Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Di Rumah Siti


__ADS_3

Somsi, Friska dan juga bu Wati pulang ke rumah tepat jam 5 sore. Mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh dan akhirnya sampai.


Somsi memasuki rumah mendahului Friska dan bu Wati dengan langkah cepat langsung masuk ke kamar untuk menemui pak Nius.


"Pa ..... Somsi pulang." Somsi duduk di samping pak Nius yang sedang berbaring.


Somsi memasang wajah sedih seperti punya masalah. Somsi merengek dengan manja pada pak Nius. "Pa .... Somsi nggak menang, Somsi kalah."


Pak Nius terkejut mendengar ucapan Somsi. "Apa nak? kamu kalah?" ucap pak Nius sambil melotot. Manik bola matanya hampir keluar.


"Iya pa..."


Somsi memalingkan wajahnya saat melihat pak Nius terlalu serius menanggapi apa yang sudah ia ucapkan. Ha ha ha ha ... papa pasti merasa sedih. Sekali-kali ya pak aku kerjain dulu. Sudah lama Somsi tidak seperti ini.


Pak Nius berusaha menghibur Somsi dan mengelus lembut punggungnya dari belakang. "Kamu yang sabar ya nak. Papa juga pernah rasain kegagalan seperti kamu, tapi papa berusaha untuk menghibur diri. Soalnya papa dulu tidak punya keluarga yang selalu mendukung papa," lirih pak Nius. Wajahnya berubah menjadi wajah sedih yang harus di hibur oleh siapa pun yang melihat pak Nius. Pak Nius juga mengenang masa lalunya, "Dulu papa, nasib papa berbeda dengan kehidupan teman papa."


"Teman papa memiliki orang tua yang utuh. Sedangkan ayah dan ibu papa sudah lama meninggal gara-gara tabrakan mobil."


Pak Nius meneteskan air matanya. Tetes demi tetesan membasahi pipi pak Nius yang mulai berkerut.


Somsi sangat terharu mendengar penjelasan ayahnya itu. Kehidupan ayahnya lebih parah dari setiap kehidupan yang ia jalani.


"Kehidupan papa dulu begitu susah sehingga papa tidak ingin mengenang rasa pahit itu lagi."


Pak Nius mulai menceritakan titik awal kesedihan ya pada Somsi.


"Pa .... jangan sedih," ucap Somsi lalu menghapus air mata yang sudah menetes deras itu.


Sungguh begitu menyedihkan mendengar cerita masa lalu ayahnya itu. Ia ingin sekali menghentikan pak Nius agar tidak usah melanjutkan ceritanya lagi. Dari pada harus mengingat dan membuat rasa sakit di hati.


Yang terpenting adalah masa depan, masa lalu bisa dilupakan.


Tapi bagaimana seorang pak Nius bisa melupakan masa yang kelam dalam hidupnya begitu saja. Masa lalu yang harus ia rubah tetap mendatangkan nasib yang malang untuknya. Ntah sampai kapan ia bisa berubah tak bisa dipungkiri. Pria miskin seperti pak Nius yang hanya tamat SD dari orang tua angkatnya.


"Kamu masih untung nak. Ada papa mama yang selalu ada untukmu dan juga adekmu."


Air mata Somsi keluar tanpa ijin dari pemiliknya. Ia begitu sedih setelah mendengar semua cerita dari papanya itu. Ya memang benar, kita mampu kehilangan segalanya kalau seseorang yang kita cintai selalu ada dan mendukung kita. Namun jika kita hidup hanya sebatang kara, apalah daya kita. Seperti nasi goreng yang dimasak begitu istimewa, dengan rasa yang sangat nikmat. Jika tidak ada yang memakannya pasti nasi goreng itu akan dibuang. Ya tetap sia-sia saja kan?


Somsi menyesal karena telah berbohong pada ayahnya. Padahal ia hanya bercanda, justru candaan ya jauh dari perkiraan ya.


Bagaimana ini? karna candaan ku papa jadi mengingat masa lalunya.


"Pa .... sebenarnya Somsi menang," ucap Somsi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tara .... papa kena tipu," ucap bu Wati mengejutkan pak Nius. Mereka datang tiba-tiba dari balik pintu.


"Hahahah, papa pasti kaget."


Friska tertawa lebar melihat pak Nius kaget tiba-tiba.


"Kalian sudah datang ya .... kok tiba-tiba, buat papa kaget aja."


Dengan menunjukkan wajah murung pak Nius memalingkan pandangan ya dari bu Wati, Friska dan Somsi.


"Ha ha ha ha, papa nggak usah cemberut nanti tambah jelek dan tambah tua."


Friska dengan nada mengejek selalu mengganggu ayahnya itu. Nggak tau apa kalau pak Nius sedang ngambekan. Nggak bujuk gitu?


Tidak lama pak Nius akhirnya kembali memancarkan aura kebahagiaan dari mimik wajahnya. Melihat itu Somsi semakin bertambah semangat. Ternyata Tuhan begitu baik padanya, ia mengucap syukur atas nikmat Tuhan yang selalu ada bersamanya dan melindungi ayah, ibu dan juga adek yang sangat ia sayangi.


"Pa, ma, dek .... Somsi pergi dulu ya. Soalnya Somsi masih ada urusan di luar." Dengan cepat ia melangkahkan kakinya. Sebelum pergi ia terlebih dahulu permisi menyalam tangan kedua orang tuanya.


Somsi menelusuri setiap perjalanan. Sebenarnya ia masih belum mandi. Tapi tugasnya hari ini harus selesai saat itu juga.


Kakinya pegal dan badannya lemas tapi ia tidak berhenti. Ia tetap melangkahkan kakinya.


Sesampainya di rumah Siti, ia pun mengetok pintu supaya orang yang berada di dalam rumah bisa membukakan pintu secepatnya. "Sit... Sit... ini aku Somsi," teriak Somsi dari luar setelah membunyikan bel rumah Siti.


Siti membuka pintu.


Ciklek.......


"Somsi? kamu sudah lama menunggu?" tanya Siti heran. Ada apa Somsi tiba-tiba mampir ke rumahnya. Bukankah Somsi baru saja merayakan kemenangannya dalam lomba memasak tadi.


Somsi ngapain kesini. Apa ia mau mengajak aku jalan-jalan ya? Nggak harus juga, ya walaupun ia sahabat aku nggak perlu ada kata traktiran.


Justru semua pertanyaan yang tersimpan dalam selubung hatinya yang paling dalam tidak bisa ia salurkan pada orang yang di depannya itu.


"Sit.... kamu lupa ya?" ucap Somsi sambil mengerutkan keningnya.


Siti menjawab santai. "Lupa apa ya Som?"


Somsi menggeleng. " Ya lupa lah. Masa kamu nggak tau maksud kedatangan aku kesini."


Somsi dari tadi berharap agar sahabatnya itu bisa mengerti maksud kedatangannya eh malah tidak. Justru temannya itu berpikir yang lain-lain.


Iya Som. Iya aku tau kamu pasti kesini untuk mengajak aku pergi ke rumah Bram. Ya untuk menyatakan perasaanmu yang sesungguhnya. Tenang Som... aku akan mendukungmu.

__ADS_1


"Hei! kok malah bengong?" Somsi mendada tangannya pada pandangan Siti yang diikuti oleh pandangan matanya ke kiri dan ke kanan.


"Eh siput aku makan, tapi tanduk aku tusuk."


Bicara latah Somsi ketularan juga pada Siti. Dulu Somsi lah yang selalu bicara latah kalau sedang terkejut.


"Siti....." teriak Somsi lebih keras.


"Eh Danau aku minum, burung aku makan, sampah aku simpan," ucap Siti dengan suara latah lagi.


Aduh.... kenapa mulut ini jadi kebiasaan latah.


Siti menutup mulutnya sembari menepuk-nepuk dengan tujuan agar tidak kebiasaan lagi.


"Sit serius lah... emang kau benar-benar tidak tau tujuanku datang kesini?"


Siti menganguk. "Iya."


"Astaga." Somsi menepuk jidatnya sendiri keras.


Awwww.....


Somsi sendiri meringis kesakitan akibat ulah nya sendiri.


"Hahahaha." Siti tertawa senang.


"Aku datang kesini mau meminta uang yang akan kau pinjamkan padaku Sit dan tolong antar aku ke rumah Ka borusaragih."


"Baik Som."


"Owh iya sebelum kita pergi, kamu hubungi dulu kakak itu. Apa kakak itu ada di rumahnya atau tidak. Biar nanti kita tidak sia-sia pergi kesana."


"Iya bentar ya Som."


Somsi mengangguk. Lalu ia permisi sebentar ke kamar mandi Siti. Setelah Siti mengijinkannya, ia berlari dengan cepat.


Rasa sesak untuk bak sudah tidak bisa ia tahan lagi.


Somsi mengagumi semua ruangan rumah Siti yang ia lewati sampai ke kamar mandi. Sungguh sangat indah. Berbeda dengan rumah mereka.


Bersambung.......................


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


__ADS_2