
Dengan mengingat kejadian yang kelam hanya memperburuk suasana hati. Itu lah yang harus Somsi atasi. Dengan keputusan Bram ingin memilikinya sebagai pacar tak bisa di pungkiri oleh Somsi.
Apa yang harus ia lakukan saat ada orang yang menembaknya lagi. Apakah ia akan terus menghindar dari yang namanya cinta atau berjuang meski ia selalu merasakan penghianatan.
Sangat sulit baginya untuk memutuskan hal itu.
Somsi dengan duduk menatap langit. Menatap bintang-bintang dan bulan yang ada di sana. Cahaya yang bersinar begitu indah ia rasakan.
Tapi sinar itu tidak seindah hatinya yang ia rasakan saat ini.
"Bram .... mengapa kau harus menyukaiku? apakah kau tidak memiliki rasa kepada yang lain selain diriku? Sungguh aku tak ingin menyakiti perasaan mu ketika aku menolak mu," ucapnya lirih dalam keheningan malam dingin itu.
Somsi menggigil. Hawa malam masuk menembus kulitnya. Melewati batas bajunya yang menutupi setiap inci tubuhnya yang halus.
Somsi masih terus menatap langit. Tak ia sadari. Ia tiba-tiba melihat ada bintang yang jatuh. Cepat-cepat ia berdiri di dekat jendela. Menyatukan kedua tanganya dan mulai berdoa.
Tuhan aku ingin membahagiakan keluargaku. Aku ingin membantu sesama yang membutuhkan pertolongan ku. Aku juga ingin Tuhan seseorang yang akan menjadi suamiku akan mencintaiku setulus hatinya dan tidak menghianati cintaku yang tulus ini.
Selesai berdoa, Somsi menutup jendela. Kembali ke tempat tidurnya. Di mana lantai masih menetap sebagai tempat rebahan tubuh mereka dengan di alaskan tikar.
Somsi memperhatikan adeknya yang tertidur pulas. Aliran liur keluar dari mulut adeknya itu. Menatap intens seluruh tubuh adeknya.
Kau sudah bertambah besar adekku. Rasanya jika aku pergi, kau akan setinggi siapa. Apa badanmu tetap mengecil atau pendek atau kau akan melewati batas ketinggian ku.
Somsi mencium kening adeknya itu dan mengelus wajahnya dengan tanganya.
Sungguh dek, aku tidak ingin kau merasakan seperti yang aku rasakan saat ini. Kau adalah adekku yang paling aku cinta. Dan aku akan berjuang untuk mencukupi segala kebutuhanmu.
Selesai menatap adeknya dan sudah berjanji dalam hatinya. Somsi akhirnya mulai menutup mata. Tidak lama kemudian ia tertidur pulas.
...****************...
Hari berganti hari, kini seorang Somsi telah ada di dapur untuk memasak. Jam pada hari itu masih menunjukkan jam 04 pagi. Ntah apa yang membuat Somsi bangun secepat itu. Dan memilih untuk memasak. Tidak biasanya ia seperti itu. Bahkan ayam pun masih berkokok hanya beberapa ayam saja. 1 atau 2 ekor pun ayam berkokok tidak lebih.
Somsi memasak dengan penuh rasa. Cita rasa yang ia kembangkan mulai dari dulu sampai sekarang. Mulai ia pandai memasak, ia masih mengingat cita rasa itu. Selamanya akan sampai begitu.
Somsi memasak nasi dan ikan goreng serta sayuran lebih dulu. Tepat jam 05:20, baru lah ia memasak mie gomak, bakwan dan perkedelnya dalam jumlah banyak. Kalau ia memasak terlalu dini hari, ia takut kalau dagangannya basi belum terjual.
Usai memasak semua sarapan pagi. Somsi mulai menyiapkan alat dan bahan untuk memasak keperluan mie gomak, bakwan dan perkedel.
__ADS_1
Somsi sangat senang melakukan itu. Tidak ada sungut-sungut dalam hatinya. Sehingga setiap masakan yang ia masak, selalu saja enak dan sedap untuk di makan. Setiap orang melihatnya selalu tergiur untuk memakannya.
Semua sudan siap. Tinggal mencuci piring, setelah itu ia mandi. Memang dalam pekerjaan, Somsi belum pernah membiasakan Friska untuk melakukan pekerjaan seperti dirinya. Ia selalu membuat Friska tidak punya pekerjaan sama sekali. Hanya ia yang melakukan semua pekerjaan rumah.
Somsi mandi dan memakai pakaiannya segera.
Hawa dingin pagi yang menembus kulitnya sudah menghilang setelah ia berpakaian.
Somsi menatap jam dinding rumahnya yang sudah lama dan minta tolong untuk di ganti pemiliknya.
Jam 07:00
Saat Somsi ingin pergi, baru lah ibunya bangun. Friska dari tadi sudah bangun. Dia sudah memakai seragam sekolahnya dengan rapi.
Somsi tertawa melihat adeknya yang keluar dari kamar. Bedak my baby yang ia lapisi ke wajahnya itu hidup dengan sendirinya. Sehingga penampilan Friska terlihat seperti setan.
"Ha ha ha ha ha ha ha... bedak mu itu loh dek," ucap Somsi sambil menunjuk wajah Friska yang tebal dengan bedak my baby.
Friska melongo melihat kakaknya yang menertawakan dirinya. "Di mana kak?" tanya Friska bingung, dan menata ulang bedaknya dengan mengusap lembut wajahnya dengan tanganya. "Mana sih kak? berhenti lah ngeledek aku."
Friska kesal dengan kakaknya yang terus menertawakan dirinya. Meski pun Friska sudah mengusap wajahnya, tapi masih terlihat tebal bedak itu di wajahnya.
Ibunya pun keluar dari kamar mandi dan melihat Friska terkejut.
Friska tersenyum lebar. "Makasih ma."
Dengan perasaan bangga ia pamerkan kepada Somsi. Karena ibu mereka telah memuji kecantikan nya itu.
Bwee....
Friska menjulurkan lidahnya pada Somsi.
"Oalah dek dek. Baru itu aja kau uda bangga. Harusnya kau cari tau atas dasar apa mama memujimu, hahahah," ngeledek Somsi pada Friska.
Friska yang tidak suka mendengar kakaknya terus mengeledek dirinya membangkang semua yang di katakan oleh Somsi.
"Alaaa, bilang aja kakak iri," ketusnya kesal.
Somsi melongo heran dan kembali tertawa keras. "Ha? iri? ha ha ha ha ha dek dek, ngapain kakakmu iri denganmu, kakak juga cantik." ucapnya bangga. Membuat Friska semakin panas.
__ADS_1
Kakak..........
Friska berteriak keras mengisi setiap kekosongan rumah yang ada.
"Ssst dek. Kau ini! kau tidak tau kalau papamu sakit? Kau masih saja ribut," celoteh bu Wati.
"Tapi ma, kakak lihat lah dia. Kakak selalu mengganggu aku," ucapnya cemberut dengan melipat tangan di dada.
"Dek... apa yang di katakan kakak mu benar. Wajahmu memang di lapisi bedak tebal. Kau pergi kaca dulu sana! Biar kau tau kalau kau terlihat seperti setan," ucap bu Wati.
Dengan memberitahu putrinya yang sebenarnya, semoga itu bisa mengehentikan putri bungsunya yang masih cemberut.
Friska mendengus kesal. "Hu... awas kakak! kalau sampai yang kakak bilang itu bohong. Kakak akan terima akibatnya," ancam Friska.
Somsi mendongak mendengar adeknya seakan mengancam kalau dirinya tidak selamat seperti yang ada di film-film.
"Dramatis kali kau dek. Itu lah akibat kau sering menonton ke tv tetangga, hahahah."
Friska yang berlalu pergi ke kamar, sedangkan Somsi memasuki kamar orang tuanya. Di sana ia melihat pak Nius yang sudah bangun. Karena tidak tau kalau Somsi datang, pak Nius sibuk menatap langit-langit rumah.
"Ayah," panggil Somsi saat sudah memasuki kamar orang tuanya. Membuat pak Nius kaget.
"Ya Tuhan, tolong aku," ucap pak Nius kaget.
"Ha ha ha ha ha ha... papa kagetnya? maaf ya pa," ucap Somsi dengan memeluk ayahnya dalam posisi membungkuk.
Usai Somsi memeluk ayahnya, baru lah ayahnya bicara. Hari ini ayahnya sudah bisa bicara dengan lancar.
"Iya nak gak papa. Kamu kenapa pagi-pagi sekali sudah datang menemui papa?" tanya pak Nius heran.
"Aku mau permisi sama papa. Soalnya Somsi mau berdagang. Dagangan Somsi agak lumayan banyak pa dari sebelumnya," ucapnya tersenyum. Lalu melanjutkan ucapanya lagi. "Doakan ya pa, dagangan Somsi habis terjual semua."
Pak Nius menganguk. "Iya nak, papa doakan semoga laris semua tanpa ada yang sisa."
Somsi sangat senang saat papanya mendoakan dirinya.
Setelah permisi kepada pak Nius, Somsi keluar dari kamar orang tuanya itu.
Bersambung.................
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏