
"Cantik sekali dia..." gumamnya dalam hati. Itu pertanda bahwa dia tertarik kepada kecantikan Somsi. " Manis."
Gara-gara sedari tadi dia membayangkan dirinya sedang bercinta dengan wanita yang baru dilihatnya itu. "Somsi Celin Putri, itu nama gadis itu," gumamnya. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa empuk miliknya. Hatinya tergoda ingin memilikinya.
SEAN AL DENIAN (27 tahun)
Itu nama pria yang baru saja dalam sekejap langsung jatuh hati kepada Somsi, melihat kemolekan nan indah tubuh Somsi yang terus berputar di pikirannya. Sean, adalah pria cassanova. Dia akan tidur dengan banyak wanita dalam satu malam bergantian tanpa perasaan.
Baru ini, dia merasakan jantungnya berhenti berdetak saat melihat kecantikan Somsi. Dengan tubuh indahnya telah berhasil merebut perhatiannya tetap pada bukit kembar milik Somsi yang saat itu kancingnya sedikit terbuka.
Sean Al Denian sangat digemari oleh setiap wanita manapun. Dia adalah pria blasteran Inggris dan Indonesia. Ayahnya dari Inggris, ibunya dari Indonesia. Meskipun dia terkenal kejam dalam ranjang, tidak ada satupun yang mengeluh tentangnya. Bahkan mereka sangat menikmati tubuh kekar Sean dan menikmati sentuhan demi sentuhan pria itu, juga kegantengannya yang mengalahkan banyak pria.
Sean, yang sekali bertindak, tidak akan ada yang bisa menghalangi setiap tindakannya. Jika ada yang keberatan, maka dia tidak akan segan-segan melakukan tindakan yang tidak akan pernah di lupakan seumur hidup.
Itulah sebabnya, banyak yang mengincar nyawanya. Karena dia sudah banyak mempermalukan beberapa perusahaan lain dan membuatnya bangkrut dalam sekejap saja.
Sean merogoh sakunya, ingin menelepon seseorang. "Halo, kamu dimana sekarang?"
"Saya di luar Tuan, sedang mengurus masalah yang terjadi di Cafe tadi malam, Tuan."
"Oke, cepat urus dia! setelah itu datanglah ke sini, aku ingin membicarakan hal penting."
"Baik, Tuan," ucap seorang dalam telpon. Dia adalah Xander, sekretaris sekaligus asisten pribadinya. Tidak ada yang bisa menggantikan Xander. Karena pria itu adalah mafia paling kejam setelah Tuan Sean.
Dia mengenal Sean saat dia baru menginjakan 17 tahun. Dimana dirinya saat itu tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena ketidaksanggupan dirinya. Orang tuanya sudah lama pergi. Dia hidup sebatang kara.
Xander bisa mengenal Sean, karena mereka satu sekolah di SMA Patuan Anggi. Di sekolah, Sean yang terkenal dengan sikap buruknya yang suka bolos dan menentang peraturan guru, sedangkan Xander adalah murid terpintar di sekolah itu.
Mereka bisa bertemu dikarenakan pada saat itu ada seorang kakek tua yang minta tolong, dia diculik oleh para pencuri yang ingin mengambil semua organ tubuh manusia. Sangat mengejutkan bukan? Seorang penculik organ tubuh manusia di jaman sekarang?
Untung saja Sean dan Xander datang menolong kakek tua itu dari penculik yang membawanya lari tadi. Dia dimasukkan ke dalam karung berisi 50 kg yang tidak muat seluruh badannya. Kepalanya masih terlihat hanya saja ditutup dengan karung yang lain.
Setelah mereka berhasil mengalahkan beberapa penculik itu, mereka menghampiri sebuah karung yang terbungkus di dalamnya.
"Terimakasih, Nak... karena kalian sudah menolong Bapak, jika kalian tidak datang lebih cepat... mungkin Bapak tidak akan bisa lagi melihat dunia ini," ucapnya memelas. Air matanya jatuh kala itu. Dia sangat ketakutan. Jantungnya seraya berhenti berdetak karena dari insiden penculikan dirinya tadi.
__ADS_1
"Iya, Pak... sama-sama. Lain kali, Bapak harus lebih berhati-hati ke depannya. Mungkin saja mereka masih banyak, Pak berkeliaran," ucap Sean dengan tatapan yang tulus. Dia merasa kasihan dengan pria tua itu.
Lalu dia merogoh sakunya, ada sejumlah uang yang mungkin saja cukup untuknya makan dalam beberapa hari ke depan. Jadi, dia tidak perlu meminta-minta lagi.
"Bapak tinggal dimana?" tanya Sean datar.
"Saya tidak tinggal dimana, Nak... saya tidak punya rumah untuk ditinggali," jelasnya, dia tidak berani menatap mata, Sean. Karena tadinya dia sudah berjanji, kalau ada seseorang yang menolongnya, dia akan menghormatinya. Bila perlu, dia akan memberikan dirinya sepenuhnya.
"Tidak usah sungkan, Pak..."
"Iya, Pak, tidak usah sungkan. Kami jadi tidak enak," sahut Xander.
Sean dan Xander adalah pria yang paling disukai di sekolah Patuan Anggi. Itulah sebabnya, setiap orang yang melihatnya tidak asing lagi.
Pria tua itu pergi dan hanya mereka yang masih terdiam mematung, lalu Xander memulai percakapan lebih dulu.
"Hai, salam kenal."
"Iya, salam kenal kembali."
Sean menganggap Xander tidak hanya sebagai asisten saja, semenjak pertemuan itu, mereka telah menganggap satu sama lain seperti saudara.
***
"Masuk!" perintah, Sean.
Sean menyuruh masuk seseorang yang mengetok pintu dari luar.
Seorang pria yang bernama, Aldi sedang membawa proposal yang mau dia ajukan nanti. Sebelum pengajuan proposal, terlebih dahulu harus melapor kepada Sean, guna memperbaiki kesalahan yang ada. Supaya nanti dia tidak malu dalam rapat nanti. Sebab, mereka akan melakukan rapat antar beberapa negara. Jadi, semuanya harus di susun sebaik-baiknya.
"Apa kamu sudah gila?!"
Sean memaki pria itu dengan keras. Sehingga mereka yang berada di luar bisa mendengar betapa kerasnya suara Sean, saat itu.
"Ke... kenapa, Tuan?" tanyanya dengan terbata. Jantungnya hampir copot setelah mendengar Tuan Sean sangat marah.
__ADS_1
"Masih berani bertanya?"
"Saya ti... tidak berani Tuan," ucapnya.
Dia sudah hampir mati. Dia merasa kakinya sudah tidak kuat untuk berdiri.
"Mulai hari ini, kamu saya pecat!"
Pria itu terkejut mendengar pengakuan dari Tuan Sean yang tidak mau memberikan satu kesempatan untuknya memperbaiki semua kekurangannya. Pria itu, menangis. Dia sudah lama bekerja di sana, tapi semenjak CEO baru ini datang dari Indonesia, dalam sekejap dia harus mengangkat kaki dari tempat itu.
Dia keluar dari ruangan Tuan Sean, tidak berani menatap siapapun. Dia berjanji, dia akan membalas semua perbuatan Sean padanya nanti. Pria itu sudah keterlaluan!
Sean menyuruh Xander selaku asisten pribadinya, untuk membuat peraturan baru.
Dia tidak ingin semua karyawan nya bermalas-malasan bekerja. Mereka harus bisa lebih fokus pada pekerjaanya dan bukan kepada yang lain. Sebab, mereka sudah di bayar dua kali lipat dari gaji mereka pertama.
"Baik Tuan," jawab Xander cepat. Dia pun langsung pergi dan melakukan semuanya sesuai perintah Tuan Sean.
"Kamu tau, CEO yang baru saja datang dari Indonesia itu telah membuat peraturan baru. Tidak akan ada lagi bagi kita untuk bersantai. Dia sudah mengatur semuanya agar kita lebih fokus untuk bekerja dan bukan kepada yang lain," terang seorang karyawan tetap itu.
Dia sudah lama bekerja di perusahaan itu, makanyalah dia bisa naik dari jabatannya yang biasa dan menjadi menetap. Mereka tidak akan bisa lagi di pecat. Yang mereka tunggu adalah hari pengsiunan mereka.
Somsi mendengar semua yang di tuturkan wanita itu. Nanti dia akan menginformasikan kepada Uba, apa saja yang sudah di dengarnya.
Tiba-tiba, dia teringat akan ucapan Tuan Sean yang belum sempat ditatapnya seperti apa wajah Tuan Sean itu, karena selama Tuan Sean bertanya-tanya padanya, dia selalu menundukkan kepalanya.
"Kamu akan aku jadikan sebagai asisten pribadiku."
Kalimat itu sangat mengganggunya. Dari tadi dia kepikiran, bagaimana nasibnya nanti. Dari yang sudah di dengarnya tadi, bahwa Tuan Sean adalah pria yang kejam dan tanpa ampun. Mengingatnya saja membuat tubuh Somsi meriang. Bulu kuduknya langsung berdiri.
Tbc.
Dukung Author dengan vote, like, dan juga komen.
Bye... bye...
__ADS_1