
"Ya sudah dek, kalau kau sudah mengerti. Kakak mau memasak dulu," ucap Somsi bergegas pergi meninggalkan Friska yang terus mengoceh.
Melihat kakaknya yang berlalu pergi, Friska ingin menghentikan kakaknya dan berbicara lagi dengan ya.
"Tapi kak... aku belum siap ngomong, kok langsung pergi sih."
Somsi tidak lagi merespon adeknya. Dia sekarang fokus pada masakannya. Menu makan malam ini ia harus memasak makanan yang enak. Karena papanya sekarang sudah sadar. Ya meski papanya masih dalam keadaan berbaring di tempat tidur.
Somsi berkutat dengan masakannya.
Menu makan malam ini, aku akan memasak makanan yang lezat.
Somsi akan memasak sayur tauge di campur tahu dengan santan yang kental dengan sambal yang agak banyak. Biar semua orang yang memakannya lahap kenyang.
Somsi juga menyambal ikan tongkol kesukaaan ya dan juga adeknya.
Mereka dari dulu memang sangat suka memakan ikan tongkol.
Selesai memasak, ia merapikan semuanya dan mengantar makanan ke ruang depan rumah.
Lalu ia mandi. Tidak lupa ia membawa pakaian gantinya. Dia tidak ingin berteriak memanggil ibunya atau adeknya untuk mengambil pakaian gantinya.
Somsi pun mandi. Sangat segar di rasakan oleh tubuhnya itu. Dia mandi sangat lama. Membuat orang yang menunggunya makan merasa bosan.
Di ruang depan, Friska sudah kesal dengan Somsi yang tak kunjung selesai.
"Kakak lama banget sih, mana aku sudah lapar," kesal Friska. Mata dan kepalanya tidak luput menoleh ke arah belakang rumah. Berharap Somsi cepat selesai mandi.
Somsi pun datang lalu menuju kamar. Dia ingin menyisir rambutnya. Somsi melihat mata Friska ingin keluar dari pemiliknya. "Mata mu lah dek, kok nantang kakak," ucapnya menahan tawa.
Kalau ia tertawa terbahak-bahak, bisa-bisa Friska malah tambah kesal padanya.
"Cepat kak!" ketus Friska keras.
Somsi memberikan tanda jempol tanganya. "Oke dek."
Di kamar, Somsi menyisir rambut panjangnya. Rambut lurus yang panjang, sangat indah tertata rapi.
Somsi akhirnya keluar dari kamar dan langsung ke ruang depan.
"Aku datang," ucap Somsi tersenyum.
"Cepat lah kak!" ucap Friska membolak-balik matanya.
"Iya dek, cepat lah. Mama juga uda lapar," ucap bu Wati memegang perutnya. Terdengar bunyi perut bu Wati.
Krok... krok...
Somsi tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha ha ha ha .... itu suara perut mama."
Tanpa basa-basi lagi, ia mulai menyendok makanan ayah, ibu dan juga adeknya. Dia mengingat kalau ayahnya belum bisa duduk bersama mereka. Somsi memisahkan makanan pak Nius lalu beranjak pergi ke kamar orang tuanya. Di sana terlihat ayahnya sedang membuka mata menatap langit-langit rumah.
Somsi mengetuk pintu.
Tok .... tok.... tok....
__ADS_1
Suara ketukan pintu dari luar. Tidak ada yang menyahut, Somsi masuk tanpa ijin dari orang yang berada di dalam kamar.
"Ayah... ayah lapar?" tanya Somsi.
"I-iya nak," ucap pak Nius menjawab terbata.
Pak Nius masih belum bisa bicara lancar. Perlu latihan untuk bicara.
Somsi menyulang ayahnya tanpa merasa lelah. Dia selalu ikhlas dalam melakukan sesuatu. Apa pun itu.
"Ma-ma-mama kamu dan adek kamu sudah makan nak?" tanya pak Nius terbata-bata.
"Sudah pak."
Somsi senang melihat ayahnya makan dengan lahap. Pak Nius juga bertambah. Mungkin karena terlalu lama dalam keadaan koma, jadi pak Nius kelaparan.
"Ka-Ka-Kamu sudah makan nak?" tanya pak Nius kepada Somsi.
Somsi bingung harus jawab apa. Tadi ia tidak sempat makan. Ia ingin pak Nius makan dulu, baru lah ia akan makan.
"Sudah pak," ucapnya bohong.
"Ba-bagus lah nak."
Somsi terpaksa membohongi ayahnya. Ia takut kalau ayahnya nanti khawatir kepadanya. Pada hal ia berpikir kalau dirinya tidak perlu di khawatirkan. Baginya kesehatan pak Nius lebih penting.
Usai menyulang pak Nius makan. Somsi pamit keluar. "Pa... Somsi pergi dulu ya pa. Somsi ngantuk," ucapnya beralasan.
"I-iya nak, pe-pergi lah. Ja-ja-jangan lupa berdoa ya nak."
Dia kembali ke ruang depan. Di sana ia mendapati ibunya dan juga adeknya sudah selesai makan. Somsi menghampiri mereka dan duduk bersama mereka.
Somsi menyendok nasi ke piringnya agak sedikit. Ia tidak mau makan terlalu banyak. Karna sudah malam, ia takut perutnya membuncit.
Friska berdecak. "ck ck ck ck... makan hanya segitu, kapan besarnya coba."
Somsi ingin ketawa tapi ia tahan. Perkataan adeknya sangat lucu ia dengar.
Karena tidak bisa menahan tawanya. Karena tawanya sudah di ujung tanduk. Ia pun melepaskan tawanya.
"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha, kamu lucu ya dek," ucapnya tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang lucu coba," ucap Friska dengan mata melotot. Masih tidak mau kalah berdebat dengan kakaknya.
"Ya lucu lah dek. Pokoknya lucu sangat, Hahahahahah."
Friska menatap kesal pada kakaknya. Ia melipat tangan di dadanya. "Kakak... diam lah, gak ada yang lucu tau." umpat Friska dengan wajah kesalnya.
"Ya iya dek. Gak perlu panas. Di sini gak ada kompor," ngeledek Somsi.
Karena rasa kesalnya. Friska tidak ingin melihat Somsi. Friska pun pindah duduk ke belakang punggung ibunya.
Somsi heran dengan sikap adeknya itu. Mudah sekali marah dalam hal kecil saja. Dengan tidak berpikir panjang ia fokus pada makanannya. Ia menguyah sangat pelan. Agar makanan lancar masuk ke dalam kerongkongannya.
Bu Wati karena sudah merasa lumayan, pergi ke kamar mereka meninggalkan dua putrinya.
__ADS_1
"Mama ke kamar dulu. Papa kamu pasti sudah menunggu mama," tegas bu Wati.
"Iya ma."
Somsi dan Friska menjawab bu Wati bersamaan.
Tidak lama Somsi akhirnya selesai makan. Dia mengumpulkan piring-piring kotor dengan di bantu Friska ke dapur. Dan makanan sisa seperti nasi dan ikan, Somsi menyimpannya ke tudung.
Somsi dan Friska masuk ke dalam kamar. Friska duluan tidur. Dari tadi ia sudah mengantuk sekali.
Sedangkan Somsi masih duduk. Ntah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.
Lalu ia mengingat saat Bram menembaknya tadi siang. Somsi sedih. Dia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Dia masih mengingat masa lalu yang begitu pahit yang pernah ia rasakan.
Somsi mulai mengingat ulang memory yang pernah membuat kehidupannya sangat buruk.
Flashback on. πΈπΈπΈπΈπΈ
Pagi sekali Somsi duduk di bangkunya. Dia masih duduk kelas 2 SMA. Setiap hari Somsi memang pergi ke sekolah terlalu cepat. Belum ada siswa-siswi yang datang ke sekolah, tetapi Somsi sudah lebih dulu di sana. Itu karena sekolahnya sangat jauh dari rumahnya.
Ia pergi ke sekolah hanya mengandalkan kakinya untuk jalan kaki. Sedangkan teman-teman Somsi memakai sepeda ke sekolah.
Setelah beberapa menit, semua siswa- siswi mulai berdatangan satu per satu.
Kring... kring....
Suara sepeda Dino. Dino yang tampan di sukai semua wanita mana pun.
Dino turun dari sepedanya dengan gaya yang cool. Semua wanita memperhatikan dirinya.
"Ganteng sekali dia," ucap seoarang wanita yang memperhatikan Dino dari jauh.
Wanita itu bernama Lili. Primadona di sekolah Somsi.
"Iya dia sangat ganteng," ucap teman yang bersama dia saat itu. Namanya Dina.
"Akan ku miliki dia," ucap Lili.
"Hei... jangan mimpi! dia uda punya pacar tau," tegas temannya, Dina.
"Pacar?" tanyanya sombong.
"Iya! emang menurutmu apa?"
"Gak ada. Aku gak peduli siapa pacarnya. Yang penting aku akan merebutnya," ucapnya sinis.
"Wah kamu parah!" ketus Dina.
Lili tidak peduli dan tersenyum licik. "Tidak peduli."
Siapa yang tidak mau menerima wanita secantik aku? Hahahahahah.
Bersambung...........
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya ππ