Ketentuan Nasib

Ketentuan Nasib
Gara-gara Bram


__ADS_3

"Papa.... papa uda sembuh? sudah lama sekali aku menantikan kesadaran papa," rengek Friska. Air mata yang ia bendung sekarang keluar mengalir deras membasahi pipinya yang mulus.


Pak Nius hanya memperhatikan putrinya menangis. Tanganya masih belum bisa ia gerakkan dengan lancar. Mungkin karena kelamaan koma jadi tangan pak Nius kaku seperti itu.


Perlahan pak Nius menyunggingkan senyum. Yang membuat bu Wati, Somsi dan Friska tenang.


Selama pak Nius koma, pikiran mereka ntah kemana. Mereka tidak pernah merasa senang kalau pun saat itu hari bahagia. Itu semua karena mereka tidak bahagia tanpa kelengkapan pak Nius di sekeliling mereka.


"Ja-ja-jangan menangis," ucap pak Nius lirih dengan suara terbata.


"Iya pa."


Bu Wati, Somsi dan Friska saling memeluk satu sama lain. Mereka sangat bahagia hari ini. Hari yang mereka tunggu akhirnya tiba juga.


"Owh ia, papa kan belum makan. Aku ambil makanan papa ya mama.....," teriak Friska yang membuat telinga bu Wati dan Somsi ingin meledak.


"Adek, suara kamu kok bising kali."


Bweee...


Friska tersenyum dan mengulurkan lidahnya. Hari ini adalah hari bahagia untuknya. Jadi ia tidak perlu takut pada kakaknya sementara.


Dengan tawa girang Friska pergi ke dapur. Ia bernyanyi dengan suara fals yang di milikinya. Dengan penuh percaya diri ia bernyanyi.


"Papaku sembuh.... papaku sadar dari komanya.... aku bahagia.... aku bahagia... aku.......... bahagia," suara nyanyian Friska sungguh mengganggu telinga orang yang mendengarnya.


Tetapi apa yang harus mereka lakukan. Friska memang seperti itu. Sekali orang mengkritik, semakin ia ulangi sampai orang itu menyerah untuk mengkritik.


Makanan pak Nius sudah siap. Friska membawa makanan dengan minuman di tanganya.


"Kok lama kali kau dek. Hanya buatin itu aja," celoteh Somsi.


"Ahh kakak mahh, selalu buat usaha untuk berkomentar," jawab Friska menantang.


"Owh kau menantang kakak yaa?" tanya Somsi seakan tau apa maksud dari kata-kata Friska.


"Ha ha ha ha ha," Friska tertawa terbahak.


"Kok malah tertawa! mulai iseng yaa!" Somsi menatap Friska marah.

__ADS_1


Friska mulai ketakutan dan menunduk. "Enggak kok kak. Kakak salah paham ihh."


Somsi tidak melanjutkan perdebatan mereka lagi. Kalau di lanjutkan makin panjang kali lebar hingga tidak terselesaikan nanti.


Sebenarnya Somsi hanya bercanda. Ia juga tidak mungkin memarahi Friska di hari pak Nius sadar. Yang benar saja.


"Awas kak... biar aku yang duduk di situ. Aku mau sulang papa," usir Friska lancang.


Somsi tak menyahut. Ia hanya berdehem tapi beranjak dari tempat itu. "Hmm."


Friska menyuapi pak Nius langsung. Agak sulit bagi pak Nius untuk menganga mulutnya. Yah efek dari selama koma.


Melihat Friska yang buru-buru menyuapi pak Nius membuat ibunya segera menghentikan tindakan ya itu. "Nak... pelan-pelan, nanti papa kamu ke sedak loo."


Friska mulai mengatur tanganya untuk tidak terlalu cepat lagi menyuap pak Nius. Mau kemana dia hingga harus secepat kilat hanya untuk menyuapi pak Nius.


Usai pak Nius makan. Friska pindah dari bangku yang ia duduki tadi. Bangku yang sudah sangat lama. Hanya itu yang mereka punya. Untuk beli yang baru mereka tidak punya. Bahkan gaji mereka saja tidak cukup untuk membelinya. Butuh gaji dari hasil 4 bulan bekerja baru lah mereka bisa membelinya. itu pun hanya 1 bangku saja dari setiap 4 bangku yang akan di beli sesuai gambar.


Papa akhirnya sadar juga. Meski lama sadar tapi papa sadar saat aku akan mengikuti lomba. Papa bisa melihat ku nanti.


Somsi bergumam. Dia tidak perlu mengatakan hal-hal konyol keluar dari mulutnya. Cukup ia pendam saja.


Aku harus memenangkan lomba itu. Agar aku bisa mendapat hadiah dan bisa membayar uang masuk untuk bekerja ke Malaysia nanti.


Somsi masih bergumam. Matanya belum mengantuk sama sekali. Dia pun berusaha menutup matanya agar terlelap tapi susah.


Somsi beranjak dan pergi ke jendela membuka pintu jendela. Dia melihat ke atas. Di sana masih ada bulan dan bintang yang menemaninya di malam hari yang dingin itu.


Dia kembali menutup jendela itu lalu merebahkan tubuhnya di samping Friska. Cukup lama ia menunggu agar ia bisa tidur. Dan akhirnya tertidur juga. Somsi dan Friska sudah terlelap saat malam dingin itu.


...****************...


Pagi hari dengan kicauan burung-burung kesana kemari dengan suara merdu. Tepat jam 06:00 pagi Somsi membuka matanya. Masih terdengar suara ayam yang berkokok.


Somsi segera ke dapur. Ia berkutat dengan bahan masakan. Hari ini ia akan memasak banyak. Ia akan memasak mie gomak dan juga bakwan perkedel untuk ia jual nanti. Sebagai kesehariannya untuk bekerja. Berharap itu bisa menambah tabungannya.


Tinggal memasak perkedel semua akan selesai.


Somsi pergi ke kamar dan mengambil pakaian gantinya. Dia melihat Friska yang masih tertidur pulas. Ia tidak mau mengganggu tidur adeknya itu. Friska akan bangun juga nantinya. Dia pasti ingat kalau hari ini ia sekolah.

__ADS_1


Somsi sudah mulai menjunjung mie gomak dan juga gorengannya. Ia telah menyisakan sebagian untuk ayah, ibu dan juga adeknya.


Somsi pergi ke tempat ia biasa jualan. Dia mulai mengeluarkan piring dan cangkir.


Belum ada yang menyamperin dagangannya. Mungkin karena masih terlalu pagi. Tapi Somsi tetap sabar menunggu.


Tepat jam 07:00 pagi, orang-orang mulai berdatangan. Somsi mulai meladeni mereka satu per satu dengan wajah tersenyum. Kalau ia memasang wajah marah, bisa-bisa dagangannya gak akan laku.


Di tengah ia meladeni orang-orang itu, Somsi merasa sesak ingin pipis. Ingin pergi tapi tidak ada yang menggantikannya. Tiba-tiba ia melihat Bram. Somsi memanggil Bram.


"Bram.... ke sini bentar," teriak Somsi.


Bram berbalik saat ia mendengar seseorang telah memanggilnya. "Iya ada apa Som?" tanya Bram dengan mata melotot.


"Ini nih, aku mau pipis. Tolong jagain dagangan aku ya. Bentar..... aja," ucap Somsi dengan nada memohon.


Bram tertawa melihat Somsi. "Ciaelah, hanya itu aja pakai muka begituan. ha ha ha ha."


Somsi tidak membalas Bram lagi. Sudah sangat sesak ia rasakan. Kalau ia masih membalas bisa-bisa ia akan pipis di situ. Kan yang malu Somsi bukan Bram.


Bram mulai menjaga dagangan Somsi dengan sangat hati-hati. Lama juga Somsi dari kamar mandi.


Bram melihat ada banyak orang yang rame agak jauh dari tempatnya. Ada pertunjukan pentas seni. Ia pergi ke situ dan lupa kalau ia punya tugas untuk menjaga dagangan Somsi.


Somsi keluar dari kamar mandi dan kaget melihat dagangannya. "Brammmmmmmmmm....," teriak Somsi.


Semua dagangannya tumpah ke tanah. Kambing-kambing itu telah menjatuhkan dagangan Somsi dan juga memakannya.


Bram kaget dan takut saat melihat semua dagangan Somsi tumpah tanpa sisa. Bram mendekati Somsi dengan kepala menunduk. Hari ini pasti ia akan di omelin habis-habisan oleh Somsi.


Bram sendiri telah membangunkan harimau yang tidur di siang bolong.


"Som, Som... ma-maafkan aku," ucap Bram takut. Suaranya terbata saat ia bicara.


"Maaf kau bilang? kau tidak lihat berapa banyak kerugian ku hari ini? kau masih berani minta maaf? tidak ada kata maaf bagimu! ini semua terjadi gara-gara kamu!" ucap Somsi marah. Ia melipat tanganya di dada. Kali ini batas kesabaran ya telah memuncak. Ia tidak bisa lagi untuk kompromi dengan kata sabar.


Bersambung......


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga komen. Rate favorit sebanyaknya 😊🙏


__ADS_2