
Di dalam kamar bu Wati menghampiri suaminya yang kini terbaring tidur. Bu Wati menaikkan selimut yang jatuh ke lantai. Refleks bu Wati terkejut tiba-tiba pak Nius memegang punggungnya. "Ma......." ucap pak Nius.
"Astaga Tuhan! Papa..... kenapa membuat mama terkejut. Kalau mama mati tiba-tiba gimana pa?" kata bu Wati langsung memukul tangan pak Nius dengan tangan ya dengan pelan.
"Ha ha ha ha ha...." pak Nius malah tertawa terbahak-bahak melihat wajah bu Wati yang lucu.
Meski umur mereka tidak mudah lagi. Tetapi bu Wati masih saja terlihat awet muda. Bukannya bu Wati bersenang-senang, toh selalu pergi ke sawah. Tetapi mengapa wajahnya masih muda seperti itu?
Bu Wati mengambil air minum dan juga pil untuk pak Nius. Sudah saatnya pak Nius harus meminum obatnya.
Jam 07:00
Somsi telah siap mandi dari tadi. Ia sengaja tidak keramas karena sengaja ingin mengikat rambutnya ke atas dengan bentuk kuncir kuda. Setelah itu ia pun mulai merapikan lagi bajunya yang mulai kusut.
Biasanya Somsi selalu keluar memakai celana. Tetapi karena semua celananya terlihat buruk yang tak bisa ia pakai lagi lalu ia mencari pakaian yang tepat untuk ia kenakan. Tidak ada. Hanya ada kemeja kotak-kotak berwarna merah muda dan rok yang panjangnya selutut.
Apakah penampilanku sudah bagus ya?
Somsi bertanya pada diri sendiri. Merasa tidak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan itu. Ia takut kalau sampai ia terlihat buruk sekali. Dan Bram nantinya akan malu padanya. Di tambah karena ia mengenakan rok, semua mata pasti akan tertuju padanya, bukan karena cantik tapi karena hitamnya betisnya tidak seperti wanita lain.
Somsi pasti dikira wanita culun plus tomboy. Dengan memakai kemeja dan rok sebagai pemasok dalam blusnya.
Ya seperti yang ia bayangkan. Wanita culun yang ada di sekolahnya dulu. Persis mirip dengannya. Dan juga wanita tomboy teman di belakang bangkunya dulu. Ketika mereka jalan-jalan untuk rekreasi khusus kelas Xll SMA yang baru tamat.
Wanita itu memakai celana dengan baju kemeja lengan panjang. Diikat tinggi-tinggi sambil membuat sanggul donat di rambutnya.
Terlihat aneh memang. Tetapi itulah dia.
Tidak ada rasa minder atau pun rasa takut diejek.
Kaca di rumah Somsi tidak ada. Kaca yang dulunya masih ada sudah pecah akibat terpaan angin yang begitu kencang melanda seluruh rumah penduduk. Angin Beliung Yang Sangat Kencang.
Flashback onπΈπΈπΈπΈπΈ
Dulu memang terjadi sebuah gempa yang di dahului angin beliung yang begitu kencang menerpa seluruh dedaunan hingga berterbangan kesana-sini.
Somsi pada saat itu masih duduk di bangku kelas X.
__ADS_1
Belum tamat Sma.
"Mama....." teriak Somsi ketika melihat ibunya diterpa angin putiung beliung itu.
Ia menangis sangat kuat. Melihat kejadian yang menimpa bu Wati. Ia berpikir ia akan kehilangan ibunya selamanya tapi kita tidak tau, bahwa Tuhanlah yang berkehendak.
Tiba-tiba bu Wati terlepas dari angin itu dalam keadaan pingsan. Sedangkan pak Nius tergeletak di tanah dan adeknya Friska menangis keras.
"Kakak.... hiks hiks hiks... kakak....."
Somsi memeluk adeknya itu, mengusap lembut air mata yang jatuh ke pelupuk wajah adeknya.
"Mari kita berdoa dek," ucap Somsi.
Mereka berdua pun berdoa bersama. Dari hebatnya angin tersebut tiba-tiba saja reda.
Somsi dan Friska membuka matanya. Mereka heran dengan keagungan yang Maha Kuasa yang masih memberikan mereka kesempatan untuk hidup.
Warga sekitar banyak keluarganya yang tidak lengkap lenyap di makan angin putiung beliung dan ada yang meninggal dunia akibat hempasan angin tersebut. Hanya merekalah yang masih selamat utuh.
Beberapa menit kemudian bu Wati dan pak Nius mulai sadar.
"Nak... ini sebuah mujizat dari Tuhan, kita pantas untuk bersyukur," ucap pak Nius.
"Iya nak, kita harus selalu bersyukur walau apapun yang terjadi nanti," sambung bu Wati.
Dari kejadian itu, banyak sekali kekurangan dalam hidup mereka. Sudah kekurangan malah bertambah kurang lagi. Tetapi mereka tidak menyerah. Meski miskin di harta tapi tidak miskin di hati. Sebuah prinsip yang mereka bangun selama ini.
Flashback off π΅π΅π΅π΅π΅
Meski tidak adanya sebuah kaca di rumahnya itu tidak menjadi sebuah masalah bagi Somsi.
Ia masih saja menyisir rambutnya dengan santai. Itulah mengapa Friska kalau pergi ke sekolah selalu saja bedaknya hidup.
Bahkan teman-teman ya sering menertawakan dirinya. Melihat penampilan Friska yang terlalu pede pergi sekolah dengan wajah penuh bedak hidup.
Alasannya kalau mereka mengejeknya, bedak nya hidup gara-gara keringatnya. Gara-gara di angkot terlalu panas. Gara-gara ia berlari cepat. Memang alasan itu kurang tepat, tapi itulah jawabannya. Tidak mungkin ia mengatakan kalau di rumahnya tidak ada kaca. Tidak mungkin ia mempermalukan kedua orang tuanya di depan teman-teman ya.
__ADS_1
Somsi merapikan bajunya seperti biasa ia lakukan. Mengeluarkan blouse ya lalu memasukkannya lagi ke dalam roknya.
Terlihat ramping dan menarik. Ia pun keluar dengan senyum di wajahnya mendapati bu Wati dan juga adeknya yang sedang makan.
"Kak.... mau kemana? Tumben rapi begitu?" tanya Friska dengan mata membelalak.
Bu Wati juga heran dengan penampilan Somsi yang luar biasa cantiknya. "Iya nak, mau kemana? Kok cantik sekali."
Wajah Somsi bersemu merah setelah mendengar pujian dari ibunya. "Ekhm, Som-"
Belum sempat ia menjelaskan kemana ia akan pergi, tiba-tiba Bram muncul dari pintu masuk.
"Malam Tante......" Sapa Bram lalu menyalam bu Wati dengan wajah tersenyum.
Somsi tersenyum getir melihat Bram yang muncul tiba-tiba. Padahal Somsi belum mengatakan kalau ia ingin pergi malam ini.
"Mau apa kau kesini?" tanya bu Wati jutek. Ia masih tidak suka dengan sikap Bram sewaktu Somsi mengikuti lomba masak, 17 agustus yang lewat.
Bram berdehem. "Ehem.... begini Tante. Tante saya datang kesini untuk membawa putri Tante yang cantik jelita ini keluar sebentar Tante, begitu Tante," ucap Bram santai. Ia tidak merasa takut sedikit pun meski bu Wati sudah memberi kode tatapan tajamnya. Tapi itu tidak sama sekali mempan kepada Bram.
Bu Wati menatap tajam ke arah Somsi. Ia ingin sekali memarahi putrinya itu. Tetapi emosinya tiba-tiba turun ketika melihat wajah lesuh Somsi. Lalu bu Wati meminta penjelasan lebih lagi. "Atas hak apa kau datang kesini untuk membawa putriku!"
Bu Wati bertanya seolah sedang melakukan interview pada Bram.
Bersambung....................
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate (bintang 5) dan favorit sebanyaknyaπππππ₯³π₯³π₯³π₯³π₯³π₯³
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH *PUASA, RAJIN-RAJIN BERSEDEKAH YA... BIAR PAHALA!!!
TERMASUK MENDUKUNG NOVEL KETENTUAN NASIB INI.
BERSEDEKAHLAH SEIKHLAS HATI TANPA ADA UNSUR PAKSAAN.
JANGAN PERNAH BERSIKAP SOMBONG DAN BERSIKAP ACUH PADA KEBAIKAN. KARENA SETIAP KEBAIKAN KITA ADA HIKMAHNYA.
__ADS_1
Jangan lupa beribadah kepada Tuhan. ππ*