Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Bab 18


__ADS_3

Dokter datang menyuruh agar secepatnya melakukan operasi. Kalau tidak ayahnya akan mengalami amnesia.


"Kita harus melakukan operasi segera. Banyak sekali yang terjadi jika benturan pada otak sangat keras," ucap Dokter.


"Apa saja itu dok?" tanya Somsi.


Tidak papa harus sembuh. Aku tahu papa itu kuat.


Somsi dan Friska sudah sangat khawatir. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada ayahnya itu.


"Salah satu tampak dari benturan kepala yang mengakibatkan cedera otak, antara lain terganggunya kemampuan berbahasa dan berbicara," jelas Dokter.


"Apakah cuma itu dok?" tanya Somsi ingin tahu.


"Banyak juga yang terjadi seperti koma, sakit kepala kronis, kejang-kejang, kelumpuhan, serta terganggunya kemampuan indera penglihatan, pendengaran, pencium, perasa atau pengecap."


"Apakah papa saya masih bisa disembuhkan dok?" tanya Somsi semakin penasaran.


"Bisa. Kalau kalian mengijinkan pasien ini untuk di operasi. Dan biaya nya harus lebih dulu disetor baru lah kami akan menanganinya."


Dokter itu menjelaskan semua mulai dari penyebab hingga cara untuk mengatasinya.


Friska tercengang mendengar penjelasan dokter. Rumah mereka sudah digadaikan untuk biaya rumah sakit ayah nya.


"Kak... papa bisa saja operasi. Karena papa sudah mendapatkan biaya perawatan dari seseorang," Friska sedikit merasa takut akan penjelasannya pada kakaknya. Dia tidak ingin kakaknya kembali memarahinya. Sudah cukup dia menangis sampai sejauh ini.


"Siapa dek?"


Friska menutupi kebohongan "Seseorang yang menawarkan bantuannya kak."


Kakak .... kalau saja kakak tahu kalau rumah kita sudah aku gadaikan. Aku tidak tahu kak... bagaimana caraku mengambil sikap. Aku tidak mau kehilangan papa. Makanya aku menerima perjanjian itu.


Friska bingung harus berbicara jujur atau memilih berbohong. Dua-duanya sangat membingungkan baginya.


Bagaimana ini? apakah aku harus jujur atau berbohong?


Lagi-lagi dia memikirkan apa yang akan dia lakukan. Semua terasa sulit.


Mengapa aku merasa kalau Friska sedang tidak berkata jujur ya. Apa sebenarnya yang sedang terjadi.


Pertanyaan itu yang muncul dipikiran nya.


Pak Nius sudah berada di ruang operasi. Perjuangan yang akan dilakukan pak Nius dalam keadaan tidak sadar. Berharap semua baik-baik saja.


Pak yang kuat ya... jangan menyerah. Lihat lah kami, jangan pernah tinggalkan kami.


Kata-kata itu keluar dari pikirannya. Dia berharap ayah nya selamat. Jika ayah nya tiada bagaimana Somsi bisa menerima itu.


Pa... Friska berdoa pada Tuhan, semoga papa selamat.


Mereka semua menunggu dari luar. Hanya menunggu waktu baru mereka bisa mendengar hasilnya.


Ruang operasi terbuka dan dokter keluar.


"Gimana dok keadaan papa saya?" tanya Somsi.


"Semua berjalan dengan lancar. Pasien selamat," ucap Dokter itu.


Syukurlah Tuhan....

__ADS_1


Somsi mengucap syukur dalam hatinya. Hati nya sudah tenang saat mendengar ayah nya selamat.


Terima kasih Tuhan. Engkau mengabulkan permohonan ku. Allah ku yang baik.


Friska juga tidak lupa berterimakasih pada mujizat yang telah nyata.


Tinggal menunggu pak Nius sadar. Baru bisa membawa nya pulang ke rumah.


"Kak... aku senang sekali. Papa kita selamat dari maut kak."


"Iya dek. Kakak juga senang. Seakan tidak percaya. Tetapi kakak sangat bersyukur kita masih diberikan kesempatan untuk mengubah sifat kita," jelas Somsi.


Beberapa jam kemudian, pak Nius akhirnya sadarkan diri. Mereka membawa pulang pak Nius ke rumah.


...****************...


Mereka sudah sampai dirumah. Mereka disambut oleh ibu Wati yang sudah sadar. Bu Wati melihat Friska mendorong dari belakang memakai kursi roda. Pak Nius masih dalam keadaan tidak sadar.


"Suamiku....!" bu Wati mendekati pak Nius lalu memeluknya.


Friska menjauh dari pak Nius. Dia masih mengingat ucapan ibu nya itu. Dia adalah menjadi penghalang kebahagiaan di keluarga nya.


Pasti mama masih benci samaku. Lebih baik aku menjauh dari papa, sebelum mama marah besar.


Friska pergi meninggalkan mereka. Saat dia melangkah, kakinya berhenti saat ibunya menyuruh berhenti.


"Berhenti nak!" perintah bu Wati.


Apakah mama mau menamparku lagi? atau mama akan marah dan mengusirku seperti tadi?


"I-iya ma," ucap nya terbata.


Ha.... apakah ini betul?


Friska masih berpikir keras dengan maksud dan tujuan ibunya.


"Sini nak... peluk mama," suruh bu Wati.


"Iya ma."


Bu Wati melingkar kan tangan nya pada punggung Friska lalu mengusap dengan tangannya lembut.


"Makasih ma... sudah maafin aku aku," ucap Friska.


"Sama-sama."


Somsi senang melihat mama dan adek nya sudah baikan. Dia tidak perlu khawatir pada mereka berdua lagi.


"Kok hanya Friska sih dipeluk. Aku juga mau dipeluk seperti itu. Kok aku gak ya?" ucap Somsi dengan manja.


Di tengah keasikan mereka. Pria tua datang memasuki rumah bersama anak buahnya.


"Kalian, bongkar semua barang-barang mereka dan keluarkan dari sini. Rumah ini telah menjadi milikku. Ha ha ha ha ha," pria tertawa lalu menyuruh anak buahnya segera mengeluarkan barang mereka semua.


Somsi dan bu Wati bingung dengan apa yang akan dia lakukan. Dia tidak mengenal siapa pria tua ini. Apa lagi dia datang untuk mengusir mereka dari rumahnya sendiri.


"Rumah ini sangat jelek sekali. Yang membuatnya mahal karena ikut dengan luas tanahnya. Kalau tidak aku gak akan menolong kalian. Kalian mengerti!" bentak pria tua itu.


"Apa... apa maksudmu. Menolong apaan?" tanya Somsi bingung.

__ADS_1


Dia semakin bingung dengan apa yang telah terjadi pada keluarga nya saat dia pingsan.


Apa maksud kata pria ini. menolong.. apa yang telah terjadi saat aku pingsan hingga aku tidak tahu apa-apa. Dari tadi Friska tidak memberitahunya sama sekali. Apa yang dimaksud pria tua ini? Aku harus bertanya. Tapi kepada siapa? Hanya Friska yang tahu.


Banyak sekali pertanyaan di dalam hatinya. Dia melihat ke arah Friska seakan menyimpulkan dari wajahnya penuh penuh dengan semua pertanyaan.


"Friska bisa kamu jelaskan apa maksud dari kata pria tua ini. Menolong.... menolong apaan Fris...?" tanya nya bingung.


"Kak.. maafkan Friska. Friska tadi sudah menanda tangani rumah ini kalau rumah ini akan di gadaikan. Karena Friska tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tega melihat keaadan papa saat itu," jelasnya sambil menangis.


"Mengapa kamu tidak berpikir dua kali dek... kalau dia mengambil rumah ini, kemana kita akan tinggal," lirih Somsi.


"Maafkan aku kak. Aku tidak bisa berbuat apa saat itu. Bagiku kesembuhan papa lah yang penting," Air mata yang sudah dia kubur dalam-dalam agar berhenti menangis. Mengeluarkan tetes demi tetes air mata dari pemiliknya.


"Semua cepat usir mereka dari sini!" perintah pak tua.


"Siap pak."


Anak buahnya mulai memasuki kamar Somsi dan Friska. Kamar yang begitu sempit untuk ditempati oleh dua orang. Apa lagi kamar itu tidak termasuk ukuran.


Bug.....................


Suara lemparan tas Somsi dan Friska. Baju mereka digabung dalam isi tas itu. Somsi langsung memohon pada pria tua itu untuk diberikan kesempatan untuk mengganti semuanya.


"Pak... tolong berikan saya kesempatan. Saya akan membayar semua," lirih Somsi dengan sangat memohon pada pria tua itu.


Dia menolak. "Tidak nak. Kamu tidak akan sanggup membayarnya. Hutang kalian terlalu besar."


"Aku janji pak... beri kami kesempatan. Kalau kami diusir dari sini. Kemana kami akan pergi," Dia menundukkan kepalanya dan menyatukan kedua tangan nya untuk memohon.


Pria tua itu tetap tidak mau. Sampai akhirnya dia memberikan kesempatan untuk mereka.


"Baik.... Saya akan biarkan kalian tinggal disini. Tapi harus dengan uang muka dan hanya seminggu kalian disini. Kalau dalam seminggu kalian tidak kunjung membayar lunas. Kalian akan saya usir. Paham!" ancam pria tua.


"Ba-baik pak."


"Tapi berapa besar hutang kami kepada bapak?" tanya nya memastikan.


"50 juta. Kalian perlu membayar saya 50 juta," ucap pria tua itu tersenyum licik.


Banyak sekali...


Somsi setuju. "Baik pak saya akan membayar nya dalam seminggu seperti bapak janjikan."


Lalu dia pergi ke kamar mengambil tempat persembunyian tabungan nya. Untung saja mereka tidak tahu kalau tabungannya dia simpan disitu kalau tidak uangnya akan hangus.


Dia mengambil gunting lalu membelahnya Semua uang berceceran mulai dari logam sampai uang 50 ribu.


Dia mengumpul dua tabungan itu. Yang satu sudah penuh dan satu lagi masih awal untuk menabung.


Semua terkumpul hanya sebesar 2 juta saja. Lalu dia keluar dan menyerahkan uang itu sebagai uang muka.


"Hanya segini? ha ha ha ha ha... Saya sanksi kalau kalian akan bisa membayar nya. Ha ha h ha," Dia menertawai uang yang dikasih oleh Somsi. Tetap dia menerima nya lalu pergi keluar.


"Hanya dua juta sebagai uang muka? wah ini tidak benar lagi. Rumah ini akan tetap menjadi milikku. Dari mana mereka bisa mendapat uang sebanyak itu dalam seminggu," suara celotehan nya dari luar masih terdengar dari dalam.


Bersambung...................


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen.


__ADS_2