
Anak itu tiada hentinya bahagia.
Somsi yang memperhatikan anak itu juga ikut bahagia.
Apa lagi di tambah dengan Bram yang menerima mereka tinggal di kontrakan rumahnya.
Somsi kembali fokus ke dagangannya. Tinggal dua piring lagi mie gomaknya akan habis. Sedangkan bakwan dan perkedelnya sisa 10 biji lagi. lima untuk sisa bakwannya dan lima untuk sisa perkedelnya.
Somsi membagi mie gomak sama rata. Lalu ia memberikan mie gomak yang sudah ia bagi menjadi dua piring. Ia menyerahkan mie gomak itu kepada Bram dan juga Dryver.
Somsi menyerahkan mie gomak lebih dulu kepada Dryver.
"Terima kasih kak," ucap anak itu senang.
Lalu Somsi menyerahkan mie gomak itu lagi kepada Bram. "Ini Bram."
Dengan sengaja Bram memegang tangan Somsi. Membuat Somsi terkejut saat Bram menyentuh tanganya.
"Bram....." rengeknya manja.
Ntah kenapa rengekan manja itu bisa keluar dari mulutnya. Somsi menutup mulutnya seketika sadar kalau ia sedang mengucapkan kata yang bisa membuat Bram melayang terbang.
"Apa kau bersikap manja padaku?" tanya Bram sengaja. Ia sengaja mengatakannya agar ia bisa melihat wajah Somsi yang bersemu merah menahan malu.
"Bram ... berhenti menggodaku," lirih Somsi lalu melepas tanganya dari tangan Bram. Tapi Bram malah tidak mau melepas tangan itu.
"Apa kau menyukainya?" tanya Bram mendekatkan wajahnya pada Somsi. Somsi gugup langsung memalingkan wajahnya.
"B-bram ... berhenti lah," lirihnya lagi sambil memalingkan wajahnya.
"Apa tangan mu ini masih sakit?" tanya Bram sambil mengecup jari Somsi yang luka. Ia tidak menghiraukan perkataan Somsi saat Somsi menyuruhnya berhenti menggoda.
Bram tersenyum smirk. "Tunggu aku sebentar."
Bram pergi sebentar ke warung. Di sana ia membeli andiplas. Tidak lama ia sampai juga. Lalu ia duduk lagi di sebelah Somsi.
Ia membalut andiplas itu dengan sangat lembut. Sekali ia memperhatikan wajah Somsi yang berpaling saat ia menatapnya. Bram suka sekali membuat Somsi merasa gugup padanya.
Ya akhir-akhir ini Somsi terlihat gugup dengan Bram. Tapi Bram sendiri belum tau pasti bagaimana perasaan Somsi padanya. Ia hanya berpikir kalau Somsi hanya merasa malu padanya.
Setelah membalut luka Somsi. Kembali ia mengecup tangan itu. Membuat Somsi ingin jatuh pingsan.
Bram aku mohon berhenti menggodaku. Aku takut terbiasa dengan godaan mu ini.
Karena perasaan malu yang ada pada dirinya, apa lagi jantungnya berdegup kencang, membuatnya harus menarik paksa tanganya dari Bram. Lalu ia menjauh dari Bram. Mendekat pada dagangannya.
Apa dia marah? apa dia tidak suka dengan apa yang sudah aku lakukan? Owh Bram berhenti menggodanya. Dia tidak akan menyukaimu.
Bram merasa kalau Somsi menjauh darinya karena tidak menyukainya.
Bram pun mulai berpikir untuk tidak menggoda Somsi lagi. Baginya apa pun yang membuat Somsi merasa nyaman dengannya akan ia lakukan.
Bram mulai menyendok mie gomak itu ke mulutnya. Rasanya enak dan sedap di mulut. Dryver sudah selesai makan. Ia menyerahkan piring kotornya pada Somsi.
"Kak ... apa kakak hanya bekerja seperti ini? bukannya kakak tamat SMA, mengapa harus berdagang?" tanya Dryver.
Ntah lah anak itu memang suka keceplosan kalau ia sedang bicara.
Somsi menatap manik mata Dryver tajam. Ia tidak mengira kalau Dryver akan bertanya hal itu. "Kakak hanya suka aja," ucap Somsi sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kak.. saran aku lebih baik kakak bekerja di kantoran atau PT lah. Dari pada harus jualan seperti ini," ucap Dryver lagi merasa seperti orang dewasa.
Somsi tersenyum lalu mengelus kepala Dryver.
"Kau dek ya. Badan mu aja yang kecil tapi pemikiran mu seperti orang dewasa saja." Lalu Somsi menghela nafasnya kasar. "Uhhhhh.. sabar."
Bram tersenyum melihat Somsi yang mulai kehabisan kata menjawab Dryver. Sangat lucu dan menarik melihat Somsi seperti itu.
Kenapa Bram malah tersenyum. Apa ada yang lucu. Tapi tak apa lah. Aku senang melihatnya. Wajahnya adem, ha ha ha ha ha.
Somsi menertawai Bram dalam hatinya. Dia begitu senang melihat Bram tersenyum.
Kenapa dia tersenyum? apa ada yang lucu. Aku rasa tidak.
Hal yang sama di pikiran Bram. Bram juga heran dengan Somsi yang tersenyum dari tadi.
"Bram," panggil Somsi mengagetkan seorang Bram yang sedang melamun.
"I-iya ada apa Som?" tanya Bram bingung.
Dia tidak tau kalimat apa yang akan keluar dari mulut Somsi.
Apa Somsi akan mengatakan kalau ia sudah menyukaiku ya?
Bram melebarkan telinganya. Berusaha menggerakkan telinganya.
Mengapa telingaku tidak bisa di gerakkan sih.
Bram merasa kesulitan ketika telinganya tidak bisa ia gerakkan. Ya iyalah tidak bisa itukan telinga.
"Aku-"
Tut... Tut... Tut...
Suara dering telpon Bram.
Bram mengangkat telpon itu. "Halo," ~ Bram.
"Halo Bram, ini saya Siti," ~ Siti.
Somsi melongo ketika mendengar kalau itu adalah Siti, sahabatnya. Somsi sangat rindu pada Siti. Sudah berapa hari mereka tidak bertemu.
Bram menjawab lagi. "Iya Sit ada apa?" ~ Bram.
Tiba-tiba sinyal terputus. Tidak terdengar jelas saat Siti mengatakan sesuatu di balik telpon.
"Halo, halo, halo... halo Sit, suara mu tidak jelas. Coba ulangi lagi." ~ Bram.
Berapa kali Siti berusaha bicara, tapi tetap suaranya tidak terdengar jelas. Karena merasa kesal, Bram menutup telponnya.
"Kenapa kau tutup Bram?" tanya Somsi heran.
Bram menatap Somsi lalu menunjukkan hp nya pada Somsi. "Jaringan tidak ada Som."
Somsi menganguk. Dia mengira tadi Bram mengecilkan suara telponnya sehingga ia tidak bisa mendengar.
Somsi mulai cemburu. Ya meski ia tau itu sahabatnya sendiri, tapi rasa cemburu di hatinya tidak bisa ia pungkiri.
Tiba-tiba hp Bram kembali berbunyi. Nama yang sama Somsi lihat saat Bram belum mengangkat telpon Siti.
__ADS_1
Bram kembali menekan tombol yang sama dan akhirnya tersambung. Sinyal di hp Bram sudah ada.
"Halo Sit," ~ Bram.
Orang di balik telpon yaitu Siti menjawab. "Iya halo Bram." ~ Siti.
Bram mengeryitkan dahi.
"Iya ada apa Sit?" ~ Bram.
"Apa kau melihat Somsi? tolong cari dia dan berikan dulu hp mu padanya. Aku ingin bicara dengannya." ~ Siti.
Bram melongo heran. "Kenapa emang?" ~ Bram.
Siti marah berteriak dari telpon. "Bantulah dulu aku!" ~ Siti.
Bram tersenyum mendengar Siti yang berteriak di balik telpon. "Hmm baik lah." ~ Bram.
Bram menyerahkan hp nya kepada Somsi. Somsi yang bingung mengapa Siti ingin bicara padanya menerima hp Bram.
Somsi bicara gugup. "Ha-halo Sit..." ~ Somsi.
"Iya halo Som," ~ Siti.
"Som ... aku rindu sekali dengan mu," ~ Siti.
Somsi tersenyum. Dia mengira terjadi sesuatunya, ternyata hanya soal rindu.
"Aku juga Sit, aku juga saaaaangat rindu dengan mu," ~ Somsi.
Siti tertawa dari balik telpon. "Ha ha ha ha ha." ~ Siti.
Somsi mendelik. "Apa ada yang lucu Sit?" ~ Somsi.
Siti menggeleng di balik telpon. "Ah tidak ada kok Som. Santai aja," ~ Siti.
"Eh Som... aku ingin bicara hal penting dengan mu." ~ Siti.
"Iya apa itu Sit?" ~ Siti.
Siti menjelaskan mengapa ia menelponnya bukan cuma rasa rindu saja. Tapi ia ingin memberitahukan Somsi sesuatu. Harus saat itu juga ia akan memberitahu Somsi semuanya.
"Begini Som... Kan kakak Ka boru saragih kemarin menelpon ku. Terus kakak itu mengatakan kalau kau di terima Som bekerja di Malaysia. Dan secepatnya kau memberikan uang masuk mu pada kakak itu," ~ Siti.
Rasa senang di campur sedih yang di rasakan Somsi saat itu. Ia senang mendengar kalau ia di terima bekerja. Dan sedih karena ia belum memiliki uang selain pinjamannya pada Siti.
"Iya Sit. Makasih ya infonya," ~ Somsi.
"Iya sama-sama Som." ~ Siti.
Tutt...
Siti mematikan telponya dari balik telpon. Sedangkan Somsi menyerahkan hp itu kepada Bram.
Bersambung.....................
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏🙏
__ADS_1