
"Apa kamu sudah siap?" tanya Tuan Sean dengan senyum manisnya. Terlihat tampan. Dia memakai kemeja nuansa berwarna hitam keabuan dengan dasi dipakaikan di kerahnya yang cocok sekali dengan warna kemejanya. Dia tersenyum kepada Somsi dan menggamit tangannya erat.
Somsi yang memakai dress dengan nuansa berwarna pink berbunga-bunga dari atas sampai bawah. Bagian belakangnya lurus ke bawah kuncup panjang, sedangkan bagian depan setinggi lutut. Cantik. Perpaduan warna yang sempurna.
Dia hanya mengulas senyum tipis saat orang-orang melihatnya. Merasa tidak percaya diri saat dia berdekatan dengan Tuan Sean. Dia juga menjadi bahan gosipan semua orang yang ada disitu.
"Aku... Aku kurang percaya diri Tuan Sean, apa aku boleh ke kamar mandi sebentar?" ucap Somsi sedikit ragu namun dia beranikan.
Dia sudah tidak tahan dengan dua orang wanita yang duduk di meja yang terus mengusik dirinya sedari tadi.
Saat dia mengingatnya, rasa sakit yang dia rasakan, sehingga dia menangis di dalam kamar mandi sendirian. Menangis pilu. Tadinya dia menghindar dari Tuan Sean, karena Tuan Sean sedang berkumpul sesama rekan kerja. Jadi, dia tidak bisa selalu berada disisinya.
"Lihatlah wanita itu. Pasti dia juga sama dengan wanita-wanita simpanan sebelumnya yang selalu dibawa Tuan Sean ke hotel-hotel yang diinginkan Tuan Sean."
"Sebentar lagi dia juga pasti akan seperti itu," imbuhnya lagi.
Wanita yang memakai dress berwarna hitam dengan ikat pinggang bentuk bunga mengikat penuh di perutnya.
"Iya, iya... Hahaha, bodoh sekali dia. Dia mau menjadi wanita simpanan Tuan Sean. Apakah harga dirinya sudah tidak ada lagi?" Cecar wanita salah satunya, memakai dress berwarna hitam panjang sampai mata kaki.
"Hahaha, kita lihat saja nanti. Apakah dia masih bersama Tuan Sean atau dia akan dicampakkan setelah bosan."
Mereka menertawai Somsi seakan mereka lebih tau apa yang sedang dijalani Somsi. Mereka selalu menerka hal yang salah tanpa memikirkan lebih dulu apa yang ingin mereka katakan. Mereka telah salah menilai seseorang dari luarnya saja dan bukannya dari dalam.
Bagaimana bisa mereka mengatakan kalau Somsi adalah wanita simpanan Tuan Sean. Apakah mereka tidak tau kalau itu juga merupakan pencemaran nama baik?
Somsi mengusap air matanya. Dia berusaha kuat dan menguatkan dirinya. Dia tidak boleh menyerah atau malu sedikitpun kepada orang yang jelas-jelas mereka salah menilai. Itu akan membuatnya menjadi sedih dan akan kehilangan sejati dirinya. Kemana sikap sabar yang dulu dia keluarkan selama ini? Tidak! Dia tidak boleh menyerah! Masih ada yang pantas dia bahagiakan. Dia harus ingat tujuannya datang ke Malaysia. Dia harus bekerja keras agar dia nantinya bisa mengirim uang banyak kepada orangtuanya dan adeknya di kampung. Yang harus dia lakukan adalah bagaimana dia tidak menanggapi ucapan mereka dengan menutup kupingnya rapat-rapat.
Dia keluar dari dalam kamar mandi dan menghampiri Tuan Sean yang tengah sibuk mengobrol dengan rekan kerjanya. Saat dia sudah dekat dengan Tuan Sean, dia membisikkan sesuatu padanya.
"Tuan... Bagaimana kalau saya pulang saja. Sepertinya kehadiran saya disini tidak bermanfaat Tuan. Semoga Tuan bisa mengerti saya," ucap Somsi dengan mata sembabnya.
Dia sudah berusaha untuk memperbaiki matanya yang sembab, tapi sayangnya, mata itu harus menunjukkan betapa sedihnya pemilik mata itu.
__ADS_1
Apakah dia baru saja menangis?
Tuan Sean tidak tau penyebab mengapa Somsi menangis. Dia tadi asik mengobrol soal pekerjaan dengan teman rekan kerjanya, sehingga dia tidak tau mengapa Somsi sampai menangis.
Tuan Sean mendekat, menyentuh pinggang Somsi dengan tangannya. Dia berbisik, "Kamu kenapa?"
"Ti...tidak apa-apa. Aku hanya ingin pulang. Aku tidak terbiasa keluar malam-malam," jelas Somsi.
Mengadu kepada Tuan Sean pun itu tidak akan membantu. Lebih baik dia diam saja.
Dia memperhatikan seluruh ruangan itu, tertata rapi dan dihias dengan sangat indah.
Tiba-tiba seseorang yang menjadi MC dalam acara itu muncul di panggung.
"Baiklah untuk semuanya... Para tamu yang saya hormati dan saya kasihi. Marilah kita memulai acara yang kita tunggu-tunggu dari kemarin. Sudah saatnya kita untuk memulai acara kita ini."
"Pertama sekali, kami akan mempersilahkan Nona kami untuk maju ke panggung ini sekedar mengucapkan rasa terimakasih kepada para tamu undangan yang bersedia meluangkan waktunya untuk datang ke Pesta Dansa ini."
"Baiklah, mari kita sambut dia, ini dia.... Nona Selly..."
Semua mata tertuju kepada wanita itu. Betapa cantiknya sekarang Nona Selly, dirinya bak bidadari yang baru turun dari langit.
Semua mengagumi kecantikannya. Termasuk sekelompok pria yang matanya terus tertuju pada gundukan bukit kembarnya Nona Selly.
Xander menatap picik wanita itu. Gadis itu pernah menjadi kekasihnya. Dia sangat membencinya. Setelah dia diputuskan, dia pun mendekati Tuan Sean. Untung saja Tuan Sean menghargai perasaannya. Jadi dia tidak terpengaruh dengan kecantikan gadis yang sedang berdiri di panggung dengan melayangkan senyum palsunya.
Selly adalah wanita yang berstatus playgirl. Dia suka mempermainkan pria manapun jika dia sudah bosan dengan pria yang dekat dengannya.
Sama sekali tidak memikirkan perasaan Xander, dia malah mendekatinya dan terus menggoda Tuan Sean agar tertarik padanya. Alhasil, segala caranya tidak ada yang berhasil.
Gadis itu sekilas melirik ke arah Xander yang tengah memperhatikannya dari jauh lalu berpaling ke arah Tuan Sean. Dia tiba-tiba marah saat dia mengetahui Tuan Sean datang tidak seorang diri namun bersama gadis lain. Bahkan dia baru mengenalnya.
Siapa gadis itu? Mengapa dia berada di samping Sean...
__ADS_1
Dia menatap tidak suka kepada Somsi. Somsi yang menyadarinya segera memalingkan wajahnya. Dia merasa tidak enak dengan tatapan tajam yang ditunjukkan gadis itu padanya. Dia risih. Dia takut malam ini terjadi sesuatu padanya yang tidak diinginkannya.
"Tu...Tuan... lebih baik saya pulang. Saya sudah mengantuk. Tolong Tuan mengerti keadaan saya," desak Somsi kepada Tuan Sean.
"Pulang? Bahkan kita belum ke puncaknya, kamu sudah mau pulang?" Tuan Sean tertawa dengan sikap polosnya Somsi. Dia begitu ingin cepat-cepat pulang.
Puncak?
Puncak apa maksudnya...
"Mak... maksud Tuan?" tanya Somsi dengan hati-hati. Dia takut Tuan Sean akan marah karena dia dari tadi menggangu Tuan Sean yang sedang asik mengobrol.
"Tidak! Kamu belum bisa pulang. Mari kita ikuti Pesta ini sampai ke puncaknya. Sampai kita puas," beber Tuan Sean.
Puncak?
Puncak yang mana...
"Jangan takut! Kamu akan menjadi seorang yang akan menghangatkanku malam ini juga," paparnya sambil tersenyum miring. Dia tau kalau Somsi sudah merasa takut. Dia juga tau Somsi menghindar darinya saat Tuan Sean mengatakan bahwa dia akan menjadi penghangat Tuan Sean malam ini.
"Pe, peng... penghangat apa maksud Tuan," tanya Somsi polos.
Tuan Sean tersenyum licik. Dia merasa saat ini Somsi bertambah cantik saat dia terus-menerus bertanya.
Hahaha, dia sangat lucu.
"Kamu memang benar-benar tidak tau seperti apa yang dilakukan sepasang suami istri lakukan di atas ranjang?" goda Tuan Sean. Dia tidak tahan lagi ingin tertawa. Bagaimana Somsi sangat lucu disaat dia ketakutan.
Deggh...
Jantung Somsi berdetak kencang. Tubuhnya lemas setelah mendengar Tuan Sean mengatakan hal itu.
Tbc.
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like, dan juga komen.
Bye... Bye...