Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 15


__ADS_3

Somsi heran dengan isi amplop itu. Amplop yang isinya tebal. Dia meneliti amplop tersebut dengan tanganya.


Ini apaan ya? kok tebal amat, kalau ini hanya 50 ribu saja pasti gak setebal ini juga.


Dia lalu menyimpan amplop itu ke bawah kasur. Lalu dia duduk sebentar.


Meski hatinya sudah sangat penasaran ingin melihat isi amplop itu tetap dia menahan keinginannya itu.


Somsi pergi ke kamar mandi belakang. Semua pekerjaan nya telah siap. Friska sudah mandi lebih dulu.


"Kemana Friska ya, kok dari tadi gak ada suara nya," lirih Somsi.


Dia tetap pergi ke kamar mandi. Dia tidak peduli lagi apa pun yang telah terjadi saat itu, tidak ada yang lebih menyenangkan saat sudah mandi.


Lama sekali Somsi mandi. Orang tuanya sendiri sudah pada pulang.


"Nak.... kamu masih lama ya?" tanya ibu Wati dari luar.


"Eh, iya ma... bentar lagi," jawab Somsi.


Somsi langsung cepat-cepat menuangkan air ke tubuhnya. Air segar meresap ke tubuhnya yang halus.


"Wah... aku lupa bawa pakaian ganti nih," lirih Somsi.


Dia sengaja tidak membawa pakaian gantinya karena ayah dan ibu nya belum pulang. Karena kelamaan di kamar mandi dia jadi lupa kalau orang tuanya akan pulang dari sawah.


"Dek.... dek.... ambil kan pakaian ganti kakak nya dek," suruh Somsi.


Dia baru mengingat kalau adek nya dari tadi tidak ada di rumah.


"Ma... ma... pakaian ganti ku ya ma," suruh Somsi.


"Kenapa kamu lupa bawa pakaian ganti nak," ucap bu Wati. Somsi hanya ketawa membalas perkataan ibunya dari dalam kamar mandi.


Bu Wati mengambil semua pakaian ganti Somsi dan segera menyerahkan nya pada Somsi.


Somsi menyunggingkan senyum. " Makasih ma."


Somsi keluar lalu menuju kamar untuk menyisir rambut panjang nya.


Dia kedepan ingin menyiapkan makan malam. Friska belum pulang. Somsi akan mencarinya setelah menyiapkan makanan.


Dia pergi ke rumah Tika. Teman nya Friska. Siapa tahu dia ada disana pikirnya.


Memang betul Friska disana. Dia sedang menonton. Somsi merasa kasihan sekali melihat adek nya yang tengah asik menonton hingga lupa pulang.


"Dek, kamu disini. Kakak mencari mu kemana-mana loh..." kata Somsi.


"Heheheh maaf kak. Sudah membuatmu kuatir. Aku lagi menonton. Seru nih kak... film nya," jawab Friska.

__ADS_1


Friska tetap tidak memperdulikan maksud kedatangan kakaknya. Bahkan dia tidak ingat kalau waktunya mereka makan malam.


"Dek... ayo pulang. Kita mau makan," ucap Somsi.


"Ah... kakak pulang duluan deh... aku masih asik menonton ini," rengek Friska.


Somsi menarik tangan Friska. "Dek... nanti mama papa marah, ayo pulang."


"Gak mau!"


Dek jangan buat malu. Ayo pulang.


Somsi marah atas sikap adek nya itu. Lalu dia habis kesabaran dan menyeret Friska dengan paksa.


"Ah... kakak.... gak mau. Hikss... hiks."


"Ayo lah dek," ajak Somsi berusaha untuk sabar.


Pemilik rumah yang melihat Friska tetap tidak mau sudah merasa terganggu.


"Matikan tv Tika," ucap ibu Tika.


Tika menunjuk Friska. "Tapi, ma... dia masih mau menonton."


"Matikan!"


Melihat tv di matikan. Friska pulang tanpa pamit pada Tika. Dia menangis.


Friska membuka pintu dan membantingnya sangat keras.


"Mengapa kita tidak punya tv. Mengapa? hiks...hikss."


Friska menangis sangat keras. Hingga seisi rumah nya dipenuhi oleh tangisannya.


Orang tuanya terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Friska.


"Mengapa aku terlahir dari keluarga yang miskin seperti kalian," kata-kata yang menyakiti hati orang tuanya.


Somsi mendengar Friska saat adek nya mengatakan kata-kata yang menyakitkan itu.


Plaakk........!


Somsi menampar Friska. Dia tidak tahan melihat sikap Friska yang tidak disukainya.


"Berani sekali kamu bicara seperti itu pada orang tua yang telah membesarkan mu. Memang benar mereka tidak memberikan kehidupan yang mewah seperti orang lain lakukan. Tapi harusnya kau bersyukur masih bisa memiliki orang tua sampai saat ini!" hardik Somsi.


Dia tidak bisa lagi menahan amarah nya. Friska tersungkur ke lantai. Dia menyesal dengan kata-kata nya itu. Bu Wati dan pak Nius menangis. Baru kali ini dia mendengar putrinya bicara seperti itu.


"Cepat kamu minta maaf pada mama dan papa!"

__ADS_1


Kakak betul aku harus minta maaf pada mama dan papa. Bagaimanapun mereka adalah orang yang paling aku cintai selama ini.


Friska menghampiri kedua orang tuanya yang duduk di lantai. Mereka tidak bisa menahan tangisannya. Mereka berpikir kalau yang dikatakan oleh putri nya memang benar. Mereka memang tidak bisa memberikan kehidupan seperti orang tua lain lakukan.


Kamu benar nak, kami telah salah. Kami tidak bisa membahagiakan kalian.


Dalam hati mereka putrinya itu tidak salah. Mereka lah yang salah.


Friska meraih tangan ayah dan ibunya untuk meminta maaf.


"Ma... pa... maaf kan sikap Friska yang kurang ajar ini."


Air mata keluar dari pelosok mata Friska. Dia sangat, sangat menyesali sikap nya itu dan berjanji untuk tidak mengulangi nya lagi.


"Kamu benar nak... kami sebagai orang tuamu tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kalian. Maafkan papa," ucap pak Nius menangis.


Bu Wati hanya menunduk. Dia tidak sanggup lagi berbicara. "Ma... maafkan Friska. Gara-gara sikap Friska, mama dan papa jadi sedih. hiks... hiks... maafkan aku ma."


Friska memeluk bu Wati. Dari tadi ibunya tidak mengeluarkan kata sepatah pun. Diam membisu tanpa suara.


Friska datang menghampiri kakaknya itu. Kembali dia mengucapkan kata maaf pada kakak nya itu. Kalau saja dia tadi mendengar kan ucapan kakaknya, semua ini tidak akan tejadi.


"Kak... hiks hiks... maaf kak."


"Iya dek. Lain kali jangan mengulanginya lagi."


"Iya kak aku janji."


Somsi membisikkan sesuatu pada telinga Friska. "Dek... hibur mama dan papa, kakak sedih melihat mereka."


Friska langsung bangkit dari duduknya. Dia berusaha membuat orang tuanya kembali tersenyum tapi nihil orang tuanya tetap sedih.


Berkali-kali dia mencoba menghibur tetap saja tidak ada hasilnya. Friska tidak tahan lagi dia pergi ke kamar. Dia menumpahkan segala kesedihannya di atas kasur.


"Mengapa semua itu harus terjadi. Mengapa aku menyakiti orang tuaku dengan kata-kata kasar ku. Mereka yang selalu ada untukku. Aku sudah menyakiti mereka," ucap Friska menepuk kasur.


Mata itu sudah menjadi bukti kalau dirinya menangis. Mata yang tidak pernah menumpahkan air mata sekarang terurai.


Selama ini dia tidak pernah menangis kecuali hal kecil saja. Orang tuanya selalu ada dan menghibur nya selalu.


Kemana semua sikap yang selama ini dia tunjukkan. Sikap yang selalu tegar dan tidak gampang mengeluh. Semua sudah terlanjur dan tidak bisa diulang lagi. Hanya satu jalan keluarnya dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.


Memang benar tidak selamanya orang akan selalu berbuat benar. Mereka juga akan jatuh pada suatu kesalahan. Tidak selamanya orang-orang akan selalu berbuat baik. Mereka juga akan berbuat jahat. Hanya iman dan kesabaran lah yang bisa mempertahankan kebaikan yang kita miliki.


Dengan takut kepada Tuhan dan rajin beribadah. Maka kita akan selalu dekat dengan kebaikan meski banyak rintangan yang terjadi.


Bersambung......


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate sebanyak nya🙏😊


__ADS_2