh.
"Kalau memang tidak ingin menemuiku, jangan buat aku kaget.......! Kau mengerti?!" teriak Somsi. Lalu menendang kayu yang ia pukulkan ke kepala Bram.
Ya tentu saja itu sangat sakit. Tapi apa boleh buat Somsi sudah terlanjur memukulnya karena ulahnya sendiri.
"Huuu... tau-taunya begini, mending kita nggak datang kesini. Buat apa kita menghabiskan waktu hanya menyaksikan mereka," keluh bapak yang memakai sepatu boots.
Mereka pergi meninggalkan Somsi sendirian yang masih mematung seorang diri. Apa Bram marah padaku?
Pertanyaan itu muncul dalam relung hatinya yang paling dalam. Ia takut kalau Bram akan tersinggung dengan perkataannya dan memilih. tidak mau berteman lagi dengannya. Ya meskipun Somsi menolak cinta Bram. Tapi ia tetap ingin berteman baik dengannya.
Tangan Somsi mulai tergerak. Lama sekali ia diam sejenak dan menghayal berlebihan.
"Apa Bram marah padaku? oalah...." Lirihnya.
Somsi yang tengah memikirkan Bram tidak menyadari kalau hari itu sudah menunjukan jam 03:00 sore. Somsi membawa tasnya yang didalamnya berisi pisau sadap dan alat-alat lainnya.
Bersambung...................
__ADS_1
TBC
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate (5) and favorit sebanyaknya