
Trauma dengan peristiwa yang menimpanya, membuat Somsi merasa jijik saat membayangkan sentuhan Bram padanya. Dia benci dengan semua perlakuan Bram untuknya. Mengapa seorang Bram tega melakukan hal itu padanya. Dia sekarang tidak lagi percaya dengan cinta, pun jika ada lagi seseorang yang ingin mengambil hatinya. Tidak akan bisa!
Dia tidak berkutik sedikitpun di atas tempat tidur. Besok adalah keberangkatannya ke Malaysia. Dia sudah mengurus segala berkas-berkas yang akan dibawanya nanti. Tinggal pergi. Meninggalkan kepahitan itu dan pergi jauh-jauh. Dia sudah tidak bisa lagi berlama-lama di sana. Itu akan membuat mentalnya jatuh. Hampir saja dia depresi. Membayangkan dan betapa hancurnya dirinya jika polisi tidak segera. Mahkota yang dia jaga akan hilang di tangan pria yang telah dianggapnya pacar.
"Ma, mau kemana?" tanya Somsi yang melihat ibunya tiba-tiba membawa berkas di tangannya melewati pintu kamarnya.
"Mama akan melaporkan semua tindakan Bram bajingan itu." pupusnya.
Tidak ada yang tau bahwa bukan Bram lah pelakunya. Mereka semua hanya melihat akhirnya saja. Percaya bahwa Bram lah yang senonoh melakukan maksiat buruk pada putrinya, Somsi.
"Nggak usah Ma, Somsi baik-baik saja," larangnya. Tidak ingin bu Wati melakukan tindakan yang akan membawanya ke jalur hukum lagi. Besok adalah keberangkatannya. Dia memang benci pada Bram, tapi dia tidak mau melakukan balas dendam. Biarlah waktu yang menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah.
"Iya ma, tidak usah dibawa ke jalur hukum, toh semua masalahnya sudah selesai," sambung pak Nius yang keluar dari kamar.
"Tapi, bagaimana nanti jika pria itu mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap gadis lain Pa?" berusaha menerka akan apa yang akan dilakukan Bram selanjutnya.
"Kita harus optimis Ma, mungkin saja Bram khilap."
"Tidak boleh begitu saja Pa, Papa, ngertikan maksud Mama?"
Berusaha menyakinkan suaminya untuk setuju membawa kasus itu lewat jalur hukum. Agar orang yang melakukannya jera. Kalau bisa dia membusuk di sana selamanya.
"Ma, Mama masih dalam keadaan emosi. Jadi, tenangkan diri Mama," ucapnya sambil menepuk pundak istrinya itu.
"Ma, Pa... maaf, Somsi mau sendiri dulu," sela Somsi. Itu dilakukannya untuk mengurangi rasa pusingnya. Mereka mengangguk pergi meninggalkan Somsi sendirian di kamar.
***
Di sekolah, Friska terus kepikiran dengan kakaknya yang akan pergi untuk besok. Dia sedih bahwa untuk beberapa tahun dia tidak akan lagi bertatapan langsung apalagi untuk tidur bersama. Semua pasti akan terbayang dengan kakaknya yang selalu ada di sisinya selama ini. Dengan penuh harap ada seseorang yang menggagalkan kepergian kakaknya itu.
__ADS_1
"Friska! Kamu yang fokus!" tegur bu Dian. Dia melihat Friska dari tadi asik melamun saja. "Kamu punya masalah Friska?"
Friska menggeleng, dia kembali fokus ke depan, memperhatikan bu Dian yang tengah menerangkan.
Sebangku Friska, Anya, terus melirik ke arahnya. Merasa ikut sedih dengannya. Tadi, sebelum masuk kelas, Friska sempat membicarakan akan kepergian sang kakak. Dia mengelus-elus punggung Friska dari belakang dan tetap fokus mendengar bu Dian di depan, seraya untuk menyembunyikan apa yang sudah dilakukannya.
Bel bunyi istirahat pun tiba, Friska tidak nafsu untuk keluar. Dia sendirian di kelas. Seorang teman datang menghampirinya. Memegang pundaknya, berusaha menghibur sahabatnya itu.
"Fris, jangan cemberut saja. Semangat dong..." ucap Anya kepada Friska yang masih saja berkutat pada kesedihannya.
"Tidak Nya, hatiku tidak bisa tenang. Aku terus memikirkan kakakku. Dia akan pergi besok. Aku tau, aku tau kami miskin dan harus bekerja untuk mencari uang untuk kebutuhan hidup, tapi apa harus ke Malaysia? Disini juga bisa, Nya!" umpatnya marah.
Tidak ada lagi kesabaran yang terlintas di pikirannya. Semua pikirannya tentang kakaknya saja. Lantas, apakah salah dirinya jika dia tidak mau kakaknya itu pergi?
"Kamu tidak tau Nya, kakakku baru saja hampir di perko..."
Dia tidak melanjutkan kata yang keluar dari mulutnya. Itu bersifat privat.
"Kita tidak tau apa rencana Tuhan Fris, rencana Tuhan pasti indah pada waktunya. Percayalah!"
Anya terus berusaha menghibur Friska sampai sahabatnya itu bisa tenang dan berpikir matang.
Dia yakin, kakak sahabatnya itu pasti akan sukses nantinya. Hanya saja ini masih permulaan. Siapa yang tau akan apa yang terjadi untuk hari esok. Hanya Tuhan yang tau.
Di kamar, Bram mengurung seorang diri. Dia masih mengingat betul ucapan Somsi, kekasih yang sangat dicintainya itu. "Jangan pernah temui aku lagi!"
Kalimat itu sangat terpukul baginya. Dia yang sangat mencintai Somsi harus menjauh darinya karena kesalahpahaman. Dia terus berusaha menjelaskan kalau dirinya tidak salah. Tapi tidak ada yang percaya. Saat itu, saat polisi datang, pria yang mirip dengannya berhasil meloloskan diri. Jadi itulah mengapa semua orang menyalahkannya.
Bahkan, orang tua Somsi juga mengancamnya untuk tidak menemui Somsi lagi. Apalagi banyak yang mengatai dirinya adalah pria kotor yang memaksa wanita lemah untuk memenuhi hasratnya.
__ADS_1
Andai mereka semua tau, kalau apa yang mereka tuduhkan padanya adalah salah, bagaimana mereka menanggapinya.
"Kamu yang sabar ya, Nak?" ucap seorang wanita yang muncul tiba-tiba. Wanita paruh baya itu datang untuk menguatkan anaknya.
Beberapa hari Bram selalu mengurung diri di kamar. Badannya menjadi lesuh, pucat dan matanya sembab. Dia mengerti apa yang dirasakan anaknya itu. Dia tidak tega jika terus melihat anaknya larut dalam kesedihan. Itulah mengapa dia datang menghampiri anaknya sekedar untuk menghiburnya.
"Kamu harus buktikan sama Mama, kalau kamu itu kuat. Kamu bukan pria lemah, Nak, kamu kuat!" bujuk bu Tere seraya memberikan semangat baru bagi Bram.
Bram hanya diam membisu tidak membalas apa yang barusan ibunya katakan. Hatinya sekarang hanya membutuhkan seseorang yang amat dicintainya berada di hadapannya. Hanya itu yang bisa membangkitkan pria itu.
Dia merindukan Somsi. Sangat merindukannya. Bagaimana pun cintanya telah dia berikan sepenuhnya kepada Somsi. Air matanya jatuh dan jatuh memikirkan kekasihnya yang melarang untuk bertemu dengannya. Sampai kapan?
Tidak tega melihat anaknya keadaan anaknya, bu Tere pergi berlari dengan tangan menyeka air mata yang jatuh di pipinya. Dia tidak tahan. Dia membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Tiba-tiba dia mengingat kenangan masa lalunya. Tentang anak yang mirip dengan Bram.
***
Dulu, saat itu masih mengandung, dokter bilang kandungan bu Tere hanya satu di dalam perutnya. Bayi itu sempurna. Dia sangat bahagia dengan kehadiran bayinya itu. Beberapa minggu kemudian, mereka datang lagi untuk melakukan usg dengan dokter yang sama, dokter Sarah, di rumah sakit Mutia Sari. Dokter itu mengatakan bahwa bu Tere mengandung bayi kembar. Sontak bu Tere kaget.
"Selamat bu, ternyata bayi Anda tidak satu, melainkan dua. Tapi..."
Dokter itu terdiam. Dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi. "Tapi apa, Dok?" tanya suaminya, ingin cepat-cepat mendengarkan seksama.
"Bayi itu cacat. Sebelah telinganya tidak ada."
Jantung bu Tere berhenti berdetak. Apa yang baru saja diucapkan dokter. Dia tidak mau memiliki anak yang cacat, harapannya sirna. Senyum bahagia yang terlukis di wajahnya berubah seketika. Dia memikirkan cara untuk meniadakan anak itu. "Bagaimana kalau Dokter keluarkan saja anak itu," perintahnya.
"Tidak, Bu, kami sudah bersumpah untuk tidak melakukan hal itu. Maaf sekali Bu." Dokter itu menolak usul kliennya. Itu akan mencoreng nama baiknya.
Bu Tere takut. Perasaannya menjadi tidak tenang. Dia mengumpulkan cara bagaimana dua harus menanganinya dengan baik. Dia menyuruh suaminya untuk tetap menjaga rahasia kehamilannya dan mengatakan ke semua orang kalau yang ada di dalam perutnya hanya satu bayi saja.
__ADS_1
Setelah sembilan bulan, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Bu Tere melahirkan. Semua berjalan lancar. Dia berhasil menyingkirkan anaknya yang cacat itu.
Hatinya hancur saat mengingat-ingat dosa yang telah dia lakukan selama 20 tahun yang lalu. Kini dia harus menanggung semua perbuatannya itu.