
Somsi meneriaki Bram dengan suara keras yang susah payah ia keluarkan. Lalu Bram memutar tubuhnya melihat ke arah Somsi.
"Kenapa Som?" ucapnya dingin. Matanya sendu , wajahnya menunduk datar. Ia tidak berani menatap Somsi.
Siapa dia?
Dino melihat penampilan Bram. Ganteng dan sangat menarik pandangan wanita ketika ia lewat.
"Som.... siapa dia?" tanya Dino menatap lekat wajah Somsi.
Ketika Dino bertanya tangannya mulai terasa longgar. Lalu ia melepas paksa dirinya dari pelukan Dino. Somsi mendorong Dino sengaja. "Kau! Setelah selama ini kau melakukan penghianatan padaku, kau datang kesini dan tiba-tiba tanpa rasa malu kau memelukku."
Somsi menunjuk Dino dengan tatapan tajam. "Kau salah! Ngapain kau datang kesini?"
"Dia adalah pacarku," ucap Somsi menghampiri Bram lalu menggandeng tangan ya.
"Apa?" tanya Dino heran. Rasa kecewa dalam dirinya mulai hadir meliputi seluruh perasaan ya.
Bram menatap lekat-lekat wajah Somsi yang berani menggandeng tangan ya begitu saja. Tatapan mereka saling bertemu.
"Kenapa? kamu kaget?" tanya Somsi seakan tau perasaan Dino. Somsi seperti memberikan jarum tusuk berkali-kali yang menyakitkan untuk Dino. Lalu ia melepas genggaman tangan ya pada tangan Bram mendekat ke hadapan Dino dan menunjuk wajah Dino penuh kemarahan. "Dino, sudahlah.... hubungan kita sudah lama berakhir dari satu tahun yang lalu. Jadi, stop ganggu apa lagi temui aku."
Bram hanya diam mematung. Menerima segala perlakuan Somsi padanya. Atas dasar apa Somsi berani mengatakan kalau dirinya adalah pacar ya. Padahal selama ini beribu cara yang ia lakukan untuk mendapatkan cinta dati Somsi tetap saja sia-sia. Semua perjuangan ya tidak pernah membuahkan hasil.
Apakah ia hanya sebagai figuran semata seperti tidak tau apa-apa. Yang dijadikan Somsi sebagai alat hanya untuk menghentikan sikap Dino padanya.
Hal menyakitkan apa lagi yang harus ia rasakan. Kalau memang tidak ada rasa suka, untuk apa semua itu. Lebih baik Somsi tidak menggunakan dirinya hanya untuk membohongi Dino dengan mengaku kalau dirinya adalah pacar Somsi.
Dino tidak percaya dengan semua yang dikatakan mantan pacarnya itu. Yang ia tau Somsi bakalan susah move on darinya. Ia masih mengelak, "Tidak Som, aku tidak percaya."
"Kau tidak akan pernah bisa melupakan aku," tambahnya lagi.
__ADS_1
Somsi tertawa kecil mendengar ucapan Dino. "Kenapa tidak Dino. Kenapa tidak.... dari setiap apa yang sudah kau lakukan padaku, mana mungkin begitu saja aku dapat melupakan ya."
Penjelasan secara rinci haruslah Somsi katakan dan selesaikan saat itu juga. Ia tidak ingin mempunyai ikatan hubungan dengan Dino apa lagi kalau sampai Dino masih berharap padanya sejauh ini.
Sudah, sudah cukup selama ini ia merasakan pahitnya menjadi seorang kekasih yang dikhianati. Bukan cuma kekasih saja, bahkan sahabatnya juga ikut mengkhianatinya. Padahal Somsi selalu melakukan yang terbaik untuk pacar dan sahabatnya itu. Justru di balik kebaikan ya ia malah merasakan pahitnya dikhianati.
Dari semua kejadian yang menimpanya, mulai dari penghianatan dari pacar dan juga sahabatnya. Dari situlah ia trauma dan tak ingin memiliki pacar apa lagi sahabat.
"Som.... tolong maafkan aku. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya," jelas Dino. Hatinya sekarang kacau. Penuh sesak oleh perasaan bersalah. Perasaan yang begitu menyakitkan untuknya. Andai semua itu tidak terjadi, pasti ia akan bahagia bersama Somsi sampai saat ini.
Dino masih belum menyerah. Ia datang menemui Somsi hanya untuk memperbaiki semua kesalahan ya. Sudah lama ia melepas Somsi dan menjauh darinya hanya untuk membuat keadaan Somsi lebih baik.
Dino mendekat dan berusaha meraih tangan Somsi. Tapi Somsi malah menjauh. Somsi tidak suka dengan semua tingkah Dino padanya. Ia menghempas kasar tangan Dino yang berusaha meraih tangan ya. "Sudah cukup Dino!" bentak Somsi.
"Sudah cukup! Mau kemana kau buat pacarmu itu?" ucap Somsi masih tidak mau membiarkan Dino mengucapkan penjelasan ya lagi.
"Aku..." Belum sempat Dino bicara sudah di potong oleh Somsi.
"Jangan mengulangi kesalahan yang sama lagi Dino.... belajarlah menjadi pria yang tulus yang bisa menerima perempuan itu apa adanya. Dan mau bersamanya bagaimana pun bentuknya. Apabila ia berubah menjadi jelek, pria itu masih tetap bersamanya."
Dino mendekat, menarik tangan Somsi lalu mengecupnya lembut. "Aku akan memutuskannya demi kamu."
Ha? kenapa kamu seperti ini Dino?.... Aku tidak menyangka kalau aku pernah pacaran dengan orang sepertimu. Aku menyesal karena pernah jatuh cinta denganmu. Aku menyesali semuanya. Kenapa kita harus bertemu? Dulu awal kita bertemu kau adalah sosok yang aku dambakan. Tapi sekarang kau adalah sosok yang pantas dibenci dan dibuang.
Somsi terdiam dan hanya tertunduk. Ia tidak sanggup lagi untuk bicara. Air matanya telah membasahi pipinya dari tadi. Sehingga setiap inci area matanya terlihat sembab.
Bram yang melihat Somsi menangis ingin rasanya tangan ya mengusap lembut segera menghapus tiap tetes air mata yang keluar.
Tapi ia tak kuasa. Hatinya juga berkecamuk. Apa yang harus ia lakukan. Ia sendiri bukan siapa-siapa bagi Somsi. Lalu untuk apa ia berbuat seperti seorang kekasih yang tidak pernah dianggap?
Bram yang mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Dino merasa jijik lalu membuang ludahnya ntah kemana. "Cih, dasar pria aneh. Kau tarik ulur saja beranda Facebookmu. Jangan wanita goblok."
__ADS_1
"Apa kau bilang?" tantang Dino langsung. Dino panas mendengar Bram sedang mengatai dirinya dengan kata-kata kasar.
"Aneh."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Bram.
Bram tidak perlu menjawab panjang kali lebar. Cukup menjawab sesingkat mungkin untuk orang seperti Dino. Itu pun sudah rasa syukur ia masih menjawab orang itu.
"Aneh bagaimana? Dan apa katamu goblok? Aku hanya mengatakan apa yang tersimpan dalam hatiku. Lalu apa salahnya buatmu?" tanya Dino balik mempertanyakan ucapan Bram. Seakan belum puas dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Bram.
"Kalau sudah tidak diterima ya tinggal pergi saja. Nggak usah sok pakai drama!"
Bram kembali membalas ucapan Dino yang menantang dirinya. Ia tidak mau diam begitu saja setelah mendengar perlawanan Dino yang tak mau mengalah.
"Ini urusanku. Dan kenapa jadi kau yang repot! Emangnya kau siapanya Somsi? Kau hanya sebagai figuran saja disini, hahahahahh."
Dino menertawakan Bram yang sedari diam mendengar ucapan ya. Ya memang benar untuk apa ia ada disana. Toh ia bukan siapa-siapa.
Dino meraih tangan Somsi sehingga mereka kini jadi dekat dan memberi kecupan di keningnya Somsi.
"Hei bang! Jangan berani menyentuh kakak saya!" teriak Friska yang mengintip diam-diam dari jendela.
Bram yang melihatnya emosinya melunjak. Ia merasa geram dengan semua tingkah Dino. Tangan ya kini sudah ia kepal, satu layangan tinjunya sudah mendarat ke pipi Dino bagian kanan.
Bugghh........
Bersambung....................
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate (5) favorite sebanyak-banyaknya🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺
__ADS_1